Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: KELAP-KELIP BALAI DESA + CAST
Aroma sabun batangan dan minyak rambut seketika menyeruak di koridor Balai Desa Makmur Jaya siang itu. Setelah drama digerebek sapu lidi di pinggir kali, trio jagoan RT 04 benar-benar menepati janji untuk tampil kece. Aldi sudah rapi dengan kemeja flanel hitam andalannya yang lengannya digulung tiga perempat, menampilkan kesan gagah bin maskulin. Kenan terlihat kasual tampan dengan kaos polo putih yang pas di badan, sementara Sendy—si manusia penuh kejutan—datang dengan rambut yang klimis klimis basah karena dipenuhi minyak rambut pomade.
Agenda siang ini adalah Rapat Koordinasi Gabungan antar-RT untuk membahas lomba 17 Agustusan pemuda bulan depan. Suasana di dalam balai desa sudah cukup ramai oleh perwakilan pemuda dari berbagai kampung sebelah.
"Buset, rame bener, Dul. Ini kita duduk di mana?" bisik Sendy sambil matanya liar jelalatan mencari kursi kosong.
Belum sempat Aldi menjawab, sebuah suara melengking dengan nada yang dibuat-buat manja mendadak terdengar dari arah kanan mereka.
"Ih, Mas Aldiii! Akhirnya dateng juga! Mala udah nungguin dari tadi tahu!"
Seorang gadis dengan riasan bedak yang agak tebal dan rambut yang dikuncir dua mendadak muncul, langsung menyambar lengan kanan Aldi tanpa permisi. Dia adalah Mala, kembang sirkus—maksudnya kembang desa sainganya Irene dari kampung sebelah—yang sudah lama menaruh hati setengah mati pada sang Ketua Karang Taruna RT 04.
Aldi yang lengannya mendadak digandeng erat langsung reflek menarik badannya ke belakang, wajahnya mendadak tegang seolah baru saja menyentuh kabel listrik tegangan tinggi. "Eh... eh, Mala. Iya, siang. Waduh, lepasin dulu dong Mal, gak enak dilihat orang banyak, ini tempat banyak orang loh."
"Biarin aja sih, Mas! Kan biar semua orang tahu kalau kita tuh... cocok," sahut Mala genit, matanya berkedip-kedip cepat seperti orang kelilipan kerikil jalanan sambil mencolek dagu Aldi dengan manja.
Melihat penderitaan ketuanya, Sendy dan Kenan justru kompak mundur tiga langkah, menyembunyikan tawa mereka di balik telapak tangan.
"Mampus lu, Dul. Fans lu dari kampung sebelah udah bertindak," bisik Sendy tertawa cekikikan. "Nan, mending kita cabut. Di sebelah sana ada pemandangan yang jauh lebih menyegarkan."
Pandangan mata Sendy mengarah ke sudut ruangan, di mana Irene, kembang desa sebelah yang terkenal dengan kecerdasannya tapi ya lumayan centil, sedang sibuk merapikan berkas-berkas laporan di atas meja panitia. Irene siang itu tampil sangat anggun dengan kemeja kerja berwarna biru langit dan celana kain hitam, memancarkan aura wanita karier yang berkelas.
Tanpa memedulikan Aldi yang masih sibuk berjuang melepaskan diri dari gelayutan maut Mala, Sendy dan Kenan langsung melenggang kangkung menghampiri Irene.
"Selamat siang, Mbak Irene yang cantiknya melebihi ekspektasi para pujangga," sapa Sendy langsung mengambil posisi bersandar di pinggiran meja, memasang senyum paling menawan yang dia punya.
Irene mendongak, lalu mengulas senyum tipis yang sangat manis. "Eh, Mas Sendy, Mas Kenan. Siang. Baru dateng ya? Kok baunya... kayak bau minyak rambut dicampur parfum Mbah-mbah ya?"
Kenan terkekeh pelan, melirik Sendy. "Biasa, Ren. Si Sendy tadi habis ritual pembersihan diri di kali bawah. Gimana berkasnya? Ada yang perlu dibantu gak? Kebetulan tangan kita lagi nganggur nih, daripada dipakai buat hal yang gak berguna."
"Ih, Mas Kenan perhatian bener deh," jawab Irene sedikit merona, membuat Sendy langsung memotong pembicaraan dengan gaya cemburu yang dibuat-buat. "Heh, Ren! Yang punya ide bantuin lu tuh gue ya, kenapa yang dipuji malah si patung lumpur ini? Gak adil dong!"
Sementara di sudut lain, penderitaan Aldi semakin menjadi-jadi. Mala masih terus menempel padanya seperti perangko kelaparan. "Mas Aldi, nanti pulang rapat temenin Mala beli seblak di depan gang ya? Please..."
"A-aduh, Mal, sori banget. Habis ini gue harus balik mantau proyek irigasi komplek," bohong Aldi, matanya panik mencari bantuan ke segala arah. Dan tepat pada detik itulah, penyelamat hidupnya berjalan masuk melewati pintu utama balai desa.
Jasmine melangkah anggun memasuki ruangan. Sebagai perwakilan perangkat RT, siang ini dia tampil luar biasa memesona. Jasmine mengenakan baju batik berwarna merah marun bermotif elegan yang dipadukan dengan manset hitam panjang, serta rambutnya yang dibiarkan tergerai rapi membingkai wajahnya yang putih bersih. Aura kedewasaan dan keanggunan seorang ibu muda beranak satu itu seketika meredupkan seluruh pesona gadis-gadis remaja di dalam ruangan, termasuk Mala dan Irene.
