Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Langkah kaki Joshua terasa berat namun mantap saat ia menjauh dari ruang tamu, setiap inci pergerakannya menyimpan api dendam yang kini membara jauh lebih hebat dari sebelumnya. Di benaknya, gambaran tentang Dian yang dulu ia kira sekadar korban tak berdosa perlahan berubah menjadi sosok yang sama dingin, sama keras hati, dan sama kejamnya dengan orang yang telah merenggut segalanya darinya bertahun-tahun silam. Ia mengira ada ketulusan yang tersembunyi di balik wajah lembut itu, ada penderitaan yang sama yang bisa ia pahami, namun ucapan yang baru saja ia dengar itu seolah menjadi bukti nyata: di balik segala kepolosan yang ditampakkan, wanita itu memiliki jiwa yang kering, tak mengenal rasa terima kasih, dan mudah sekali membuang ikatan yang telah mengikatnya bertahun-tahun hanya demi kepentingan dan kenyamanannya sendiri. Semua keraguan yang sempat menyelinap di hatinya—sedikit saja rasa ragu apakah ia terlalu berlebihan menyiksa istrinya—kini lenyap sepenuhnya, berganti dengan tekad yang jauh lebih tajam dan tanpa ampun.
Di ruang kerjanya yang sejuk dan remang, ia duduk kembali di kursi besarnya, menatap tajam ke arah berkas-berkas yang tersusun rapi di atas meja. Di sana tercatat rincian demi rincian kehancuran yang sedang ia bangun perlahan namun pasti, meruntuhkan pilar kekuasaan dan kekayaan keluarga itu satu per satu hingga tak tersisa apa pun. Tangan kanannya bergerak menyentuh layar ponsel, mengirim pesan singkat namun padat makna kepada orang kepercayaannya: Percepat segala prosesnya. Jangan biarkan ada celah sedikit pun untuk mereka bertahan atau bangkit kembali. Berikan pukulan yang paling keras dan menyakitkan, biarkan mereka merasakan betapa hancurnya saat kehilangan segalanya hingga ke titik terendah yang tak terbayangkan.
Sementara itu, di ruang tamu yang kini sepi kembali, Dian masih duduk diam di tempatnya. Wajahnya yang semula dingin dan tegas perlahan mulai berubah, namun bukan karena rasa bersalah—melainkan karena rasa lega yang bercampur dengan kepuasan yang aneh. Ia merasa seolah baru saja melepaskan rantai berat yang selama ini membelenggu lehernya, rantai yang terbuat dari kewajiban paksa, rasa terima kasih yang palsu, dan perlakuan yang selama ini ia terima dengan diam dan tunduk. Bagi Dian, keluarga itu bukanlah tempat tumbuh yang penuh kasih sayang, melainkan sekadar tempat berteduh yang harus ia bayar dengan ketaatan tanpa syarat, tempat di mana ia selalu merasa menjadi orang asing yang hanya diizinkan tinggal selama ia berguna. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ucapannya yang penuh ketidakpedulian itu telah terdengar oleh satu-satunya orang yang kini memegang kendali penuh atas nasibnya, orang yang justru sedang menunggu alasan tepat untuk memperparah penderitaannya.
Hari-hari pun berlalu, dan suasana di rumah besar itu perlahan namun pasti berubah menjadi semakin dingin dan kaku. Joshua kini bersikap jauh lebih tertutup, jauh lebih jarang berbicara, dan jika pun berbicara, kata-katanya selalu pendek, terukur, dan penuh dengan nada yang sulit diartikan—kadang terdengar lembut, namun selalu menyisakan rasa menusuk yang tak terlihat. Ia tidak pernah lagi menunjukkan sedikit pun tanda kelembutan yang sempat ia berikan di awal, bahkan sekadar pura-pura pun kini semakin jarang terlihat. Dian yang awalnya merasa puas karena telah memutus hubungan dengan masa lalunya, perlahan mulai merasakan kekosongan yang makin besar di sisi lain. Ia berpikir mungkin sikap suaminya ini hanya karena beban pekerjaan yang berat, atau karena sifat aslinya memang seperti itu, dan ia berusaha tetap sabar serta memahami sekuat tenaga, takut jika ia menuntut sesuatu maka ia akan dianggap istri yang tidak tahu diri dan banyak menuntut.
