Takdir Kaisar Bintang

Takdir Kaisar Bintang

Bab 1: Dantian yang Hancur dan Malam Tanpa Bintang

​Angin malam berhembus dingin menyapu pelataran belakang Kediaman Keluarga Ye di Kota Awan Merah. Di bawah cahaya bulan yang redup, terdengar suara napas terengah-engah dan kepalan tinju yang menghantam udara kosong.

​Bugh! Bugh! Bugh!

​Seorang pemuda berusia lima belas tahun dengan pakaian abu-abu usang terus mengayunkan tinjunya hingga buku-buku jarinya berdarah. Keringat membasahi rambut hitamnya yang sedikit panjang, menetes melewati mata tajam yang menyiratkan keteguhan sekaligus keputusasaan yang mendalam.

​Pemuda itu adalah Ye Chen.

​"Lagi... aku harus mencoba lagi," gumam Ye Chen dengan suara serak.

​Ia menghentikan gerakannya, duduk bersila di atas tanah yang dingin, dan mulai mempraktikkan Seni Pernapasan Awan Mengalir, teknik dasar pengumpulan Qi milik Keluarga Ye. Perlahan, benih-benih energi spiritual di udara—Qi Surgawi—mulai tertarik dan memasuki pori-pori kulitnya. Sensasi hangat menjalar di sekujur meridiannya.

​Namun, tepat ketika energi itu mencapai perut bagian bawahnya—tempat Dantian berada—rasa sakit yang luar biasa menusuk bagai ribuan jarum.

​Pfttt!

​Ye Chen memuntahkan seteguk darah hitam. Qi yang baru saja ia kumpulkan bocor keluar, lenyap tak berbekas ke udara seperti air yang dituangkan ke dalam keranjang bambu. Dantiannya kosong melompong, retak, dan mati.

​Tangan Ye Chen mencengkeram tanah hingga kuku-kukunya kotor oleh lumpur. Ingatan dari tiga bulan lalu kembali berkelebat di benaknya seperti kutukan. Ia ingat senyum dingin sepupunya dari klan utama, tawa sinis para tetua, dan rasa sakit yang merobek jiwa ketika Akar Roh Guntur miliknya dicabut secara paksa dari tubuhnya menggunakan formasi terlarang.

​"Akar Roh tingkat tinggi terlalu berharga untuk disia-siakan pada keluarga cabang di kota terpencil ini, Ye Chen. Berikan padaku, dan klan utama akan membiarkanmu hidup sebagai manusia fana yang damai."

​Kata-kata itu terus menggema, membakar hatinya. Dari seorang jenius nomor satu di Kota Awan Merah yang telah mencapai tahap puncak Pengumpulan Qi di usia muda, ia jatuh menjadi sampah cacat yang tak bisa lagi menampung setetes pun Qi.

​"Manusia fana yang damai?" Ye Chen tertawa sumbang, menyeka darah dari sudut bibirnya. "Di Benua Langit Azure, yang lemah hanya akan menjadi pijakan bagi yang kuat. Tanpa kekuatan, bahkan anjing liar pun bisa menggigitmu sampai mati."

​Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah gerbang pelataran.

​"Hei, Sampah! Kau masih belum tidur dan malah mengotori pelataran belakang dengan darahmu?"

​Seorang pemuda berpakaian sutra biru berjalan masuk, didampingi dua pelayan. Dia adalah Ye Mang, putra dari salah satu tetua keluarga cabang. Di masa lalu, Ye Mang selalu menunduk dan memanggilnya "Kakak Chen" dengan nada menjilat. Kini, tatapannya penuh dengan penghinaan.

​"Pelataran ini adalah tempat para pelayan memotong kayu. Jika kau ingin memuntahkan darah, lakukan di luar tembok kediaman," cibir Ye Mang sambil melipat tangan di dada. "Besok utusan dari Sekte Pedang Awan akan datang untuk menyeleksi murid. Jangan sampai keberadaanmu menyinggung pandangan mereka."

​Ye Chen berdiri perlahan, menepuk debu dari pakaiannya. Ia menatap Ye Mang dengan sorot mata sedingin es. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, hanya ketenangan yang mencekam.

