NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan yang Membingungkan

Film animasi di televisi akhirnya selesai ditayangkan tepat saat jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul lima sore. Sinar matahari keemasan yang semula terang benderang kini mulai perlahan meredup, menyisakan semburat jingga keunguan yang indah di balik tirai balkon apartemen nomor 1507.

Aku merenggangkan kedua tanganku ke atas, mengusir rasa pegal karena duduk terlalu lama di sofa krem yang empuk.

"Rin," suara berat Mas Arkan yang sangat tenang memanggil dari sebelahku, memecah keheningan yang sempat merayap setelah layar televisi menampilkan gulungan teks kredit film.

"Iya, Mas?" jawabku sembari menurunkan kedua tanganku dan menoleh ke arahnya.

Mas Arkan tampak sedang menatap layar ponselnya yang menyala tipis. "Malam ini saya ada janji pertemuan makan malam kasual dengan Dekan dan beberapa kolega dosen senior dari universitas mitra di luar kota. Pertemuannya diadakan di restoran hotel dekat bandara."

"Oh, gitu ya, Mas. Berarti malam ini Mas Arkan gak makan di rumah?" tanyanya, ada sedikit rasa kecewa yang tanpa sadar menyelinap di dalam nada suaraku. Rasanya sangat aneh, padahal baru beberapa hari kami terbiasa makan malam bersama di meja konter dapur bersih, namun sekarang membayangkan harus makan malam sendirian di apartemen yang luas ini membuatku merasa sedikit kesepian.

Mas Arkan menyadari perubahan nada suaraku. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kaca, lalu memutar sedikit posisi duduknya agar bisa menatapku dengan lebih lekat.

"Saya usahakan pulang tidak terlalu larut, Karin. Paling lambat pukul sembilan malam saya sudah sampai di apartemen," ujarnya dengan nada suara yang sangat lembut, seolah sedang memberikan kepastian yang menenangkan agar aku tidak merasa khawatir atau kesepian. "Bahan makanan di kulkas sudah saya rapikan tadi siang. Di laci bawah kulkas juga ada sup iga sapi hangat yang hanya perlu kamu panaskan sebentar di atas kompor jika kamu lapar nanti."

Mendengar perhatian detailnya yang sangat luar biasa hangat itu, rasa kecewa di dadaku seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh debaran manis yang membuat pipiku kembali menghangat.

"Iya, Mas Arkan. Tenang aja, Karin bisa panasin sup iganya sendiri kok. Mas Arkan fokus aja sama makan malamnya, jangan buru-buru menyetir di jalanan yang gelap nanti," sahutku tulus sembari tersenyum manis ke arahnya.

Mas Arkan menatap senyumanku selama beberapa detik penuh dengan sorot mata yang tampak bergetar halus dengan emosi yang sangat hangat, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan dan bangkit berdiri dari sofa untuk bersiap-siap ganti pakaian di kamarnya.

Pukul tujuh malam, keheningan yang pekat mulai menguasai seluruh penjuru apartemen unit 1507.

Aku duduk sendirian di meja konter dapur setelah selesai menyantap sup iga sapi hangat buatan Mas Arkan yang rasanya benar-benar sangat luar biasa lezat dan kaya akan rempah-rempah alami. Setelah mencuci piring kotor bekas makanku sendiri, aku berjalan gontai menuju ruang tengah dan merebahkan tubuh mungilku di atas sofa krem yang empuk, menatap langit-langit apartemen yang tinggi dengan perasaan yang sangat campur aduk.

Ponselku di genggaman tangan mendadak bergetar pelan. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor Dinda di grup obrolan kelas.

Dinda: Rin! Kamu udah liat pengumuman di web fakultas belum? Senin depan jadwal asistensi praktikum Basis Data kita bakal diawasin langsung sama tim asesor eksternal loh! Dan tebak siapa dosen pendamping yang bakal mendampingi tim asesornya? Pak Arkan killer kesayangan kita!

Aku membaca pesan Dinda dengan helaan napas panjang yang terdengar pasrah. Di kampus nanti, ketegangan kami pasti akan kembali meningkat ke level maksimal. Garis tak terlihat yang membatasi status profesionalitas kami sebagai dosen dan mahasiswi akan kembali diuji di depan puluhan pasang mata mahasiswa lainnya.

Aku ngetik balasan cepat di layar ponsel.

Karin: Iya, Din. Aku udah liat pengumumannya kok. Tenang aja, yang penting kita kuasai materi praktikumnya dengan bener biar gak kena bantai di depan asesor nanti.

Setelah mengirimkan pesan tersebut, aku meletakkan ponselku di atas meja kaca dengan bunyi ketukan pelan. Aku memiringkan posisi tidurku di sofa, memeluk salah satu bantal abu-abu kecil erat-erat di dada, lalu memejamkan mata rapat-rapat untuk mencoba tidur sejenak demi mengusir rasa sepi yang mendera.

Entah karena kehangatan sup iga sapi yang baru kusantap atau karena hembusan dingin angin AC yang sangat nyaman, kesadaranku perlahan-lapan mulai memudar hingga akhirnya aku jatuh tertidur pulas di atas sofa ruang tengah yang sunyi itu.

