NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBERANIAN YUKARI

Mata Akira menyapu liar ke seluruh penjuru festival. Di tengah lautan manusia yang masih bersorak menikmati musik, pandangannya mendadak terkunci pada sekelebat cardigan maron yang sangat ia kenal.

"Sebelah sana!" seru Akira lantang, menunjuk ke arah belakang deretan tenda utama. "Aku melihat Yukari!"

Daiki dan Rin spontan menoleh. Di kejauhan, sesosok wanita tampak terdorong paksa keluar dari kerumunan menuju area yang lebih gelap. Tanpa membuang waktu lagi, mereka bertiga langsung pasang langkah seribu.

Tepat saat itu, lagu di atas panggung berakhir. Sorak-sorai penonton berganti menjadi gemuruh tepuk tangan yang menggema di seluruh lapangan. Namun, begitu mereka sampai di balik deretan tenda, sosok Yukari justru kembali menghilang.

"Tunggu!" teriak Rin sambil menunjuk sudut gelap di dekat tenda logistik. "Aku melihatnya! Ada seseorang yang menyeret Yukari ke belakang!"

Daiki mengerem langkahnya sesaat. "Kau yakin, Rin?!"

"Aku yakin seratus persen! Yukari sedang berusaha melepaskan diri!" balas Rin mantap.

Mendengar hal itu, firasat buruk langsung menghantam dada Akira. Ia mencengkeram lengan Daiki dengan kuat. "Daiki... Jangan-jangan... Hiroshi."

Wajah Daiki seketika menggelap. "Brengsek...! Aku tidak menyangka keparat itu bakal senekat ini!" geramnya, langsung memutari deretan tenda menuju area parkir belakang yang minim penerangan.

Sambil terus berlari menyamai tempo Daiki, Rin yang mulai terengah-engah akhirnya bertanya, "Siapa Hiroshi?"

"Mantan tunangan Yukari," sahut Daiki dengan nada menahan amarah. "Pria sakit jiwa yang selama ini terus menerornya."

Mata Rin membelalak. Tanpa banyak tanya lagi, ia ikut mempercepat larinya.

Begitu mereka tiba di area parkir belakang yang sepi, napas Akira seolah berhenti di tenggorokan. Di depan sebuah mobil van hitam yang pintu gesernya sudah terbuka, tampak Hiroshi sedang membekap mulut Yukari dari belakang, menyeret tubuh gadis itu dengan kasar agar masuk ke dalam kabin.

Yukari meronta sekuat tenaga, air matanya menetes deras membasahi tangan jahanam yang membekapnya. Kedua tangan mungilnya berkali-kali memukul lengan Hiroshi, namun tenaga pria itu terlalu besar untuk dilawan.

"Sialan!" Daiki menggeram frustrasi karena jarak mereka masih terlalu jauh untuk menjangkau Hiroshi.

Detik itu juga, mata Daiki menangkap sebuah apel merah sisa pajangan yang tergeletak di dekat tumpukan peti kayu. Sambil terus berlari, Daiki membungkuk cepat, meraih apel tersebut, lalu berteriak sekencang mungkin.

"Lepaskan dia, Keparat!"

Seketika, lengan Daiki berayun kuat melemparkan buah tersebut.

*BUK!*

Apel itu menghantam telak bagian belakang kepala Hiroshi.

"Aaargh!" Hiroshi mengaduh kesakitan, refleks melepaskan bekapan tangannya untuk memegangi kepalanya yang berdenyut. Akibatnya, tubuh Yukari kehilangan keseimbangan dan terdorong jatuh ke dalam kabin mobil van.

Belum sempat Hiroshi meraih pintu geser untuk kabur, Daiki sudah melompat tiba di hadapannya. Tangan Daiki mencengkeram kuat kerah baju Hiroshi. "Kau bosan hidup, ya?!"

Dengan sekali sentakan kasar, Daiki menyeret Hiroshi keluar dari mobil hingga terjatuh menghantam tanah terjal.

*BUGH!*

Satu pukulan mentah mendarat telak di wajah Hiroshi. Belum sempat pria itu mengumpulkan kesadarannya, *BUGH!* Pukulan kedua kembali menghantam rahangnya tanpa ampun.

"Kau masih berani menyentuh Yukari, hah?!" raung Daiki kesetanan.

Hiroshi mencoba membalas dengan gerakan lemah, namun sebuah tendangan keras dari sepatu Daiki lebih dulu menghantam ulu hatinya.

"Ugh...!" Tubuh Hiroshi langsung terlipat di tanah sambil terbatuk-batuk menahan sakit.

Di saat yang sama, Akira sudah melompat masuk ke dalam kabin mobil van. "Yukari-san!"

Yukari yang terduduk lemas di lantai mobil perlahan mengangkat wajahnya yang sembap. Begitu pandangannya menangkap sosok Akira, seluruh pertahanan dan rasa tegar yang ia paksakan sejak tadi langsung runtuh lebur.