​Melihat tatapan itu, Ye Mang secara refleks mundur selangkah, merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya. Namun, menyadari bahwa ia baru saja terintimidasi oleh seorang yang cacat, wajah Ye Mang memerah karena malu dan marah.

​"Kau berani menatapku seperti itu?! Kau pikir kau masih jenius keluarga kita?!" Ye Mang mengangkat tangannya, berniat mengumpulkan Qi di telapak tangannya untuk memberi pelajaran.

​WUUUSSSHHHH!

​Tiba-tiba, sebelum Ye Mang sempat menyerang, udara malam menjadi sangat berat. Suara gemuruh yang sangat dalam dan menggetarkan jiwa terdengar dari atas langit, seolah-olah surga itu sendiri sedang terkoyak.

​Ye Chen, Ye Mang, dan kedua pelayan itu mendongak secara bersamaan.

​Di atas sana, langit malam yang tanpa bintang tiba-tiba terbelah oleh sebuah cahaya hitam yang pekat—sebuah anomali di mana cahaya tampak menelan kegelapan di sekitarnya. Itu adalah sebuah meteorit raksasa, terbakar dengan api hitam yang tidak mengeluarkan panas, melainkan hawa dingin yang membekukan tulang.

​Meteorit hitam itu melintasi Kota Awan Merah dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan jejak kekosongan di langit, sebelum akhirnya jatuh menghantam Hutan Kematian—hutan terlarang yang terletak di punggung gunung tepat di belakang Kediaman Keluarga Ye.

​BUMMMMMM!

​Bumi bergetar hebat. Gelombang kejut menyapu kediaman, membuat Ye Mang dan pelayannya jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi.

​Hanya Ye Chen yang tetap berdiri tegak melawan angin kencang yang menerpa wajahnya. Entah mengapa, di saat semua orang ketakutan melihat fenomena langit tersebut, darah di dalam nadinya—yang sudah mendingin sejak Dantiannya hancur—tiba-tiba mendidih. Ada sebuah panggilan aneh yang menggema di dalam kepalanya, berdenyut seirama dengan detak jantungnya, berasal dari arah jatuhnya meteorit hitam itu.

​Ye Chen menoleh ke arah punggung gunung yang kini diselimuti debu dan kegelapan pekat. Tanpa memperdulikan Ye Mang yang masih gemetar di tanah, pemuda itu melangkah pergi, menembus bayang-bayang malam menuju Hutan Kematian.

Terpopuler

Comments

Abil Amar

Abil Amar

jngan mabok dtengah jlan alias berhenti jngn pula entr ujung2ny pedang tumpul pnjangnya 2mter beratnya 1000jin

