NovelToon NovelToon
Apocalyps Girl

Apocalyps Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Zombie / Ruang Ajaib
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arju na

Sinopsis

Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.

Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.

Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.

Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 32 – ORANG ASING

Saat tiba di laboratorium, Lily langsung berjalan menuju ruang staf tempat Karin dan Flora bersembunyi.

Cklek...

Suara pintu yang terbuka memecah keheningan.

Begitu masuk ke dalam ruangan, Lily melihat keempat orang yang sebelumnya pingsan kini telah sadar. Namun, saat mata mereka bertemu dengannya, keempat orang itu langsung menunjukkan raut ketakutan. Bahkan tubuh mereka tampak gemetar, seolah-olah Lily adalah ancaman.

"Eh, jangan takut, Ayah. Kenalkan, ini Lily. Dia teman baruku," ucap Karin sambil berdiri di depan Lily.

Mendengar bahwa gadis di hadapan mereka adalah teman putrinya, ekspresi pria paruh baya itu perlahan menjadi lebih tenang.

Lily pun tersenyum ramah.

"Halo, Paman. Perkenalkan, nama saya Lily. Saya teman Karin. Salam kenal."

Pria itu menganggukkan kepala.

"Salam kenal juga. Namaku Profesor Adnand. Di sebelahku ada Profesor Mirai dan Profesor Hana. Sedangkan anak kecil itu bernama Bary."

Profesor Adnand menunjuk seorang bocah yang sedang duduk diam di sudut ruangan.

"Dia anak salah satu staf laboratorium ini. Sayangnya, kedua orang tuanya sudah berubah menjadi zombie."

Lily menoleh ke arah Bary.

Bocah itu hanya menundukkan kepala dengan tatapan kosong.

"Haa... kasihan sekali...."

Suara Lily terdengar lirih.

Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Flora dan Karin.

"Oh ya, Kak Flora, Karin. Bagaimana? Apa kalian sudah memutuskan akan ikut denganku pulang?"

Flora saling berpandangan dengan ayahnya sebelum akhirnya bertanya.

"Lily... kalau kami ikut denganmu, apakah tempat tinggalmu benar-benar aman? Maksudku, apakah keselamatan kami lebih terjamin di sana?"

Lily mengangguk mantap.

"Tentu saja. Selain aku, keluargaku juga tinggal di sana. Tempat itu cukup aman untuk ditempati."

Setelah berdiskusi beberapa saat, akhirnya Flora, Karin, Profesor Adnand, Profesor Mirai, Profesor Hana, dan Bary sepakat mengikuti Lily.

"Kalau begitu, bawalah barang-barang yang benar-benar penting saja. Jangan terlalu banyak agar perjalanan lebih mudah."

Semua orang segera mengemasi barang seperlunya.

Tak lama kemudian, rombongan itu meninggalkan laboratorium.

Perjalanan kali ini terasa jauh lebih tenang.

Tidak ada satu pun zombie yang mereka temui.

Hal itu karena sebelumnya Lily telah membersihkan seluruh area di sekitar laboratorium ketika menjalankan misi dari sistem.

Di tengah perjalanan, Karin yang berjalan di samping Lily membuka percakapan.

"Lily, kalau boleh tahu... sekarang kamu tinggal di mana?"

"Oh... aku dan keluargaku tinggal di atas Gunung Domo."

Lily tersenyum tipis.

"Dulu aku membangun tempat itu sebagai vila untuk berlibur. Nggak kusangka sekarang justru menjadi tempat berlindung."

Tentu saja itu hanyalah kebohongan.

Lily tidak mungkin menceritakan tentang ruang dimensi ataupun sistem kepada orang lain.

Perjalanan kembali berlanjut.

Setelah cukup lama berjalan, mereka akhirnya tiba di kaki Gunung Domo.

Lily berhenti sejenak dan menoleh kepada rombongan.

"Bagaimana? Apa kalian masih sanggup melanjutkan perjalanan?"

