NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Putri Buangan

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.

Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.

Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.

Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Mimpi buruk.

Istana Kaisar Song.

"J-jangan ... Jangan bunuh aku," racau kaisar Song dalam tidur. "J-jangan ... Maafkan aku," ucapnya berkali-kali.

"Jangan!"

Satu kata terakhir yang membuat kaisar Song terbangun, air keringat mengucur deras hingga membasahi seluruh tubuhnya.

"Ada apa Yang Mulia?" ucap Permaisuri Liu turut terbangun dari tidurnya.

"Dia datang, dia datang ..." ucapnya ketakutan dan gemetar.

"Siapa Yang Mulia? Siapa yang datang?" tanya Permaisuri Liu tidak mengerti. Ia terus mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar seperti mencari keberadaan seseorang. Tapi tidak ada siapapun di dalam kamar ini.

"Dia ... Dia yang ingin membunuhku," lanjut Kaisar Song.

"Siapa dia? Siapa yang berani membunuh anda Yang Mulia?"

"Tidak, mana obatku? cepat ambilkan obatku!" titahnya panik.

Permaisuri segera mencari obat yang dimaksud, lalu memberikannya kepada Kaisar Song. Dan tak butuh waktu lama, Kaisar Song kembali tenang.

"Yang Mulia, apa anda bermimpi buruk lagi?" tanya lembut permaisuri Liu dan menyeka keringat diwajah suaminya.

Kaisar Song hanya menggangguk kecil dan teringat kembali akan mimpinya, di dalam mimpinya itu ia melihat sesosok wanita membawa pedang sambil menatap tajam kearahnya lalu memenggal kepalanya tanpa basa basi.

"Aku hanya bermimpi saja, Permaisuriku tidak perlu cemas."

"Tapi ini sudah ke tiga kalinya anda bermimpi buruk, ada apa Yang Mulia? Yang Mulia bisa cerita pada hamba jika mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, siapa tahu hamba bisa membantu Yang Mulia," bujuk Permaisuri Liu mencoba membantu.

Kaisar Song menggeleng dan enggan bercerita, "Mungkin aku kelelahan, jangan pedulikan mimpiku. Hari masih malam, mari kita lanjutkan tidur."

"Tapi Yang Mulia, bagaimana hamba bisa tenang melihat Yang Mulia selalu bermimpi buruk."

"Aku baik-baik saja, permaisuriku cepatlah tidur. Bukankah besok kau harus menyiapkan pesta ulang tahun putri xu," bujuk Kaisar Song.

"Anda benar, besok ulang tahun putri kita dan hamba telah berjanji akan mengadakan pesta ulang tahun yang meriah untuknya. Jadi hamba tidak boleh mengecewakannya," balas Permaisuri Liu.

"Benar sekali," ucap Kaisar Song lembut, lalu mengajak Permaisuri Liu tidur kembali.

Malam itu Kaisar Song memikirkan kejadian lima belas tahun lalu, jika diingat kembali besok adalah hari kelahiran putri kandungnya dan hari dimana ia membuang putrinya sendiri.

"Sudah mati saja masih bisa menerorku," gumam Kaisar Song. Untung saja aku telah memerintahkan jenderal Guan Mu Long untuk membunuh bayi sialan itu, entah bagaimana kalau dia masih hidup sampai sekarang? Pasti mimpi burukku akan jadi kenyataan.

...----------------...

Keesokan paginya.

Pagi akhirnya telah tiba, aku memikul tas pakaianku dan memeriksa kembali semua benda-benda yang mungkin akan ku butuhkan selama menemani nona muda Huang di istana sebelum aku pergi agar tidak ada yang tertinggal nantinya.

Hatiku ini tidak sabar menapaki istana yang konon menurut cerita orang-orang disana, banyak sekali dayang-dayang cantik, bangsawan terkenal serta orang-orang penting yang berada di tempat itu.

Selain itu aku berharap agar bisa melihat anggota keluarga kerajaan, yang menurut kabar dari banyak orang jika anggota keluarga kerajaan diistana sangat tampan dan juga cantik.

Dan selama menunggu jemputan nona muda Huang, aku kembali mempelajari keadaan istana. Mempelajari tata krama selama berada di tempat tersebut, siapa saja anggota keluarga diistana dan apa saja pantanganku selama berada disana.

"Di istana ada Kaisar Song, Permaisuri Liu, Putra Mahkota, Putri Xu, pangeran dan juga beberapa selir istana," gumamku menghapal keluarga kerajaan.

"Ye ... " tiba-tiba ada suara memanggilku.

Aku lantas menoleh. "Ya, Ayah."

"Ini ... Bawalah ini," ucap Ayah menyodorkan sesuatu padaku.

Wajahnya masih terlihat dingin, namun aku merasa senang karena Ayah masih peduli padaku.

