NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Keheningan yang pekat seketika menyelimuti ruang tengah rumah pribadi Radit. Pernyataan yang baru saja keluar dari bibir pria itu terasa seperti hantaman ombak besar yang langsung melumpuhkan kemampuan berpikir Kirana. Otak sekretarisnya yang biasanya mampu menyusun strategi mitigasi resiko dalam hitungan detik, kini mendadak kosong. Saraf-saraf di tubuhnya seolah berhenti mengirimkan sinyal, menyisakan sepasang matanya yang melebar, menatap tidak percaya pada manik mata Radit yang memancarkan keseriusan tanpa batas.

Tangan Radit yang menggenggam jemarinya terasa begitu hangat, bahkan cenderung panas, kontras dengan hawa dingin sisa hujan yang merayap dari balik dinding kaca.

"R-Radit..." Kirana mencoba menarik suaranya yang mendadak tercekat di tenggorokan. Dia mencoba menarik kedua tangannya mundur, namun cengkeraman Radit (meski tidak menyakiti), begitu kokoh mengunci posisi mereka. "Jangan bercanda. Ini... ini tidak ada di dalam draf ataupun rencana mitigasi krisis kita".

Radit tidak melepaskan tatapannya. Sebaliknya, dia justru memajukan tubuhnya sedikit lagi, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga Kirana bisa mencium aroma samar kopi dan minyak zaitun dari napas pria itu.

"Apakah wajahku terlihat seperti sedang bercanda, Kirana?" suara bariton Radit terdengar lebih rendah, bergetar dengan intonasi yang begitu intim hingga membuat bulu kuduk Kirana meremang. "Selama lima tahun ini, aku selalu menuruti semua batasan profesional yang kamu buat. Aku membiarkanmu bersembunyi di balik kacamata tebal dan setelan kerja kakumu itu karena aku menghargai prinsipmu. Tapi malam ini, setelah semua yang kita lewati, jangan harap aku akan membiarkanmu mundur lagi ke belakang meja sekretarismu seolah tidak terjadi apa-apa".

Kirana merasakan jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia takut Radit bisa mendengar suaranya. Logikanya yang sempat lumpuh perlahan mencoba bangkit, mencari tameng pertahanan yang paling rasional.

"Ini tidak rasional, Radit," ujar Kirana, suaranya bergetar namun dia mencoba memberikan penekanan tegas. "Kita berasal dari dunia yang berbeda. Ibu Sofia mungkin menerima saya sekarang karena beliau butuh sekutu untuk menjatuhkan Pak Baskoro. Tapi menjadi bagian dari keluarga Baskara secara nyata? Ayah saya adalah Hadi Hartono. Rekam jejaknya tertulis di arsip kriminal negara ini. Suatu hari nanti, fakta itu akan kembali ke permukaan, dan jika saya benar-benar menjadi istri Anda__"

"Istrimu," potong Radit cepat, tegas, dan tanpa ragu. "Aku suka bagaimana kamu langsung melompat ke kata istri, Pihak Kedua".

Pipi Kirana mendadak bersemu merah padam. Dia mendengus kesal, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya dengan membuang muka ke arah samping.

"Bukan itu maksud saya! Saya sedang membicarakan resiko jangka panjang bagi reputasi Anda dan Baskara Group!".

Radit terkekeh pelan, sebuah tawa hangat yang membuat ketegangan di antara mereka sedikit mengendur. Dia perlahan melepaskan satu tangan Kirana, lalu jemarinya bergerak naik, dengan lembut menyentuh bingkai kacamata Kirana dan menariknya perlahan hingga terlepas dari wajah wanita itu.

"Radit, kembalikan kacamata saya" protes Kirana, refleks mencoba merebutnya kembali karena merasa telanjang tanpa pelindung matanya.

"Tidak sebelum kamu menatapku tanpa penghalang ini" Radit meletakkan kacamata itu di meja kopi di samping sofa, lalu kembali menatap Kirana. Tanpa kacamata, mata bulat Kirana yang jernih tampak berkaca-kaca, memancarkan kombinasi antara rasa bimbang, takut, namun juga ada tersirat rasa yang sama dengan apa yang dirasakan Radit.

"Dengarkan sejenak, Kirana," Radit meraih dagu Kirana dengan ibu jari dan telunjuknya, mengarahkan wajah wanita itu agar kembali menatapnya. "Jika aku peduli pada omongan dewan komisaris atau media tentang latar belakang keluargamu, aku tidak akan membelamu di ruang rapat tadi pagi. Ibuku... Beliau bukan wanita yang memilih menantu berdasarkan silsilah bersih di atas kertas. Beliau menghargai loyalitas, kecerdasan, dan ketangguhan. Dan tiga hal itu ada padamu. Bagiku, masa lalu keluargamu adalah bab lama yang sudah selesai ditutup oleh putusan pengadilan sepuluh tahun lalu. Masa depan yang ingin kubangun adalah bersamamu".

Kirana tertegun. Kata-kata Radit mengalir masuk ke dalam relung hatinya, menghancurkan sisa-sisa dinding pertahanan yang selama ini dia bangun dengan susah payah. Air mata yang sejak tadi dia tahan di sudut matanya akhirnya menetes juga, membasahi pipinya. Bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa lega yang teramat sangat. Selama ini dia selalu merasa sendirian menghadapi dunia, namun malam ini, pria di depannya ini menawarkan sebuah tempat berlindung yang begitu kokoh.

Melihat air mata Kirana jatuh, tatapan protektif Radit seketika berubah menjadi kelembutan yang dalam. Dia menggeser duduknya hingga benar-benar merapat, lalu mengulurkan tangannya untuk menghapus jejak air mata di pipi Kirana dengan ibu jarinya.

