Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.
Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.
Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.
Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.
Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.
Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Sinar matahari siang menembus kaca patri setinggi lima meter di ruang kerja utama gedung The Riccardo Holding di pusat kota Los Angeles.
Ruangan itu begitu luas, dingin, dan minimalis, mencerminkan kepribadian sang pemilik yang tidak menyukai basa-basi.
Di balik meja kerja yang terbuat dari kayu mahoni hitam yang solid, Navarro Von-riccardo duduk dengan kemeja abu-abu gelap yang lengannya digulung hingga ke siku.
Di hadapannya, tiga layar monitor portabel menampilkan grafik pergerakan saham dan laporan audit keuangan kuartal pertama dari anak perusahaan legal klan Riccardo.
Namun, fokus Navarro siang ini sama sekali tidak berada pada angka-angka miliaran dolar tersebut.
Pandangannya tertuju pada ponsel pintar terenkripsi miliknya yang terletak di atas meja.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari grup obrolan privat yang hanya berisi empat orang: dirinya, Skylar, Grey, dan George.
Skylar: Sialan kalian semua! Kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang membangunkan ku pagi tadi?!
George: Salahkan matamu yang tidur seperti babi hutan, Sky. Aku bahkan harus mengusir wanita tercantik di LA karena suaramu mengganggu estetika bercintaku.
Grey: Aku sudah membangunkan singa pertama (Nav). Untuk singa kedua yang sudah punya anak dua, aku tidak berani menyentuh insting kebapak-bapak'an mu.
Skylar: Persetan dengan kalian. Gara-gara kalian, aku terlambat bangun dan Claire mengamuk seisi rumah. Hari ini kami memiliki jadwal penting untuk menjenguk mertuaku di fasilitas medis. Kondisinya sedang sangat buruk.
Navarro membaca baris demi baris pesan teks itu dengan jemari yang mengambang di atas layar.
Matanya terpaku pada kata terakhir yang diketik oleh Skylar: Mertuaku.
Sloane. Ibu kandung dari Issabelle, yang kini secara resmi menjadi ibu mertua dari sahabatnya, Skylar, semenjak pria pirang itu menikahi Claire beberapa tahun lalu.
Navarro menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kulit, mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat di dalam dadanya. Ia tahu betul mengenai kondisi Sloane.
Melalui laporan berkala yang dikirimkan oleh tim medis yang dibiayai secara rahasia oleh dana tak terbatas klan Riccardo, Navarro memantau perkembangan penyakit serius yang diderita wanita paruh baya itu.
Namun, ada sebuah rahasia batin yang teramat perih yang tidak pernah ia bagikan kepada siapa pun, kecuali kepada Skylar.
Alasan utama mengapa Navarro begitu memastikan Sloane mendapatkan perawatan medis terbaik di rumah sakit Los Angeles bukan hanya karena wanita itu adalah ibu mertua sahabatnya.
Melainkan karena Sloane adalah satu-satunya benang merah biologis yang tersisa di bumi ini yang menghubungkannya dengan memori tentang Issabelle.
Menjaga Sloane tetap bernapas adalah cara halus Navarro untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa jejak keberadaan Issabelle di dunia ini tidak sepenuhnya menguap menjadi abu.
Navarro meletakkan ponselnya, lalu membuka laci terdalam dari meja kerjanya yang dikunci dengan sistem pemindai sidik jari.
Dari dalam sana, ia mengeluarkan sebuah dompet kulit usang berwarna hitam—benda lama yang ia bawa sejak masa-masa sekolah mereka di Oakridge sepuluh tahun lalu.
Dengan gerakan yang teramat perlahan dan hati-hati, seolah takut benda di dalamnya akan hancur oleh sentuhannya, Navarro menarik selembar kertas foto kecil berukuran 3 \ 4 cm dari balik selipan kulit dompet.
Itu adalah foto formal Issabelle.
Foto yang dulu diserahkan gadis itu kepada pihak administrasi sekolah untuk pendaftaran kartu siswa di Oakridge High School.
Sepuluh tahun yang lalu, setelah menyadari bahwa ia telah jatuh sejatuh-jatuhnya pada sang mawar es, Navarro menggunakan otoritasnya untuk meretas sistem data sekolah dan mencuri satu-satunya salinan cetak foto tersebut.
Navarro menatap lembaran kecil itu di bawah pendar lampu kerja.
Demi Tuhan, sejujurnya... seiring berjalannya waktu, dari tahun ke tahun, Navarro sudah mulai kesulitan untuk membayangkan secara presisi seperti apa rupa wajah dari Issabelle sekarang jika gadis itu masih hidup di usianya yang ke-dua puluh enam.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Sepuluh tahun adalah rentang waktu yang kejam, yang perlahan-lahan mengikis ketajaman memori visual manusia.
