Lin tian seorang remaja yang tinggal bersama ayah nya seorang pemabuk. suatu hari tiba tiba ayah nya berbicara dan mengasih warisan keluarga untuk anak nya dapat berkultivasi. seperti pepatah mengatakan "di balik kekuatan hebat terdapat musuh yang kuat"
Mampu kah Lin Tian bertahan dari banyak nya musuh yang datang.
mari kita cari tau bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Menara Kitab dan Provokasi Baru
Fajar menyingsing di Puncak Azure Heaven, membawa hawa dingin yang menyegarkan bersama dengan kabut spiritual yang mulai menipis. Lin Tian berdiri di balkon paviliunnya, mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman awan perak di sepanjang kerahnya—pakaian resmi seorang Murid Inti Sekte Pedang Azure.
Setelah menembus ke Ranah Pemurnian Meridian Level 3 dan membuka 72 meridian tersembunyi, Lin Tian merasa persepsinya terhadap dunia luar menjadi berkali-kali lipat lebih tajam. Dia bisa mendengar kepakan sayap burung spiritual sejauh beberapa mil, bahkan merasakan aliran energi spiritual yang mengalir di akar-akar pepohonan kuno di sekitar puncak gunung.
"Kekuatan fisik dan Qi-ku sudah meningkat pesat," gumam Lin Tian sambil menatap telapak tangannya yang kini bersih tanpa cela.
"Namun, variasi teknik bela diriku masih terlalu sedikit. Teknik Pedang Tirani Sembilan Penjuru dari cincin terlalu menguras energi untuk digunakan terus-menerus. Aku butuh teknik pedang sekte untuk menyembunyikan identitas asliku."
Dengan pemikiran tersebut, Lin Tian melangkah keluar dari Paviliun Azure Spirit. Tujuannya hari ini adalah Menara Kitab Suci, tempat di mana Sekte Pedang Azure menyimpan ribuan tahun akumulasi teknik bela diri dan pengetahuan kuno mereka. Sebagai Murid Inti Tingkat Pertama, dia memiliki hak istimewa untuk memasuki lantai tiga menara, tempat yang terlarang bagi murid luar maupun murid dalam biasa.
Lin Tian menggunakan teknik gerak kaki Langkah Bayangan Langit. Tubuhnya bergerak bagaikan hembusan angin, melesat menuruni jalan setapak Puncak Azure Heaven tanpa menimbulkan suara. Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit, dia telah tiba di pelataran luas di bagian tengah kompleks sekte, di mana sebuah menara batu raksasa berbentuk segi delapan berdiri dengan anggun.
Menara Kitab Suci dikelilingi oleh ratusan murid yang sedang mengantre atau berdiskusi tentang teknik bela diri. Begitu Lin Tian berjalan mendekat, jubah putih bersulam perak miliknya seketika memancing perhatian.
"Lihat! Jubah putih awan perak... dia adalah Murid Inti!"
"Tunggu, wajah itu... bukankah dia Lin Tian? Remaja desa yang menghancurkan Batu Penguji Bakat dan mencacatkan Gu Wei kemarin?!"
"Benar, itu dia! Monster dengan Bakat Emas Legendaris!"
Bisik-bisik kekaguman dan ketakutan langsung menyebar di antara kerumunan murid luar dan dalam. Mereka secara otomatis membelah diri, memberikan jalan bagi Lin Tian dengan kepala tertunduk. Lin Tian mengabaikan semua pandangan tersebut dan terus berjalan lurus menuju pintu masuk menara.
Namun, tepat sebelum dia sempat melangkah melewati ambang pintu batu, tiga sosok murid berjubah putih polos—penanda status sebagai Murid Dalam tingkat atas—melangkah maju dan sengaja menghalangi jalannya.
Pemimpin dari ketiga murid tersebut adalah seorang pemuda bertubuh jangkung dengan pedang panjang berhias giok biru di pinggangnya. Wajahnya dipenuhi dengan ekspresi tidak senang dan keangkuhan yang kental.
"Kamu yang bernama Lin Tian?" tanya pemuda jangkung itu dengan nada dingin, menatap Lin Tian dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.
Lin Tian menghentikan langkahnya, matanya yang sedalam lautan menatap datar ke arah pemuda tersebut. "Benar. Ada urusan apa?"
