【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Debu tipis sisa kepergian mobil SUV hitam milik Andry perlahan-lahan mengendap, kembali menyatu dengan tanah halaman PAUD yang kering. Tina masih berdiri mematung di ambang pintu kelas, menatap hampa ke arah gerbang kayu yang melompong. Angin siang berembus agak kencang, menggoyahkan daun-daun pohon beringin tua dan membawa hawa panas yang menerpa wajahnya yang mendadak terasa lelah.
Sisa-sisa ketegangan dari penolakan yang baru saja ia layangkan bersama ayahnya masih menyisakan debar aneh di dada.
Setelah seluruh kelas benar-benar kosong dan anak-anak telah pulang bersama orang tua masing-masing, Tina menghela napas panjang. Ia mengunci pintu kayu kelas yang mulai lapuk itu dengan perlahan, lalu bergegas melangkah pulang.
Namun, dalam perjalanan menyusuri jalanan desa yang berdebu, Tina sama sekali tidak menyadari bahwa Andry sebenarnya belum pergi jauh. Mobil SUV hitam mewah itu sengaja ditepikan di balik rimbunnya pohon-pohon peneduh di kelokan jalan, tersembunyi dari pandangan awam. Dari dalam kabin mobil yang sejuk oleh hamparan AC, sepasang mata elang Andry masih menatap lekat-lekat sosok Tina yang berjalan menunduk di kejauhan.
Andry menyandarkan punggungnya pada jok kulit mobil, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang tidak beraturan. Pria kota itu tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri siang ini. Seumur hidupnya memimpin bisnis di bawah bendera Yayasan Nirwana Utama, ia selalu dipuja, ditakuti, dan keputusannya tidak pernah dibantah. Namun hari ini, penolakan tegas dari seorang gadis desa bersahaja telah meruntuhkan keangkuhannya. Ada getaran aneh yang bergejolak di dalam dadanya—sebuah dorongan ego sekaligus ketertarikan mendalam yang seakan-akan berbisik keras, memaksanya untuk melakukan cara apa pun demi mendapatkan Tina.
Sesampainya di rumah, pikiran Tina masih berkecamuk. Mengingat pesan ayahnya tadi pagi tentang hajat di rumah ibu Adam, ia tidak ingin berlama-lama melamun. Tina segera masuk ke kamar, berganti pakaian dengan baju yang lebih santai, lalu bergegas bersiap keluar lagi karena ingin segera membantu ibu-ibu di rumah Ibu Adam.
Namun, tepat saat sepasang kakinya baru saja akan melangkah melewati ambang pintu depan, sebuah lengkingan suara histeris dari arah ruang tengah seketika menghentikan gerakannya.
"Fandi...!!!"
Suara teriakan Rika menggema, memecah kesunyian rumah batu tersebut dengan nada yang sarat akan kemarahan sekaligus keputusasaan.
Tina yang baru ingin melangkah keluar rumah langsung berbalik arah dengan jantung yang berdegup kencang. Wajahnya seketika pias. "Ada apa, Kak?" tanya Tina panik, bergegas menghampiri kakaknya yang berdiri gemetar di depan kamar Fandi.
Tanpa menjawab pertanyaan adiknya, Rika yang wajahnya sudah memerah menahan tangis langsung menyodorkan anak bayinya yang sedang mengemut jari. "Ah, Tina! Pegang dulu keponakanmu ini!" ucap Rika setengah memaksa, mengoper Ali ke dalam dekapan tangan Tina.
Setelah Ali berpindah tangan, Rika langsung menggedor pintu kamar Fandi dengan pukulan bertubi-tubi menggunakan telapak tangannya.
*Braak! Braak! Braak!*
"Fandi! Bangun kamu! Keluar!" teriak Rika histeris.
Pintu papan itu akhirnya terbuka dengan sentakan kasar dari dalam. Fandi muncul di ambang pintu dengan rambut yang acak-acak, kaos dalam yang kusut, dan wajah yang ditekuk penuh amarah karena waktu tidur siangnya diganggu. "Apaan sih?! Berisik banget! Cepat katakan mau apa?!" bentak Fandi dengan suara baritonnya yang meninggi dan penuh emosi.
"Apaan kamu bilang?! Tidak usah pura-pura bodoh, ya! Cepat bangun!" Rika mendorong bahu adiknya dengan telapak tangannya yang gemetar. "Kamu kan yang mengambil uang di dalam dompet Kakak?! Ngaku kamu, Fandi! Kurang ajar kamu, ya!"
"Uang apaan?! Orang dari tadi aku lagi tidur di dalam kamar!" teriak Fandi, suaranya menggelegar memenuhi sudut-sudut rumah panggung yang sempit, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat pada kakaknya sendiri.
"Jangan bohong kamu! Ngaku kamu, Fan! Di rumah ini sejak kemarin sore sampai siang ini cuma kamu yang tidak punya kerjaan dan keluyuran di ruang tengah! Ibu ada dirumah ibu adam dan Abah di kebun, Tina di sekolah! Kalau bukan kamu yang mengambilnya, lalu siapa lagi, hah?!" air mata Rika mulai menetes, suaranya serak menahan sesak. "Itu... itu uang modal yang suami Kakak kirim dan ku kumpulkan sedikit demi sedikit untuk modal buka usaha dekorasi bunga, Fandi! Teganya kamu mengambil uang kakakmu sendiri!"