"Apa ini Ayah?" tanyaku ingin tahu.

"Ini obat untuk nona muda Huang dan kertas ini adalah resepnya, disitu Ayah sudah menyalin beberapa kali nona muda harus meminum obatnya dan apa saja pantangannya selama meminum obat ini," jawab Ayah masih enggan menatapku.

"Baik Ayah," balasku patuh.

"Dan ini satu lagi," ucap Ayah memberikanku satu guci tempat untuk menaruh beberapa pil sebelum pergi.

"Ini untuk siapa?" tanyaku melihat guci kecil berwarna putih itu.

"Ini untukmu," jawab Ayah pendek.

"Untukku? Bukan kah obatku berupa cairan, lalu kenapa sekarang berubah jadi pil?" tanyaku penasaran.

Namun Ayah tidak menjawabnya, ia pergi begitu saja membelakangiku.

"Ay --"

"Ye ... " potong ibuku sebelum aku sempat mengejar Ayah.

"Ya Bu," balasku.

"Pil ini adalah obat yang sudah disiapkan oleh ayahmu selama semalaman, dia mengubah obat cairmu menjadi obat padat agar memudahkanmu meminumnya. Selain itu, kau juga bisa membawanya kemana pun dan tidak perlu repot-repot merebusnya berjam-berjam," ucap Ibuku menjelaskan.

Aku menatap punggung ayahku kembali dan tersentuh akan niat baiknya, kedua mataku tiba-tiba saja berkaca-kaca. Lalu berlari dan memeluk tubuh setengah renta itu, "Terima kasih ya Ayah," ucapku berterima kasih.

"Tidak perlu berterima kasih, jaga dirimu Ye." Ayah melepaskan pelukanku. "Dan ... Selamat ulang tahun," lalu sambungnya sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya.

Aku meneteskan air mataku dan merasa senang sekaligus sedih.

"Sudah Ye, jangan pikirkan Ayahmu. Segeralah berkemas, sebentar lagi jemputan nona muda Huang datang," ucap Ibuku menahanku agar tidak mengganggu ayah saat ini.

Aku tertunduk lesu, langkahku terasa berat. Ini pertama kalinya aku melihat raut wajah berbeda dari Ayahku. Jika biasanya ia hanya menunjukkan raut wajah marah atau lembut, kali ini ia menunjukkan raut wajah sedih sekaligus pasrah.

"Nona Qiuye mari kita pergi," ucap kusir.

"Ya," balasku lalu naik ke dalam kereta kuda. Aku menyingkap gerai kain disisi, menatap rumahku sebelum pergi dan berharap ayah keluar mengantar kepergianku.

Namun keinginanku tidak terwujud, aku terus menatap rumahku hingga hilang dikejauhan.

...----------------...

Setelah tiba di kediaman perdana menteri, aku dan Nona muda Huang bersama dengan rombongan berangkat menuju istana. Dan aku duduk di kereta yang sama dengan nona muda Huang.

"Kenapa Nona Qiuye diam saja? Bukankah harusnya kau bersemangat hari ini karena akhirnya kau bisa pergi melihat istana?" tegur Nona muda Huang padaku yang melamun.

"Hamba tidak tahu Nona, harusnya hambar bersemangat. Tapi hamba masih merasa tidak enak pada Ayah," jawabku.

"Kenapa dengan tabib Jiang? Bukankah dia sudah memberikanmu ijin?"

"Ya ... Ayah memang sudah memberi ijin, tapi hamba rasa Ayah masih belum memberi ijin sepenuhnya," jawabku lesu.

"Itu mungkin karena Tabib Jiang sangat menyayangimu, ia merasa cemas bila kau berada jauh dari sisinya. Maka dari itulah mengapa ia bersikap seperti itu," ucap Nona muda Huang bijak.

"Hamba harap begitu."

"Sudahlah Nona Qiuye, nikmati saja perjalananmu kali ini. Setelah kita tiba di istana maka aku akan segera memberi pesan kepada tabib Jiang, dan memberi pesan setiap hari agar mereka tidak mencemaskan keadaanmu," ucap Nona Muda Huang menenangkan.

"Terima kasih Nona muda," balasku sedikit lega.

...Bersambung....

1
Noviyanti
terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa berikan like dan komen ya.
Joan
keren thor satu persatu mulai terungkap. gk sabar sama reaksi qiuye pas dia tahu guan yu ngerawat dia🤣
Joan
semakin seru lanjut thor
Joan
semakin pnasran. lanjut thor💪
Joan
parah banget kaisarnya /Panic/
Joan
makin seru thor, lanjutkan💪
Joan
lanjut thor
Noviyanti
Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak Nov.... selamat aktif menulis kembali ya.
total 3 replies
Joan
ceritanya bagus dan cukup menarik. terus semngat
Noviyanti: terima kasih semangatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!