Profesor Adnand mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Masih. Silakan lanjut saja."

"Baiklah."

Mereka kembali berjalan menyusuri jalur pegunungan.

Namun, ketika hampir mencapai pertengahan perjalanan, Lily tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Di kejauhan tampak seseorang tergeletak di tengah jalan.

"Eh... berhenti dulu. Kalian tunggu di sini."

Tanpa menunggu jawaban, Lily segera berlari mendekati orang tersebut.

Ia tetap waspada.

Bisa saja orang itu sebenarnya adalah zombie yang sedang berpura-pura mati.

Namun setelah diperiksa dengan saksama, napas orang itu masih ada.

"Masih manusia...."

Lily mengamati pakaian yang dikenakannya.

"Seragam ini... seperti milik tim investigasi."

Ia mengernyit.

"Tapi kenapa dia sendirian?"

DING!!

«Berdasarkan analisis sistem, orang tersebut merupakan anggota tim investigasi. Seluruh anggota kelompoknya telah terbunuh.»

"Jadi dia memang benar anggota tim investigasi?"

DING!!

«Benar.»

Tanpa membuang waktu lagi, Lily mengambil sebotol Air Spiritual dari ruang dimensinya.

Ia membersihkan seluruh luka di tubuh pria itu terlebih dahulu, kemudian perlahan menuangkan Air Spiritual ke dalam mulutnya.

Setelah selesai, Lily menoleh ke arah rombongannya.

"Kita istirahat dulu di sini sampai orang ini sadar."

Flora mengangguk.

"Iya, tidak apa-apa. Kami juga sudah lumayan lelah."

Lily kemudian mengeluarkan tujuh botol air mineral dan tujuh bungkus roti dari ruang dimensinya.

"Nih, makan dan minum dulu. Biar tenaga kalian kembali."

"Terima kasih, Ly."

"Sama-sama."

Lily kembali duduk di dekat pria yang masih pingsan itu.

Saat itulah pandangannya tiba-tiba tertuju pada sesuatu yang aneh.

Di sekeliling tubuh pria tersebut muncul aura hitam pekat yang memancarkan hawa panas.

"Sistem... kenapa aura orang ini berbeda? Aku belum pernah melihat aura sehitam dan sepanas ini."

DING!!

«Aura yang dilihat Tuan Rumah berasal dari elemen api. Namun karena pemiliknya sempat terkena cakaran zombie, elemen tersebut mengalami mutasi menjadi Elemen Api Neraka.»

Lily langsung mengernyit.

"Elemen Api Neraka?"

Nama itu sama sekali asing baginya.

Bahkan selama delapan tahun bertahan hidup pada kehidupan sebelumnya, ia belum pernah mendengar adanya elemen seperti itu.

"Berarti... mutasi elemen masih mungkin terjadi...."

Pikiran Lily dipenuhi berbagai pertanyaan.

Beberapa menit kemudian...

"Eghh...."

Pria itu akhirnya membuka matanya.

Hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik Lily yang sedang memperhatikannya.

"Apa kamu sudah sadar?" tanya Lily.

Pria itu memegang kepalanya yang masih terasa berat.

"Si... siapa kamu?"

"Aku Lily. Orang yang menyelamatkanmu."

Jawaban Lily terdengar singkat dan tanpa basa-basi.

Pria itu tampak terkejut.

"Tidak mungkin...."

Ia menatap kedua tangannya sendiri.

"Aku ingat... aku sempat terkena cakaran zombie."

Suara pria itu perlahan berubah menjadi getir.

"Teman-temanku dibunuh di depan mataku... lalu mereka berubah menjadi zombie...."

Lily hanya menatapnya dengan tenang.

"Tidak ada yang tidak mungkin."

Pria itu terdiam cukup lama.

Kemudian ia kembali bertanya.

"Kamu mau pergi ke mana?"