Dari waktu ke waktu, bayangan wajah itu kadang sedikit berubah di dalam ingatannya, terdistorsi oleh kerinduan yang terlalu pekat dan bayang-bayang ilusi masa lalu.
Foto berukuran 3 \times 4 itu pun kini sudah mulai buram.
Sisi-sisi kertasnya telah menguning dan retak, sementara lapisan warnanya mulai memudar akibat terlalu sering disentuh dan ditatap oleh Navarro di setiap malam-malam sepinya.
Di dalam foto kecil itu, Issabelle remaja tampak menatap lurus ke arah kamera dengan rambut pirang khas aristokratnya yang terikat rapi, dan sepasang manik mata abu-abu yang memancarkan kombinasi antara keangkuhan murni dan kedamaian yang dingin.
"Seperti apa wajahmu sekarang, Mine?" bisik Navarro, suaranya terdengar sangat parau di dalam ruangan yang sunyi itu.
Ibu jarinya mengusap permukaan foto yang buram tersebut dengan kelembutan yang teramat kontras dengan tangannya yang biasa memegang senjata api.
"Apakah rambutmu masih sewangi mawar es? Apakah matamu masih sedingin laut?"
Rasa frustrasi akibat memudarnya ingatan visual itu telah mendorong Navarro ke dalam fase kegilaan digital yang tak berujung selama satu dekade ini.
Ia, yang memiliki akses terhadap teknologi peretasan melalui Grey, sudah pernah menjelajahi seluruh sudut dunia maya, menyusup ke dalam jutaan basis data platform sosial media, forum-forum internasional, hingga jaringan komunikasi terenkripsi di seluruh benua hanya untuk mencari satu hal: akun atau jejak digital milik Issabelle Reichenbach.
Namun, hasilnya selalu nihil.
Rupanya, sejak masa remajanya, gadis itu memang tidak pernah memposting foto-foto dirinya atau membuat eksistensi digital apa pun.
Sebagai seorang putri mahkota dari faksi militer bawah tanah Dark Dubois, Issabelle telah dilatih sejak kecil untuk menghapus seluruh jejak visualnya dari internet guna menghindari pelacakan dari agensi intelijen asing maupun faksi musuh.
Satu-satunya jejak nyata dari keberadaan Issabelle di dunia ini hanyalah foto usang berukuran 3 \times 4 di tangan Navarro, dan sisa luka bakar psikologis yang mengunci mati hati sang Tuan Muda Riccardo di Los Angeles.
Navarro memejamkan matanya, meremas foto kecil itu di dekat dadanya.
Di luar jendela, kota Los Angeles terus bergerak dengan segala hiruk-pikuknya, menawarkan masa depan dan kekayaan yang melimpah.
Namun bagi Navarro, tanpa kehadiran wanita yang menjadi poros gravitasinya, seluruh dunia ini tidak lebih dari sekadar ruang simulasi yang hampa dan tidak memiliki arti apa-apa.
Ia terjebak selamanya di dalam labirin waktu sepuluh tahun lalu, meratapi fragmen wajah yang perlahan memudar bersama keputusasaan yang kian membatu.
...ooOoo...
Sementara matahari siang membakar pusat kota Los Angeles dengan kepalsuan yang megah, di belahan bumi lain, tepatnya di sebuah vila terisolasi di pinggiran Austin, Texas, suasana di dalam ruang makan mewah keluarga Von Reichenbach terasa begitu mencekam.
Meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni berukir klasik itu dipenuhi oleh berbagai hidangan makan siang yang disiapkan oleh Bibi Beatrice.
Namun, aromanya yang menggugah selera sama sekali tidak mampu mencairkan ketegangan yang menggantung di udara.
Di ujung meja, Issabelle duduk dengan keanggunan seorang ratu Dubois yang tak pernah pudar.
Di sampingnya, Cassandra sedang asyik memotong pai apel dengan gerakan yang teratur, sesekali mata gelapnya yang identik dengan Navarro melirik ke arah sang Mommy yang tampak membisu sejak sepuluh menit lalu.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki taktis yang terburu-buru memecah keheningan.
Kara melangkah masuk ke dalam ruang makan, wajah tenangnya yang biasa menyerupai patung lilin dingin kini menunjukkan gurat kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.
Ia membawa sebuah perangkat tablet taktis yang layarnya berkedip-kedip menampilkan grafik medis yang terus menurun drastis.
Kara membungkuk hormat di samping kursi Issabelle, mengabaikan tatapan ingin tahu dari Cassandra kecil.
"Nona, maaf mengganggu makan siang Anda," ucap Kara, suaranya merendah namun sarat akan urgensi yang mendesak.
"Kami baru saja menerima pembaruan instan dari informan medis kita di Pantai Barat. Kondisi Nyonya Sloane... ibu Anda, mendadak drop ke titik paling kritis dalam satu jam terakhir. Sistem pernapasannya gagal berfungsi secara mandiri, dan tim medis menyatakan bahwa beliau mungkin tidak akan bisa bertahan melewati malam ini. kita harus terbang secepatnya ke Los Angeles, Nona."
