Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09 Ni Xao
Setelah pertemuan Da Xie dan menteri kemarin. Kini dirinya bukannya turun takhta dan leha-leha, namun Da Xie malah menjadi semakin sibuk.
Setiap hari, Menteri Song datang ke ruang kerjanya dan menanyakan pendapat Da Xie tentang berbagai hal. Tentu saja ini membuat Da Xie repot, bukan hanya mengurusi dokumen-dokumen membosankan saja, tetapi dirinya juga harus mengurusi menteri Song juga!
"Pusing... Kenapa rencana yang seharusnya membuatku turun takhta dan tidak bekerja malah berbalik dan menambah pekerjaanku sih..." Da Xie memijat pangkal kepalanya yang benar-benar pusing.
Kini Da Xie sedang berada diruang kerjanya, bersama dengan dokumen-dokumen kerja yang setia menemani. Da Xie benar-benar jenuh, ia tidak tahan dengan kondisinya yang dipaksa kerja rodi seperti ini.
"Tidak boleh! Kalau terus-terusan begini. Kapan aku bisa bersantai dan menikmati hidupku!!" Teriak Da Xie kesal.
Da Xie akhirnya berhenti mengerjakan dokumennya, Ia sedang memikirkan rencana baru untuk bisa turun dari takhta yang tak diinginkannya ini.
Tiba-tiba muncul sebuah ide pada kepala Da Xie. Bagaimana kalau dirinya mengadakan perang kepada kekaisaran tetangga. Da Xie pernah mendengar kalau dizaman cina kuno, banyak kaisar yang diturunkan dari takhta akibat mereka adalah maniak perang.
Jadi begini rencananya. Da Xie akan menyuruh pasukan kekaisaran Zhang untuk berperang dengan kekaisaran lain. Akan lebih baik kalau kekaisaran Zhang mengalami kekalahan, jadi Da Xie akan mengadakan perang dengan kekaisaran yang cukup kuat.
Ketika pasukan kekaisaran Zhang mengalami kekalahan, maka Da Xie akan terus menyuruh mereka untuk berusaha sampai menang. Pada saat itulah pasukan kekaisaran Zhang pasti muak dengan perintah tidak ngotak itu. Mereka pasti akan melakukan demo besar-besaran, dan saat demo itu, barulah Da Xie akan klarifikasi dan turun dari takhta.
Rencana ini mungkin agak terlalu beresiko karena bisa saja para prajurit yang berperang malah ingin Da Xie merasakan penderitaan yang mereka alami di medan perang. Tapi sudahlah, itu masalah gampang kok, tinggal diurus nanti saja kalau sudah kejadian.
"Ya! Boleh juga rencana ini!" Ucap Da Xie senang.
"Sekarang aku hanya perlu membicarakan ini dengan Adipati Yan agar rencananya bisa terlaksana dengan baik!" Da Xie bangkit dari duduknya, ia berjalan keluar dari kantor meninggalkan dokumen menumpuk dibelakangnya.
...----------------...
"Adipati Yan!!" Da Xie langsung melambaikan tangannya begitu dirinya menemui Adipati Yan yang seperti biasa membawa tumpukan dokumen ditangannya.
"Ada apa ini, kenapa perasaanku tidak enak. Itu kan Maharani Agung." Gumam Adipati Yan.
Adipati Yan akhirnya berhenti sejenak, ia mendekat kearah Da Xie yang berlari kearahnya.
"Ada apa Maharani Agung? Apakah ada yang bisa Adipati ini lakukan untuk anda?"
"Iya Adipati Yan. Setelah kupikirkan lagi, bagaimana kalau kekaisaran Zhang kita ini berperang?"
"Hah?"
"Iya, Adipati Yan. Kalau kuta berperang dan bisa memenangkan peperangan tersebut, maka sumber daya kekaisaran yang kalah itu akan jadi milik kita. Bukankah ini bagus?" Da Xie berusaha meyakinkan Adipati Yan.
Adipati Yan mengernyitkan dahinya. Gebrakan baru apalagi yang akan dibuat Maharani Agung ini. Pekerjaannya sudah menumpuk, tetapi kini malah harus ditambah lagi.
Tetapi karena ini adalah perintah Maharani Agung, yang mana adalah perintah mutlak dan tak bisa ditolak, dengan terpaksa Adipati Yan tidak menerima perintah tersebut. 🥰
Tenang, Adipati Yan mempunyai alasan untuk menolak kok, "Maaf Maharani Agung, tetapi jika anda memang ingin mengadakan peperangan, maka seharusnya anda berkonsultasi dengan panglima Sun bukan saya."