Suara gemercik air yang mengalir halus di wastafel dapur dan bau wangi maskulin khas kayu pinus yang sangat akrab perlahan-lahan menyusup masuk ke dalam alam bawah sadarku, membuatku menggeliat pelan dan membuka sepasang mataku yang masih terasa sangat berat karena kantuk.

Suasana di ruang tengah apartemen saat ini sudah sangat gelap, hanya diterangi oleh cahaya temaram lampu gantung dapur bersih yang menyala kuning hangat di sudut ruangan.

Aku mendongakkan kepalaku sedikit dari bantal sofa, melirik jam dinding digital di atas televisi yang menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit malam.

Di balik meja konter dapur bersih, Mas Arkan sudah berdiri dengan posisi membelakangiku. Pria itu tampaknya baru saja pulang dari acara makan malamnya ia sudah melepas jas batiknya dan hanya menyisakan kemeja hitam polosnya yang digulung rapi hingga sebatas siku tangan kekarnya. Ia sedang menuangkan air putih dingin dari dispenser ke dalam gelas kaca dengan gerakan yang sangat tenang.

Aku perlahan bangkit duduk di atas sofa sembari merapikan anak-rambutku yang berantakan karena tidur miring. "Mas Arkan... udah pulang?" suaraku terdengar sangat serak dan khas orang yang baru bangun tidur.

Mas Arkan memutar tubuhnya cepat mendengar suaraku yang parau. Menyadari aku sudah terbangun, ia meletakkan gelas kacanya di atas meja konter, lalu melangkah lebar menghampiriku di sofa dengan langkah kaki yang sangat tenang tanpa suara.

"Maaf, Karin. Suara saya membuat kamu terbangun?" tanyanya lembut sembari mengambil posisi duduk di ujung sofa yang kosong, tepat di hadapanku.

"Nggak kok, Mas. Karin emang cuma tidur ayam aja tadi," jawabku bohong sembari menarik kedua kakiku merapat di dada, memeluk lututku sendiri dengan canggung di hadapannya yang kini menatapku dengan sangat lekat.

Mas Arkan memperhatikan wajah kuyu mataku yang masih setengah mengantuk. Tangan kanannya terulur ke depan dengan gerakan yang sangat perlahan dan hati-hati, mendekati wajahku. Aku refleks menahan napas dengan jantung yang mendadak berdegup kencang tak karuan saat merasakan punggung tangannya yang sangat hangat menempel lembut di dahi dan pelipis kananku selama beberapa detik penuh.

"Suhu tubuh kamu sedikit hangat, Karin," ujarnya dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat cemas dan sarat akan perhatian yang mendalam. "Kamu merasa tidak enak badan?"

Sentuhan punggung tangannya yang hangat di dahiku terasa begitu nyata dan nyaman, mengirimkan getaran-getaran manis yang sangat hebat hingga membuat seluruh tubuhku mendadak terasa lemas tak bertenaga.

"Cuma... agak lemas aja sedikit, Mas. Mungkin karena tadi malam kurang tidur gara-gara ngerjain revisi skripsi," jawabku lirih sembari menatap langsung ke dalam sepasang mata cokelat gelapnya yang kini memancarkan kecemasan yang sangat murni untuk diriku.

Mas Arkan menarik kembali tangannya dari dahiku dengan gerakan yang sangat lambat. "Kamu harus segera istirahat di dalam kamar, Karin. Udara malam di ruang tengah ini terlalu dingin untuk kondisi tubuh kamu yang sedang drop."

"Iya, Mas. Habis ini Karin langsung tidur di kamar kok," sahutku patuh sembari bersiap menurunkan kedua kakiku dari sofa untuk berdiri.

Namun, saat aku baru saja menapakkan kakiku di atas lantai kayu yang dingin, kepalaku mendadak terasa sangat pening dan berputar hebat hingga membuat keseimbangan tubuhku goyah seketika. Tubuh mungilku refleks limbung ke arah depan.

"Karin!"

Dengan gerakan refleks yang sangat cepat dan cekatan, Mas Arkan menangkap tubuh mungilku sebelum sempat terjatuh ke lantai.

Kedua lengan kokohnya melingkar erat di pinggangku, menarik tubuhku merapat sempurna pada dada bidangnya yang sangat hangat dan kokoh. Aroma wangi maskulin khas kayu pinus yang sangat memabukkan kembali menyerbu seluruh indra penciumanku dalam jarak yang sangat intim ini. Aku bisa merasakan dengan sangat jelas degup jantung Mas Arkan yang juga berdegup sangat kencang dan tidak beraturan tepat di hadapan dadaku yang menempel rapat pada kemeja hitamnya.

Kami berdua terdiam membeku di dalam posisi intim tersebut selama beberapa detik yang terasa sangat panjang dan mendebarkan di dalam kesunyian ruang tengah yang temaram malam itu. Kehangatan tubuhnya dan rasa aman yang melingkupiku saat berada di dalam dekapannya membuat sisa-sisa rasa pening di kepalaku perlahan-lahan memudar, digantikan oleh jalinan emosi baru yang jauh lebih mendalam, nyata, dan sangat membingungkan hatiku setelah malam ini.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!