NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:783
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Dokter Tirta Wahyudianto

Satya mendatangi rumah sakit. Mencari Dokter Tirta. Dokter yang dulu pernah menanganinya, sesaat setelah insiden kebakaran.

Ia melangkah mantap menyusuri lobi rumah sakit yang beraroma obat tajam. Membawa secercah harapan untuk memulihkan wajah demi masa depannya bersama Melati.

“Sudah ada janji?” tanya resepsionis rumah sakit. Perempuan muda berseragam rapi itu menatap Satya yang berdiri kaku di depan mejanya.

“Belum.”

“Dokter Tirta tidak menangani langsung. Harus ada janji temu dulu. Mengingat hanya dia satu-satunya dokter bedah plastik rekonstruksi di sini.” Resepsionis itu menjelaskan seraya jemarinya lincah membolak-balik buku jadwal di atas meja.

“Apa saya bisa minta nomor yang bisa dihubungi? Saya adalah pasien lamanya. Ingin konsultasi mengenai wajah saya.” Satya membuka masker, membuat sang resepsionis bergidik ngeri.

Kulit parut yang melepuh dan berkerut di pipi hingga leher pemuda itu terekspos jelas di bawah pendar lampu neon lobi, memicu drama ketegangan yang seketika mencekam.

“Sepertinya sudah lama ya?” tuturnya, mencoba menahan rasa terkejutnya yang beralasan. “Kenapa baru datang?”

“Saya baru ada waktu. Dan … baru mengumpulkan biaya juga.” Satya menjawab tenang, meski hatinya bergemuruh mengingat intrik masa lalu keluarga Utama yang membuatnya sengsara.

“Tunggu sebentar. Saya akan tanyakan. Kalau boleh tahu, nama Mas siapa?” Resepsionis itu mulai meraih ponsel privasinya di sudut meja.

“Bram Satya Utama.”

“Baiklah.” Resepsionis langsung tanggap. Menekan tombol di telepon, berbicara dengan nada serius ke seberang sambungan hingga panggilan dimatikan. Wanita itu kembali ke Satya, berbicara, “Saya meneruskan info dari Dokter Tirta. Bram Satya Utama sudah mati. Tolong jangan mengada-ada.”

“Saya beneran Bram Satya Utama!” bentak Satya pelan, memajukan tubuhnya hingga wajah buruk rupa itu makin dekat ke pembatas kaca meja resepsionis.

“Apa buktinya?” Wanita itu menantang, wajahnya memucat ketakutan.

Satya menghela napas. Sebelum akhirnya menyerahkan kartu identitas panti asuhannya yang lusuh. Resepsionis itu kembali menghubungi Dokter Tirta. Kali ini hanya melalui pesan gambar dari gawai pribadinya, merekam data tertulis tersebut ke dalam sistem rahasia rumah sakit.

“Dokter meminta foto wajah Anda. Apa Anda tidak keberatan?” lanjut resepsionis, menyodorkan kamera gawainya dengan ragu.

“Silakan.” Satya membuka masker penuh, menegakkan kepalanya dengan tegar demi membuktikan eksistensinya yang dirampas.

Resepsionis mengambil gambar, lalu kembali mengirim pesan kilat tersebut.

Tak lama setelah pesan terkirim, gawai di atas meja bergetar hebat menampilkan balasan mendesak dari sang dokter bedah.

“Dokter Tirta minta Anda menunggu.” Resepsionis memberi kode ke satpam untuk mendekat, suaranya mendadak berubah hormat seakan menyadari, kalau pria di depannya mungkin adalah orang penting.

“Tolong antar Mas ini ke ruangan Dokter Tirta.”

“Siap.” Satpam sigap, tersenyum ramah ke Satya. “Mari saya antar.”

Satya berjalan. Mengikuti langkah kaki satpam rumah sakit. Ke sebuah ruangan. Bertuliskan, 'Dr. Tirta Wahyudianto, Sp. BP. Re.'

Pintu kayu ek itu terbuka perlahan, menampilkan ruangan kosong.

"Silahkan tunggu. Mungkin setengah jam lagi. Dokter Tirta datang."

"Baik." Satya mengangguk. Mengambil tempat duduk, di kursi depan meja dokter.

Tak sampai setengah jam. Suara derit pintu, membuat Satya menoleh.

“Bram Utama?”

Seorang pria separuh baya, melangkah menuju meja di hadapan Satya. Duduk. Pria berjas putih itu merapikan letak kacamatanya. Menatap tajam ke arah pemuda yang duduk tegak dengan masker yang masih menutupi sebagian wajahnya. “Benarkah kamu Bram Utama?”

