Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan di Balik Riuh
Gavin menarik gas motor sport-nya membelah jalanan hari Minggu yang cukup padat. Namun, kali ini ia sama sekali tidak berniat membawa Kayla ke markas gudang tuanya yang pengap dan penuh asap rokok. Gavin tahu, gadis di boncengannya ini sedang butuh hiburan yang sesungguhnya, bukan sekadar tempat tongkrongan liar. Ia memutuskan untuk membawa Kayla ke sebuah tempat karaoke keluarga di pusat kota.
Namun, baru setengah perjalanan melintasi jalanan lingkar luar yang agak lengang, sebuah firasat buruk mendadak menyergap. Dari kaca spion, Gavin menyadari sebuah mobil minibus hitam dengan kaca yang sangat gelap telah membuntutinya sejak beberapa kilometer lalu.
Keadaan menjadi semakin berbahaya ketika mobil misterius itu tiba-tiba mempercepat lajunya dan dengan sengaja memepetkan bodi mobilnya ke arah motor Gavin.
CIIIITTT!
Ban motor Gavin berdecit keras di atas aspal. Mobil itu terus merangsek maju, memaksa Gavin berkali-kali menggeser posisinya ke bahu jalan yang berbatu. Stang motornya bergetar hebat, membuat Gavin hampir saja kehilangan kendali atas keseimbangan motor besarnya. Demi keselamatan Kayla, Gavin terpaksa menarik rem dalam-dalam dan menghentikan motornya di tepi jalan dengan napas memburu.
"Woy, mobil sialan!" umpat Gavin seketika, membuka kaca helmnya dan berteriak murka ke arah jalanan.
Namun, mobil hitam itu tetap melaju kencang tanpa memedulikan umpatan Gavin, lalu menghilang di tikungan tajam depan jalan.
Gavin buru-buru menoleh ke belakang, menatap Kayla dengan raut wajah yang dipenuhi rasa panik dan cemas. "Kay, lo enggak apa-apa? Ada yang luka? Sialan emang tuh mobil, sengaja banget!" tanya Gavin memastikan kondisi gadis itu.
"Enggak apa-apa," jawab Kayla datar. Suaranya terdengar tenang, namun di dalam hatinya, sebuah letupan kecurigaan dan ketakutan yang aneh mendadak terbesit. Kayla mencengkeram jaketnya sendiri. Apa mungkin... itu orang yang meneror gue lewat pesan singkat kemarin? batin Kayla, teringat kalimat ancaman bahwa dirinya tidak akan pernah lepas dari pengawasan sosok itu.
Gavin mengembuskan napas lega melihat Kayla baik-baik saja. Ia memutar kembali tubuhnya menghadap ke depan dan memanaskan mesin motornya. "Yaudah, Kay, kita lanjut ya. Pegangan yang erat, takut mobil gila itu balik lagi," ucap Gavin sembari meraih kedua tangan Kayla tanpa permisi, lalu melingkarkannya dengan tegas di pinggangnya sendiri.
Deg.
Kayla merasakan degupan yang aneh dan teramat kencang di dalam dadanya. Sentuhan tangan Gavin dan kehangatan punggung cowok itu entah bagaimana membuat pertahanannya melunak. Anehnya, kali ini Kayla sama sekali tidak memberontak atau melepaskan lingkaran tangannya. Ia membiarkan jemarinya bertaut di pinggang Gavin. Respons pasrah dari sang Princess itu seketika membuat Gavin tersenyum lebar di balik helmnya, merasa memenangkan satu langkah lagi.
Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di sebuah tempat karaoke populer. Begitu mereka berdiri di depan pintu ruangan privat yang kedap suara, Kayla melipat kedua tangannya di dada.
"Ngapain lo ngajak gue ke tempat kayak gini?" ucap Kayla, menatap papan ketik lagu di dinding ruangan.
"Kita have fun, Kay! Ayo masuk, jangan ditekuk terus tuh muka," ucap Gavin penuh semangat, langsung menarik lembut tangan Kayla untuk duduk di sofa empuk dalam ruangan yang temaram itu.
Gavin tidak membuang waktu. Ia menyambar mikrofon dan mulai memilih daftar lagu dengan asal. Di sinilah kejutan sesungguhnya dimulai. Gavin, si ketua geng motor yang ditakuti di sekolah, ternyata menyanyi dengan suara yang teramat sumbang.
Gavin mulai menyanyikan lagu indie yang estetik dengan nada yang meleset jauh ke mana-mana. Tidak berhenti di situ, ia mengganti daftarnya dengan musik hipdut yang sedang trending saat ini. Dengan percaya diri yang setinggi langit, Gavin bergoyang kaku di depan layar besar, mengayunkan pinggulnya dengan aneh demi menghibur Kayla.
Melihat kelakuan konyol cowok berandalan itu, pertahanan dingin Kayla runtuh sepenuhnya. Sebuah tawa renyah lolos dari bibir Kayla. Ia tertawa geli, menutupi mulutnya dengan tangan melihat betapa kacaunya suara Gavin.
