NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran Alesha kepada Zehar

Malam itu hujan turun rintik‑rintik membasahi jalanan kota, seolah turut meluapkan kesedihan yang menyelimuti hati Alesha.

Begitu ia melangkah keluar dari rumah orang tuanya dengan tas ransel tergenggam erat, satu‑satunya tempat yang terlintas di pikirannya adalah kehadiran Zehar.

Zehar adalah satu‑satunya orang yang bisa ia percayai sepenuhnya, tempat di mana ia tidak perlu berpura‑pura kuat atau menyembunyikan apa pun lagi.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena dingin dan emosi yang belum reda, ia menghubungi Zehar.

Suara lelaki itu terdengar tenang di seberang telepon, namun segera berubah menjadi khawatir saat mendengar nada bicara Alesha yang terputus‑putus dan terasa berat.

Tanpa banyak tanya, Zehar langsung memberitahukan tempat ia berada, dan dalam waktu kurang dari setengah jam, mobilnya sudah berhenti tepat di depan tempat Alesha sedang menunggu.

Begitu pintu mobil terbuka, Alesha tidak bisa menahan diri lagi. Ia melangkah masuk, duduk di kursi penumpang, dan hanya dengan menatap wajah Zehar sebentar, air matanya kembali mengalir deras membasahi pipinya.

Zehar tidak langsung bertanya apa‑apa, ia hanya menyalakan pemanas, mengambil tisu dari kotak di sampingnya, dan menyerahkannya sambil menepuk lembut bahu kekasihnya, memberi isyarat agar ia meluapkan semuanya tanpa perlu menahannya.

Mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe kecil yang masih buka hingga larut malam, tempat yang sepi dan tenang, jauh dari keramaian.

Begitu sampai, mereka duduk di sudut ruangan yang remang‑remang, dengan secangkir teh hangat yang tersaji di meja, Alesha menarik napas panjang seolah ingin mengumpulkan seluruh kekuatan yang tersisa.

Ia tahu, selama ini ia telah menutupi banyak hal, dan malam ini adalah saatnya untuk membuka semua rahasia yang selama ini membebani hatinya.

Zehar hanya duduk tenang, kedua tangannya bersilang di atas meja, matanya menatap Alesha dengan penuh perhatian dan kesabaran.

 Ia tidak memotong pembicaraan, tidak menyela, hanya mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu, seolah ingin menampung semua rasa sakit yang selama ini ia pendam sendirian.

“Zehar…” suara Alesha terdengar parau, terputus‑putus karena isak tangis yang sesekali menyela.

“Aku minta maaf. Selama ini aku telah menyembunyikan banyak hal darimu. Bukan karena aku tidak percaya, tapi karena aku takut hal ini akan merusak semuanya, dan aku takut membebani hidupmu dengan masalah yang bukan tanggung jawabmu.”

Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu melanjutkan ceritanya dengan nada yang mulai lebih teratur meski tetap terasa berat.

“Semuanya bermula saat kita baru saja memulai tahun kedua kuliah. Saat itu, usaha Ayah tiba‑tiba bangkrut dalam waktu singkat. Utang‑utang menumpuk di mana‑mana, rumah kita disita, dan kondisi keuangan kita benar‑benar hancur. Belum lagi, saat itu Ibu jatuh sakit parah. Setelah di periksa lebih dalam, Ibu menderita penyakit jantung yang butuh biaya pengobatan sangat besar. Kita tidak punya apa‑apa, Zehar. Kita hampir tidak tahu harus meminta bantuan ke mana lagi.”

Suara Alesha semakin pelan, matanya menatap ke bawah seolah melihat kembali masa‑masa kelam itu.

“Di saat keadaan paling terpuruk itulah, datanglah Pak Argantara. Ia mengenal Ayah sejak lama, dan menawarkan bantuan yang sangat besar. Ia melunasi seluruh utang keluarga kita, membayar biaya rumah sakit dan pengobatan Ibu, bahkan memastikan kita tetap bisa tinggal di rumah itu tanpa gangguan apa pun.”

Alesha mengangkat wajahnya, menatap Zehar dengan pandangan yang penuh rasa bersalah.

 “Tapi ternyata, bantuan itu tidak cuma‑cuma, Zehar. Ada syarat yang harus kita penuhi sebagai imbalannya. Kesepakatan itu dibuat secara lisan di hadapan kedua keluarga, aku harus bersedia menjadi calon istri Erhan, anak Pak Argantara dan aku mengajukan syarat harus menunggu selama sepuluh tahun. Jika dalam waktu itu aku tidak membatalkan kesepakatan, maka aku akan menikah dengannya. Itulah janji yang kita ucapkan saat itu, saat kita tidak punya pilihan lain selain menerima atau melihat keluarga kita hancur total.”

Mendengar hal itu, raut wajah Zehar berubah sedikit, namun ia tetap diam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Ia hanya mengangguk pelan, memberi isyarat agar Alesha melanjutkan ceritanya.

“Sejak saat itu, hidupku berubah total,” lanjut Alesha, air matanya kembali mengalir deras.