Da Xie mengangkat satu alisnya dengan bingung, "Kenapa aku harus melapor padanya? Kenapa tidak kepada dirimu saja?"
"Tentu saja karena panglima Sun adalah orang yang bertanggung jawab atas semua prajurit kekaisaran Zhang. Lagipula, pekerjaan saya sudah banyak Maharani Agung." Adipati Yan menunjuk tumpukan dokumen yang dibawanya.
Da Xie berpikir sebentar, ia tidak tahu siapa itu panglima Sun dan seperti apa orangnya. Kalau dia adalah tipe orang yang iya-iya saja bila dikasih perintah, maka itu akan bagus. Tapi kalau dia adalah tipe orang yang susah untuk menyetujui perintahnya begitu saja, maka ini akan sulit.
"Hmm... Ah sudahlah, aku bisa memikirkan itu nanti. Sekarang aku harus bertemu panglima itu dulu. Jadi, dimana kira-kira aku bisa menemuinya, Adipati Yan?"
Adipati Yan menunjuk salah satu pintu yang bisa membawa Da Xie ke tempat pelatihan prajurit. Da Xie kemudian berjalan menuju tempat tersebut meninggalkan Adipati Yan.
Begitu sampai, Da Xie membuka pintu dan mendapati sebuah lapangan luas yang diisi oleh banyak prajurit yang sedang berlatih. Salah seorang prajurit yang menyadari keberadaan Da Xie segera menghampirinya.
"Salam Maharani Agung. Ada masalah apa sampai anda sendiri datang ke tempat seperti ini?" Tanya prajurit itu sembari membungkuk memberi salam.
"Aku kesini karena mencari seseorang. Kalau tidak salah, dia itu panglima."
Prajurit itu sepertinya mengerti siapa yang dicari Da Xie. "Maksud anda Panglima Sun? Beliau sedang ada urusan dan mungkin akan kembali beberapa menit lagi."
"Baiklah aku akan menunggunya."
"Maharani Agung, anda bisa duduk dibangku itu sambil menunggu kedatangan panglima Sun."
Da Xie menoleh kearah yang ditunjuk prajurit tersebut, sebuah bangku. Da Xie lalu mengangguk dan berjalan menuju bangku itu. Dari bangku tersebut, Da Xie bisa melihat seluruh lapangan berlatih yang luas itu dengan para prajurit yang sedang menjalani latihannya masing-masing.
'Semoga si panglima tidak terlalu lama. Kalau kelamaan, nanti kerjaanku jadi menumpuk dan aku harus begadang lagi untuk mengerjakannya...' Batin Da Xie.
Dalam kegiatannya menunggu panglima Sun, Da Xie mendengar suara seseorang sedang menyapu disisinya. Begitu menoleh, Da Xie benar-benar kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Loh? Kenapa kau disini? Dan kenapa kau menyapu?"
Itu adalah si Pemuda aneh. Tapi kenapa dia menyapu disini dengan mata ditutupi kain penutup mata? Bukannya menyapu itu bisa dikerjakan oleh Dayang atau Kasim.
"Ah... Ini adalah tugas saya. Anda ingat, beberapa hari lalu anda memberikan surat rekomendasi untuk saya agar bisa menjadi seorang prajurit. Lalu atasan disini berkata kalau saya harus menyapu seluruh area lapangan setiap harinya terlebih dahulu sebagai dasar menjadi seorang prajurit."
Da Xie tidak tahu detail lengkapnya. Tetapi entah mengapa, dirinya merasa kalau Pemuda ini malah menjadi seorang pesuruh bukannya prajurit. Mungkin ini karena kekurangan pada fisiknya yang buta dan atasan tak mau menerimanya yang buta itu sebagai prajurit tetap.
"Oh, itu bagus. Kalau begitu semangat lah tuan." Da Xie mencoba menyemangatinya.
"Tidak perlu memanggilku 'tuan' Maharani Agung, itu terlalu formal dan saya rasa tidak pantas bagi anda untuk memanggil saya dengan panggilan tersebut."
"Hm? Kenapa? Lalu aku harus memanggilmu apa? Aku saja tidak tahu namamu."
Pemuda tersebut terlihat berpikir sebentar, ia lalu berkata, "Anda bisa memanggil saya sesuka hati anda. Tapi jika anda bingung harus memanggil apa, panggil saja saya Ni Xao."
"Itu namamu ya?"
"Benar, Ni Xao itu nama saya. Sebenarnya sudah lama sejak orang lain memanggil saya dengan nama. Karena itu, walau ini terkesan tidak sopan, tetapi saya akan senang kalau Maharani Agung mau memanggil saya dengan nama."
"Hm, begitu ya... Baiklah Ni Xao."