Satya membuka masker. “Iya. Saya Bram Satya Utama. Apa Anda Dokter Tirta?” Jari-jemarinya mencengkeram kain masker dengan erat, memperlihatkan gumpalan daging parut yang mengerikan di pipi.

“Benar. Aku Dokter Tirta, yang menanganimu dulu.” Dokter senior itu menatap wajah Satya dengan nanar. Ia memajukan badannya, mengamati guratan luka bakar itu dengan saksama. “Ternyata kamu masih hidup. Pantas saja, aku merasa janggal saat mendatangi pemakamanmu.”

“Pemakaman?” Satya mengernyit. Dadanya bergemuruh hebat, merasa ada intrik yang ia tak tahu lebih jauh. Bahkan mungkin lebih mengerikan dari yang ia duga selama ini.

“Seminggu saat kamu koma. Risma minta izin untuk suntik mati. Namun Heru menolak,” jelas Tirta, sambil menghela napas.

Dokter senior itu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu ek, menerawang mengingat kilas balik drama belasan tahun silam.

"Dugaan tim dokter benar. Kamu sadar usai seminggu lebih koma. Aku sudah minta izin untuk operasi wajah. Tapi, keluarga-mu menolak. Alasannya kamu mau dibawa ke luar negeri. Operasi di sana. Namun, yang membuat kami terkejut adalah ... sebulan setelah berita kamu mau dioperasi. Kami mendengar kabar kamu meninggal. Bahkan Heru mengundangku ke acara pemakaman.”

Satya terhenyak. Tak percaya kalau demi menguasai harta, dia sampai dibuatkan makam. Ia mengepalkan tangan di atas lutut, mengingat bagaimana romansa masa mudanya hancur dan ia harus mendekam di panti asuhan tanpa identitas yang jelas.

“Nyatanya, dugaanku saat itu benar. Hasil medis-mu baik-baik saja. Hanya perlu rekonstruksi wajah. Kenapa kok tiba-tiba mati?” lanjut Tirta.

Ia mengetuk-ngetukan pulpennya ke atas meja kerja, menuntut penjelasan atas misteri yang mengusik jiwa kedokterannya.

“Aku dibuat mati, supaya keluarga Mahesa Utama, bisa menguasai harta Arif Utama penuh,” balas Satya tajam. Tatapan matanya berkilat penuh dendam yang tertahan.

“Orang yang masih hidup, tapi dibuat seolah mati adalah tindakan melawan hukum.” Tirta menggeleng pelan.

Ia mengusap wajahnya yang mulai dihiasi kerutan kelelahan. “Heru adalah teman lamaku. Aku mengenalnya baik. Sungguh, aku tak menyangka kalau dia sampai berbuat seperti ini, ke keponakan sendiri.”

“Paman punya alasan. Tapi aku juga tak membenarkan alasannya. Sebab, aku anak dari kakaknya. Sungguh aneh, kalau dia membuat rencana menyingkirkanku. Hanya untuk menutupi busuknya.” Satya memiringkan bibirnya, tersenyum sinis meratapi takdir dewasanya yang dikelilingi konspirasi keluarga.

“Memang apa busuknya Heru?” Tirta memicingkan mata. Seingatnya Heru adalah teman yang baik. Selalu menurut dan mengalah. Ia cerdas dan memiliki dedikasi tinggi dalam lingkup pekerjaan. Ya, meski kerap disandingkan dengan kesuksesan sang kakak, Arif Utama.

Tirta mulai tertarik, mengulik lebih dalam. Apa yang sebenarnya terjadi, di dalam pusaran intrik keluarga Utama.

“Dia punya selingkuhan. Tante Risma berniat membongkar itu, kalau Paman tidak menyerahkan harta keluarga ke dia. Bukan cuma harta keluarga Mahesa Utama. Tante Risma minta bagian Ayah, yang harusnya hak warisnya jatuh ke tanganku.” Mata Satya merah, saat menjelaskan semua ke Tirta. Suaranya bergetar hebat menahan luapan emosi yang menyesakkan dada.

“Kami mengira kamu mati.” Tirta mengulang, sambil menatap Satya dalam. “Sebenarnya, Ke mana kamu menghilang selama ini? Apa yang terjadi padamu?”

“Aku dibuang Paman ke panti. Dalam keadaan cacat fisik, tak bisa jalan.” Satya menunduk, mengusap pangkal paha yang dulu pernah lumpuh total akibat hantaman api dan reruntuhan.

“Ah iya. Kamu pulang dengan kursi roda waktu itu.” Tirta mencoba mengingat.

Ia mengangguk-angguk kecil, mencatat poin penting di lembar kertas medis kosong.

“Paman dokter.” Satya memutus. “Aku ingin melakukan operasi wajah. Apa Paman bisa mengembalikan wajahku seperti semula?” Ia menatap Tirta penuh harap.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!