NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Sebuah tawaran yang mengejutkan

Bab 5: Sebuah Tawaran yang Mengejutkan

Hari-hari berikutnya terasa lebih berat bagi Diana.

"Bagaimana ini ? Bagaimana aku bisa mengirim uang untuk Ibu ke depannya?" Ujarnya lesu

Uang pesangon yang diterimanya hanya cukup untuk bertahan satu atau dua bulan ke depan,

sedangkan ia belum juga mendapatkan pekerjaan baru.

Berbagai lamaran sudah ia kirimkan ke mana-mana, namun jawabannya selalu sama:

belum ada lowongan yang sesuai atau kandidat lain lebih berpengalaman.

"Hah, aku harus mencari pekerjaan kemana lagi ?" Diana menghembuskan nafasnya berat.

Sore itu, Diana duduk termenung di teras rumah kos, memegang erat kartu nama pemberian Arga Wijaya.

"Apa yang harus aku lakukan dengan kartu ini?"

Jemarinya berulang kali mengusap tulisan di atas kertas itu,

pikirannya bergejolak antara ingin mencoba menghubungi atau menyimpannya saja.

“Masih memikirkannya, Nak?”

Suara Bu Siti membuyarkan lamunannya. Wanita paruh baya itu datang membawa dua cangkir teh hangat, lalu meletakkannya di meja kecil di antara mereka.

“Ya, Bu. Aku bingung. Di satu sisi aku butuh bantuan, tapi di sisi lain rasanya tidak enak mengganggu orang yang baru saja aku kenal,” jawab Diana dengan nada ragu.

Bu Siti duduk di sampingnya, menatap kartu nama itu sekilas lalu menoleh pada Diana.

“Dengarkan Ibu. Bukan berarti kamu meminta belas kasihan, tapi hanya memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan.

Jika dia sendiri yang mengulurkan tangan, berarti dia memang bersedia membantu. Tidak ada salahnya mencoba, toh tidak ada janji apa pun di situ.”

"Tapi Bu -"

"Kamu bisa memikirkannya dengan matang, tapi saran ibu, tidak salah kalau kita mencoba kan? Ujarnya dengan senyuman

Mendengar Kata-kata Bu Siti, Akhirnya Diana mengangguk.

Malam itu juga, setelah memastikan suasananya tepat, ia memberanikan diri menekan nomor yang tertera di kartu nama itu.

Jantungnya berdegup kencang saat nada sambung berbunyi, hingga akhirnya terdengar suara yang dikenalnya di seberang sana.

“Halo, dengan siapa saya berbicara?” tanya suara Arga yang tenang.

“Selamat malam, Pak Arga. Maaf mengganggu waktu Bapak. Saya Diana, yang beberapa hari lalu tidak sengaja menabrak Bapak di dekat taman kota itu,” jawab Diana dengan suara sedikit bergetar.

“Ah, Diana. Tidak mengganggu sama sekali. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Arga ramah.

"Emm... Apakah saya benar-benar tidak menggangu bapak?" Tanya Diana memastikan.

"Tentu saja tidak" Ujar Arga di sebrang telepon.

Meski sebenarnya dia sedang mengecek beberapa email dari asistennya.

Tapi entah kenapa, begitu tau bahwa Diana yang menghubungi nya, dia langsung meletakkan tablet nya begitu saja.

"Kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya Arga

"Yah, lebih baik dari hari itu" Jawab Diana

"Kamu mau mengatakan apa?"

"Saya, ingin sedikit meminta bantuan bapak" Ujarnya pelan,

Setelah sedikit berbasa-basi, Diana pun menyampaikan niatnya meminta bantuan soal pekerjaan.

