NovelToon NovelToon
PENGGANTI

PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Angst / Pengganti
Popularitas:841
Nilai: 5
Nama Author: nona yeppo

Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.


Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.


Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.


Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Mata

Entah sudah berapa lama Liam menghela nafas nya melihat keadaan Yura saat ini. Gadis itu bahkan hampir kehilangan suaranya akibat dari kebanyakan menangis.

Pakaian yang melekat ditubuhnya tak lagi bersih seperti saat pertama kali ia kenakan. Tanah yang masih basah serta pasir Ikut-ikutan menghiasi tanpa disuruh.

"Ra, sudah ya..? "

Liam sudah sangat ketakutan, takut kalau-kalau gadis itu tumbang lagi seperti sebelumnya. Tentu itu akan mempengaruhi organ-organ tubuh lainnya jika sampai itu terjadi.

"Aku tidak tahu harus memulai dari mana lagi..."

Mengapa pertemuan itu terjadi jika hanya untuk menorehkan luka? Itu lah pertanyaan yang berputar-putar didalam kepala Yura saat ini.

Ia sudah terlanjur menyukai Lily, ia juga sudah terlanjur berharap jika sang papa akan hadir jika disaat acara kelulusannya nanti.

Namun mengapa semua jadi begini? Sebegitu salahkah kemarahan Yura hingga ia harus menerima semua kepedihan ini?

"Aku tidak bisa berpikir lagi sekarang. Aku tidak akan mampu ma...!!! "

Liam akhirnya mendekat, sudah terlalu banyak waktu yang ia berikan pada gadis itu yang sudah hampir tak mampu untuk mengendalikan emosi nya saat ini.

Saat air mata belum mengering, saat nafas masih tersendat parau, Winter pun datang. Gadis itu berniat ingin mengunjungi Yura dirumah sakit, namun perkataan suster akhirnya mengantarkan nya ketempat itu.

Ia segera memeluk Yura dengan tubuh yang sepenuhnya luruh ke tanah, menggeser Liam yang seolah tak mampu lagi untuk menenangkan gadis itu.

"Ra, pasti ada alasan mengapa kamu masih bertahan... "

"Bukankah hidup ini adalah perjuangan, kamu masih harus menyelesaikan perjuanganmu."

" Ada nenek yang menunggu mu dirumah. Kasihan nenek pasti sama terpukulnya denganmu... "

Dengan berlinang air mata, Winter mengusap wajah gadis itu. Siapapun itu memang tak akan bisa kuat jika harus menghadapi cobaan seberat ini.

Namun setiap tubuh manusia pasti memiliki batas kemampuan itu. Hingga Pada akhirnya Yura tumbang lagi.

"Lebih baik begini daripada harus melihatnya menangis seperti tadi... " ucap Winter di sela tangis nya.

Gadis itu juga baru pertama kali mengunjungi tempat ini. Saat pemakaman dilaksanakan dua minggu lalu, dirinya memilih untuk berjaga dirumah sakit barangkali Yura akan membuka matanya.

Ia dapat merasakan sakit didadanya kala melihat gundukan tanah merah yang berjejer rapi itu. Ia pun teringat pada senyum Yura saat menceritakan bagaimana kelucuan saudari baru nya itu.

"Ah, aku bisa ikutan gila... " Ucapnya sambil membanting pintu mobil.

Ia juga geleng-geleng kepala saat menyadari mobil Liam yang terparkir agak jauh dari pintu masuk pemakaman.

"Kau hebat sekali Liam. Sungguh aku sangat berharap semoga mataku tidak melihat hal-hal seperti ini lagi. "

Kecanggungan tak terendus diantara mereka, sebab sejak kecelakaan itu terjadi, ketiga anak muda itu saling menguatkan dan saling bergantian untuk mengurus segala keperluan Yura.

Terlebih pada dokter Mark, ia yang selalu memperhatikan nenek Lea selama Yura berada dirumah sakit.

Saat mereka tiba di kamar perawatan Yura, Winter segera menyuruh Liam untuk membersihkan diri dan langsung beristirahat.

Ia juga dengan sukarela keluar membelikan makanan untuk pria itu, karena dirinya sangat tahu jika pria itu tidak akan makan kalau tidak dipaksa.

"Lihat tubuhmu itu, sudah kurusan... " ucap dokter Mark saat Liam menolak untuk makan lagi.