Pemuda jangkung itu mendengus kencang, lalu menyilangkan tangannya di dada.
"Namaku Song Jian, murid dalam peringkat kelima di Sekte Pedang Azure. Lin Tian, meskipun kamu memicu Bakat Emas kemarin, kamu hanyalah seorang pendatang baru yang beruntung. Menghancurkan alat penguji dan mengalahkan sampah dari Sekte Api Langit tidak membuatmu berhak langsung menduduki posisi Murid Inti!"
"Oh?" Lin Tian menaikkan sebelah alisnya. "Terus?"
"Sekte Pedang Azure adalah tempat di mana kekuatan dan senioritas dihormati," Song Jian melangkah satu jengkal lebih dekat
memancarkan aura Ranah Pemurnian Meridian Level 6 dari tubuhnya untuk menekan Lin Tian. "Banyak dari kami yang telah berdarah-darah menjalankan misi sekte selama bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan kesempatan menjadi Murid Inti. Sementara kamu, seorang bocah desa ingusan, mendapatkannya di atas nampan perak hanya karena batu sialan itu bersinar! Kami, para murid dalam, tidak menerima keputusan ini!"
Mendengar provokasi Song Jian, suasana di sekitar Menara Kitab Suci seketika berubah menjadi tegang. Banyak murid yang mulai berkerumun untuk menonton, penasaran bagaimana sang "Bakat Emas" akan menghadapi tantangan dari salah satu murid dalam terkuat di sekte.
Lin Tian merasakan tekanan aura dari Song Jian, namun di matanya, riak energi tersebut sangat rapuh. 72 meridian tersembunyi di tubuh Lin Tian bahkan tidak perlu bergejolak untuk menetralisir tekanan tersebut.
"Jika kalian tidak menerima keputusan para Tetua, pergilah protes kepada Tetua Mo Feng," jawab Lin Tian dengan suara tenang namun sarat akan ejekan yang halus.
"Menghalangi jalanku di sini hanya membuat kalian terlihat seperti sekumpulan anjing yang iri karena tidak mendapatkan tulang."
"Kamu mencari mati!"
Dua murid dalam di belakang Song Jian seketika naik pitam, tangan mereka bergerak menuju gagang pedang mereka.
Wajah Song Jian pun menjadi sangat muram, sudut matanya berkedut karena marah.
"Mulut yang tajam untuk seorang pemula! Lin Tian, jika kamu benar-benar memiliki kemampuan yang sepadan dengan bakat emasmu, aku menantangmu dalam Pertarungan Poin Kontribusi di Arena Sekte tiga hari dari sekarang! Jika kamu kalah, kamu harus melepaskan status Murid Intimu secara sukarela dan memberikan Paviliun Azure Spirit kepadaku!"
Lin Tian menatap Song Jian selama beberapa detik, lalu seulas senyum tipis—yang terlihat sangat berbahaya—muncul di sudut bibirnya. Tiga hari adalah waktu yang lebih dari cukup baginya untuk menguasai teknik baru dari menara ini.
"Aku terima tantanganmu," ucap Lin Tian dengan nada datar.
"Tapi Taruhan nya aku mau pedang itu dan semua poin kontribusi mu."
Song Jian tertegun sejenak, tidak menyangka Lin Tian akan berbalik menuntut dengan begitu percaya diri. Namun, mengingat perbedaan ranah mereka yang terpaut jauh (Pengumpulan Qi Level 3 vs Pemurnian Meridian Level 6 dalam perkiraannya), dia langsung tertawa meremehkan.
"Bagus! Tiga hari lagi, aku akan membuatmu merangkak kembali ke desamu! HAHAHA"
Song Jian mengibaskan jubahnya menyruh pengikut nya minggir, memberi jalan bagi Lin Tian dengan tatapan yang dipenuhi niat kejam.
Lin Tian berjalan melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun, melangkah masuk ke dalam keheningan Menara Kitab Suci. Provokasi Song Jian sama sekali tidak mengacaukan pikirannya; bagi Lin Tian, Song Jian hanyalah batu asahan lainnya yang dikirim langit untuk menguji ketajaman pedang besarnya. Kini, fokus utamanya adalah menemukan teknik pedang yang tepat di dalam menara ini untuk bersiap menghadapi pertarungan tiga hari lagi.
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