“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 33.
Liora sedang membantu para pelayan menyusun bunga segar di ruang keluarga. Sesekali ia menggeser vas beberapa sentimeter agar terlihat lebih simetris.
"Nyonya, biar kami saja," ujar salah seorang pelayan.
Liora tersenyum kecil. "Nggak apa-apa, aku juga lagi senggang."
Tak jauh dari sana, Dewangga duduk di karpet ruang keluarga sambil menyusun balok-balok kayu bersama Keivan.
"Yang ini di sini."
"Nggak, Pah..." Keivan langsung memindahkan balok itu. "Kalau ditaruh di situ nanti roboh."
"Oh..." Dewangga mengangguk seolah baru mengerti.
Keivan melirik ayahnya sekilas.
Aneh... hari ini Papa benar-benar banyak diam.
Biasanya kalau bermain begini, Dewangga sengaja membuat baloknya roboh supaya Liora datang membujuk. Tapi sekarang, ayahnya itu malah anteng.
Belum sempat Keivan berpikir lebih jauh, terdengar langkah kaki Codet memasuki ruangan.
"Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu."
Liora yang sedang merapikan rangkaian bunga mengangkat kepalanya. "Siapa?"
"Nyonya Maya."
Gerakan tangan Liora langsung terhenti, beberapa detik ia hanya terdiam. Pertemuan di parkiran rumah sakit kemarin masih sangat jelas di dalam ingatannya. Senyum sinis Maya, tatapan merendahkan, hingga cara wanita itu membicarakan ibunya yang masih terbaring di rumah sakit.
"Dia datang ke sini?" tanya Liora datar.
"Iya, Nyonya."
"Persilakan masuk." Liora mengembuskan napas pelan.
Tak lama kemudian, langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat. Maya memasuki ruang tamu dengan senyum tipis yang sama seperti saat mereka bertemu di rumah sakit. Tatapannya berkeliling mengamati kemewahan mansion keluarga Salendra tanpa berusaha menyembunyikan rasa iri di matanya.
"Rumahmu jauh lebih megah daripada yang kubayangkan," ucap Maya sambil tersenyum tipis.
Liora tidak membalas senyuman itu sedikit pun. "Kalau kamu datang hanya untuk melihat-lihat rumahku, sepertinya kunjungan ini sudah selesai. Silahkan pergi!"
Ucapan dingin itu membuat senyum Maya sedikit memudar. "Cih! Mulutmu itu, masih saja kasar."
Liora menatap dingin wanita itu. "Aku hanya tidak suka membuang-buang waktu untuk berbasa-basi dengan orang yang tidak pernah bersikap seperti seorang manusia."
Wajah Maya sontak memerah karena marah, namun bibirnya masih terkunci tak membalas.
Dewangga yang duduk di sofa sambil memeluk boneka tetap memasang wajah polos. Namun dari balik ekspresi itu, matanya mengamati setiap perubahan raut wajah Maya.
Sedangkan Keivan hanya menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memperhatikan tanpa menyela.
Maya lalu tertawa kecil. "Sejak menjadi Nyonya Salendra, lidahmu semakin tajam."
"Lidahku tidak berubah, yang berubah hanya keberanianku untuk tidak lagi diam ketika dihina olehmu."
Maya menarik napas pelan sebelum duduk. "Baiklah, kalau begitu kita bicara langsung saja."
"Itu lebih baik." Liora ikut duduk, bagaimanapum dia ingin tahu apa tujuan Maya datang.
Maya melipat kedua tangannya, wajahnya masih saja angkuh. "Kemarin di rumah sakit, aku belum sempat berbicara banyak. Aku hanya ingin mengingatkanmu agar tidak terlena."
Liora mengangkat sebelah alis.
"Kamu sekarang memang tinggal di keluarga Salendra, tapi jangan lupa siapa dirimu dulu."
"Aku tidak pernah lupa dari mana diriku berasal." Tatapan Liora tetap tenang.
"Bagus kalau begitu." Maya menyunggingkan senyum tipis. "Berarti kamu juga tidak lupa kalau ibumu masih terbaring di rumah sakit dan seluruh biaya pengobatannya ditanggung keluarga suamimu."