"Gavin, stop! Suara lo bener-bener ngerusak telinga gue, tahu enggak!" seru Kayla di sela-sela tawanya, wajahnya yang semula pucat kini tampak merona segar.
"Wah, menghina lo ya! Sini, kalau berani lo duet sama gue!" tantang Gavin, ikut tertawa lepas melihat senyuman yang akhirnya terukir di wajah Kayla. Ia mematikan musik pengiring, lalu duduk di sofa, tepat di samping Kayla. Suasana ruangan mendadak berubah menjadi sunyi dan intim.
Gavin memutar tubuhnya, menatap Kayla dengan pandangan mata yang sangat intens. "Gue tahu lo lagi sedih, Kay," ucap Gavin perlahan, suaranya mendadak berubah menjadi berat dan tulus. "Makanya gue ajak lo ke sini. Ayo, teriak-teriak aja sesuka lo di sini, nyanyi-nyanyi sepuasnya sampai beban di otak lo hilang."
Ditatap seintens itu dalam jarak yang sangat dekat membuat dada Kayla kembali berdegup kencang, jauh lebih hebat daripada saat di atas motor tadi. Napasnya mendadak terasa berat.
Pandangan Gavin perlahan-lahan mulai mendekat, mengikis jarak di antara wajah mereka. Sorot mata Gavin tampak begitu memabukkan. Tatapan cowok itu sesekali turun ke arah bibir merah muda Kayla, lalu kembali naik menatap lekat ke dalam manik mata Kayla. Ketegangan yang sarat akan gairah remaja itu menyelimuti mereka. Kayla membeku, otaknya mendadak buntu, tidak tahu harus berbuat apa atau harus menghindar ke mana.
Drrtt... drrtt...
Suara getaran keras dari ponsel Kayla di atas meja seketika memecah momen magis tersebut. Kayla tersentak, seperti ditarik kembali ke dunia nyata. Ia buru-buru memundurkan tubuhnya, mengambil ponsel tersebut dengan gerakan kikuk demi mengalihkan pandangan dari wajah Gavin yang kini tampak kecewa karena momennya terganggu.
Layar ponsel Kayla menampilkan deretan angka dari nomor asing. Jantung Kayla kembali berdegup karena cemas. Ia memilih untuk tidak mengangkat panggilan itu karena ketakutan bahwa itu adalah sosok misterius yang terus menerornya.
"Kenapa enggak diangkat, Kay?" tanya Gavin, ikut melirik ke arah ponsel.
"Telepon spam," ucap Kayla datar, berusaha bersikap setenang mungkin.
Ting!
Begitu panggilan telepon itu berhenti karena tidak diangkat, sebuah notifikasi pesan teks masuk dari nomor yang sama. Kayla membuka pesan tersebut dengan malas, namun sedetik kemudian, matanya membelalak sempurna dan tubuhnya gemetar hebat.
“Mikayla, ini Mommy, sayang. Gimana kabar kamu?”
Mommy!
Dada Kayla membuncah oleh rasa kaget yang bercampur dengan kebahagiaan yang luar biasa. Air mata haru hampir saja menetes dari pelupisnya. Setelah satu tahun penuh penderitaan dan penantian tanpa kabar, ibunya akhirnya menghubunginya kembali di hari yang paling tepat.
Belum sempat Kayla membalas, sebuah pesan kedua menyusul, mengajak Kayla untuk segera ketemuan di sebuah kafe di dekat pusat kota sore ini juga. Kayla langsung bangkit berdiri dari sofa dengan mata yang berbinar-binar penuh semangat, melupakan semua ketakutan akan teror dan masalah ayahnya.
"Vin, gue duluan ya! Gue... gue ada perlu penting banget sekarang," ucap Kayla terburu-buru menyampirkan tasnya, tidak sabar untuk segera pergi.
Gavin ikut bangkit, dahinya berkerut heran melihat perubahan emosi Kayla yang begitu cepat. "Mau gue anterin sampai tempat tujuan lo?" tawar Gavin cemas.
"Gak usah, Vin. Gue bisa naik ojek online. Gue duluan ya, Vin... makasih banyak buat hari ini," ucap Kayla tulus, sembari memamerkan sebuah senyuman lebar yang sangat manis ke arah Gavin.
Gavin terpaku di tempatnya berdiri, membiarkan Kayla berlari kecil keluar dari ruangan karaoke. Jantung Gavin berdegup aneh. Itu adalah pertama kalinya selama ia mengenal Kayla, ia melihat gadis es itu tersenyum dengan sangat lepas, tulus, dan begitu cantik di depannya. Senyuman yang membuat Gavin bersumpah di dalam hati untuk terus menjaga kebahagiaan gadis itu, tanpa menyadari bahwa pertemuan yang akan didatangi Kayla justru menjadi awal dari teka-teki baru yang rumit.