NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33 Mila End

BAB 33

"Untuk apa kau tanya hal-hal tak berguna itu?"

Suara berat Ayah memotong pertanyaan Tante Astrid. Pria raksasa itu melangkah mendekat, menatap tajam ke arah remaja laki-laki yang masih gemetar di bawah todongan pedang.

Tante Astrid mendengus pelan, tapi tidak menurunkan senjatanya. "Ini hobiku, Goran. Aku suka mempelajari perilaku orang-orang. Kau tahu aku berasal dari ujung utara, kan? Di dunia yang luas ini, banyak hal dan sifat berbeda dari setiap kelompok manusia yang bisa kita pelajari."

"Hmm..." Ayah menggeram pelan, sama sekali tidak tertarik dengan hobi wanita berbaju besi itu. Ia memalingkan wajahnya dan menatapku. "Mila, ayo bantu Ayah membungkus tubuh Tante Ruth. Kita harus memakamkannya sekarang."

Aku mencengkeram gagang pedang besiku erat-erat. Mataku masih menatap tajam ke arah remaja dari suku penculik itu. Hawa panas masih membakar dadaku.

"Apa kita akan biarkan dia hidup, Ayah?" tanyaku dingin.

Ayah melirik remaja itu sekilas. "Kita pikirkan itu nanti. Kita akan memakamkan Ruth dulu dengan layak. Setelah itu, kita harus bergerak cepat mengikuti jejak para prajurit pembantai itu."

Aku menarik napas panjang, menekan paksa instingku untuk mengayunkan pedang. "Baiklah."

Aku berbalik dan mengikuti langkah Ayah menuju sisa-sisa api unggun desa. Tante Astrid tetap di tempatnya, mengawasi remaja itu.

Menggali tanah yang membeku keras oleh musim dingin adalah hal yang melelahkan. Jadi, Ayah memutuskan untuk melakukan kremasi. Kami mengambil kain linen paling bersih yang ayah temukan, lalu membungkus tubuh Tante Ruth yang hangus dengan sangat hati-hati. Ayah menyusun tumpukan kayu dari puing-puing gubuk yang belum sepenuhnya terbakar, meletakkan jasad Tante Ruth di atasnya, lalu menyalakan api.

Asap kelabu mengepul perlahan naik ke langit yang mendung. Hawa panas dari api unggun besar itu menerpa wajahku, tapi hatiku tetap terasa sedingin es.

Ayah memejamkan mata, menangkupkan tangan besarnya di depan dada. "Semoga Dewa Volos memberimu tempat peristirahatan yang damai di padang rumput bawah tanah, Ruth," gumam Ayah dengan suara baritonnya yang serak.

Aku ikut menundukkan kepala. Selamat jalan, Tante Ruth. Aku janji akan memotong kepala orang-orang yang melukaimu, dan aku pasti akan menemukan bayimu dan Kak Qatilah.

Tante Astrid yang menyusul berdiri di belakang kami ikut menundukkan kepala, menggumamkan doa dalam bahasa utaranya yang kasar. "Semoga para penjaga Helheim menuntun jiwamu melewati gerbang es."

Setelah api perlahan mereda dan abunya menyatu dengan tanah bersalju, kami membalikkan badan. Jejak tapak kuda dan sepatu bot pasukan elit itu tercetak sangat jelas di atas lumpur dan salju, mengarah lurus ke selatan. Kami harus segera bergerak.

***

Salju berderak di bawah sepatu bot kami. Angin hutan meniupkan hawa dingin yang menggigit, tapi aku sama sekali tidak merasakannya. Perhatianku sepenuhnya tertuju pada sosok yang berjalan tertatih-tatih di depanku.

Remaja laki-laki itu bernama Solot. Tante Astrid memaksanya ikut. Sekarang, tubuh kurus Solot membungkuk menahan beban berat dari perbekalan dan barang-barang kami yang sengaja diikatkan ke punggungnya.

Setiap kali ia berjalan melambat, aku memelototinya dari belakang. Tanganku tak pernah lepas dari gagang pedang, siap menebas lehernya kapan pun ia membuat gerakan mencurigakan.