"Akira-san..." Suara gadis itu bergetar hebat. "...aku takut." Tangisnya pecah seketika.

Akira segera berlutut di hadapan Yukari. Tatapan matanya begitu tenang dan teduh, seolah sedang menyerap seluruh ketakutan yang menjerat gadis itu. "Tidak apa-apa," ucapnya sangat lembut. "Aku di sini. Kau sudah aman, Yukari-san."

Yukari mengangguk pasrah di sela isak tangisnya yang pilu.

Tanpa ragu, Akira menyusupkan satu tangan kekarnya ke bawah lutut Yukari, sementara tangan lainnya menopang punggung gadis itu dengan kokoh. "Pegang aku," bisik Akira pelan.

Yukari langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Akira, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Di sanalah, mendengarkan detak jantung Akira yang stabil, Yukari akhirnya menemukan kembali rasa amannya yang sempat hilang.

Dengan penuh kehati-hatian, Akira mengangkat tubuh Yukari dalam gendongannya keluar dari mobil van. Sebelum melangkah menjauh dari tempat terkutuk itu, ia menoleh ke arah Daiki yang masih dikuasai amarah.

"Rin-san!" panggil Akira lantang. "Tolong tahan Daiki! Jangan sampai dia membunuh keparat itu di sini. Serahkan sisanya pada petugas keamanan!"

"Aku mengerti!" sahut Rin sigap. Ia langsung menerjang maju dan mencengkeram lengan Daiki sekuat tenaga. "Daiki, cukup! Jangan kotori tanganmu untuk pria sampah seperti dia. Biarkan polisi yang menyeretnya ke penjara!"

Daiki terengah-engah dengan dada yang naik-turun menahan sisa amarahnya. Ia menatap jijik ke arah Hiroshi yang sudah babak belur tak berdaya di bawah kakinya, sebelum akhirnya meludah ke tanah dan melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Sialan..."

Tak lama kemudian, beberapa petugas keamanan festival bersama sejumlah warga desa datang berlarian menuju area parkir belakang setelah mendengar keributan.

Sementara itu, Akira terus berjalan mantap menjauhi area parkir, menggendong yukari menuju pos medis festival yang terletak di area belakang balai desa. Tubuhnya masih sedikit gemetar akibat sisa syok yang menyerang sarafnya.

"Akira-san, lebih baik bawa yukari pulang" Daiki berdiri di dekat pintu pos

Yukari menggelengkan kepalanya dengan mantap. Ia menggenggam erat segelas teh ocha hangat yang diberikan petugas medis "Aku tidak mau pulang sekarang, Akira-san, Daiki..." bisik Yukari tulus, suaranya kini terdengar lebih stabil. "Malam ini, aku ingin mengalahkan rasa takutku. Aku ingin melihat kembang api bersama kalian."

Akira tertegun mendengar ucapan Yukari. Ada rasa hangat sekaligus kagum yang membuncah di dalam dadanya melihat ketegaran gadis mungil ini.

Rin yang duduk di samping Yukari langsung tersenyum kagum. Gadis tomboi itu merangkul pundak Yukari dengan lembut. "Aku suka semangatmu, Yukari! Jangan biarkan sampah seperti mantan tunanganmu itu merusak malam berhargamu. Lagipula, ada dua pria berbadan besar ini yang siap menghajarnya kalau dia berani muncul lagi."

Daiki yang biasanya banyak bercanda pun kini hanya bisa mengembuskan napas lega sambil mengacak rambutnya sendiri.

Setelah memastikan kondisi Yukari benar-benar pulih, mereka berempat memutuskan untuk berjalan menjauh dari kerumunan panggung utama yang terlalu bising. Daiki memimpin di depan, menuntun mereka menuju sebuah bukit kecil berumput di balik gedung balai desa. Tempat itu jauh lebih sepi, namun memiliki sudut pandang paling sempurna untuk menatap langit malam Oki-Niko.

Waktu merambat naik mendekati tengah malam ketika suasana desa mendadak hening sejenak, sebelum akhirnya suara desingan keras tiba-tiba meluncur membelah kegelapan langit.

DUARRR!

Kembang api pertama meledak dengan megahnya di angkasa, memancarkan pendar cahaya merah, hijau, dan keemasan yang menerangi seluruh bukit kecil tersebut. Yukari mendongak kagum menatap gemerlap bunga api yang mekar bergantian di atas sana.

Namun, saat pertunjukan baru berjalan beberapa menit, pandangan mata Yukari tanpa sengaja turun ke arah Daiki dan Rin yang berdiri sekitar dua meter di depan mereka. Detik itu juga, mata Yukari seketika membelalak sempurna dan mulutnya sedikit terbuka karena terkejut.

Di bawah remang pendar kembang api yang berganti warna secara romantis, Daiki tampak melingkarkan tangannya di pinggang Rin. Gadis tomboi itu berjinjit, dan dalam hitungan detik, keduanya sudah saling bertukar ciuman manis yang begitu intim di bawah langit malam.

Astaga! Daiki... Rin-san...?! jerit Yukari histeris di dalam hatinya.