Mata Jasmine langsung menyapu ruangan dan berhenti tepat pada sosok Aldi yang sedang dikerubuti oleh Mala. Melihat wajah Aldi yang sudah keringat dingin menahan pasrah, sudut bibir Jasmine berkedut menahan tawa. Dengan langkah anggun namun tegas, Jasmine berjalan menghampiri mereka.
"Selamat siang, Mas Aldi," sapa Jasmine, suaranya yang lembut namun penuh penekanan seketika membuat Mala reflek melepaskan pegangan tangannya dari lengan Aldi.
"E-eh, Bu RT! Selamat siang!" sahut Aldi dengan nada suara yang naik satu oktav karena lega. "Ini... anu, Bu RT, ini ada Mala dari RT sebelah."
Jasmine memberikan senyuman formal yang sangat ke arah Mala, membuat nyali gadis genit itu mendadak ciut dalam sekejap. "Oh, iya. Salam kenal ya, Mbak. Maaf sekali, Mas Aldi-nya harus saya pinjam sebentar ya? Karena sebagai Ketua Karang Taruna, ada beberapa berkas penting terkait anggaran komplek kita yang harus didiskusikan segera di ruang panitia depan."
"E-eh, iya, Tante... eh, Bu RT. Silahkan," jawab Mala terbata-bata, mendadak merasa kalah kelas telak dari wanita di hadapannya.
"Ayo, Mas Aldi, ikut saya," ajak Jasmine sambil memberikan isyarat mata yang langsung dipatuhi Aldi dengan kepatuhan tingkat tinggi.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju sudut ruangan yang agak sepi di dekat jendela besar yang menghadap ke arah taman balai desa. Begitu jarak mereka sudah cukup jauh dari kerumunan, Jasmine langsung menoleh ke arah Aldi dengan tatapan menggoda.
"Ciyee... yang baru dateng langsung dapet gandengan baru dari kampung sebelah. Kayaknya populer banget ya Ketua Karang Taruna kita ini," ledek Jasmine sambil melipat kedua tangannya di depan dada, senyum usil terukir di bibir tipisnya.
Wajah Aldi seketika memerah sampai ke telinga. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan salah tingkah. "Aduh, Bu RT, jangan diledek dong, sumpah itu tadi musibah. Si Mala emang suka begitu orangnya, Aldi aja sampai merinding sendiri."
Jasmine tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat renyah di telinga Aldi. "Iya, iya, saya tahu kok. Makanya tadi saya bantuin lepas dari dia. Sebagai imbalannya, nanti pas rapat dimulai, kamu harus duduk di sebelah saya ya? Temenin saya biar gak bosen dengerin pidato Pak Kades yang biasanya lama banget."
"Siap, Bu RT! Jangankan nemenin duduk, nemenin seumur hidup juga Aldi siap!" celetuk Aldi keceplosan, yang langsung ditutupinya dengan batuk buatan yang keras. "Uhukk! Maksudnya... siap melaksanakan tugas negara, Bu RT!"
Jasmine kembali tersenyum, namun perlahan matanya menatap lurus ke arah profil samping wajah Aldi. Di bawah siraman cahaya matahari siang yang menerobos masuk lewat celah jendela, Jasmine memperhatikan bagaimana Aldi dengan telaten membantu merapikan kursi-kursi lipat di dekat mereka yang berantakan, memastikan kenyamanan warga lain yang akan duduk nanti tanpa perlu disuruh.
Gurat ketulusan, tanggung jawab, dan kebaikan hati yang terpancar dari diri pemuda bertubuh kekar itu membuat dada Jasmine mendadak dihinggapi sebuah perasaan hangat yang aneh. Jasmine terdiam selama beberapa saat, matanya tidak lepas dari sosok Aldi yang kini sedang tersenyum ramah menyapa seorang bapak tua yang baru masuk membawa berkas.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Jasmine mendadak membatin dengan rasa haru yang bercampur sedikit penyesalan masa lalu.
'Aldi ini... benar-benar anak yang baik ya,' batin Jasmine, matanya melembut menatap punggung Aldi. 'Dia selalu peduli sama orang lain, sopan, dan punya tanggung jawab yang besar meskipun usianya masih sangat muda. Andai saja... andai saja dulu aku gak buru-buru nikah muda karena ego dan punya anak di usia sedini itu, mungkin jalannya ceritanya akan berbeda. Beruntung sekali wanita yang nanti dapetin hati anak baik kayak dia.'
Jasmine mengembuskan napas pendek, mengusir jauh-jauh pikirannya sebelum Aldi menyadari perubahannya.
"Mas Aldi," panggil Jasmine kembali ke mode normalnya.
Aldi menoleh dengan senyum lebarnya yang khas. "Iya, Bu RT?"
"Itu... dasi kemeja flanelmu agak miring sedikit. Sini, biar saya rapikan sebentar," ujar Jasmine maju satu langkah mendekat ke arah dada Aldi. Tangan lentiknya bergerak pelan merapikan kerah kemeja Aldi, membuat jarak di antara mereka berdua mengikis drastis.
Aroma harum parfum melati Jasmine seketika menyerang indra penciuman Aldi, membuat detak jantung sang Ketua Karang Taruna mendadak berdegup kencang berantakan seperti suara mesin motor bentor kecamatan yang mogok tadi subuh. Pagi yang melelahkan di parit irigasi tampaknya benar-benar terbayar lunas dengan momen mendebarkan di sudut balai desa siang ini.