NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Urusan internal OSIS nggak pake acara bikin orang nangis di belakang laboratorium, Nayaka. Mulai sekarang, jarak lo sama dia batasnya di gue." — Naren Aksara, Ketua ZENTRIX.

"Kalau dia datang ke sini... jangan pernah lihat muka dia. Biar dia tahu tempat ini bukan buat dia." — Fero Anggadyo, Ketua Black Venom.

Di SMA Garuda, Agnesa Valeria—siswi perfeksionis yang menjunjung aturan—selalu menganggap Naren Aksara sebagai pengganggu. Namun Naren tahu, di balik sikap dinginnya, Agnesa hanyalah gadis kesepian yang tertekan oleh tuntutan orang tuanya.

Saat Naren terus berusaha berada di sisi Agnesa, masalah justru bermunculan. Mahendra mulai menekan Agnesa demi kepentingan keluarganya, sementara Fero bersiap menghancurkan Naren lewat rahasia kelam yang tersembunyi di balik kamar 402 sebuah rumah sakit.

Siapa wanita yang terbaring di sana, dan mampukah Naren melindungi Agnesa sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Introgasi mangkok bakso

Suara knalpot motor tua Naren terbatuk-batuk pelan sebelum akhirnya mati total tepat dua meter di depan garis putih gerbang samping SMA Garuda. 

Brem... brem... pfff. 

Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh lewat delapan belas menit. 

Udara pagi hari Selasa terasa agak basah sisa gerimis semalam, meninggalkan aroma tanah lembap yang bercampur dengan asap knalpot sisa kendaraan yang berlalu-lalang di sepanjang jalan raya.

​Gerbang besi bercat hijau tua itu sudah tertutup rapat. 

Di balik jerujinya, Agnesa Valeria Anabella berdiri tegak dengan memegang papan jalan kayu bercapit besi. 

Seragam OSIS-nya terpasang lengkap, meski ujung dasinya sedikit miring terkena hembusan angin pagi. 

Rambutnya yang diikat ekor kuda tampak agak berantakan di bagian samping, menyisakan beberapa helai yang menempel di pipinya akibat peluh tipis.

​Naren turun dari motor, membiarkan standar sampingnya bergeser di atas aspal dengan bunyi yang kasar. 

Srek. 

Ia tidak merapikan seragamnya yang keluar dari sabuk celana di bagian belakang, tidak pula mengancingkan dua kancing teratas kemejanya. Tas ransel hitamnya menggantung longgar di bahu kanan.

Agnesa melangkah mendekati gerbang, menatap lurus ke arah Naren melalui sela-sela jeruji besi. Jarak di antara mereka terpisah oleh tebalnya besi pembatas sekolah. 

Naren maju dua langkah hingga ujung sepatunya menyentuh batas bawah gerbang. 

Keheningan mendadak merayap di antara deru suara kendaraan jalan raya, menekan dinamika di sela-sela tatapan keduanya.

​"Terlambat lagi," Agnesa membuka suara. Nadanya datar, namun ada penekanan yang jelas di setiap suku kata.

​Naren tidak langsung menjawab. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar kertas folio yang sudah terlipat-lipat hingga lecek di bagian sudutnya.

Naren berkedip lambat sekali sebelum menyodorkan kertas folio tersebut melalui celah gerbang besi.

Ada jeda sekitar empat detik di mana tangannya tetap menggantung di udara, menunggu Agnesa merespons.

Agnesa menatap kertas itu, lalu beralih menatap ujung jari Naren yang terkena noda tinta biru, sebelum akhirnya ia mengambil kertas tersebut dengan sentakan pendek.

​"Apa ini?" tanya Agnesa, membuka lipatan kertas dengan suara robekan kecil di bagian tepi. 

Sret.

​"Fungsi kuadrat," jawab Naren singkat. 

"Gue ngerjain tugas Pak Satoto dulu di warung depan. Makanya telat."

​Agnesa membaca deretan angka dan grafik melengkung yang digambar tidak terlalu rapi menggunakan pulpen hitam. 

Di sudut atas, tertulis nama Naren Aksara G. dengan tulisan tangan yang miring dan besar-besar.

​"Batas masuk jam tujuh pas. Sekarang sudah lewat delapan belas menit, Naren. Alasan mengerjakan tugas tidak membebaskan kamu dari aturan," 

Agnesa melipat kembali kertas itu dengan gerakan yang kaku, lalu menjepitnya di papan jalan. 

Klak.

​"Gue tahu," sahut Naren.

Agnesa berbalik, memberikan kode kepada Pak Jaka yang berjaga di pos satpam untuk memutar tuas kunci gerbang. 

Krieeet... blek.

Gerbang terbuka hanya selebar bahu manusia.

Agnesa mundur tiga langkah, memberikan ruang bagi Naren untuk masuk namun tetap menjaga jarak otoritasnya sebagai ketua OSIS.

Naren melangkah melewati celah gerbang tersebut tanpa merubah posisi tasnya, membuat bahunya sempat bergeser tipis dengan daun gerbang besi yang dingin.

​"Taruh tas kamu di pos. Ambil sapu di gudang belakang, bersihkan koridor kelas sepuluh sampai jam pelajaran pertama selesai," perintah Agnesa, matanya mencatat sesuatu di buku pelanggaran. 

Srek... sret.

​Naren tidak membantah. Ia berjalan menuju pos satpam, melempar tasnya ke atas meja kayu dengan bunyi buk yang pelan.

​Saat Naren mulai berjalan menuju gudang belakang dengan membawa sapu lidi panjang, koridor kelas sepuluh sudah mulai sepi karena kegiatan belajar-mengajar telah dimulai. 

Namun, beberapa siswa yang duduk di dekat jendela kaca yang terbuka mulai berbisik-bisik.

​"Eh, itu si Naren telat lagi ya?" bisik seorang siswi berambut pendek dari balik tirai jendela kelas X-3. 

Suaranya terdengar samar namun jelas di telinga Naren yang sedang menyapu daun-daun kering di lantai selasar.

​"Iya, dihukum lagi sama Agnesa. Tapi denger-denger tadi dia telat gara-gara nyelesain tugas matematika dulu. Kasihan juga sih, padahal jarang-jarang dia mau bikin tugas," sahut temannya yang duduk di sebelah.

​"Tapi kok tumben ya Agnesa nggak seketat biasanya? Biasanya kalau anak ZENTRIX yang telat, langsung disuruh hormat bendera sampai jam istirahat."

Rumput di dekat pot ini kenapa banyak semut hitamnya ya? Kemarin kayaknya belum sebanyak ini. Gula sisa es teh manis anak-anak kemarin sore pasti tumpah di sini. 

Ibu di rumah kalau nyapu halaman belakang selalu pakai sapu yang lidi-lidinya udah patah setengah, makanya pinggangnya sering encok kalau malam. 

Kenapa gue nggak beliin sapu baru aja ya waktu ke toko bangunan sama Arion minggu lalu? Malah beli baut ukuran sepuluh yang ujung-ujungnya nggak kepake juga karena salah ukuran.

​Naren terus menggerakkan sapu lidinya. 

Srek... srek... srek. 

Suara sapu yang bergesekan dengan semen lantai koridor menjadi satu-satunya ritme yang menemani langkahnya di sepanjang selasar bangunan sekolah.

​Dari ujung koridor, Agnesa berjalan lambat dengan memegang saku roknya. Ia memantau pekerjaan Naren dari jarak sekitar lima meter. Tidak mendekat, tidak juga menjauh.

Sebuah penghapus papan tulis kayu jatuh dari jendela kelas X-2, mendarat tepat di dekat kaki Naren hingga menerbangkan debu kapur putih yang pekat.

Naren tidak meloncat atau memperlihatkan keterkejutan.

Ia hanya memandangi penghapus itu selama beberapa detik, lalu menggunakan ujung sapu lidinya untuk menggeser benda tersebut kembali ke dekat dinding kelas tanpa bersuara sedikit pun.

Agnesa yang melihat kejadian itu dari kejauhan menghentikan langkahnya sebentar, memegang ujung kerah kemejanya yang agak basah oleh keringat, lalu melanjutkan jalannya menuju kantor guru.

Sepatu Agnesa itu ukurannya pasti tiga puluh delapan. Kecil banget kalau dibandingin sama ubin koridor yang ukurannya empat puluh kali empat puluh senti. 

Kalau dia jalan cepat, bunyinya selalu tuk... tuk... tuk... beda sama bunyi langkahnya Bu Tika yang agak berat karena suka pake selop hak tahu. 

Kenapa gue bisa hapal bunyi sepatu orang-orang di sekolah ini? Kurang kerjaan banget. Mending gue mikirin gimana caranya dapet contekan fisika buat hari Kamis nanti.

​Bel tanda jam pelajaran pertama berakhir akhirnya berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. 

Kringggg! Kringggg!

​Pintu-pintu kelas terbuka, mengeluarkan puluhan siswa yang langsung memadati koridor untuk menuju kantin atau sekadar meregangkan otot. 

Naren meletakkan sapunya di sudut tiang beton, lalu berjalan menuju pos satpam untuk mengambil tasnya kembali.

Area kantin belakang SMA Garuda pukul sembilan lewat tiga puluh menit terasa sangat bising. Asap dari penggorengan pisang goreng warung Bu Sumi membubung tinggi, berbaur dengan uap panas dari kuah bakso yang mendidih. 

Bup... bup... bup... 

Cahaya matahari pagi yang mulai meninggi menembus atap seng gelombang, menciptakan garis-garis terang yang memperlihatkan partikel debu dan minyak yang melayang di udara kantin.

​Abyan sudah duduk di meja pojok dengan semangkok bakso urat di depannya. 

Mulutnya penuh, mengunyah tetelan dengan suara yang cukup berisik. 

Nyam... nyam. 

Di sebelahnya, Arion sedang sibuk memainkan sedotan di dalam gelas es jeruknya yang tinggal es batu saja. 

Kruk... kruk.

​Naren datang dan langsung menghempaskan tubuhnya di kursi panjang kayu di seberang Abyan. Tas ranselnya digeletakkan begitu saja di atas lantai beton bawah meja.

​"Nah! Ini dia tersangka utamanya!" 

Abyan menunjuk Naren menggunakan sendok yang masih berminyak. 

Tuk.

 "Lo telat kenapa, Bos? Gue tungguin di depan gang dari jam enam lewat lima puluh sampai jam tujuh kurang lima, motor lo kagak lewat-lewat. Gue kira lo diculik anak Black Venom."

​"Ngerjain tugas," jawab Naren singkat. 

Ia menarik botol kecap manis di dekatnya, memutar-mutar tutupnya tanpa membukanya.

Abyan menghentikan kunyahannya secara mendadak.

Ia meletakkan sendok dan garpunya di pinggir mangkok hingga menimbulkan bunyi dentingan nyaring. 

Prang.

Ia memajukan tubuhnya ke depan meja, menopang dagunya dengan kedua tangan yang masih sedikit berminyak, lalu menatap tajam ke arah mata Naren.

Naren tidak menghindari tatapan itu; ia justru mengambil selembar tisu dari kotak plastik, lalu mulai melipat-lipat tisu tersebut menjadi bentuk segitiga kecil dengan ketelitian yang tidak biasa bagi seorang ketua geng motor.

​"Ngerjain tugas?" Abyan mengulangi kalimat Naren dengan nada sangsi yang sangat kental. 

"Lo? Naren Aksara Gavindra? Telat masuk sekolah demi tugas matematika Pak Satoto? Sejak kapan lo peduli sama nilai rapor, Ren? Biasanya juga lo tidur di kelas atau bolos ke ruang UKS kalau ada tugas."

​"Gue pengen aja," sahut Naren datar.

​"Bohong banget," Arion menimpali, ia bersandar pada sandaran kursi sambil melipat tangan. 

"Gue denger dari anak kelas sebelah, lo tadi pagi dihukum nyapu koridor sama Agnesa ya? Terus katanya lo sempet nyodorin kertas ke dia lewat selokan gerbang?"

​"Lewat celah gerbang, Bego," ralat Abyan cepat. 

"Tapi asli, Ren. Lo sengaja kan telat biar bisa ketemu dia di depan gerbang? Kan kemarin dia yang jaga sidak juga."

​Naren menghentikan gerakan jemarinya yang sedang melipat tisu. Segitiga tisunya sudah jadi, ujungnya agak mencong sedikit karena robek di bagian tengah.

​"Nggak ada hubungannya sama dia," kata Naren.

"Nggak ada hubungan gimana? Muka lo langsung berubah gitu pas gue sebut nama Agnesa," Abyan terkekeh pelan, menyuap kembali sebutir bakso kecil ke mulutnya.

"Santai aja kali, Bos. Kita-kita kan udah paham."

Naren tidak membalas ucapan Abyan.

Ia mengambil botol kecap manis tadi, lalu menaruhnya kembali ke tengah meja dengan sentakan yang sedikit terlalu keras hingga botol itu bergoyang beberapa kali sebelum akhirnya seimbang. 

Plok.

Makna penolakan Naren terlihat jelas dari kekerasan gerakan tangan tersebut, bertentangan dengan ekspresi wajahnya yang tetap dingin tanpa riak emosi.

​"Gue cuma nggak mau Bapak ngamuk lagi kalau dapet surat panggilan dari sekolah gara-gara nilai fungsi kuadrat gue kosong," Naren memberikan alasan tambahan, suaranya agak berat.

Mangkok baksonya Abyan ada retakan rambut di bagian sampingnya. Kayaknya kalau dicuci pake air panas sekali lagi, itu mangkok bakal belah jadi dua. 

Si Venzo jam segini pasti lagi di ruang laboratorium fisika, sok-sokan nimbang beban pake neraca pegas padahal ujung-ujungnya cuma nyari colokan buat ngecas ponselnya yang lowbat. 

Kenapa warung Bu Sumi hari ini nggak sedia kerupuk kulit ya? Padahal kerupuk kulit yang dicelupin ke kuah bakso itu rasanya lumayan daripada kerupuk putih yang lembek kena angin kipas.

​"Tapi tadi si Agnesa kelihatan lemas nggak sih, Ren?" Arion bertanya lagi, matanya melihat ke arah pintu masuk kantin yang dipadati siswa. 

"Kemarin pas ribut sama Fero kan dia kenceng banget tuh suaranya. Tadi pagi pas lewat depan ruang OSIS, gue liat dia cuma duduk sambil megangin kepalanya."

​Naren terdiam. Jemari tangannya yang berada di bawah meja, tepat di atas paha celana abu-abunya, bergerak meremas kain jeansnya tipis-tipis.

Naren tidak menanyakan lebih lanjut tentang kondisi Agnesa kepada Arion.

Namun, kepalanya bergerak menoleh sedikit ke arah koridor luar kantin yang menuju ke ruang OSIS selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia memalingkan kembali wajahnya ke arah mangkok kosong di depan Abyan.

Ia mengambil garpu bersih dari wadah plastik, lalu mulai menusuk-nusuk permukaan meja kayu yang berlubang-lubang kecil akibat bekas rayap secara acak. 

Tuk... tuk... tuk...

​"Paling kecapekan ngurusin proposal pekan olahraga," kata Abyan sambil menghirup sisa kuah baksonya sampai menimbulkan suara seruputan yang nyaring. 

Sreeet... ah. 

"Anak OSIS mah emang gitu, sok sibuk sendiri padahal acaranya bulan depan. Mending kayak kita, pusingnya pas hari H doang."

​"Lo mah nggak pusing, By. Lo mah bikin pusing," sahut Arion sambil melempar es batu sisa gelasnya ke arah mangkok Abyan. 

Plung.

​"Sialan lo, Yon! Kuah gue jadi dingin nih!"

​Naren tidak mendengarkan perdebatan dua temannya lagi. Ia bangkit dari kursi kayu, meraih tas ranselnya yang berada di lantai bawah dengan satu gerakan cepat. 

Sret.

​"Mau ke mana lo, Ren? Belum juga bel masuk," tanya Abyan mendongak.

​"UKS. Mau tidur," jawab Naren bohong.

​Ia berjalan meninggalkan area kantin yang bising tersebut, melangkah membelah kerumunan siswa yang sedang mengantre siomay. 

Langkah kakinya tidak menuju ke arah gedung UKS yang berada di samping lapangan upacara, melainkan berbelok ke arah tangga menuju lantai dua gedung utama—tempat di mana kantor ruang OSIS berada dalam kesunyiannya sendiri.

​Tap... tap... tap...

​Suara langkah sepatu Naren terdengar konstan menaiki anak tangga satu per satu, meninggalkan keriuhan lantai dasar dan bergerak menuju lorong atas yang sepi, bersiap untuk sebuah pertemuan atau sekadar memastikan bahwa ubur-ubur di dalam gedung semen ini belum kehabisan pasokan airnya untuk bernapas hari ini.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Sa, lo beneran mau dibelain sama orang kayak dia?"

​"Gue nggak butuh dibelain siapa-siapa, Mahen,"

​Agnesa Benar-Benar Pergi Ke Oxford? Intip Kelanjutan Dilema Sang Ketua OSIS dan Pembelaan Naren di Bab 34: Kata yang Patah

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!