"Saya sangat membutuhkan pekerjaan, apakah bapak bisa membantu saya?" Cicit Diana malu

Arga tersenyum kecil, ia mendengarkan dengan sabar,

"Kamu bisa datang ke kantor besok, temui aku secara langsung!" Ujarnya

"Apakah benar Pak?" Tanya Diana bahagia

"Datang saja!" Jawab Arga sambil sedikit tertawa kecil

Panggilan telepon ditutup, Diana merebahkan tubuhnya, dia berguling-guling seperti anak kecil.

"Akhirnya, semoga ada harapan untukku!" Do'anya serius

......................

Keesokan paginya, Diana berdiri di depan gedung pencakar langit yang megah itu.

"Perlu saya bantu, Mbak?" Tanya seorang satpam

Diana tersenyum sopan sambil membungkukkan badannya.

"Saya ada janji dengan Pak Arga, Pak!" Jawab Diana jujur.

Satpam itu sempat mengangkat alisnya, tetapi tetap bersikap ramah.

"Kalau begitu Mbak bisa ke bagian resepsionis di bagian sana!" Ujar Satpam tersebut sambil menunjuk bagian yang di maksud

"Baik, Pak. Terimakasih" Balas Diana sambil berlalu pergi

Untungnya, Diana sudah terbiasa dengan hiruk pikuk kehidupan perkantoran.

Dia mengenakan setelan formal dan terlihat cantik serta anggun di waktu yang sama.

Tetapi meskipun begitu, rasanya ia terlihat sangat kecil di tengah keramaian orang-orang yang berlalu-lalang dengan pakaian rapi dan pasti nya mahal.

Semangat Diana !!

Dengan napas yang diatur sebaik mungkin, ia masuk dan bertemu dengan resepsionis.

"Permisi"

Resepsionis itu tersenyum ramah.

"Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya ingin bertemu dengan Pak Arga Wijaya!" Ujar Diana

"Kalau begitu tunggu sebentar yah!"

Dia melakukan panggilan pada atasannya dan mengatakan ada seseorang yang ingin bertemu, lalu mengangguk.

"Atas nama siapa, Mbak ?" Tanya resepsionis itu

"Oh , Diana. Bu" Diana tersenyum canggung.

Resepsionis itu kembali dengan telepon nya, setelah panggilan selesai, dia segera menghampiri Diana kembali.

"Mari, saya antar ! Pak Arga sudah menunggu!" Ujarnya sambil berjalan lebih dulu

Mereka menaiki lift dan menuju lantai paling atas.

Begitu lift terbuka, Diana segera mengikuti resepsionis itu.

Tok tok tok..

"Silahkan, Mbak!" Ujar resepsionis itu lalu kembali ke bawah

Diana mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

Begitu masuk, Arga menyambutnya dengan senyum ramah.

“Silakan masuk, Diana. Duduklah dengan nyaman.”

“Terima kasih banyak, Pak Arga. Maaf saya benar-benar merepotkan Bapak,” ucap Diana sambil duduk sopan.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Sebenarnya, selain membicarakan soal pekerjaan, saya juga punya satu hal lain yang ingin dibicarakan denganmu,” kata Arga sambil menyandarkan punggungnya di kursi, raut wajahnya berubah menjadi lebih serius namun tetap lembut.

Diana mengerutkan kening sedikit, merasa penasaran. “Hal lain apa, Pak?”

Arga terdiam sejenak, seolah menyusun kata-kata agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Kamu tahu, saya adalah kepala keluarga Wijaya. Belakangan ini saya menghadapi tekanan yang cukup besar dari dewan direksi dan keluarga besar.

Mereka menginginkan saya segera memiliki pendamping resmi demi menjaga stabilitas perusahaan dan nama baik keluarga.”

“Namun, saya tidak ingin menikah hanya untuk kepentingan semata dengan orang yang tidak saya kenal.

Di sisi lain, saya butuh seseorang yang bisa dipercaya, tulus, dan tidak memiliki niat tersembunyi.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, terlintaslah pikiran tentang Kamu.”

Mata Diana terbelalak kaget, jantungnya berdegup kencang bukan main.

“Maksud Bapak… apa maksud Bapak?”

