"Kamu di diagnosa kanker otak stadium 3,tapi masih gejala awal jadi tingkat kesembuhan masih ada 75 % lagi,asal secepatnya operasi"
"Jika aku tidak operasi?"
"Jangan gila,kau bahkan tidak akan bertahan sampai 5 bulan"
"Kalau begitu biarkan saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
?
Apartemen itu adalah hasil kerja kerasnya,namun belum sempat Ia nikmati tinggal di sana setelah membelinya 5 tahun lalu.
Meski begitu,apartemen itu selalu di bersihkan hingga masih sangat terawat dan rapi.
Mulai sekarang,Ia akan tinggal di sana menikmati hidup sendiri di sisa-sisa kehidupan nya yang sepi.
Di keluarkan nya barang-barang yang berarti dari koper yang Ia bawa dari rumah sebelumnya.
Sebuah foto wanita muda dengan gadis kecil yang merupakan dirinya dan ibunya dulu,dengan tawanya yang ceria dan senyum ibunya yang tampak terpaksa dan Ia baru menyadari nya setelah dewasa.
Foto-foto itu Ia tempel di dinding dan,mulai meletakkan barang-barang bawaan nya di tempat yang Ia inginkan dengan penuh semangat.
Ia akan membuat kehidupan nya lebih berwarna dan bahagia di akhir-akhir kehidupan nya tanpa harus memikirkan beban apapun.
Tapi saat melihat ke dinding dimana ada foto ibunya yang tersenyum,ada perasaan rindu yang tak akan bisa Ia jelaskan namun itu sangat menyiksa batinnya,dan hal itu membuat nya ragu untuk menyerah dengan penyakit nya.
Khawatir jika selama ini ibunya masih hidup dan juga mencarinya,"Bagaimana jika nanti aku mati,dan ibu masih hidup dan ternyata juga mencari ku?",dilema nya memikirkan hal itu.
Pada saat itu ponselnya berdering,dan itu telepon dari Tristan sahabat kecilnya.
"Halo?"
"Adeline kamu di mana sekarang,aku ingin mengatakan sesuatu pada mu?"
"Aku ada di rumah,apa yang ingin kau katakan?"
Tristan di seberang telepon tampak terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Adeline ini sesuatu yang penting,dan sebenarnya aku ingin menyampaikan ini pada mu secara langsung"
Rasanya untuk keluar hari ini terlalu lelah, tenaganya sudah terkuras bertemu dengan ibu tiri dan kakak tirinya dan berhadapan dengan ibu mertuanya hari ini."Tristan aku minta maaf,hari ini sepertinya aku tidak bisa keluar aku sedikit tidak enak badan sekarang", jawabnya dengan jujur dan mendudukkan bokongnya pada sofa.
"Baiklah kalau begitu biarkan aku yang ke sana, sekalian aku ingin bertemu dengan Damar.Sejak pulang aku belum bertemu dengan nya dan tidak pernah mengatakan tentang persahabatan kita padanya"
"Tidak...Tidak...Tidak jangan,ah maksud ku kau tidak perlu datang kemari karena...Damar juga tidak berada di rumah hari ini,dia...dia sedang ada urusan kantor"
Kegugupan Adeline justru membuat Tristan curiga dan merasa ada hal yang aneh,Ia merasa kalau Adeline sedang menyembunyikan sesuatu yang besar darinya."Adeline,kau dan Damar baik-baik saja kan.Kalian tidak sedang dalam pertengkaran kan?"
Rasanya begitu sulit menyembunyikan dari Tristan,namun Ia tidak ingin membuat semuanya menjadi rumit dengan Tristan yang tau masalah dirinya tapi bagaimana pun Ia tidak akan bisa menutupi semuanya dari sahabat masa kecilnya itu."Bukan begitu,ya... sebenarnya aku dan Damar sedikit ada masalah.Dan sebenarnya aku juga ingin mengatakan pada mu kalau sebaiknya Damar tidak perlu tau kalau kita saling kenal"
"kenapa?"
Tristan justru bertanya dengan nada serius dan intimidasi.
"Untuk sekarang aku tidak bisa memberitahu mu alasan pastinya,tapi aku minta tolong pada mu untuk hal itu saja.Nanti aku pasti akan memberitahu mu alasan pastinya"
"Baiklah kalau begitu,aku tidak akan memaksa mu"
Tristan menghela nafas dan mengalah,Ia juga tau batasannya sebagai sahabat lama,"Tapi jika aku tau Damar menyakiti mu sedikit saja,aku tidak akan pentingnya memaafkan nya"
"Ingat kau punya Aku Adeline,yang bisa kau andalkan dalam situasi dan masalah apapun.Aku tidak aka pernah membiarkan mu sendiri menghadapi semuanya lagi"
"..."
"Adeline,kau masih di sana?"
"Iya,aku masih di sini.Itu aku matikan dulu aku masih ada sesuatu yang harus di kerjakan,bye"
Tut
Setelah memutuskan telepon,Ia menyandarkan tubuhnya dan menarik nafas panjang.
Ucapan Tristan masih sama seperti dulu,setiap kali Ia membuat sumpah untuk melindungi nya,dan Ia akan selalu melakukan sumpahnya.Hal itu memberikan kekuatan tersendiri padanya dan membuat nya perlahan sadar kalau Ia tidak lagi sendirian di dunia ini.
Ya, kata-kata dan keberadaan Tristan dalam hidupnya memang tak bisa terbantahkan olehnya sendiri.
"Aku masih ingin bertemu dengan ibu dan aku tidak bisa membiarkan orang-orang itu bahagia atas kematian ku,aku tidak bisa membiarkan mereka menang lagi"
Bayangan-bayangan tawa dan penuh kemenangan ibu tiri dan kakak tirinya itu atas kematian nya,dan kemenangan mereka membuat nya sadar kalau seharusnya Ia tidak bisa lemah seperti saat ini, seperti ibunya yang menyerah begitu saja pergi meninggalkan semuanya.
***
pengen lihat adel bangkit dan melihat karma si dua perempua jahat itu
jangan mau Terima apapun dr mereka Adeline..