Panik karena merasa adegan dewasa itu tidak pantas ditonton secara gratis, dan entah mengapa mendadak merasa canggung jika Akira ikut melihatnya,

"A-Anu... Akira-san! Jangan melihat ke depan!" seru Yukari setengah berbisik dengan nada panik yang kentara menghalangi fokus pandangan Akira dengan tapak tangannya

Akira yang berdiri tegap hanya perlu melirik sedikit ke bawah melalui sudut matanya, menatap tingkah ajaib gadis di depannya sembari terkekeh pelan. Suara tawa rendahnya terdengar begitu seksi di tengah dentuman kembang api.

"Kenapa ? Memangnya ada apa di depan?" tanya Akira menggoda, matanya berkilat jenaka menatap wajah Yukari yang panik.

"Pokoknya jangan melihat ke sana! Lihat ke arahku saja! Kumohon!" rengek Yukari, wajahnya semakin matang sewarna buah apel festival akibat rasa malu yang luar biasa. Kedua tangannya bahkan mencoba menggapai wajah Akira untuk mengalihkan pandangannya.

Melihat kepanikan yang teramat menggemaskan itu, Akira perlahan merendahkan sedikit tubuhnya, menyamakan tinggi wajah mereka.

"Biarkan saja mereka, Bukankah... kita sudah lebih dulu berciuman?"

Skakmat.

Mendengar kalimat blak-blakan yang keluar dari mulut lempeng Akira, seluruh kata-kata Yukari langsung tertelan kembali di tenggorokan. bingung harus menjawab apa dan terlanjur malu setengah mati, Yukari secara refleks langsung memukul dada bidang Akira dengan keras menggunakan kedua tangan mungilnya.

"Itu obat.. penenang darurat tahu!!!" omel Yukari berapi-api dengan wajah yang merona hebat, mencoba membela diri dari godaan pria di depannya.

Akira langsung mengaduh pelan sambil mengusap dadanya sendiri. "Iya.. iya obat.. maaf kan aku nona pustakawan!!" Ia mengulurkan tangan kekarnya lalu mengacak-acak rambut Yukari dengan lembut—sebuah tindakan kasual yang hangat untuk menenangkan kegugupan gadis itu.

Setelahnya, Akira kembali meluruskan pandangannya ke atas. Di bawah gemerlap riuhnya kembang api berwarna-warni yang terus meledak indah menghiasi langit malam.

****

Begitu seluruh rangkaian festival usai dan kembang api terakhir telah meredup di langit, mereka memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan menyusuri jalan setapak desa yang mulai sunyi dan hanya diterangi pendar cahaya bulan, Akira tiba-tiba mengulurkan tangannya, kembali menggenggam jemari Yukari dengan erat namun lembut.

Sambil terus melangkah beriringan, Akira memecah keheningan malam dengan suara rendahnya yang terdengar begitu tenang.

"Yukari-san."

Yukari menoleh sedikit ke samping. "Ya?"

"Sepertinya... aku sudah siap," ucap Akira pelan, tatapannya lurus menatap jalanan di depan mereka.

Yukari mengernyitkan dahinya, sedikit bingung dengan arah pembicaraan pria itu. "Hm?"

"Aku siap untuk mencoba menghubungi orang tuaku dan sahabatku... besok," lanjut Akira tanpa keraguan.

Mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Akira, langkah kaki Yukari seketika terhenti total di tempatnya. Karena hentakan mendadak itu, tautan genggaman tangan mereka terlepas, tertinggal di belakang seiring langkah Akira yang sempat maju satu pijakan ke depan.

Akira langsung menghentikan jalannya, lalu menoleh ke belakang untuk menatap Yukari yang kini berdiri mematung sembari terdiam seribu bahasa. Wajah gadis itu tampak terkejut, sekaligus tersentuh di bawah siraman cahaya rembulan.

Yukari menatap lekat-lekat sepasang mata Akira, mencoba mencari kepastian. "Kau melakukannya karena keinginanmu sendiri? Atau... terpaksa karena memikirkan hal lain?"

Akira menggelengkan kepalanya perlahan. Sebuah senyuman tipis yang tulus terukir di bibirnya. "Murni keinginan dari dalam diriku sendiri."

Mendengar jawaban mantap itu, rasa lega dan haru langsung membuncah di dada Yukari. Perlahan, seulas senyuman manis dan tulus mengembang di wajah cantiknya. Gadis itu mengangguk penuh keyakinan.

"Baiklah... kalau begitu, besok kita telepon mereka bersama-sama," balas Yukari dengan nada suara yang begitu hangat dan menyemangati.

Akira kembali mengulas senyum, lalu mengulurkan tangannya untuk kembali menyambut jemari Yukari. Dengan tangan yang kini bertaut lebih erat dari sebelumnya, langkah kaki yang sempat tertunda itu pun kembali dilanjutkan, membelah keheningan malam menuju rumah dengan lembaran harapan baru yang siap mereka buka esok hari.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!