Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12 Pesta Ini Bukan Untuku
“Kau benar-benar bersedia pergi? Kau yakin? Kau tidak akan menyesal nanti, kan?” tanyanya dengan mata berbinar senang.
“Ya. Karena di rumah ini memang tidak ada tempat untukku lagi. Bahkan jika aku harus mati di tangan Tuan Muda Valen yang sakit mental itu, rasanya lebih baik daripada aku harus terus hidup di sini. Siapa tahu nanti mayatku tidak akan dibuang sembarangan atau dijadikan pakan anjing jalanan,” ucap Ayla. Ia menatap lekat-lekat wajah Bastian, lalu melemparkan sebuah senyum tipis yang terasa sangat mengerikan dan dingin.
“Ayla… jangan bicara hal buruk seperti itu. Tapi aku senang… aku senang kau akhirnya mulai mengerti keadaan,” ucap Bastian. Ia sengaja mengabaikan kalimat terakhir Ayla yang penuh kepahitan, dan hanya fokus pada persetujuan yang didapatkannya.
“Tunggu dulu. Ada satu hal yang harus kupersyaratkan,” ucap Ayla menahan Bastian yang hendak pergi.
“Apa? Katakan saja,” tanya Bastian penasaran.
“Aku ingin memutuskan hubungan dengan keluarga ini sepenuhnya. Aku ingin kalian membuatkan surat perjanjian pemutusan hubungan resmi antara aku dan kalian semua,” jelas Ayla tenang, namun senyum tipis yang mengerikan itu masih terukir jelas di bibirnya.
Deg…
Jantung Bastian seakan berhenti berdetak sesaat mendengar permintaan itu. Ini pertama kalinya ia mendengar keinginan segila ini keluar dari mulut Ayla. Selama ini, Ayla selalu berusaha mendekat, selalu ingin dianggap bagian dari keluarga, dan tak pernah mau meninggalkan rumah itu. Namun sekarang, saat ia memutuskan untuk pergi, ia justru ingin memutuskan segala ikatan sampai ke akar-akarnya. Dan senyum yang terlihat di wajah adiknya itu… terasa sangat berbeda, asing, dan menakutkan.
“Ayla… kau hanya perlu menikah dengan Tuan Muda Valen. Tidak perlu sejauh itu. Kita tetap keluarga, tidak ada yang bisa memutuskan hubungan darah kita,” ucap Bastian, seolah-olah ia sangat menghargai kata “keluarga” padahal kenyataannya ia sendiri yang mengusir adiknya.
“Kalau kalian menolak, lebih baik aku mati saja di sini sekarang. Dan kalian yang harus mengirimkan Alena ke keluarga Aditama sebagai gantinya,” ancam Ayla. Ia segera menggenggam erat serpihan kaca yang masih berserakan di lantai, lalu mengarahkan benda tajam itu ke pergelangan tangannya sendiri seolah siap melukai diri.
“Baiklah! Baiklah! Jika itu yang kau mau… aku akan penuhi. Setelah pesta ulang tahun Alena nanti malam, secepatnya kau akan menerima surat perjanjian pemutusan hubungan itu, dan langsung dikirim ke keluarga Aditama,” ucap Bastian terburu-buru. Ia segera berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu, tak ingin berlama-lama di dekat Ayla yang kini terasa sangat asing baginya.
Karena Ayla sudah menyetujui keinginan mereka, ia pun akhirnya dibebaskan dari ruang kurungan itu. Dengan kaki yang gemetar dan tubuh yang sangat lemah, ia berjalan tertatih-tatih menuju kamarnya. Seharian penuh ia mengurung diri di sana, menangis dan meratapi nasibnya yang begitu malang dan menyedihkan.
“Ini adalah terakhir kalinya aku menangis… Aku tidak sedih karena harus meninggalkan mereka, tapi aku sedih karena selama ini aku bodoh sekali menyayangi mereka. Mulai sekarang, aku akan menghapus nama keluarga ini sepenuhnya dari ingatanku,” gumam Ayla sambil menatap sekeliling ruangan kecil itu, tempat di mana banyak kenangan pahit dan manis tersimpan.
Sebelum meninggalkan satu-satunya tempat yang sempat ia anggap nyaman di rumah besar itu, Ayla memutuskan untuk membereskan segala barang miliknya. Ia tak ingin menyisakan sedikit pun jejak atau kenangan tentang dirinya yang tertinggal di ruangan segi empat itu.