Ayah yang berjalan di depan rupanya menyadari hawa membunuhku. Pria raksasa itu menoleh ke belakang, menatap Tante Astrid dengan dahi berkerut keras.

"Kau sudah dapat informasi yang kau inginkan dari mulutnya, kan?" gerutu Ayah. "Lalu kenapa bocah itu malah kau izinkan ikut dengan kita? Lihat mata putriku. Matanya penuh nafsu membunuh gara-gara bocah itu terus ada di depannya."

Tante Astrid tertawa kecil, suara baju besinya bergemerincing. "Tenanglah, Mila. Turunkan sedikit raut wajah menyeramkanmu itu. Informasinya mungkin akan sangat berguna di depan nanti. Lagipula, dia bisa jadi pembawa barang-barang kita, kan? Menghemat tenaga kalian."

Ayah melirik Solot dari sudut matanya, mendengus pelan dengan seringai tipis. "Yah, kau benar juga. Kalau dia nanti sudah kelelahan dan tak kuat berjalan lagi, kita tinggal mematahkan lehernya dan membunuhnya saja."

Mendengar ucapan santai nan mematikan itu, langkah Solot seketika tersandung. "Hiiii...!" Anak itu mencicit ketakutan, wajahnya sepucat mayat, dan ia langsung memaksakan kakinya berjalan lebih cepat membelah salju.

Tante Astrid menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Ayah, lalu wajahnya berubah serius.

"Dengar, Goran. Bocah bernama Solot ini bercerita padaku. Sukunya ini sebenarnya sedang ditekan habis-habisan oleh sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Valenia."

Ayah mendengarkan dalam diam. "Karena itu mereka jadi penculik?"

"Tidak sesederhana itu," jelas Tante Astrid. "Karena jumlah wanita di suku mereka sendiri terus berkurang akibat upeti gila itu, para tetua suku akhirnya terpaksa menculik wanita dari luar suku mereka, dari desa-desa kecil dan lembah di sekitar sini untuk dikirimkan ke Kerajaan Valenia agar suku mereka tidak dihabisi."

Aku mengerutkan kening. Penjelasan orang dewasa selalu membuat kepalaku pusing. "Terus, apa hubungannya semua itu dengan kita membawanya, Tante?" tanyaku menunjuk Solot.

"Karena, istri bocah ini ternyata juga ikut dibawa oleh para prajurit elit yang menyerang desa ini, Mila, jadi dia minta ikut." jawab Tante Astrid.

Langkah Ayah mendadak terhenti. Pria raksasa itu menoleh sepenuhnya ke arah Tante Astrid. Matanya memicing tajam.

"Tunggu dulu," potong Ayah. "Kalau suku ini terus menyetorkan wanita hasil culikan mereka ke Kerajaan Valenia... bukankah seharusnya mereka aman dan dilindungi? Tapi kenapa mereka malah diserang dan dibantai habis-habisan oleh pasukan elit itu?"

Tante Astrid tersenyum muram. "Itulah intinya, Goran. Solot bersumpah bahwa pasukan yang membantai desa ini bukanlah pasukan dari Kerajaan Valenia. Bocah ini dan sukunya sama sekali tidak mengenali lambang maupun zirah mereka. Prajurit bersenjata lengkap yang membawa pergi Qatilah dan yang lainnya adalah kekuatan lain yang identitasnya benar-benar tidak diketahui. Aku rasa ini mungkin adalah..."

"Perang?" tebak Ayah, suaranya memberat.

"Yah. Sialnya, kita sedang berjalan lurus masuk ke dalam pusaran dua kekuatan besar yang sedang berperang."

Ayah membuang napas kasar lewat hidungnya. Tangan besarnya mengusap wajah dengan kasar. "Haaaah... Sialan."

"Itulah kenapa informasi dari bocah ini penting," tegas Tante Astrid sambil menepuk pundak Solot yang masih gemetar. "Jangan hanya mengandalkan insting untuk melacak jejak, Goran. Kita akan mati konyol jika tidak tahu bahwa mangsa yang kita buru ternyata jauh lebih besar dan kuat dari kita."