"Jangan menangis," bisik Radit lembut. "Sekretaris Robot kebanggaan Baskara Group tidak boleh terlihat lemah, ingat?"

Kirana tertawa di sela isak tangisnya, sebuah tawa kecil yang terdengar sangat manis di telinga Radit.

"Ini semua karena Anda... Anda selalu merusak sistem kerja saya".

"Kalau begitu, biarkan sistem lama itu rusak sepenuhnya" balas Radit dengan senyuman hangat.

Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya. Kirana tidak bergerak mundur, dia tidak lagi memberontak atau mencari alasan logis untuk menghindar. Ketika jarak di antara mereka akhirnya hilang, dan bibir mereka bertemu dalam sebuah kecupan yang lembut namun penuh penegasan, Kirana tahu bahwa Aturan Baru Pasal 1 tidak hanya dibekukan, aturan itu telah dihapus secara permanen dari hidup mereka. Tidak ada lagi draf kontrak, tidak ada lagi kepura-puraan korporat. Malam itu, di balik tirai hujan Cikini yang menyisakan rintik tipis, mereka resmi memulai sebuah babak baru yang nyata.

___

Keesokan paginya, Sabtu pukul 09:00.

Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah-celah gorden tipis di kamar tamu lantai dua rumah Radit. Kirana mengerjapkan matanya perlahan, menghalau rasa kantuk yang masih tersisa. Dia meraba sisi tempat tidur, mencari kacamatanya yang ternyata sudah diletakkan dengan rapi di atas meja nakas di samping tempat tidur, lengkap dengan segelas air putih hangat.

Kirana tersenyum kecil saat memakai kacamatanya kembali. Ingatan tentang kejadian semalam langsung membuat pipinya kembali terasa hangat. Setelah momen di sofa itu, Radit dengan sangat sopan mengantarnya ke kamar tamu ini, memastikan dia beristirahat dengan nyaman tanpa melanggar batas kenyamanan Kirana. Pria itu benar-benar tahu kapan harus menjadi sosok yang agresif dalam menuntut kepastian, dan kapan harus menjadi pelindung yang penuh rasa hormat.

Setelah membersihkan diri dan merapikan pakaian kerjanya yang semalam sempat dikeringkan oleh mesin cuci otomatis di rumah itu, Kirana melangkah turun ke lantai bawah.

Aroma kopi yang kuat dan harum gurih dari panggangan roti langsung menyambutnya di area dapur. Di sana, Radit sudah berdiri di balik konter marmer, mengenakan kaus putih santai dengan celemek hitam yang tampak agak kekecilan di tubuh tegapnya.

"Selamat pagi, Pihak Pertama yang sesungguhnya" sapa Radit tanpa menoleh, dia tampaknya sudah mendengar langkah kaki Kirana di tangga kayu.

"Selamat pagi," Kirana berjalan mendekat, memilih berdiri di sisi konter, memperhatikan Radit yang sedang membalik roti panggang dengan cekatan. "Kamu bangun pagi-pagi hanya untuk membuat sarapan?"

"Tentu saja. Menjaga nutrisi calon istri adalah bagian dari tugas baruku" sahut Radit santai, memberikan penekanan sengaja pada kata 'calon istri' yang membuat Kirana sukses tersedak ludahnya sendiri.

Sebelum Kirana sempat membalas godaan tersebut, ponsel Radit yang diletakkan di atas meja makan tiba-tiba bergetar keras. Layarnya menampilkan notifikasi berita kilat dari aplikasi media keuangan.

Radit mematikan kompor, lalu meraih ponselnya. Alisnya langsung bertaut saat membaca judul berita utama yang baru saja naik di pagi hari Sabtu ini.

Kirana yang melihat perubahan ekspresi Radit langsung ikut mendekat.

"Ada apa, Radit? Apakah ada masalah baru dengan saham perusahaan?".

Radit membalikkan layar ponselnya ke arah Kirana. Di sana, terpampang sebuah artikel dari media saingan.

*Fakta Nusantara*, dengan judul yang tak kalah bombastis namun dengan sudut pandang yang berbeda.

**PASCA-KEJATUHAN BASKORO: Dewan Komisaris Desak Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk Evaluasi Jabatan CEO Raditya Baskara.**

Di bawahnya, tertulis kutipan dari salah satu komisaris sekutu lama Pak Baskoro yang menyatakan bahwa meskipun Baskoro bersalah, tindakan Radit yang menggunakan strategi pertunangan kontrak untuk memanipulasi situasi internal dianggap melanggar kode etik tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) dan menuntut transparansi penuh dalam waktu dekat.

Kirana menarik napas dalam-dalam, matanya berkilat tajam di balik lensa kacamatanya. Sisa-sisa romansa semalam seketika tersimpan rapi di dalam laci hatinya, digantikan oleh mode tempur seorang Sekretaris Utama.

"Rupanya sisa-sisa faksi Pak Baskoro masih mencoba melakukan perlawanan terakhir sebelum mereka dibersihkan sepenuhnya" ujar Kirana dengan nada suara yang kembali dingin dan penuh perhitungan.

Radit meletakkan ponselnya, lalu melepaskan celemek hitamnya dengan gerakan perlahan. Seringai percaya dirinya yang familier kembali terukir di wajah tampannya.

"Mereka ingin transparansi dan evaluasi, Kirana?" Radit menatap Kirana, binar matanya menantang bahaya. "Kalau begitu, mari kita berikan mereka sebuah pertunjukan transparansi yang tidak akan pernah mereka lupakan di RUPSLB nanti."

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!