Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Eve memastikan keadaan di luar ruangan benar-benar sepi.
Perlahan ia membuka pintu dan melangkah masuk.
Tatapannya langsung tertuju pada Evelyn yang masih terbaring di ranjang dengan infus dan masker oksigen.
"Evelyn... semua ini akan berakhir malam ini," gumamnya pelan.
"Bibi selalu mengutamakanmu dan mengabaikanku," ucap Eve dengan tatapan penuh kebencian. Sejak kecil, yang dia lihat hanya dirimu. Tidak ada yang pernah benar-benar peduli padaku."
Eve tertawa pelan.
"Setelah kau mati, giliran ibumu. Lalu aku akan membawa mamaku kembali ke rumah itu."
Ia menatap Evelyn tanpa berkedip.
"Kami bertiga akan tinggal di sana."
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum puas.
"Dan seluruh harta milik ibumu... akan menjadi milikku."
Eve mengeluarkan sebuah alat suntik yang telah disiapkannya.
Ia melangkah semakin dekat ke sisi ranjang, lalu mengulurkan tangannya ke arah infus Evelyn.
Namun tepat sebelum tangannya mencapai selang infus—
Plak!
Sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
Mata Eve membelalak.
"E-Evelyn...?"
Perlahan, Evelyn membuka matanya.
Tatapannya dingin menatap adiknya.
"Akhirnya... kau datang juga."
Wajah Eve seketika memucat.
Ia berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeraman Evelyn justru semakin erat.
"Kau... sejak kapan sadar?" tanyanya dengan suara bergetar.
Evelyn melepaskan jarum infus dari punggung tangannya, lalu melepas masker oksigen yang masih menutupi wajahnya.
Dengan tubuh yang masih lemah, ia perlahan bangkit dari ranjang.
"Evelyn... kau salah paham. Aku hanya ingin memeriksa kondisimu," ujar Eve dengan gugup.
Evelyn langsung mencengkeram pergelangan tangan adiknya dengan kuat hingga Eve meringis kesakitan.
"Benarkah?" tanya Evelyn dingin. "Apa yang sebenarnya kau lakukan, kita akan segera tahu."
Tatapannya menusuk wajah Eve.
"Kalau sampai terbukti kau memang berniat mencelakaiku, aku tidak akan tinggal diam."
Evelyn mendorong tangan Eve hingga alat suntik yang dibawanya terjatuh ke lantai.
"Kau bahkan masih berani membawa ibumu yang jalang itu masuk ke rumah kami, bahkan berniat membunuh ibuku."
Ia menatap Eve tanpa berkedip.
"Eve Shen, sepertinya menerimamu tinggal di rumah kami adalah kesalahan terbesar!"
Evelyn melepaskan tangan Eve dengan kasar.
"Pergi dari sini."
Suaranya semakin dingin.
"Sebelum aku menamparmu."
Eve mundur beberapa langkah.
"Evelyn, selama ini kau selalu bersikap sombong padaku. Tunggu saja. Suatu hari nanti aku akan membuatmu memohon di hadapanku."
Ia tersenyum sinis.
"Jangan lupa, Papa selalu berada di pihakku. Kalau kau berani menyentuhku sedikit saja, dia tidak akan pernah memaafkanmu."
Setelah mengatakan itu, Eve segera berbalik dan keluar dari ruangan.
Evelyn mengembuskan napas pelan, lalu berjongkok mengambil alat suntik yang terjatuh di lantai.
Tatapannya langsung tertuju pada cairan yang masih berada di dalamnya.
Ceklek.
Pintu ruang perawatan terbuka.
Seorang suster masuk sambil membawa berkas pemeriksaan.
"Nona, Anda sudah sadar!" serunya dengan wajah terkejut.
Evelyn menyerahkan alat suntik itu kepadanya.
"Tolong serahkan benda ini ke laboratorium untuk diperiksa dan buat laporan resminya."
Tatapannya berubah tegas.
"Jangan sampai ada yang mengetahui pemeriksaan ini. Kasus ini berkaitan dengan percobaan pembunuhan."
Suster itu mengangguk.
"Baik, Nona. Saya akan segera mengurusnya."
"Eve Shen, kalau nanti terbukti kau memang berniat jahat, kita lihat saja apakah ayahmu itu masih mampu melindungimu," ucap Evelyn dengan tatapan dingin.
Suster kemudian keluar dari ruangan.
Di depan pintu, ia berpapasan dengan Damien yang baru tiba.
"Suster, apakah pasien sudah sadar?" tanya Damien.
"Jaksa Lu, Detektif Shen baru saja sadar," jawab suster.
Tanpa menunggu lebih lama, Damien langsung melangkah masuk ke dalam kamar.
"Evelyn!" serunya.
Evelyn yang sedang duduk di ranjang perlahan membuka matanya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Damien.
"Aku tidak apa-apa," jawab Evelyn tenang.
Tatapan Damien tertuju pada jarum infus yang telah dilepaskan.
"Kenapa kau melepas infusmu?"
"Aku sudah merasa lebih baik. Tidak perlu memakainya lagi."
Damien menghela napas lega.
"Ada kabar baik. Pelaku sudah berhasil ditangkap. Kali ini kasusnya benar-benar berakhir."
Ia menundukkan kepala sejenak.
"Maaf... aku gagal melindungimu saat ledakan itu terjadi."
Evelyn menggeleng pelan.
"Jangan merasa bersalah. Kau tidak punya kewajiban untuk melindungiku."
Ia tersenyum tipis.
"Anggap saja aku sedang sial. Lagi pula, ini bukan pertama kalinya aku menghadapi hal seperti ini."
Evelyn kemudian menatap Damien.
"Ada satu hal lagi. Barusan Eve datang ke sini."
Damien langsung mengernyit.
"Untuk apa dia datang?"
"Dia mencoba melakukan sesuatu pada infusku."
Wajah Damien seketika berubah dingin.
"Jadi dugaanku benar. Eve tidak berbeda dengan Ronald Shen."
"Aku sudah meminta suster membawa barang bukti untuk diperiksa di laboratorium," ujar Evelyn.
Damien mengangguk.
"Lalu apa rencanamu?"
"Kalau hasil pemeriksaan membuktikan Eve memang berniat mencelakaiku, aku sendiri yang akan menangkapnya."
"Katakan saja kalau kau membutuhkan bantuanku."
Evelyn mengangguk pelan.
"Aku juga ingin menyelidiki Monna Fu. Aku tidak percaya semua tindakan Eve tidak ada hubungannya dengan ibunya."
"Serahkan padaku," jawab Damien.
Ia terdiam sejenak sebelum kembali bertanya.
"Evelyn... kalau nanti Ronald Shen terbukti telah berbuat jahat kepada ibumu atau perusahaan keluarga, apa yang akan kau lakukan?"
Tatapan Evelyn berubah tegas.
"Aku akan mengusir mereka dari rumah. Dan aku sendiri yang akan menangkap mereka."
Damien tersenyum tipis.
"Bagus. Aku akan memberimu bukti yang kau butuhkan dalam waktu dekat."
***
Mansion Keluarga Shen.
Eve baru saja kembali ke rumah dengan wajah murung.
Di ruang makan, Lucy sedang menyiapkan berbagai hidangan ke dalam kotak makanan untuk dibawa ke rumah sakit.
"Lucy, kenapa kau menyiapkan makanan sebanyak itu? Bukankah Evelyn masih belum sadar?" tanya Ronald.
Lucy tersenyum tipis.
"Ini semua makanan kesukaannya. Kalau dia sudah sadar, aku bisa langsung menyuapinya."
Ronald menghela napas.
"Dokter sudah bilang kondisi Evelyn cukup parah. Dia tidak mungkin sadar secepat itu."
Lucy menggeleng.
"Aku percaya pada putriku. Selama ini dia selalu kuat. Ledakan itu tidak akan mampu menjatuhkannya."
"Pa... Ma..." panggil Eve sambil melangkah masuk.
Lucy dan Ronald langsung menoleh.
"Eve, sudah malam. Kenapa baru pulang?" tanya Lucy.
"Aku baru dari rumah sakit."
Eve berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Kakak sudah sadar."
"Apa?" Lucy membelalakkan mata. "Benarkah?"
Ronald ikut terkejut.
"Ini adalah keajaiban!"
Eve perlahan menundukkan kepala. Dengan sengaja ia menarik sedikit lengan bajunya hingga memperlihatkan pergelangan tangan yang memerah.
Ronald langsung menyadarinya.
"Eve, kenapa tanganmu?"
Eve menggigit bibirnya, seolah ragu untuk menjawab.
"Tadi aku mendekati ranjang Kak Evelyn. Aku hanya ingin merapikan selimutnya."
Air matanya mulai menggenang.
"Tapi... Kak Evelyn tiba-tiba mencengkeram tanganku. Dia menuduh aku ingin membunuhnya."
"Apa?" Ronald langsung berdiri.
"Baru sadar saja dia sudah memperlakukanmu seperti ini?"
Eve menundukkan kepala lebih dalam.
"Aku juga tidak tahu kenapa Kak Evelyn membenciku seperti itu."
Lucy mengerutkan kening.
"Eve, apakah kau yakin menceritakan semuanya dengan jujur?"
Eve mengangkat kepalanya.
"Maksud Mama?"
Lucy menatap putri tirinya lekat-lekat.
"Evelyn adalah seorang polisi. Dia tidak mungkin tiba-tiba menuduh seseorang tanpa alasan."