Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 08
Felix tersenyum tipis mendengar laporan dari perkembangan wabah di suku bar-bar dan Ilos yang mulai meningkat pesat dihari pertama, memang ide yang bagus jika membuat dua musuh itu merasa ketakutan, terlebih Ilos yang sangat saling menjaga satu sama lain.
Dia tau wabah yang menjangkit di suku bar-bar dari sejak perang tiga tahun yang lalu, wabah ofelion. Wabah yang pernah muncul di seluruh dunia, dan dari Ilos yang menjadi tempat teraman karena adanya para penyihir. Tapi sekarang, Ilos tidak mungkin bisa bertahan.
Felix juga tau cara lain selain sihir untuk menanggulangi wabah ofelion, hanya saja untuk negeri Ilos mereka kekurangan satu bahan. Dan itu hanya ada di negeri Odelions.
"para warga Odelions, sudah mendapatkan suntikan dari obat secara menyeluruh. Tidak ada yang terlewat kan" lapor para bawahan yang bertugas untuk memberikan suntikan antibiotik pada warga.
"itu ide yang bagus nak, membuat dua kelompok itu seperti ini, terlebih Ilos yang paling mengutamakan kebersamaan, ayah yakin cepat atau lambat mereka akan jadi bagian Odelions", kaisar menepuk bahu Felix bangga.
Felix hanya tersenyum. Untuk membalaskan kekesalannya dengan suku bar-bar, cara ini cukup efektif membuat mereka tunduk. Dan terlebih suku bar-bar cukup dekat dengan negeri Ilos dan mereka punya hubungan yang cukup baik, maka akan mudah menyelesaikan permasalahannya.
Felix pamit hendak mengecek para prajurit Beta yang akan dilatih menjadi prajurit omega, Brian tidak bisa mengawasi karena menjadi kepala pemimpin pasukan yang menjaga obat yang harus diberikan ke penduduk.
Felix menoleh ketika melihat burung kesayangan nya terbang mendekat padanya, dia tersenyum melihat burung itu masih seperti biasa menjadi pengintai nya pada Evanthe.
Saat Felix mengakses memori burungnya, wajahnya dalam beberapa detik berubah kelam ketika selesai mengingat semua yang dilihat burungnya. Dia berjalan mendekati bangunan pelatihan dengan aura pembunuhan, membuat siapapun yang melihat jadi ketakutan.
Belum sempat dia berkata apapun, dia mendengar keributan di dekat gerbang masuk menuju kandang kuda.
"fokuskan latihan kalian" Felix mendekat ke arah kandang kuda.
walau masih berjarak lima langkah lagi, dia dapat mendengar siapa yang membuat kebisingan di dekat area latihan prajurit.
Felix bersandar di pohon yang tidak jauh dari kandang,mendengar perdebatan permaisuri dengan putra kesayangannya.
"Flery kamu masih demam tinggi, tidak usah berburu. Lagian sekarang ada wabah yang meletus di sekitar perbatasan, ibu khawatir kamu terkena penyakit nanti" cemas permaisuri.
"tidak aku tetap harus kesana ibunda" kukuh Flery yang masih lemah tertatih menaiki kudanya, namun ditahan permaisuri.
"kenapa kamu keras kepala ingin ke hutan nak, ada apa disana?" permaisuri menatap putranya.
"jika aku terlambat, aku takut tidak akan bertemu dengannya lagi ibu. Wabah itu_aku takut dia terkena, aku harus memberikan obat ini untuknya" batin Flery sembari meremas tabung kecil di sakunya.
Sejak kabar wabah suku bar-bar meluas hingga dekat Odelions dan Ilos, Flery sudah cemas kalau Eva terkena wabah itu. Terlihat dia mendengar dari para pelayan,obatnya hanya bisa diproduksi dari Odelions karena memiliki satu kunci obatnya, yaitu air tujuh mata pelangi.
Flery harus menuju air terjun untuk memberikan obatnya, walaupun Flery akan tau kalau obat itu akan dipakaikan ke orang lain dari pada diri Eva sendiri, tapi setidaknya dia bisa melihat Eva dengan matanya sendiri, memastikan kalau Eva baik-baik saja.
Flery jatuh ke pelukan permaisuri, karena tubuhnya masih lemas. Dia masih lemah untuk berkuda sendiri menuju lokasi bertemu mereka seperti biasanya, permaisuri dengan cepat memanggil beberapa prajurit untuk membantu membopong pangeran menuju kamarnya.
