NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Setengah jam kemudian, sup yang diminta Sintia akhirnya selesai dimasak. Rani kembali ke kamar wanita itu ditemani seorang pembantu yang membawa nampan berisi semangkuk sup hangat.

Begitu melihat Rani datang dengan wajah yang masih dibasahi peluh, sudut bibir Sintia terangkat tipis. Ada kepuasan yang sulit disembunyikan dari tatapannya. Setidaknya, ia masih bisa membuat wanita itu menuruti keinginannya.

Rani sendiri hanya melirik sekilas ke arah tempat tidur sebelum pandangannya menyapu seluruh ruangan. Ternyata Roy dan ketiga anaknya masih berada di sana. Tidak satu pun dari mereka beranjak sejak tadi.

Pemandangan itu terasa aneh di matanya. Sintia duduk di tengah perhatian mereka, seolah seorang putri yang dikelilingi para pengawal setia. Entah kenapa, ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dada Rani saat melihatnya. Jika ingatannya belum hilang, mungkin pemandangan seperti ini sudah cukup membuatnya menangis. Namun kini yang tersisa hanyalah perasaan asing yang tidak mampu ia jelaskan.

"Sup yang kamu minta sudah jadi," ucap Rani datar.

Ia memberi isyarat kepada pembantu di sampingnya untuk menyerahkan nampan itu kepada Sintia.

"Tunggu!" cegah Sintia.

Tatapannya beralih kepada Roy, lalu ia berkata dengan suara lembut yang terdengar manja.

"Mas, aku ingin Kak Rani yang menyuapiku. Boleh?"

"Tentu saja boleh." Roy mengangguk tanpa ragu. "Kalau itu bisa membuatmu senang, lakukan saja. Orang sakit lebih cepat sembuh kalau suasana hatinya baik."

Senyum Sintia semakin lebar mendengar jawaban Roy. Ia lalu menoleh kepada Rani dengan ekspresi penuh rasa tidak enak hati yang tampak begitu meyakinkan.

"Kak Rani, maaf ya kalau jadi merepotkan. Tapi aku ingin cepat sembuh. Aku tidak mau membuat semua orang terus khawatir karena keadaanku."

Rani menatapnya sejenak sebelum sudut bibirnya terangkat tipis. Entah mengapa, reaksi itu justru membuat Sintia sedikit bingung. Ia sudah menyiapkan berbagai kemungkinan penolakan, keberatan, atau setidaknya raut kesal dari wanita itu. Namun yang muncul justru senyum tenang yang sulit ditebak.

"Tidak masalah," jawab Rani sambil mengambil mangkuk sup dari tangan pembantu. "Kalau memang itu bisa membuatmu cepat sembuh, aku malah senang."

Sintia mengerjap pelan. Perasaan aneh yang sejak tadi mengganggunya kembali muncul saat melihat Rani mengaduk sup itu perlahan, seolah memastikan semuanya tercampur sempurna sebelum menyendoknya.

"Sungguh Kak Rani tidak keberatan?" tanyanya lagi untuk memastikan.

"Tentu saja tidak." Rani mengangkat sendok berisi sup lalu meniupnya sebentar sebelum menyodorkannya ke arah Sintia. "Aku sudah menghabiskan cukup banyak tenaga untuk membuatnya. Akan lebih menyenangkan kalau kamu benar-benar memakannya sampai habis."

Kalimat itu terdengar biasa saja, tetapi entah kenapa membuat dada Sintia sedikit sesak. Ia tidak tahu mengapa, namun ada sesuatu dalam cara Rani mengucapkannya yang terasa berbeda. Bukan ancaman, bukan pula sindiran, tetapi cukup untuk membuatnya kehilangan semangat yang tadi begitu menggebu-gebu.

Melihat Sintia belum juga membuka mulut, Rani mengangkat alis tipis. "Kenapa? Bukankah tadi kamu yang meminta aku menyuapimu?"

"Bukan begitu..." Sintia tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya. "Aku hanya merasa tidak enak sudah merepotkan Kakak."

"Kalau begitu jangan dipikirkan." Nada suara Rani tetap santai. "Lagipula sekarang aku sudah ada di sini. Masa setelah bersusah payah memasak, aku tidak bisa melihat orang yang memintanya benar-benar menikmati masakanku?"

Entah kenapa kalimat itu justru membuat Sintia semakin tidak nyaman.

Sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Aksan lebih dulu menyela. "Tante makan saja. Mama sudah capek-capek masak buat Tante."

"Iya," sahut Arlan. "Dari tadi juga Mama ada di dapur. Banyak pembantu yang lihat."

"Tante harus cepat sembuh," tambah Arjun dengan polos.

Roy yang sejak tadi memperhatikan akhirnya ikut tersenyum. "Sudah, makan saja. Rani tidak mungkin melakukan hal buruk padamu."

Mendengar semua orang berada di pihak yang sama, Sintia tidak lagi punya alasan untuk menolak. Dengan senyum yang mulai terasa kaku, ia akhirnya membuka mulut dan menerima suapan pertama.

Rani memperhatikannya menelan suapan terakhir sebelum kembali mengangkat sendok berikutnya. Senyum tipis masih bertahan di wajahnya.

"Nah, satu suapan lagi. Sup seperti ini paling enak dimakan selagi hangat."

Sintia menurut saja. Selain karena rasanya memang tidak buruk, semua mata di ruangan itu juga sedang tertuju kepadanya.

"Terima kasih, Kak," ujarnya setelah suapan terakhir. "Supnya enak."

"Tentu saja."

Jawaban Rani membuat Sintia terkekeh kecil.

"Kalau boleh tahu resepnya apa? Nanti aku bisa membuatnya sendiri dan tidak perlu terus merepotkan Kakak."

Rani terdiam sesaat. Kemudian ia meletakkan mangkuk yang kosong itu di atas nampan dan menyeka jemarinya dengan tisu.

"Oh, kamu ingin tahu resepnya?" tanya Rani.

Sintia mengangguk. "Iya."

"Yakin?"

Kali ini bukan hanya Sintia yang bingung. Roy dan ketiga anaknya ikut memandang Rani.

"Memangnya kenapa?" tanya Sintia.

Rani menoleh ke arah pembantu yang sejak tadi berdiri tak jauh dari sana. "Bibi, tadi siapa yang membantuku menyiapkan bahan?"

Pembantu itu langsung pucat. "Saya, Nyonya."

"Kalau begitu ceritakan saja. Toh Nona Sintia ingin tahu."

Pembantu itu menelan ludah. Tatapannya bergantian antara Rani dan Sintia sebelum akhirnya berhenti pada Roy yang mulai mengernyit.

"Nyonya..." suaranya bergetar.

"Ceritakan saja," perintah Rani.

"Di... di dalam sup itu memang ada bahan sup seperti biasa."

Sintia tertawa kecil dan merasa lega. "Nah, kan. Aku sampai penasaran."

"Tapi..." Pembantu itu semakin pucat. "Nyonya juga meminta saya menggiling daging tikus dan beberapa ekor kecoa untuk dicampurkan ke dalam kaldunya."

Ruangan seketika membeku. Senyum di wajah Sintia lenyap dalam hitungan detik.

"Apa?"

Arlan dan Aksan membelalak tidak percaya, sementara Arjun hanya memandang bergantian antara Rani dan pembantu dengan wajah bingung.

Sintia langsung menutup mulutnya. Rasa mual yang tiba-tiba menyerbu membuat wajahnya berubah hijau.

"Kamu bohong!" Baru saja kalimat itu keluar, ia sudah berlari turun dari ranjang menuju kamar mandi.

Suara muntah terdengar beberapa detik kemudian. Roy berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser keras di lantai. Wajahnya berubah gelap saat menoleh ke arah Rani.

"Rani, apa yang sebenarnya kamu lakukan?" ujarnya penuh kekesalan.

Rani sama sekali tidak terlihat panik meskipun wajah Roy kini sudah merah padam. Ia hanya duduk tenang sambil merapikan lipatan bajunya.

"Aku melakukan apa yang dia minta," ucapnya tanpa ada rasa bersalah

"Jangan bercanda Rani!"

"Apa aku terlihat sedang bercanda? Dia bilang ingin aku memasak untuknya." Rani mengangkat bahu ringan. "Jadi aku memasak."

"Itu bukan jawaban!"

Rani menatap Roy tanpa sedikit pun menghindar.

"Lalu apa pertanyaannya? Apakah aku berbohong tentang bahan yang kugunakan? Tidak. Apakah dia memakan sup itu? Ya. Apakah tadi dia bilang supnya enak?" Sudut bibir Rani terangkat tipis. "Dia bahkan meminta resepnya."

"Rani!"

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!