Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: SEBUAH PEMBELAAN DAN SIKAP TAHU BATAS
Langkah kaki tegap Kapten Ayu berderap pelan memasuki pelataran teras rumah dinasnya yang mulai dinaungi oleh rembang petang. Matahari yang perlahan tergelincir di ufuk barat ksatrian Bukit Raya menyisakan semburat jingga yang hangat di atas atap-atap seng protokoler. Setelah seharian penuh bergelut dengan tumpukan dokumen intelijen dan koordinasi pengamanan pasca-mutasi jajaran staf Satdik, raut lelah tak mampu disembunyikan sepenuhnya dari wajah cantiknya yang berbalut jilbab dinas.
Suster Leli yang sejak tadi duduk berjaga di dekat ambang pintu depan langsung berdiri dengan takzim begitu mendengar suara ketukan halus dan ucapan salam yang mengalir dari bibir Ayu.
"Bibi, mana Arkan?" tanya Ayu lembut sembari membetulkan posisi tas dinas yang tersampir di pundak kanannya. Pandangan matanya langsung menyapu ke sekeliling ruang tamu yang tampak rapi dan sunyi.
Suster Leli tersenyum ramah, mencoba meredakan sisa-sisa kecemasan yang sempat menggelayuti hatinya sejak siang tadi. "Bu Ayu, Arkan sedang tidur di dalam kamar. Baru saja terlelap sekitar setengah jam yang lalu setelah lelah bermain."
Mendengar laporan tersebut, seulas senyuman teduh seketika terbit di wajah Ayu. Ketakutan bahwa putranya akan kembali didera demam pasca-kejadian kritis tempo hari menguap begitu saja.
"Alhamdulillah... Terima kasih banyak ya, Bi Leli, untuk bantuan dan kesabarannya menjaga Arkan hari ini," ucap Ayu tulus. Ia kemudian merogoh saku luar tasnya, mengeluarkan dompet, dan menyerahkan amplop berisi upah gaji harian yang menjadi hak wanita paruh baya itu dengan nominal yang selalu ia lebihkan sebagai bentuk apresiasi atas kinerja batinnya yang tulus.
Namun, alih-alih langsung berpamitan pulang setelah menerima upah tersebut, Suster Leli tampak sedikit ragu-ragu di tempatnya berdiri. Jemarinya meremas pelan ujung Amplop, seolah ada sebuah kejujuran yang menuntut untuk segera ditumpahkan agar tidak menjadi ganjalan profesionalisme di kemudian hari.
"Anu... Bu Ayu, maaf sebelumnya. Ada satu hal penting yang harus Bibi laporkan mengenai kejadian tadi siang," ucap Suster Leli dengan nada suara yang merendah, sedikit cemas.
Ayu menghentikan gerakannya yang hendak membuka ritsleting sepatu bot militernya. Ia mendongak, menatap lurus ke arah sang pengasuh. "Iya, ada apa, Bi? Apa ada masalah dengan Arkan?"
"Bukan, Bu. Tadi siang... Arkan nekat berlari keluar dari halaman sampai menuju ke gedung utama Mako yang besar di tengah kompleks itu. Katanya, dia ingin sekali ketemu dengan Ayah Besarnya. Maafkan Bibi yang kurang sigap ya, Bu Ayu... Soalnya tadi Arkan sempat menangis sangat kencang dan berontak kalau Bibi berusaha keras menghentikan langkah kakinya. Bibi takut dia malah jatuh atau kejang lagi kalau dipaksa," tutur Suster Leli panjang lebar dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah.
Mendengar kata "Mako" dan "Ayah Besar" disebut secara bersamaan dalam satu kalimat, Ayu terdiam seketika. Jantungnya berdenyut satu kali lebih cepat. Ingatannya langsung berputar pada sosok pria raksasa pemilik tahta tertinggi di ksatrian itu, Kolonel Victor. Ayu tidak menyangka bahwa keterikatan batin antara putra kecilnya dan pria masa lalunya itu sudah melangkah sejauh ini, sampai-sampai Arkan berani menerobos kawasan steril markas komando hanya demi sebuah kata rindu.