Felix menatap kepergian Flery dalam diam, wajah nya datar kala melihat kekukuhan Flery hendak ke hutan, mengklarifikasi kan kalau yang di dengar burungnya itu benar. Dia terkekeh kecil, terdengar menyeramkan.
"ah Flery adikku_ kenapa harus kamu ya, tidak peduli kalau itu permaisuri, tapi kenapa kamu mau sekali jadi bonekanya hmm" Felix melihat bayangan Flery yang dibopong.
Felix tersenyum miring, "yah kurasa dia tidak tau identitas mu, apa kita buat permainan baru untukmu. Sekalian memberitahumu adikku kalau_ apapun yang sudah membuat ku tertarik tidak akan ku serahkan kesiapapun".
Felix melihat bekas luka melintang di tangan kirinya, menciumnya sekilas dengan tatapan yang berkilau lain yang siapapun melihat nya tau kalau Eva tidak akan bisa lepas dari Felix.
Felix tersenyum kecil, lantas kembali ke area latihan untuk mengawasi.
Selama tiga jam mengawasi, Felix kembali ke ruang kerja di dekat istana kaisar untuk melihat data baru dan perkembangan dari daerah-daerah lain.
"Felix!", Brian berlari ke arahnya.
"bagaimana dengan para penduduk?, semua sudah mendapat suntikan?" Felix menatap Brian.
"yah tinggal area dekat perbatasan Ilos. Oh ya ku dengar warga Ilos mulai karantina itu bukannya kesempatan kita Felix?" saran Brian.
Felix terkekeh, "itu sama saja memberikan nyawa pasukan kita Brian, kau tau wabah ini menyerang hanya dengan kontak fisik. Sekali terjangkit tamat sudah, biarkan saja mereka menyerahkan diri, itu lebih mudah kan".
Brian mengangguk paham, dia lupa kalau penularan wabah ofelion cukup tinggi. Bahkan sentuhan sekecil apapun, untung Felix bisa meracik obat untuk semua yang ada di Odelions, walau harus memberi baru metalium seharga tinggi.
Tapi itu menjadikan jaminan kembali yang bagus, suku bar-bar yang tunduk sepenuhnya, dan Ilos yang dikuasai, sudah cukup untuk menjadi ganti uang yang dikeluarkan untuk membeli batu metalium.
Felix dan Brian berpisah di persimpangan, Brian harus kembali memantau persediaan obat dan persiapan panen bulan depan, Mengingat dia yang menjadi penanggung jawab atas acara dibagian persiapan.
Felix kembali melangkah sendiri menuju kantornya, di pertengahan jalannya. Dia melihat Flery yang berjalan pelan sendiri di lorong istana.
"se inginnya kamu menemui dia, sudah berapa jauh hubungan kalian itu"batin Felix kesal.
Langkah Felix mencepat mendekati Flery, dan dengan kuat mencekal tangan Flery. Bisa dirasakan suhu Flery yang masih tinggi, wajah yang pucat dan lemah ini memaksakan diri untuk pergi menemui Evanthe. Yang bisa saja menewaskannya detik itu juga.
"lepas," dia berdesir pelan. Terdengar ketus dan kesal.
"kau ingin kemana 'adikku' diluar ada wabah berbahaya, kau tidak ingin 'ibunda' permaisuri sedih karena putra kesayangannya mati kan", Felix tersenyum sinis.
Flery mendengus, biasanya di mudah saja menepis bahkan membalas ucapan Felix, tapi dia tidak punya banyak tenaga. Dia harus menemui Eva sebelum terlambat, setidaknya memberikan obat padanya itu sudah bisa menenangkan nya.
Felix melihat gelagat melawan Flery dengan cepat menepuk lehernya agar pingsan, dan membopong nya menuju kamar Flery yang cukup jauh dari kantornya.
Para pelayan yang awalnya pergi untuk menyiapkan peralatan Flery lansung takut, ketika Felix muncul membawa Flery. Mereka tau sekali lalai menjaga Flery, resikonya akan tinggi di tangan Felix.
Semusuh apapun kelihatannya, tapi Felix tetap menjaga Flery dalam diam. Walau Flery berusaha berniat membunuhnya, dia tidak pernah berniat membunuh Flery. Tapi bukan berarti dia baik, justru jika Flery melewati batas tertentu, akan fatal akibatnya.
Felix menatap wajah adiknya terakhir kali, " jangan harap kau bisa memiliki nya 'adikku', karena_ dia sudah ku tandai". Batin Felix penuh niat.
Dia pergi meninggalkan kamar Flery dengan wajah datar, namun dibalik itu ada ide lain yang muncul untuk dia lakukan lima hari lagi.
...****************...