Sementara itu, di luar kamar...
"Bagaimana keadaan Alena?" tanya Bastian seraya melangkah menghampiri anggota keluarganya yang berkumpul di ruang tengah.
"Adnan sudah memberinya pertolongan dan mengobatinya. Sekarang kondisinya sudah membaik," jawab Mama Tina kepada Bastian.
"Pa, Ma, aku punya kabar baik. Ayla sudah bersedia, dia telah menyetujuinya. Dialah yang akan pergi ke kediaman keluarga Aditama," ucap Bastian dengan wajah berseri‑seri.
"Benarkah?" seru Alena, matanya berbinar menampakkan kegembiraan yang mendalam. Akhirnya, posisinya sebagai satu‑satunya tuan putri di rumah itu takkan pernah tergantikan lagi.
"Baguslah kalau begitu. Memang seharusnya dia tahu diri dan patuh," sahut Papa Bayron dingin.
Mama Tina dan Adnan pun turut tampak gembira. Hati mereka pun lega, sebab setelah kepergian Ayla, mereka tak perlu lagi merasa cemas akan keselamatan Alena di rumah ini.
"Akhirnya, aura gelap yang menyelimuti rumah ini akan segera lenyap," gumam Adnan.
"Selamat tinggal, Ayla. Nikmatilah kehidupan barumu yang kelak akan terasa jauh lebih menyiksa," batin Alena sambil menyembunyikan senyum kemenangan.
"Sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Lebih baik sekarang kita fokus mempersiapkan pesta nanti malam. Benar begitu, Sayang?" ucap Mama Tina seraya menggenggam lembut tangan Alena.
"Ah, benar sekali, Ma. Aku hampir lupa bahwa malam ini adalah hari ulang tahunku. Pesta ini akan diadakan di dalam rumah atau di tempat lain ya, Ma?" tanya Alena dengan rasa ingin tahu yang membuncah.
"Tentu saja di sini, Nak. Mama dan kakak‑kakakmu sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan rapi. Kau tak perlu memusingkan hal apa pun, cukup persiapkan dirimu semata agar tampil seindah mungkin nanti malam," imbuh Tania dengan nada penuh kasih sayang.
Benar adanya, di kediaman keluarga Gunawan, Alena diperl bakkan layaknya permata yang paling berharga. Sementara itu, Ayla tak lebih dianggap sekadar kotoran yang keberadaannya sangat menjijikkan.
Tak terasa, malam pun tiba. Kediaman keluarga Gunawan mulai didatangi tamu‑tamu terhormat yang diundang khusus oleh Mama Tina dan Alena. Pesta perayaan ulang tahun itu digelar dengan kemegahan tiada tara. Seluruh ruangan dihias seindah mungkin, sedangkan hidangan yang tersaji dipesan langsung dari restoran berbintang lima—rasanya lezat, sebanding dengan harganya yang amat mahal.
Di tengah riuh kegembiraan semua orang yang larut menikmati pesta, Ayla justru duduk termenung sendirian di tepi kolam renang sambil menyesap jus jeruk dalam gelas. Ia tak mengenakan pakaian yang bagus, apalagi merias wajahnya agar tampak cantik.
"Ayla!" panggil seseorang yang sedari tadi mencarinya ke segenap penjuru rumah.
Ayla hanya menoleh sekilas tanpa mengubah raut wajahnya, lalu kembali menatap permukaan air kolam yang membasahi kakinya. Ia memang sudah duduk seorang diri di sana sebelum orang yang memanggilnya itu datang menghampiri.
Lelaki itu melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di sisi tempat Ayla duduk.
"Ada apa?" tanya Ayla singkat, tanpa berniat menengadahkan kepala.
"Kenapa kau malah duduk sendirian di sini? Mengapa tak berdandan dan mengenakan pakaian yang pantas? Kenapa justru memilih menyendiri di tempat sepi begini?" tanya Reyhan. Ya, lelaki yang berdiri di hadapannya itu adalah Reyhan.
"Pesta ini bukan diadakan untukku, lantas untuk apa aku bersusah payah berdandan?" balas Ayla tenang.
Reyhan terdiam membisu. Ia tertegun menyaksikan sikap Ayla yang jauh berbeda dari biasanya. Gadis itu tampak begitu dingin dan acuh tak acuh, bahkan enggan sekadar menatap wajahnya.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya