NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jawaban Untuk Aditia

Tiga hari Andira diem. HP-nya tiap malem bunyi, isinya chat Aditia yang nanyain jawaban.

Andira baca, senyum, terus taruh HP. Belum berani ngetik.

"Mas, aku harus jawab gimana?"

bisik Andira ke foto Renaldi tiap malem sebelum tidur.

Hari keempat, pas pulang sekolah, Aditia udah nunggu di gerbang.

Gak buka jendela, gak senyum. Cuma diem, tangan ngetuk-ngetuk stir.

Andira naik pelan. Pintu ditutup hati-hati.

Suasana mobil hening. Cuma ada suara AC sama mesin.

"Ind, tiga hari udah," buka Aditia. Suaranya datar. "Aku gak maksa.

Tapi aku butuh jelas. Biar aku tau harus pulang ke Minangkabau atau tetep di sini."

Andira narik napas panjang. Jantungnya copot.

"Dit, aku sayang kamu. Dari SMA sampe sekarang, rasa itu gak pernah ilang,"

ucap Andira pelan. Matanya nunduk.

Aditia noleh. Alisnya naik dikit.

"Tapi aku juga sayang Mas Renaldi. Sayang sampe mati.

Dia suami aku, Dit. Dia ninggalin aku bukan karena selingkuh atau bosen.

Dia meninggal. Jadi janji aku ke dia... itu masih aku pegang,"

lanjut Andira. Air matanya netes.

Aditia diem. Tangannya ngepal di stir.

"Aku gak bisa janji bakal lupa Mas Renaldi. Gak bisa janji bakal sayang kamu

seratus persen kayak dulu. Karena hati aku udah kebagi," Andira sesenggukan.

Aditia megang dagu Andira, arahin muka Andira ke dia.

"Ind, denger aku. Aku gak minta kamu lupa almarhum.

Aku cuma minta kamu kasih aku ruang di hati kamu. Sedikit aja.

Aku yang bakal ngisi pelan-pelan," ucap Aditia. Matanya serius.

Andira geleng. "Aku takut, Dit. Takut orang bilang aku gak setia.

Takut Mbak Imel makin jadi-jadi nyerang aku. Takut... aku nyakitin kamu

karena aku gak bisa move on sepenuhnya."

Aditia senyum tipis. Jempolnya ngusap air mata Andira.

"Kalau kamu nolak aku karena takut omongan orang, berarti kamu masih sayang aku, Ind.

Kalau kamu nolak karena gak sayang, aku bakal pergi hari ini juga."

Andira nangis makin kenceng. "Aku mau, Dit. Tapi pelan-pelan ya.

Aku gak mau buru-buru pacaran, gak mau buru-buru nikah.

Aku mau kita jalan bareng, kenalan lagi, bangun kepercayaan lagi.

Statusnya... kita temen yang saling jagain dulu. Boleh ya?"

Aditia ngeluarin napas lega. Dia peluk Andira dari kursi supir.

Pelukannya anget, gak maksa.

"Boleh, Ind. Seumur hidup juga aku tunggu kamu.

Yang penting kamu gak nutup pintu buat aku," bisik Aditia di telinga Andira.

Andira bales peluk. Pelan. "Makasih ya, Dit. Udah mau nunggu aku yang berantakan ini."

Mobil jalan pelan. Kali ini gak ada hening canggung.

Ada lagu lama diputer Aditia, lagu yang dulu mereka suka pas SMA.

Andira nyender di kaca. Senyum. "Mas, aku janji.

Aku jaga nama Mas baik-baik. Aku bahagia, tapi gak ngelupain Mas."

Malamnya, Andira update status WA. Foto tangannya digandeng tangan Aditia,

tapi mukanya gak keliatan. Captionnya simpel: "Bismillah, langkah baru. Pelan-pelan."

Lima menit kemudian, HP-nya meledak notif.

Imel langsung komen: "Halah, janda baru 2 bulan udah gandengan.

Dasar gatel, pembawa sial!"

Andira cuma baca. Gak bales. Dia screenshot, terus kirim ke Lia.

Lia langsung nelpon. "Mbak, Mbak Imel mulai lagi. Mbak gak apa-apa?"

Andira ketawa kecil. "Gak apa-apa, Lia. Aku udah siap.

Aku udah ngomong ke Aditia, kita jalan pelan-pelan. Gak buru-buru."

"Bagus, Mbak. Yang penting Mbak bahagia. Mas Renaldi pasti seneng

liat Mbak ada yang jagain," ucap Lia.

Jam 9 malem, Aditia telpon. "Ind, liat status Mbak Imel?"

Andira diem. "Udah, Dit."

"Marah?" tanya Aditia.

"Enggak. Capek. Tapi aku janji gak bakal bales pake emosi.

Aku mau buktiin kalo aku bisa bahagia tanpa ngerendahin orang," jawab Andira.

Aditia di seberang ketawa. "Itu cewek aku banget. Tegas tapi lembut."

Andira jadi malu. "Ah, bisa aja."

"Besok aku jemput ya? Kita ke makam Mas Renaldi dulu.

Aku mau kenalan, minta izin," ucap Aditia serius.

Andira kaget. "Hah? Serius?"

"Serius. Biar aku tenang. Biar almarhum juga tau aku gak main-main," jelas Aditia.

Andira mikir sebentar. Terus angguk walau Aditia gak liat. "Iya, Dit.

Besok jam 7 ya. Kita ziarah dulu."

Matiin telpon, Andira ke teras. Duduk di kursi kosong Renaldi.

"Mas, besok Aditia mau ziarah ke makam Mas.

Dia mau kenalan, Mas. Dia bilang dia serius.

Mas restuin ya, Mas. Kalo Mas ridho, aku jadi tenang,"

bisik Andira sambil pegang foto Renaldi.

Angin malem berembus. Daun jambu di halaman goyang.

Andira ngerasa kayak ada yang bisik di telinganya:

"Jagain diri baik-baik, Sayang. Mas titip kamu ke dia."

Andira nangis. Tapi kali ini nangisnya lega.

Dia buka diary, nulis pake tinta biru:

"Mas, hari ini aku kasih jawaban ke Aditia.

Aku bilang aku mau, tapi pelan-pelan.

Dia mau ziarah ke makam Mas besok.

Mas, aku gak khianat. Aku cuma nerusin hidup.

Kayak Mas pesen dulu: 'Kalo aku duluan pergi,

kamu harus bahagia ya, Sayang.'

Aku bahagia, Mas. Tapi bahagia aku tetep ada nama Mas di dalamnya."

Tutup diary, Andira peluk erat. Terus tidur.

Mimpi dia malem itu: Renaldi senyum, salim sama Aditia.

"Jagain istri aku baik-baik, Dit," kata Renaldi di mimpi.

Aditia jawab: "Siap, Mas. Saya jaga pake nyawa."

Andira bangun subuh. Mata bengkak, tapi hati enteng.

Dia siapin bunga mawar putih. Favorit Renaldi.

Jam 7 tepat, Aditia udah di depan rumah. Bawa jas hujan,

takut hujan. Bawa doa juga.

Mereka ke makam bareng. Aditia salim ke nisan.

"Assalamualaikum, Mas Renaldi. Saya Aditia.

Saya janji jagain Mbak Andira. Saya gak akan bikin dia nangis lagi."

Andira di sebelahnya, megang bunga. Ditaruh pelan di atas pusara.

"Mas, ini temen lama aku, Mas. Dia baik, Mas.

Doain kami ya, Mas," ucap Andira.

Sejuk. Gak ada angin. Cuma rasa tenang.

Imel? Dia liat story Aditia yang ngepost foto makam dari jauh.

Caption: "Minta izin yang punya."

Imel langsung bikin status baru: "Janda sama duda tua, cocok."

Andira liat. Senyum. Terus blokir Imel dari semua sosmed.

"Mas, aku udah mutusin. Aku mau bahagia.

Tanpa nginjak orang lain," bisik Andira ke makam.

Aditia gandeng tangan Andira pelan. "Udah, Ind. Kita pulang.

Mulai hari ini, aku yang jagain kamu."

Andira angguk. Langkahnya ringan.

Karena jawaban udah dia kasih.

Bukan "iya" yang buru-buru.

Tapi "iya" yang dijaga, yang ada restu, yang ada doa.

Dan itu cukup buat Aditia nunggu seumur hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!