Ayu memasang ekspresi wajah yang tampak berpikir keras selama beberapa detik, mencoba menetralkan keterkejutan emosionalnya agar tidak terbaca oleh sang pengasuh. Sebagai seorang perwira intelijen yang terlatih untuk mengendalikan situasi darurat dan memanipulasi narasi, Ayu segera menyusun sebuah dalih yang paling aman demi melindungi nama baik dirinya, status barunya, dan yang paling utama: wibawa sang komandan.
Ayu mengembuskan napas perlahan, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang tampak begitu tenang dan meyakinkan. "Oh, iya... tidak apa-apa, Bi Leli. Jangan merasa bersalah begitu. Kebetulan, Komandan Pusdikmil yang berkantor di gedung utama depan itu adalah kakak kandung dari dr. Shaneen, sahabat saya sendiri."
Ayu menjeda kalimatnya sejenak, menatap Suster Leli untuk memastikan wanita tua itu menyimak penjelasannya dengan baik.
"Komandan Victor itu memang terkenal sangat dekat dengan keluarga adiknya. Dan di ksatrian ini, beliau memang memiliki kebiasaan suka mengumpulkan anak-anak kecil dari keluarga anggota untuk diajak bermain atau sekadar dihibur di sela-sela waktu senggang dinasnya. Jadi, beliau sudah biasa menghadapi anak-anak seperti Arkan," ucap Ayu meluncurkan sebuah karangan narasi taktis yang terdengar sangat logis, sebuah kebohongan putih yang sukses membuat Suster Leli mengangguk-angguk percaya tanpa menaruh curiga sedikit pun.
Mendengar penjelasan yang keluar dari mulut Ayu, gurat kecemasan di wajah Suster Leli seketika sirna, berganti dengan rasa takjub yang polos.
"Oh... begitu ya, Bu Ayu? Pantesan saja tadi ajudannya yang bernama Pak Johan dan prajurit provost yang berjaga di depan pintu gerbang Mako mengatakan kalau hal ini sudah biasa dan wajar terjadi. Bibi tadi sempat ketakutan setengah mati kalau kita bakal ditangkap karena melanggar aturan markas," ucap Suster Leli dengan sisa rasa lega yang membuncah. "Berarti Bapak Komandan depan itu memang aslinya seorang pria pecinta anak-anak kecil ya, Bu? Walaupun kalau dilihat dari jauh wajahnya seram dan badannya besar seperti raksasa begitu."
"Iya, Bi Leli... Beliau memang seperti itu," sahut Ayu dengan nada suara yang sedikit tertahan.
Detik itu juga, rasanya Ayu ingin sekali tertawa terbahak-bahak mendengar penilaian polos dari suster putranya, namun ia sekuat tenaga menahannya di balik tenggorokan. Seorang Victor? Pria kaku, dominan, otoriter, dan berdarah dingin di medan operasi itu disebut sebagai seorang pria pecinta anak-anak kecil yang ramah? Sungguh sebuah ironi komedi yang luar biasa di dalam benak Ayu. Jika seluruh jajaran perwira staf Pusdikmil mendengar karangan cerita ini, mereka pasti akan mengira bahwa Ayu sedang menceritakan sosok hantu, bukan seorang Kolonel Victoria Reins Mari yang terkenal kejam dalam menegakkan disiplin satuan.
Namun, di balik rasa ingin tawanya yang menggelitik, ada satu sudut di dalam hati Ayu yang mendadak terasa hangat dan bergetar perih. Ayu tahu betul, Victor melakukan semua pengecualian aturan itu—menerima Arkan di tengah jam dinas, mengizinkan anak itu memanggilnya "Ayah", bahkan membiarkan ajudannya mengamankan situasi—bukan karena pria itu mendadak menjelma menjadi pecinta anak-anak universal. Pria raksasa itu melakukan semuanya murni hanya karena anak kecil yang berlari ke pelukannya itu adalah Arkan; darah daging dari wanita yang selamanya memegang kunci tahta tertinggi di dalam hatinya.
Ayu menatap ke arah pintu kamar tempat Arkan tertidur, menyadari bahwa perisai jarak yang ia bangun di ksatrian ini perlahan-lahan mulai runtuh, bukan karena paksaan Victor, melainkan karena ulah manis putranya sendiri yang terus merajut benang merah yang sempat terputus di antara mereka.