Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Mengaku
Festival sekolah sudah berakhir, tetapi ceritanya masih terus dibahas di mana-mana.
Foto-foto kegiatan mulai diunggah ke akun media sosial sekolah. Beberapa siswa menandai teman-temannya, sementara yang lain sibuk mencari momen ketika wajah mereka tertangkap kamera.
Alya juga sedang memilih hasil foto terbaik untuk diserahkan ke guru pembina.
Saat membuka satu per satu, ia berhenti di foto ketika dirinya dan Raka berdiri berhadapan di atas panggung pada malam penutupan festival.
“Ini bagus sih…” gumamnya.
“Tapi jangan dipasang di mading,” celetuk Nadya yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Alya kaget.
“Ngagetin aja.”
“Kalau dipasang, besok satu sekolah makin yakin kalian jadian.”
Alya hanya menggeleng sambil menutup laptopnya.
“Belum sejauh itu.”
Nadya tersenyum penuh arti.
“Katanya.”
---
Di sisi lain, Raka sedang latihan basket ringan bersama Dion.
Di sela istirahat, Dion menunjukkan unggahan dari akun sekolah.
“Lihat deh.”
Raka mengambil ponsel itu.
Di layar terlihat foto-foto festival, termasuk gambar ketika ia dan Alya berada di panggung.
Kolom komentar dipenuhi candaan dari teman-teman mereka.
> “Cocok banget nih.”
> “Udah resmi belum?”
> “Tinggal nunggu pengumuman aja.”
Raka mengembalikan ponsel sambil tertawa kecil.
“Orang-orang emang suka bikin cerita sendiri.”
“Tapi kalau ceritanya bener?”
Raka tidak menjawab.
Ia hanya meminum air dari botolnya dan memandang lapangan yang mulai sepi.
---
Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan kerja bakti membersihkan taman belakang.
Alya mendapat tugas menyusun pot bunga, sedangkan Raka membantu memindahkan bangku kayu yang sudah dicat ulang.
Tanpa sengaja, mereka ditempatkan di area yang sama.
“Rak, tolong pegang ujung sana dong.”
“Siap.”
Mereka mengangkat bangku bersama-sama lalu meletakkannya di bawah pohon rindang.
Saat pekerjaan selesai, keduanya duduk sebentar untuk beristirahat.
Angin berembus pelan.
Suasana taman cukup sepi karena sebagian besar siswa masih bekerja di bagian depan sekolah.
Alya menatap langit.
“Capek juga ya.”
“Iya, tapi lumayan seru.”
“Daripada belajar terus.”
Raka tertawa.
“Setuju.”
Keheningan muncul beberapa detik.
Namun kali ini bukan keheningan yang canggung.
Justru terasa nyaman.
---
Raka memainkan tutup botol minumnya dengan gugup.
Sejak beberapa hari terakhir, ada satu kalimat yang terus ingin ia sampaikan.
Ia menoleh ke arah Alya.
“Lya…”
“Hm?”
“Gue mau ngomong sesuatu.”
Alya ikut menoleh.
“Apa?”
Raka menarik napas panjang.
Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
“Gue…”
Belum sempat melanjutkan, terdengar suara keras dari kejauhan.
“Rakaaa!”
Dion berlari menghampiri sambil melambaikan tangan.
“Pelatih nyariin lo! Katanya latihan dimajuin sekarang!”
Raka menutup mata sejenak, antara kesal dan pasrah.
“Sekarang?”
“Iya, sekarang.”
Ia menoleh lagi ke arah Alya.
“Maaf, kayaknya harus pergi.”
Alya tersenyum kecil.
“Nggak apa-apa. Urusan basket dulu aja.”
“Tapi yang tadi…”
“Nanti aja kalau ada waktu.”
Raka mengangguk, meski dalam hati ia kecewa karena keberaniannya menghilang begitu saja.
---
Sepeninggal Raka, Nadya datang membawa sapu.
“Tadi kalian ngobrol apa?”
“Katanya dia mau ngomong sesuatu.”
“Terus?”
“Keburu dipanggil Dion.”
Nadya mengangkat alis.
“Jangan-jangan…”
Alya cepat-cepat memotong.
“Udah ah, jangan mulai.”
“Tapi penasaran nggak?”
“Penasaran.”
“Kalau menurut gue sih, itu penting.”
Alya hanya tersenyum tipis.
Entah kenapa, ia juga merasa kalimat yang belum selesai itu bukan pembicaraan biasa.
---
Sore harinya, Raka mengirim pesan.
> Raka:
Maaf ya tadi kepotong.
Alya membalas beberapa menit kemudian.
> Alya:
Santai aja. Besok juga ketemu.
> Raka:
Iya. Nanti gue lanjutin.
Melihat pesan itu, Alya tanpa sadar ikut gugup.
Ia menaruh ponselnya di meja, lalu mencoba membaca buku.
Lima menit kemudian, ia malah mengambil ponsel lagi dan membaca ulang chat tersebut.
Senyumnya muncul pelan.
---
Malam itu, Raka berdiri di balkon rumah sambil memandang langit.
Ia mengulang-ulang kalimat yang ingin diucapkannya.
Namun setiap kali mencoba, selalu terasa kurang pas.
Di kamar Alya, suasananya tidak jauh berbeda.
Ia memikirkan percakapan siang tadi dan bertanya-tanya, apa sebenarnya yang ingin disampaikan Raka.
Mungkin hanya hal sepele.
Mungkin juga sesuatu yang lebih besar.
Yang jelas, sore itu mereka sama-sama merasakan satu hal yang sama.
Mereka sudah sangat dekat dengan sebuah pengakuan.
Begitu dekat hingga hanya tinggal beberapa kata lagi.
Namun waktu belum berpihak, dan kesempatan itu kembali tertunda.
Meski begitu, baik Alya maupun Raka tahu bahwa perasaan yang mereka simpan semakin sulit disembunyikan.
Dan cepat atau lambat, salah satu dari mereka harus cukup berani untuk mengatakannya dengan jelas.