"Gue bilang bukan, ya bukan! Jangan asal tuduh kalau tidak punya bukti, ya!" bantah Fandi dengan nada ketus, menggunakan kata 'gue' yang biasa ia pakai jika egonya sedang memuncak tinggi dan menolak disalahkan.
Pertengkaran di antara kedua saudara kandung itu pun semakin memanas dari detik ke detik. Saling bentak dan adu argumen yang kasar mulai saling dilemparkan di ruang tengah. Tina yang berdiri hanya terpaut dua meter dari mereka seketika merasa seluruh tubuhnya lemas.
Dadanya terasa seperti dihantam batu besar. Ia tidak tahu harus berbuat apa atau harus membela siapa di tengah situasi yang begitu kacau ini.
Sementara itu, Ali, keponakan kecilnya yang berada di dalam gendongan Tina, mulai merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang mengerikan di sekitarnya. Suara bentakan Fandi yang menggelegar dan teriakan Rika yang histeris membuat bayi mungil itu ketakutan. Bibir kecilnya mulai bergetar, dan sedetik kemudian, Ali pecah dalam tangisan yang melengking keras.
*uah... uaaaah...*
Tangisan Ali semakin menambah kekacauan di ruang tengah. Karena tidak punya pilihan lain dan tangannya mulai gemetar menahan getaran tubuhnya sendiri, Tina dengan hati-hati menaruh keponakannya di atas lantai beralas tikar yang bersih, agar ia bisa bergerak bebas memisahkan kedua kakaknya yang sudah hampir terlibat kontak fisik.
Tina maju beberapa langkah, menyisipkan tubuhnya di antara Rika dan Fandi yang saling menunjuk wajah satu sama lain.
"Kakak... Fandi... sudah...!" suara Tina terdengar sangat lirih, bergetar hebat menahan badai emosi di dalam dadanya. Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya menetes juga, membasahi pipinya yang kuyu. "Kak, sudah Kak... tolong... Malu kalau didengar oleh tetangga kanan-kiri..."
pinta Tina dengan sisa-sisa kekuatannya, memegangi lengan Rika yang masih berusaha merangsek maju menyerang Fandi.
Namun, ego kedua saudaranya seolah telah menulikan telinga mereka dari permohonan tulus Tina. Pertengkaran itu baru benar-benar mereda dan berhenti setelah suara tangisan Ali di atas lantai terdengar semakin keras, melengking tinggi hingga memancing perhatian dari luar rumah.
Fandi mendengus kasar, memperbaiki posisi berdirinya dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa muak. "Terserah kalian mau menuduh apa! Bikin pusing saja!" ujarnya ketus, lalu membalikkan badan masuk kembali ke dalam kamar dan membanting pintu kayunya dengan kekuatan penuh. *Braaamm!*
Rika terengah-engah, dadanya kembang kempis menahan amarah yang belum tuntas. Ia segera berlutut di lantai, mengangkat Ali ke dalam pelukannya untuk menenangkannya, meskipun matanya sendiri masih memancarkan kilat kebencian ke arah pintu kamar Fandi.
"Pokoknya Kakak tidak mau tahu, Fandi! Kamu harus ganti uang itu! Kalau tidak, Kakak akan adukan hal ini pada Abah begitu Abah pulang dari kebun nanti!" ancam Rika dengan teriakan terakhirnya sebelum membawa anaknya masuk ke dalam kamarnya sendiri dengan hentakan kaki yang kesal.
Keheningan yang mencekam kembali menguasai rumah batu itu, menyisakan kesendirian yang menyakitkan bagi Tina di tengah ruang tengah. Perlahan, Tina melangkah gulai menuju teras depan. Tubuhnya terasa begitu ringkih, seolah-olah seluruh energinya telah dikuras habis oleh drama keluarga yang tak pernah ada ujungnya ini.
Tina, yang awalnya sudah berpakaian rapi dan berniat penuh semangat untuk pergi ke acara hajatan di rumah Ibu Adam, kini hanya bisa mendudukkan dirinya di atas kursi kayu panjang teras. Harapan untuk merasakan sedikit kegembiraan di tengah obrolan hangat para tetangga desa seketika sirna, digantikan oleh rasa malu dan beban mental yang teramat berat.
Bagaimana mungkin ia bisa pergi tersenyum dan bercengkerama di rumah Ibu Adam, sementara di dalam rumahnya sendiri borok keluarga baru saja kembali terbuka lebar? Bagaimana jika tetangga sebenarnya sudah mendengar suara teriakan Rika tadi? Pikiran-pikiran negatif itu berputar liar di kepala Tina, membuatnya merasa tidak memiliki muka untuk menunjukkan dirinya di rumah ibu adam.
Tina menopang wajahnya dengan kedua belah telapak tangan. Bahunya berguncang kecil saat ia menghapus air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya. Siang itu, ia memutuskan untuk tidak jadi pergi ke rumah Ibu Adam.
Di atas kursi teras yang sepi, di bawah lindungan atap rumahnya yang terasa seperti penjara, Tina menatap kosong ke arah jalanan aspal desa yang sepi. Di dalam benaknya, kalimat-kalimat tawaran dingin yang diucapkan oleh Andry beberapa jam lalu di sekolah PAUD mendadak kembali terngiang-ngiang di kepala nya. iya semakin bimbang untuk menerima tawaran tersebut atau tidak.
"Halo para pembaca setia! kalau kamu suka dengan cerita nya jangan lupa klik suka dan masukan komentar kalian nya😇. Agar mimin semakin semangat nulisnya☺."