2026-06-21

0

Nanik S

Nanik S

Hadir Tor .. berharap cerita ini tidak putus ditengah jalan

2026-06-05

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Dantian yang Hancur dan Malam Tanpa Bintang
2 Bab 2: Roh Kaisar Lin Tian dan Nama yang Terlupakan
3 Bab 3: Seni Kekosongan Bintang dan Titik Meridian Pertama
4 Bab 4: Ujian Kekuatan dan Status Murid Luar
5 Bab 5: Puncak Api Bumi
6 Bab 6: Bintang Kedua dan Penindasan di Ruang Tempa
7 Bab 7: Hadiah Penatua Tie
8 Bab 8: Jaring Bintang Penelan Langit
9 Bab 9: Benih Api Surgawi dan Penyelidikan Penatua Tie
10 Bab 10: Khasiat Teratai Api dan Tamparan Wajah
11 Bab 11: Menumbuk Akar Baja Hitam
12 Bab 12: Bukti Kualitas dan Promosi Dadakan
13 Bab 13: Pencuri Energi di Malam Hari
14 Bab 14: Ujian Alkemis dan Wajah yang Pucat Pasi
15 Bab 15: Panggilan Puncak Utama dan Mata Air Es Kuno
16 Bab 16: Racun Es Bawaan dan Terbukanya Siklus Surga Besar
17 Bab 17: Tubuh Baja dan Utusan Bayangan
18 Bab 18: Pecahnya Giok Jiwa dan Penjara Darah Kuno
19 Bab 19: Kabut Darah Pembawa Maut dan Terbentuknya Pusaran Inti
20 Bab 20: Pembantaian di Kabut Darah
21 Bab 21: Lembah Tulang Menangis
22 Bab 22: Penguasa Petir Sejati
23 Bab 23: Akhir Sang Jenius Palsu
24 Bab 24: Inti Bintang Petir dan Keserakahan Tetua Agung
25 Bab 25: Hukuman Sapu Bambu
26 Bab 26: Menginggalkan Sangkar dan Datangnya Utusan Benua Tengah
27 Bab 27: Tendangan Keluar Pintu
28 Bab 28: Berjalan di Bawah Badai dan Kolam Petir Cair
29 Bab 29: Menyedot Kering Kolam Petir
30 Bab 30: Gerbang Kota Suci
31 Bab 31: Tamparan Penguasa dan Harga Sebuah Kesombongan
32 Bab 32: Batu Meteorit Kekosongan dan Nona Arogan
33 Bab 33: Ujian Api Neraka dan Evolusi Ruang Hampa
34 Bab 34: Kunjungan Malam Hari dan Teror di Kediaman Wang
35 Bab 35: Panggung Teratai Merah dan Hancurnya Sang Jenius Puncak
36 Bab 36: Kemurkaan Para Tetua dan Kemunculan Sang Ketua Kuil
37 Bab 37: Awan Pil Tujuh Warna dan Harta di Dasar Bumi
38 Bab 38: Runtuhnya Kota Suci dan Petaka Keluarga Liu
39 Bab 39: Lautan Kekosongan dan Bajak Laut Tulang Hantu
40 Bab 40: Pelabuhan Darah Hitam dan Aturan Ranah Iblis
41 Bab 41: Kedai Tengkorak Berdarah
42 Bab 42: Lembah Bintang Patah
43 Bab 43: Merobek Domain Langit
44 Bab 44: Leluhur Darah Besi
45 Bab 45: Gerbang Langit Abadi dan Keangkuhan Penjaga Alam Atas
46 Bab 46: Getaran di Alam Surga dan Tamu Tak Diundang
47 Bab 47: Kota Cakrawala Suci
48 Bab 48: Sumpit Tulang dan Rahasia Kuali Naga Hitam
49 Bab 49: Asosiasi Alkemis Surgawi
50 Bab 50: Hidangan Meja Kayu
51 Bab 51: Puncak Tungku Dewa
52 Bab 52: Penyergapan di Ujung Dunia
53 Bab 53: Murka Mata Surgawi
54 Bab 54: Langit Besi dan Dunia Pedang Tak Berujung
55 Bab 55: Kaisar Pedang Wuhen dan Api Pemotong Langit
56 Bab 56: Dunia Api Penyucian
57 Bab 57: Pil Kaisar Iblis
58 Bab 58: Runtuhnya Dinding Dimensi
59 Bab 59: Lautan Kekacauan dan Benua Tulang Dewa
60 Bab 60: Berdirinya Sekte Kekosongan
61 Bab 61: Guncangan di Alam Atas
62 Bab 62: Invasi Seratus Ribu Dewa
63 Bab 63: Struktur Alam Atas dan Gerbang Penghakiman Ilahi
64 Bab 64: Sambutan Bertetangga dan Teh Vena Spiritual
65 Bab 65: Turunnya Avatar Raja Dewa
66 Bab 66: Aliansi Surgawi
67 Bab 67: Tirai Emas Kosmis
68 Bab 68: Pesta Teh Sepuluh Kaisar dan Senyum Sang Pelayan Abadi