“Maksud saya, saya mengajukan sebuah kesepakatan. Kita menikah secara resmi, namun dalam bentuk perjanjian.

Selama satu tahun ke depan, kamu akan menjadi istri saya secara tertulis dan di depan umum.

Sebagai gantinya, semua kebutuhan hidupmu akan saya tanggung, kamu akan mendapatkan kebebasan dan perlindungan yang cukup.”

Diana terdiam, pikirannya berputar cepat.

“Tapi Pak… kami baru saja kenal. Dan saya hanyalah orang biasa, sedangkan Bapak adalah orang besar. Apakah ini tidak akan mempermalukan Bapak nantinya?”

Arga menggeleng tegas. “Bagi saya, latar belakang bukanlah halangan. Justru saya yang merasa tidak pantas. Seperti yang kamu lihat, saya sudah kepala empat, sedangkan kamu masih muda. Dan pastinya mencari suami yang masih muda juga"

"Saya tidak memikirkan hal itu pak, bagi saya usia hanyalah angka, tapi saya ragu!" Ujar Diana

Hatinya masih berdegup kencang.

"Saya tau, Kamu masih belum membuka hati lagi kan ? Kalau begitu tidak usah di pikirkan, saya juga tidak akan memaksa " Ujarnya sambil tersenyum tulus. Tapi hatinya sedikit kecewa

Seharusnya aku sadar diri, dia masih muda. Batin Arga

Belum sempat Diana menjawab, pintu ruangan terbuka perlahan.

Masuklah Radit, asisten Arga, dengan wajah yang sedikit cemas.

“Maaf mengganggu, Tuan. Ada kabar dari rumah. Tuan Gilang baru saja kembali dan membawa kabar bahwa pertunangannya dengan keluarga Hartono akan dipercepat, serta meminta persetujuan Tuan untuk segera menggelar pesta pernikahan.”

Mendengar nama itu, darah Diana seolah berhenti mengalir sejenak.

Wajahnya memucat, tangannya mengepal erat di bawah meja.

Gilang ? kenapa aku harus mendengar nama itu lagi ?

Arga mengerutkan dahi, raut wajahnya berubah dingin.

“Dasar anak itu… dia memang selalu bertindak sesuka hati tanpa berpikir panjang. Baiklah, saya akan urus nanti.”

Diana masih terpaku, matanya sedikit berembun dan siap tumpah.

Setelah Radit keluar, Arga menyadari perubahan raut wajah Diana.

“Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali.”

Diana menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.

“Tidak apa-apa, Pak. Hanya… terkejut saja mendengar nama itu. apakah anak yang bapak maksud itu, Gilang Wijaya ?.”

Kini giliran Arga yang tertegun. “Kamu mengenalnya? Dan itu juga yang ingin saya beritahu, kalau saya sudah memiliki anak, Gilang Wijaya”

Diana mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. “Ya Pak. Saya sangat mengenalnya, Dua tahun terakhir ini, dia adalah kekasih saya.

Sampai hari itu, saya datang ke apartemennya dan mengetahui kenyataan bahwa dia sudah bertunangan dengan wanita lain.”

Jantung Arga seakan berhenti berdetak,

Ternyata! Anakku yang sudah menjadi sumber sakit hatinya!

Suasana ruangan menjadi hening seketika.

Arga menatap Diana dengan pandangan yang campur aduk antara kaget, iba, dan rasa bersalah.

Perlahan ia mengangguk mengerti, lalu berkata dengan nada lembut namun tegas:

“Kalau begitu, pertimbangkan lagi tawaran saya. Jika kamu menerimanya, itu bukan hanya soal kebutuhan,

tapi juga kesempatan untuk membuktikan sesuatu pada dirimu sendiri. Apakah kamu mau memberanikan diri mengambil kesempatan ini, Diana?”

1
Arum Dyah
gk akan ada rencana ganti panggilan kah kak?? 🤣🤣🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!