Namun hal yang paling menyakitkan mulai terasa ketika kabar demi kabar buruk perlahan mulai menyusup masuk, meski tidak langsung sampai ke telinga Dian. Ia mulai mendengar bisik-bisik pelan di antara para pelayan, menyebutkan nama perusahaan ayah angkatnya dengan nada prihatin dan penuh kekhawatiran, menyebutkan betapa cepatnya nasib keluarga itu berbalik arah dari kemewahan yang melimpah menuju jurang kebangkrutan yang mendadak. Dian yang mendengarnya hanya diam, berusaha menutup telinga dan hati, meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan urusannya lagi, bahwa ia sudah lepas dari segala beban itu dan tak perlu memikirkannya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa ganjil yang tak bisa ia hilangkan, rasa yang berbisik bahwa ada sesuatu yang besar dan mengerikan sedang terjadi di luar sana, sesuatu yang entah bagaimana caranya selalu berhubungan dengan kehadiran Joshua di sisinya.
Suatu sore yang mendung, saat ia sedang berjalan sendirian di lorong panjang yang sepi, ia tanpa sengaja melihat pintu ruang kerja Joshua sedikit terbuka. Dari celah itu, matanya menangkap pemandangan yang membuat darahnya terasa berhenti mengalir sejenak: di atas meja kerja suaminya, terlihat jelas tumpukan dokumen besar dengan logo perusahaan ayahnya yang kini sudah mulai pudar, disertai dengan catatan-catatan merah yang menandai kerugian besar, serta grafik yang menurun tajam dan menyedihkan. Di sampingnya, ada surat-surat perjanjian dan kontrak kerja sama yang telah dibatalkan satu demi satu, semuanya berisi tanda tangan yang mengarah kembali ke lingkaran bisnis Joshua. Jantung Dian berdegup kencang dan tak beraturan, rasa dingin yang hebat merambat dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepalanya. Perlahan namun pasti, kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini ia abaikan mulai menyusun satu gambaran yang mengerikan dan penuh kebenaran pahit.
Saat ia masih terpaku kaku di sana, tiba-tiba pintu itu terbuka lebar. Joshua berdiri tegak di ambang pintu, menatapnya dengan pandangan yang tajam, dingin, dan penuh kepastian—tanpa sedikit pun rasa kaget atau rasa bersalah karena ketahuan. Wajahnya tenang, bahkan sedikit tersenyum tipis, namun senyum itu adalah senyum yang paling mengerikan yang pernah dilihat Dian selama hidupnya.
“Kau melihatnya, bukan?” tanyanya dengan suara yang rendah namun terdengar sangat jelas dan penuh tekanan, tanpa ada nada bersembunyi lagi. “Kau akhirnya mulai menyadari kebenaran yang sebenarnya, Dian? Bahwa semua yang sedang terjadi itu bukan sekadar kebetulan, bukan sekadar gelombang pasar yang buruk, melainkan hasil kerja keras dan perencanaan yang matang yang telah kususun bertahun-tahun lamanya.”
Dian hanya mampu berdiri diam, bibirnya bergetar hebat namun tak mampu mengeluarkan satu kata pun. Ia menatap suaminya dengan pandangan yang penuh ketakutan, bingung, dan perlahan mulai memahami segalanya.
“Kau bertanya-tanya kenapa aku melakukan ini?” lanjut Joshua perlahan, melangkah mendekat satu per satu langkahnya seolah mendekati mangsa yang sudah terperangkap rapat. “Ingatlah baik-baik ucapanmu tadi, saat kau dengan dingin dan angkuh berkata bahwa nasib mereka bukan urusanmu, bahwa kau sama sekali tidak peduli meski mereka hancur sekalipun. Kau sama saja dengan mereka, Dian. Sama kejamnya, sama kering hatinya, sama tidak mengenal rasa terima kasih dan kasih sayangnya. Jika kau begitu mudah membuang ikatan keluarga yang telah membesarkanmu, maka jangan harap aku akan memberikan sedikit pun belas kasihan padamu saat kau mulai merasakan akibatnya. Ingatlah baik-baik: rumah besar ini, kemewahan yang kau nikmati, dan kehadiranku di sisimu… semuanya hanyalah bagian dari hukuman yang telah lama kutunggu untuk kau dan keluarga itu terima sepenuhnya.”
Di saat yang sama, hujan deras mulai turun dengan lebatnya di luar sana, seolah langit pun turut merasakan betapa hancurnya dunia Dian yang selama ini ia bangun dengan penuh kepura-puraan dan ketidaktahuan. Di hadapannya kini berdiri bukan lagi suami yang ia cintai dan percaya, melainkan sosok yang penuh dendam yang telah lama menyusun jebakan sempurna, dan kini saatnya untuk menarik tali jebakan itu semakin erat hingga tak ada lagi jalan keluar yang tersisa baginya.