Liora tidak langsung menjawab.
Maya sengaja melanjutkan. "Berapa lama menurutmu keluarga Salendra akan terus menghabiskan uang untuk orang yang bahkan belum tentu akan sadar?"
Brak!
Liora meletakkan cangkir tehnya sedikit lebih keras dari biasanya, tatapannya berubah dingin. "Diam! Jangan pernah membahas ibuku dengan nada seperti itu."
"Aku hanya mengatakan kenyataan." Maya menyeringai tipis.
"Kenyataan?" Liora tersenyum tipis, tetapi senyuman itu sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. "Kenyataannya, sejak dulu yang selalu mengurus Ayah ketika sakit adalah ibuku. Yang bekerja sampai kelelahan demi keluarga juga ibuku. Dan kenyataan lainnya... orang yang paling cepat melupakan semua itu, justru kau dan Ayah."
Wajah Maya langsung berubah masam. "Jaga ucapanmu! Dia adalah ayah kandungmu, sedangkan aku istri sahnya. Mau suka atau tidak, aku tetap ibu tirimu. Jadi tahu diri dan jaga sikapmu! Kau —"
"Tutup mulutmu! Aku belum selesai." Liora tidak memberi kesempatan Maya memotong ucapannya. "Kau datang ke rumah sakit kemarin hanya untuk menyakitiku. Hari ini kau datang ke rumah ini dan melakukan hal yang sama. Kalau tujuanmu hanya ingin melihat aku menangis atau merasa rendah diri, kau salah alamat."
"Sekarang, aku bukan lagi Liora yang dulu. Aku gak akan diam... hanya karena kau lebih tua dariku."
Para pelayan yang berdiri di kejauhan ikut menahan napas.
Keivan diam-diam tersenyum tipis. Ibu tirinya, benar-benar berubah.
Sementara Dewangga yang masih berpura-pura polos justru merasa bangga melihat istrinya mampu berdiri tegak menghadapi wanita yang selama ini selalu menindasnya.
Maya mengepalkan tangannya. "Kau benar-benar berubah."
"Sudah kukatakan, bukan aku yang berubah." Liora berdiri perlahan. "Aku hanya berhenti membiarkan orang lain menginjak harga diriku dan ibuku!"
Tatapan mereka bertemu di tengah ruangan, tak ada lagi Liora yang mudah ditindas. Yang berdiri di hadapan Maya sekarang adalah seorang wanita yang tahu kapan harus bersabar... dan kapan harus melawan.
Tak... tak... tak...
Suara langkah kaki bergema dari arah pintu utama mansion. Tidak lama kemudian, dua sosok wanita masuk ke ruang keluarga tanpa didahului laporan dari para pelayan.
Wanita pertama adalah Bibi Agatha, dan di sampingnya berjalan seorang perempuan muda berparas cantik dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
Begitu melihat siapa perempuan itu, Maya spontan berdiri dari sofa. "Samantha? Kamu?"
Samantha tampak sama terkejutnya.
"Mama? Kok Mama ada di sini?" tanyanya heran. "Aku datang bersama Nyonya Agatha. Tadi mobil beliau mogok di jalan, kebetulan aku lewat dan membantu. Setelah itu, aku mengantar beliau pulang sampai ke tempat ini."
Maya mengangguk pelan, masih belum menyangka putrinya bisa datang ke rumah keluarga Salendra.
Namun, sesaat kemudian pandangan Samantha beralih ke sudut ruangan. Tatapannya bertemu dengan Liora, senyum ramah di bibir Samantha seketika lenyap. Digantikan sorot mata dingin yang dipenuhi permusuhan, dan tatapan itu berlangsung hanya beberapa detik.
Begitu menyadari Bibi Agatha masih memperhatikannya, Samantha buru-buru memasang kembali senyum lembutnya, seolah tidak ada apa-apa.
sabar yx ,, harap di maklumi ,, ibu hamil ini 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semua penghuni rumah bisa kena sasaran🤣🤣
hidup , mati , Susah , senang bukan si Rafael yg atur ,, tp Tuhan ,, 😁😁😁😁😁😁