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1: Dantian yang Hancur dan Malam Tanpa Bintang
2
Bab 2: Roh Kaisar Lin Tian dan Nama yang Terlupakan
3
Bab 3: Seni Kekosongan Bintang dan Titik Meridian Pertama
4
Bab 4: Ujian Kekuatan dan Status Murid Luar
5
Bab 5: Puncak Api Bumi
6
Bab 6: Bintang Kedua dan Penindasan di Ruang Tempa
7
Bab 7: Hadiah Penatua Tie
8
Bab 8: Jaring Bintang Penelan Langit
9
Bab 9: Benih Api Surgawi dan Penyelidikan Penatua Tie
10
Bab 10: Khasiat Teratai Api dan Tamparan Wajah
11
Bab 11: Menumbuk Akar Baja Hitam
12
Bab 12: Bukti Kualitas dan Promosi Dadakan
13
Bab 13: Pencuri Energi di Malam Hari
14
Bab 14: Ujian Alkemis dan Wajah yang Pucat Pasi
15
Bab 15: Panggilan Puncak Utama dan Mata Air Es Kuno
16
Bab 16: Racun Es Bawaan dan Terbukanya Siklus Surga Besar
17
Bab 17: Tubuh Baja dan Utusan Bayangan
18
Bab 18: Pecahnya Giok Jiwa dan Penjara Darah Kuno
19
Bab 19: Kabut Darah Pembawa Maut dan Terbentuknya Pusaran Inti
20
Bab 20: Pembantaian di Kabut Darah
21
Bab 21: Lembah Tulang Menangis
22
Bab 22: Penguasa Petir Sejati
23
Bab 23: Akhir Sang Jenius Palsu
24
Bab 24: Inti Bintang Petir dan Keserakahan Tetua Agung
25
Bab 25: Hukuman Sapu Bambu
26
Bab 26: Menginggalkan Sangkar dan Datangnya Utusan Benua Tengah
27
Bab 27: Tendangan Keluar Pintu
28
Bab 28: Berjalan di Bawah Badai dan Kolam Petir Cair
29
Bab 29: Menyedot Kering Kolam Petir
30
Bab 30: Gerbang Kota Suci
31
Bab 31: Tamparan Penguasa dan Harga Sebuah Kesombongan
32
Bab 32: Batu Meteorit Kekosongan dan Nona Arogan
33
Bab 33: Ujian Api Neraka dan Evolusi Ruang Hampa
34
Bab 34: Kunjungan Malam Hari dan Teror di Kediaman Wang
35
Bab 35: Panggung Teratai Merah dan Hancurnya Sang Jenius Puncak
36
Bab 36: Kemurkaan Para Tetua dan Kemunculan Sang Ketua Kuil
37
Bab 37: Awan Pil Tujuh Warna dan Harta di Dasar Bumi
38
Bab 38: Runtuhnya Kota Suci dan Petaka Keluarga Liu
39
Bab 39: Lautan Kekosongan dan Bajak Laut Tulang Hantu
40
Bab 40: Pelabuhan Darah Hitam dan Aturan Ranah Iblis
41
Bab 41: Kedai Tengkorak Berdarah
42
Bab 42: Lembah Bintang Patah
43
Bab 43: Merobek Domain Langit
44
Bab 44: Leluhur Darah Besi
45
Bab 45: Gerbang Langit Abadi dan Keangkuhan Penjaga Alam Atas
46
Bab 46: Getaran di Alam Surga dan Tamu Tak Diundang
47
Bab 47: Kota Cakrawala Suci
48
Bab 48: Sumpit Tulang dan Rahasia Kuali Naga Hitam
49
Bab 49: Asosiasi Alkemis Surgawi
50
Bab 50: Hidangan Meja Kayu
51
Bab 51: Puncak Tungku Dewa
52
Bab 52: Penyergapan di Ujung Dunia
53
Bab 53: Murka Mata Surgawi
54
Bab 54: Langit Besi dan Dunia Pedang Tak Berujung
55
Bab 55: Kaisar Pedang Wuhen dan Api Pemotong Langit
56
Bab 56: Dunia Api Penyucian
57
Bab 57: Pil Kaisar Iblis
58
Bab 58: Runtuhnya Dinding Dimensi
59
Bab 59: Lautan Kekacauan dan Benua Tulang Dewa
60
Bab 60: Berdirinya Sekte Kekosongan
61
Bab 61: Guncangan di Alam Atas
62
Bab 62: Invasi Seratus Ribu Dewa
63
Bab 63: Struktur Alam Atas dan Gerbang Penghakiman Ilahi
64
Bab 64: Sambutan Bertetangga dan Teh Vena Spiritual
65
Bab 65: Turunnya Avatar Raja Dewa
66
Bab 66: Aliansi Surgawi
67
Bab 67: Tirai Emas Kosmis
68
Bab 68: Pesta Teh Sepuluh Kaisar dan Senyum Sang Pelayan Abadi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!