Lily menunjuk dirinya sendiri sambil tersenyum kecil.

"Aku? Tentu saja mau pulang."

Pria itu tertawa pelan.

"Kalau begitu..."

Ia berdiri perlahan.

"Terima kasih sudah menyelamatkanku."

Pria itu mengulurkan tangan.

"Perkenalkan. Namaku Bimantara Samudra Argantara."

"Kamu bisa memanggilku Bima."

Lily membalas jabat tangan itu.

"Senang bertemu denganmu, Bima."

"Kalau kondisimu sudah lebih baik, mungkin kita berpisah di sini saja."

Lily menoleh ke arah langit.

"Hari sudah mulai sore. Aku harus segera sampai di rumah sebelum malam tiba."

Bima menganggukkan kepala.

"Baik."

Ia tersenyum tipis.

"Sekali lagi... terima kasih."

"Sampai bertemu lagi."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Bima berbalik dan berjalan menuruni gunung seorang diri.

Lily memperhatikannya sampai sosok pria itu menghilang di balik pepohonan.

Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa mereka akan bertemu lagi suatu hari nanti.

Lily kemudian menoleh kepada rombongannya.

"Kalau begitu, bagaimana? Apa kita lanjut?"

Semua orang mengangguk serempak.

Mereka kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan mendaki Gunung Domo

1
Dhewa Shaied
lanjut thor💪💪 semangat
Daliffa
mantul,jng berhenti ditengah jalan ja hehe
Daliffa
keren karyamu thor,TDK bertele tele,💪💪💪👍🙏
Daliffa
mampir baca thor,mga ibuy segera diberikan kesembuhan & dilancarkan rejekiy💪💪💪🙏
bulan sabit: aminnn
total 1 replies
Amiera Syaqilla
hi
Dhewa Shaied
boleh tuh kasih lah thor
PonsParadiso
keluarganya jadi beban doang lama lama
PonsParadiso
kekuatan lili buat apa sih gak kepake banget.
PonsParadiso
bukannya lili punya kekuatan juga? kok dibilang manusia biasa? gak singkron sama awal cerita.
bulan sabit: kan aku bilang "KEMAMPUAN ORANG BIASA SAMA YANG TERBANGKITKAN BERBEDA"ini mejelaskan kalo pukulan orang yang punya kemampuan yang terbangkitkan berbeda sama manusia biasa bukan berarti Lily gak punya kekuatan baca yang bener mangkanya kak 🙏🙏
total 1 replies
Wahyuningsih
dtnggu upnya kmbli thor yg buanyk n hrs tiap hri jgn lma2 semedi thor tk inak menunggu... sehat sellu jga keshtn tetp 💪💪💪 dlm upnya n makacih tuk upnya
bulan sabit: kalo tiap hari gak bisa kan aku sekolah kalo 2 hari sekali mah bisa di usahakan🙏🙏 mungkin nanti malam up lg di tunggu ya
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap hadiah dri sistem q jga mau dong thor 🤣🤣🤣
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kasih pasangan yang kuat dan bisa melindungi Lily dan keluarga besar nya...
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
semoga ngga berhenti di tengah hutan ya🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: aduhhhh.... masih belajar kak aku juga🤣
total 2 replies
Wahyuningsih
mudah2an operasinya lancar gk ada halangan apapun amin2 ya robal alamin 💪💪💪💪 thor dlm up
Wahyuningsih
moga cpt sembuh thor
Wahyuningsih
thor buat lily badaz abiz biar makin seru
Wahyuningsih
mampir q thor
Dhewa Shaied
terima kasih kak.. gmn kondisi ibunya semoga cpt sehat 🙏🙏
bulan sabit: sudah selesai oprasi nya cuma nunggu pulih aja dulu🙏🙏
total 1 replies
Dhewa Shaied
syafakillah untuk ibunda
Nanik Jariyanti
cepat sembuh kak ibu nya sehat selalu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!