Sebuah kejadian membuat Haris yang merupakan seorang pemimpi perusahaan besar langsung hancur.
Dia kehilangan segalanya dalam satu hari dan memilih untuk mengakhiri hidupnya tapi setelah mati, dia justru menemukan kenyataan kalau orang yang selama ini dia sembunyikan mengandung anaknya.
Hamka Haris Stuart, seorang anak buta warna yang lahir dari rahim adik angkat Haris yang terus di sakiti karena hanya seorang anak dari istri kedua.
Bagaimanakah Hamka bisa menemukan warna dalam hidupnya setelah dia tahu kalau ayah yang selama ini dia panggil Daddy bukanlah ayah kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan kejadian
Guk. Guk. Guk.
"Lepaskan Lucas!" Teriak Ivanka menerjang beberapa orang yang mengikat Lucas di atas pohon padahal dia sendiri sudah berlumuran darah di sekujur tubuhnya akibat di sayat oleh empat laki laki yang berdiri di hadapannya dengan memegang pisau di tangan mereka .
"Diam! Kamu itu hanya anak hara*! Jadi sebaiknya kamu juga seperti ibumu yang hanya jadi seorang pemuas papa saja!" Bentak seorang dari mereka
"Lepaskan Lucas, hanya dia yang aku punya, ambil semua yang di berikan mendiang papa tapi lepaskan dia, aku tidak mau harta atau apapun!" Teriak Ivanka
"Sayang sekali kami tidak mau hanya mengambil hartamu saja, kamu juga harus merasakan di rusak seperti kamu merusak perasaan mama kami!"
"Aku tidak melakukan apapun, apa aku minta di lahirkan! Tidak sama sekali! Tante Jessy juga tidak membenci ku dan mama!"
Plak.
"Apa kamu tidak melihat kepedihan di mata mama karena kehadiran kamu sudah membuat semua orang di rumah berubah, dulu rumah kami di penuhi kebahagiaan! Sekarang rumah itu terasa kosong sejak kamu di bawa papa ke rumah! harusnya kamu mati saja bersama ibumu yang jalan* itu!" Bentak seorang lelaki menampar pipi Ivanka
"Hiks.. aku tidak tahu apa apa!" Lirih Ivanka yang memang dari sejak dia masuk ke mansion besar itu, hidupnya selalu di penuhi kebencian dari semua orang sampai ayah yang menyayanginya pun meninggal dunia .
"Dasar perempuan jalan*! Bahkan kamu berpura pura polos di depan semua orang cuih!" Umpat seseorang lagi meludahi wajah Ivanka.
"Bram, lakukan tugasmu!" Perintah seorang dengan tato ular di lengan kanannya .
"Tidak! Lepaskan aku, Lucas! Lucas!"
Guk. Guk. Guk.
Lucas yang di ikat di atas pohon oleh orang orang suruhan mereka hanya bisa terus menggonggong di tempat yang sangat sepi dan jarang di lewati kendaraan itu Hingga...
"Aakhhh.. sakit!"
Pekik Ivanka terdengar saat dia akan di gagahi seorang bodyguard dari empat orang yang sedang tertawa mengejek ke arahnya
"Dia masih segel bos" ucap Bram
"Bagus, Lo dapat durian runtuh, lanjutkan bahkan kalau perlu Lo tanam benih Lo di dalam, mungkin kalau setelah ini dia masih hidup, anak Lo akan ada di sana" sinis seorang dari mereka
"Setidaknya dia tidak seperti ibunya yang menjajakan tubuhnya pada papa" gumam seorang lagi
"Tetap saja dia keturunan dari perempuan itu! Gue benci dia kak!" Umpat seorang lagi menatap Ivanka yang berteriak kesakitan ketika di lecehkan oleh Bram dengan keadaan tubuh yang penuh luka.
"Hiks... Mama bawa Ivanka pergi ma" lirih Ivanka yang merasa dirinya sudah tidak berharga lagi.
Bugh. Bugh.
Kepalanya di tendang dengan keras, hingga dia yang sudah terlihat pucat karena darah yang terus keluar dari tubuhnya langsung tak sadarkan diri.
"Lanjutkan! Setelah itu kubur dia hidup hidup!" Perintah suara yang masih di dengar Ivanka dengan sedikit sisa kesadarannya .
"Aakhhhh!"
Teriak Ivanka terbangun dari tidurnya karena memimpikan kejadian di mana dia di aniaya dan di lecehkan.