"Ya, ya, kau benar," gerutu Ayah pasrah, mengakui kebodohannya. "Kalau begitu kita memang butuh rencana yang lebih matang saat tiba disana nanti."

Aku menatap Ayah dan Tante Astrid bergantian. Dahiku berkerut dalam. Ada satu kata yang sedari tadi mereka sebutkan dan aku tidak tahu apa artinya.

"Aku tidak paham, Ayah. Perang itu apa?" tanyaku polos.

Ayah menunduk menatapku. Tatapannya penuh perlindungan, tapi juga menyiratkan kecemasan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Nanti akan Ayah jelaskan padamu, Mila," ucap Ayah pelan. "Yang pasti... si Anak Bangsawan saat ini sedang terseret ke dalam sesuatu yang jauh lebih besar dan mengerikan dari sekadar penculikan biasa."

Tante Astrid menghela napas panjang, menatap langit kelabu di atas hutan pinus. "Haaah... dengan skala sebesar ini, aku juga jadi tidak yakin apa aku bisa menemukan anak majikanku dalam keadaan hidup."

"Kau taukan?, Qatilah juga dulunya adalah anak seorang bangsawan," sahut Ayah mantap. "Dia anak yang sangat licik dan cerdas. Aku yakin, anak majikanmu itu mungkin sedang bersamanya dan dilindungi olehnya sekarang."

Tante Astrid tersenyum tipis. "Semoga Odin menuntunku."

Kami kembali melangkah. Angin musim dingin meniup kencang, menghapus sisa-sisa debu abu dari pakaian kami. Di depanku, jejak kaki pasukan tak dikenal itu membentang jauh membelah dunia bersalju, mengarah lurus ke wilayah selatan.

Aku menggenggam pedangku semakin erat. Ayah bilang Kak Qatilah ada di dalam sesuatu yang bernama 'perang'. Aku tidak tahu makhluk atau tempat seperti apa perang itu. Tapi aku tidak peduli. Sekalipun aku harus berhadapan dengan ribuan prajurit berbaju besi atau monster yang lebih besar dari Ayah, aku akan menghancurkan mereka semua.

Perjalanan ini akan menjadi sangat panjang. Dan aku tidak akan berhenti sebelum membawa Kak Qatilah pulang.

1
Sarah
Aelahh. /Facepalm/
Eka
agak bosen sih Thor 2 bab dialog semua, walaupun akhirnya banyak yg terungkap 👍
Sarah: Jangan bilang gitu dong, Kak Eka. Aku malah lega karena dua bab ini adem anyep tanpa masalah yang heboh. 😭
total 2 replies
ThuscarRabbit
nih thor bunga 🤭 /Plusone//Rose/
ThuscarRabbit
gw suka ilustrasinya
Maya: makacih 😄
total 1 replies
ThuscarRabbit
pasti gatel geli geli 🤣
ThuscarRabbit
Bagus sih, isekai tema timur tengah
ThuscarRabbit
berani ya authornya bikin isekai model begini but, semangat aja thor 💪, yg penting enggak melenceng dari sejarah asli 🤭
Maya: semoga ya 🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
loh kok? ohhhh maksud nya bab 1 nya di bawah ya? aduhaku bingung🤣
Maya: ooo iya itu 🤭, males ngarang judul 😄
total 3 replies
Eka
Keren Thor di tunggu updetnya
Eka
oh ini ganti POV ya?
Eka
judulnya apa Thor?
Maya: Thats the way it is 😄
total 1 replies
Eka
wajar sih
Eka
🤣🤣🤣🤣🤣
Eka
yg satu kepo GK prnah liat orang tua yg tua cerdik bet kek kancil 🤣
Eka
kasian 🤣
Eka
detail ya juga gambarinnya ya
Eka
buset beda jauh badannya ya😄 padahal di bab brapa gitu yg ada gambarnya juga masih sama kecilnya sama si mc
Eka
oh jadi emang anak kandung si raksasa ya
Eka
time skip lagi
Eka
sebarbar itu emang ya jaman itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!