Prankk.
Garpu perak di tangan Issabelle tidak sengaja terlepas, membentur tepi piring porselen dengan bunyi dentingan yang nyaring.
Tubuh rampingnya menegang kaku di balik gaun rumahan sutra sewarna mawar es yang ia kenakan.
Keputusan yang akan ia ambil detik ini terasa sangat, teramat berat.
Selama sepuluh tahun penuh, Issabelle telah membangun dinding pertahanan yang begitu tebal di Texas untuk menjauhkan dirinya dan putrinya dari radar-riccardo.
Los Angeles adalah jantung dari kekuasaan Navarro.
Terbang ke kota itu sama saja dengan mengantarkan dirinya masuk kembali ke dalam sarang singa yang selama ini ia hindari dengan susah payah.
Namun, di sisi lain, Sloane adalah ibu kandungnya.
Wanita yang melahirkannya, satu-satunya darah daging masa lalu yang tersisa setelah kepulan asap hitam membakar kastil Frankfurt.
Pikiran tentang kehilangan, rasa bersalah karena telah membenci ibunya selama satu dekade, dan kenyataan bahwa wanita itu mungkin akan mati tanpa pernah melihat cucunya, mendadak menghantui isi kepala Issabelle seperti badai malam yang dahsyat.
"Mommy..."
Sebuah suara cempreng dan lembut menarik Issabelle kembali ke realitas.
Cassandra meletakkan alat makannya, menatap wajah sang ibu dengan sepasang mata gelapnya yang dalam dan cerdas.
Bocah sembilan tahun itu mungkin belum memahami rumitnya konspirasi dunia bawah tanah, namun ia memiliki kepekaan emosional yang luar biasa tajam.
"Apakah kita sedang membicarakan Nenek?" tanya Cassandra, suaranya sarat akan rasa penasaran sekaligus ketakutan yang murni.
"Nenek yang selalu Mommy ceritakan dalam dongeng sebelum tidur? Nenek yang berada di kota besar itu sedang sekarat?"
Issabelle menatap putrinya, hatinya terasa seperti diremas kuat.
Cassandra harus melihat neneknya yang masih hidup sebelum semuanya terlambat.
Bocah itu berhak mengetahui bahwa ia tidak benar-benar sebatang kara di dunia ini, bahwa ada garis darah lain yang menyayanginya selain dirinya dan Bibi Beatrice.
Ketakutan bahwa Cassandra akan tumbuh dengan penyesalan yang sama seperti dirinya saat kehilangan sang ayah, membuat keraguan di dalam diri Issabelle seketika menguap.
Persetan dengan Navarro.
Persetan dengan klan Riccardo dan segala gurita bisnis mereka di Pantai Barat.
Issabelle tidak akan membiarkan ketakutannya pada masa lalu merenggut hak putrinya untuk mengucapkan selamat tinggal pada sang nenek.
Jika ia harus membakar Los Angeles demi melindungi rahasianya, maka ia akan melakukannya dengan tangannya sendiri.
Issabelle bangkit dari kursi makannya dengan sentakan anggun yang penuh wibawa.
Aura kepemimpinan klan Dark Dubois yang tertidur selama sepuluh tahun kini bangkit seutuhnya, memancar kuat dari sepasang mata abu-abunya yang berkilat tajam.
Ia menoleh menatap Kara, memberikan perintah dengan nada bariton yang mutlak dan tidak menerima bantahan apa pun.
"Siapkan jet kita," ucap Issabelle dingin, suaranya menggema tegas di seluruh penjuru ruang makan.
"Kita akan terbang ke Los Angeles siang ini juga. Kara, siapkan protokol pengamanan tingkat tertinggi. Aktifkan seluruh jalur penyamaran taktis dan pastikan kedatangan kita tidak memicu alarm sistem pengawasan klan Riccardo di bandara. Kita masuk sebagai hantu, dan kita keluar sebagai hantu."
"Dipahami, Nona Muda. Melaksanakan perintah sekarang juga," jawab Kara tegas, segera berbalik untuk menghubungi kru penerbangan pribadi mereka di pangkalan Austin.
Issabelle beralih menatap Cassandra yang kini melompat turun dari sofa dengan wajah yang dipenuhi ketegangan taktis.
Issabelle mengulurkan tangannya, mengusap rambut hitam lebat putrinya dengan kelembutan seorang ibu yang siap menghadapi badai demi anaknya.
"Ganti pakaianmu, Cassandra. Kita akan melakukan perjalanan jauh ke City of Angels," bisik Issabelle, sebuah janji terselubung bahwa perang dingin yang ia hindari selama satu dekade ini akhirnya akan menemui babak barunya di bawah langit Los Angeles.
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