"Kamu kenapa?" Tanya Lucas yang sudah datang kesana, tapi saat sampai dia mendapati Ivanka sudah tertidur pulas.
"Jangan sentuh! Pergi! Aku tidak tahu apa apa! Aku tidak minta di lahirkan! Pergi! Kalian jahat!" Teriak Ivanka histeris membuat Lucas mau tak mau menekan tombol di samping ranjang rawat Ivanka agar perawat datang kesana.
"Tenang Ivanka, ini aku Lucas, kamu ingat kan, tadi sore kita bertemu" ucap Lucas terus mencoba menenangkan Ivanka yang terlihat ketakutan dengan mata berkaca-kaca, bahkan Lucas langsung memencet tombol untuk memanggil dokter.
"Kalian jahat! Kalian kakak yang jahat! Aku tidak murahan! Aku juga bukan seorang jalan*! Papa, mama, bawa Ivanka pergi dengan kalian!" Lirih Ivanka
"Lucas"
Dokter datang dan terus berusaha memperbaiki infus Ivanka yang dilepas paksa saat Ivanka terbangun dengan keadaan panik dan juga ketakutan.
"Ivanka dengar, kamu baik baik saja! Kamu aman sekarang" bujuk Lucas memegangi Ivanka yang berontak saat akan di obati, karena lukanya kembali mengeluarkan darah.
"Lucas"
"Iya ini aku Lucas, kamu jangan takut, kamu aman sekarang, ada aku dan juga polisi" bujuk Lucas memeluk Ivanka yang mulai lebih tenang.
"Siapa mereka? Mereka jahat, aku takut, mereka mengikat anjingku di pohon dan menyiksaku, aku takut mereka kesini" ungkap Ivanka terus terisak dengan mata berkaca-kaca, bahkan dia terus melihat ke setiap sudut ruangan itu dengan tatapan takut.
"Mereka tidak akan kemari, siapa mereka? Apa kamu ingat?" Tanya Lucas menghapus air mata Ivanka.
"Tidak tahu, aku tidak tahu siapa mereka, mimpi itu menyeramkan, aku takut, bahkan tubuhku masih merasakan sakit saat mereka menyiksaku, aku tidak lihat wajah mereka, siapa mereka?" Jawab Ivanka terus meracau.
"Ssttt sudah, jangan diingat lagi, kamu aman bersamaku sekarang, jangan ingat mereka, mereka akan dapat hukuman yang pantas untuk perbuatan mereka itu, anggap ini mimpi buruk dan kamu sudah terbangun sekarang" bujuk Lucas
"Iya, itu mimpi, mimpi buruk dan aku sudah bangun" jawab Ivanka mulai tenang
"Silahkan di obati suster, saya akan keluar" ucap Lucas tapi Ivanka menahan tangannya dan menggeleng tanda kalau dia tidak mau di tinggalkan.
Dengan terpaksa Lucas duduk di samping Ivanka yang perban di tubuhnya di ganti dan juga di obati lagi, ringisan Ivanka saat obat antiseptik itu di oleskan membuat Lucas juga merasa sakit, entah kenapa setiap Ivanka meremas tangannya, Lucas juga secara refleks mengusap punggung tangan Ivanka agar lebih tenang.
"Sekarang sebaiknya nona istirahat saja, kami akan kembali setelah satu jam" ucap perawat dan dokter jaga disana.
"Terima kasih" ungkap Lucas yang masih di pegangi Ivanka.
"Aku tidak mau tidur, aku takut mimpi lagi" ucap Ivanka.
"Kalau begitu kamu duduk saja di sampingku, lihat aku bekerja ya, besok Aku ada meeting sebentar, setelah selesai aku akan kesini lagi, tidak apa apa ya" ucap Lucas
"Tidak" jawab Ivanka memeluk Lucas
Sekarang orang yang membuat Ivanka merasa aman adalah Lucas saja, karena dia hanya ingat nama Lucas di kepalanya saat ini, jadi selain Lucas, semuanya tidak aman setidaknya sampai dia bisa mengingat semuanya, itulah yang di pikirkan Ivanka.
"Siapa mereka sebenarnya, kenapa mereka menyiksa kamu sampai separah ini dan membuat kamu jadi trauma dan hilang ingatan padahal tidak ada tanda tanda luka dalam di kepala kamu" batin Lucas