“Aku harus tetap melanjutkan kuliah sambil mulai bekerja paruh waktu, lalu setelah lulus, aku langsung masuk ke perusahaan Argantara Investama. Aku memaksakan diriku untuk terus maju, bekerja keras hingga akhirnya bisa menjabat posisi yang aku miliki sekarang. Aku berharap, dengan kerja keras itu, aku bisa melunasi rasa berhutang budi itu, dan saat masa sepuluh tahun itu tiba, aku bisa bebas memilih jalan hidupku sendiri.”

Ia menggenggam kedua tangannya di atas meja, jari‑jarinya saling meremas kuat.

“Ingat pesan perpisahan yang aku kirimkan padamu dulu? Itu bukan karena aku tidak mencintaimu lagi, Zehar. Justru karena aku sangat mencintaimu, sehingga aku takut jika aku terus berhubungan denganmu, aku akan melanggar janji itu dan membawa masalah padamu juga. Aku ingin kamu fokus pada pendidikan dan kariermu tanpa terbebani oleh nasibku yang sudah terikat janji. Aku memilih menyakiti hatimu sekaligus daripada membuatmu terjebak dalam masalah yang rumit ini.”

Alesha menarik napas panjang lagi, mencoba menenangkan dirinya sebelum menyampaikan bagian yang paling menyakitkan malam itu.

“Dan baru saja terjadi hal yang membuatku benar‑benar kehilangan kebebasan. Barusan, saat makan malam bersama, Ibu secara resmi mengumumkan kepada Pak Argantara dan keluarganya bahwa pertunanganku dengan Erhan akan dilaksanakan bulan depan. Padahal, Zehar… masa sepuluh tahun itu belum berakhir! Masih tersisa tigq tahun lagi! Ibu sendirilah yang lebih dulu melanggar janji yang telah kita buat bersama. Ia memutuskan segalanya tanpa bertanya padaku sedikit pun, seolah aku ini barang yang bisa diatur sesuka hati.”

Tangis Alesha kembali meledak, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat.

“Aku menolak, aku berteriak meminta keadilan, tapi Ibu tidak mau mendengar. Ia bilang kita berhutang nyawa pada mereka, bahwa tanpa bantuan itu kita mungkin sudah menjadi gelandangan dan Ibu tidak akan ada lagi di dunia ini. Ia memaksaku menerima keputusan itu, dan saat aku tidak mau mengalah, aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku tidak tahu harus ke mana lagi selain datang kepadamu, Zehar. Aku tidak ingin menyembunyikan apa pun lagi. Aku tidak ingin hubungan kita terjalin di atas kebohongan dan rahasia yang menyakitkan ini.”

Selama hampir satu jam penuh, Alesha terus bercerita. Dimulai dari rasa takut, rasa bersalah, tekanan yang ia terima setiap hari, hingga perasaan bimbang yang menghantuinya selama bertahun‑tahun.

Ia menceritakan bagaimana ia berusaha menutup hatinya, bagaimana ia memandang Erhan hanya sebagai kewajiban, dan bagaimana perasaan cintanya pada Zehar tetap terjaga meski telah tertutup rapat begitu lama.

Sepanjang itu, Zehar tetap duduk diam. Matanya sesekali menyipit, rahangnya mengeras menahan gejolak perasaan yang muncul, kaget, marah, sedih, dan rasa iba yang mendalam.

Ia mendengarkan setiap kalimat, menangkap setiap nada tangis, dan menyadari betapa beratnya beban yang dipikul oleh wanita yang dicintainya ini sendirian selama tujuh tahun terakhir.

Ia tidak menyela, tidak mengajukan pertanyaan, dan tidak memotong pembicaraan meski ada bagian yang terasa sangat menyakitkan untuk didengar.

Ia hanya mengamati setiap ekspresi wajah Alesha, membiarkannya mengeluarkan semua yang selama ini terpendam di dalam hatinya.

Saat Alesha akhirnya selesai bercerita, suaranya perlahan menghilang, hanya tersisa isak tangis yang mulai mereda.

Ia menunduk, menunggu reaksi Zehar, merasa takut dan cemas, takut bahwa setelah mengetahui semuanya, lelaki itu akan merasa terbebani atau justru menjauh karena melihat betapa rumitnya masalah yang ada.

Namun, Zehar tetap diam beberapa saat lagi, membiarkan suasana hening menyelimuti mereka sejenak.

Ia meraih tangan Alesha yang terasa dingin dan gemetar, menggenggamnya dengan lembut namun tegas, memberi kehangatan dan kekuatan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun untuk saat ini.

Ia telah mendengar semuanya, memahami alasan di balik setiap keputusan yang menyakitkan, dan kini ia mulai menyusun dalam hatinya bagaimana ia akan berdiri di samping Alesha untuk menghadapi semua masalah yang datang.

Malam itu, di sudut kafe yang sepi itu, semua rahasia terbuka.

Tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi hal yang disembunyikan.

Dan meski Zehar belum mengucapkan jawaban apa pun, kehadirannya yang tenang dan sikapnya yang sabar sudah cukup menjadi jawaban bagi Alesha, bahwa ia tidak lagi berjuang sendirian, dan mulai malam ini, beban itu akan dibagi menjadi dua.

1
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
Rosella
emosian lngsung pas baca bab ini
Rani: sabar😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!