Winter yang telah kembali dan sedang duduk ditepi ranjang Yura ikut mengangguk mendukung pernyataan dokter Mark.

"Makan lah, aku akan membantu mu hari ini... " ucap nya lagi.

Dokter Mark yang sedang duduk disofa, hanya bisa memandang dengan kasihan pada pria itu. Bagaimana tidak, masih muda tapi sudah harus menanggung beban seberat ini.

"Kau harus makan, jika tidak aku akan melaporkan mu pada papamu dan membawa Yura pergi dari sini... "

Ancaman itu tentu berhasil membuat pihak yang diancam itu memicingkan matanya. Sungguh nekat pria itu mengancamnya begitu.

"Bayangkan apa yang akan dilakukan oleh papamu..? "

Seolah tak gentar, dokter Mark masih tetap bersikukuh dengan usahanya. Walaupun tatapan perlawanan sekaligus kepasrahan tengah berhadapan dengannya kini.

Winter yang duduk jauh disana, ia tidak peduli pada pembicaraan kedua pria itu. Ia hanya memandangi dan sesekali mengelus wajah pucat Yura.

"Aku bahkan tidak bisa abai untuk hal sekecil apapun jika menyangkut tentangmu.. "

"Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai peduli sama kamu ra, "

"Sepertinya aku akan memberikan segalanya asal kamu bahagia. Cepatlah pulih ra... "

"Tapi dokter Mark itu pengecualian ya, aku tidak akan memberikan nya padamu... "

Saat masih sedang dalam fokus seperti ini pun, Winter masih bisa memasukkan dokter Mark pada pembicaraan nya.

"Akhir-akhir ini aku sering sekali menaiki mobil sport nya. Mungkinkah dia sudah mulai menyukai ku? "

"Bangunlah, aku akan berterimakasih padamu karena sudah menciptakan kesempatan itu... "

Winter yang sedang larut dalam bunga-bunga hatinya itu tak menyadari jika Yura telah membuka mata menuruti permintaanya.

"Artinya,kamu mengambil kesempatan dalam kesedihanku!? "

"Aaaw...! "

Suara parau Yura membuat dirinya Terperanjak kaget hingga terjatuh dari kursi yang didudukinya.

Suara nya juga tak kalah besar membuat kedua pria di sisi lain itu segera mendekat dan memeriksa keadaan Yura.

"Kau mengejutkanku...! " Seru nya saat dirinya berhasil menguasai diri.

Yura tersenyum tipis, membuat mereka bertiga jadi merasa lega. Senyum itu yang selalu ingin mereka lihat sejak kecelakaan itu terjadi.

Yura bersiap bangun karena punggungnya sudah mulai terasa kebas disana, membuat ketiga anak muda itu berebutan ingin membantu.

"Aku bisa kok... " lagi-lagi Yura memasang senyum nya walau bibirnya masih sangat pucat.

Ia merasa terhibur karena kehadiran ketiga manusia baik itu. Kemudian matanya memandang Winter dengan hangat lalu memberi isyarat supaya gadis itu memeluknya.

"Terima kasih Win, aku tidak tahu bagaimana aku akan membalasmu... "

Yura menyadari, mulut ribut gadis itu lah yang selalu mengembalikan kewarasan nya. Saat dirinya berulangkali ingin menyerah, celotehan Winter kadang muncul membuat otak nya kembali pada kenyataan.

"Hah, entah sejak kapan namamu sudah menjadi prioritas ku... " ucap Winter membuat dokter Mark lagi-lagi memandangnya dengan sorot mata yang lain.

"Tenang saja, aku tidak akan minta dokter Mark,,, " bisik Yura membuat gadis itu terhenyak kaget yang membuat kedua pria itu segera panik.

"Aaaa, kau mendengar nya rupanya... "

"Hehe, ia... " jawab Yura sambil tersenyum.

"Aku ingin sekali pulang... " tambahnya lagi.

Tentu segera disambut gelengan kuat dari ketiga nya. "Nanti setelah kamu kuat... " tegas dokter Mark.

"Tapi tempat ini mengingatkan ku pada Yura, mama, papa dan Lily... "

Air mata kembali menggenang dipelupuk mata gadis itu. Mau tak mau ketiga nya kompak lagi menganggukkan kepala.

"Baiklah, kita akan akan coba bicara oada dokter... " ucap dokter Mark memberi harapan.

.

.

Bersambung...

1
anggita
like👍iklan☝., Liam, Yura.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!