NovelToon NovelToon
Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:827
Nilai: 5
Nama Author: Meyrna Pratiwi

Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.

Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.

Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.

Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

"Kemajuan zaman memang sering kali mengubah segalanya," gumam Katie Wilson sambil memarkirkan mobil hatchback barunya. Ia menatap gedung ultramodern di depannya dengan ragu.

"Oke, Katie. Kamu sudah di sini," bisiknya pada diri sendiri sambil mematikan mesin. "Masuk sekarang atau putar balik?"

Pikirannya melayang pada sosok Mark Barrington. Satu-satunya kenangan manis yang ia punya tentang laki-laki di masa sekolah hanyalah Mark.

"Tapi bagaimana kalau dia sudah berubah?"

batin Katie gelisah. "Bagaimana kalau dia sekarang cuma pengusaha kejam yang cuma peduli uang? Apa aku sanggup melihat Mark yang seperti itu?"

Ia menarik napas panjang dan menggelengkan kepala. "Jangan konyol, Katie. Apa pun perubahan Mark, itu bukan urusanmu."

Sambil melepas sabuk pengaman, ia bergumam lagi, "Lagipula, masalahmu sudah cukup banyak. Fokus saja bagaimana caranya mencari pria yang benar-benar siap berkomitmen, bukan malah mengkhawatirkan masa lalu."

Klik. Pintu mobil terbuka, dan Katie pun melangkah keluar dengan mantap.

Katie merapikan setelan linen kremnya di depan pintu kaca besar gedung itu. Setelah memastikan penampilannya sempurna, ia menyampirkan tas kulit cokelatnya dan melangkah masuk.

Di balik meja resepsionis yang estetik, seorang wanita berambut pirang dengan riasan wajah sempurna menatapnya. Katie mendadak merasa penampilannya sangat biasa saja.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu dengan senyum ramah yang terlihat sudah sangat terlatih.

"Ya, terima kasih," jawab Katie. "Saya ingin bertemu dengan Tuan Mark Barrington."

Resepsionis itu mengangkat alisnya sedikit. "Anda sudah ada janji?"

"Belum," aku Katie. "Tapi karena dia sudah mencoba membeli aset saya selama delapan belas bulan terakhir, saya rasa dia tidak keberatan jika saya mampir sebentar."

Sikap resepsionis itu langsung berubah formal saat mendengar soal aset tersebut. "Baik, akan saya cek. Atas nama siapa?"

Katie menahan diri agar tidak menyebutkan nama samaran yang aneh, lalu menjawab dengan tenang, "Katie Wilson."

Wanita itu menekan tombol pada sistem interkom di meja kerjanya dan berbicara singkat. Tak lama, ia menoleh kembali pada Katie.

"Tuan Barrington punya waktu beberapa menit untuk Anda," katanya sambil menunjuk ke sebuah pintu besar di sebelah kanan. "Ruangannya ada di ujung lorong itu."

"Terima kasih," ucap Katie sambil menggenggam tasnya dengan erat.

Sambil berjalan menyusuri lorong, pikiran Katie berkecamuk. Siapa pun sosok Mark Barrington sekarang, dia tetap tidak akan memberikan tanahnya.

"Dia pasti akan memaksa," batin Katie gelisah. "Atau mungkin dia akan bicara dengan nada sarkastik seperti pengusaha pada umumnya."

Memikirkan hal itu saja sudah membuat Katie merasa tidak percaya diri lagi, seolah kembali menjadi gadis kecil yang selalu merasa tidak cukup baik di hadapan orang lain. Namun, ia menguatkan hati dan terus melangkah menuju pintu di ujung lorong.

"Ingat Katie, kamu bukan lagi anak kecil usia sepuluh tahun," bisiknya dalam hati mencoba menenangkan diri. "Kamu sekarang tiga puluh dua tahun dan perawat yang kompeten. Dan yang paling penting... kamu sudah tidak gendut lagi."

Meskipun cermin selalu menunjukkan sosok yang berbeda, Katie merasa bayangan masa lalunya masih sering menghantuinya. Di ujung lorong, ia sampai di ruang tunggu yang nyaman dengan kursi-kursi kulit minimalis. Tak lama, sebuah pintu terbuka dan seorang pria berusia akhir tiga puluhan dengan setelan jas hitam yang rapi menghampirinya.

"Anda pasti Nona Wilson?" tanya pria itu.

Katie tertegun sejenak. Bukan Mark. Ada kilatan kekecewaan yang muncul secara tiba-tiba di hatinya. "Iya, benar. Dan Anda... Tuan Barrington?"

Pria itu tersenyum kecil. "Oh, bukan. Saya Bill Bernette, asisten eksekutif Tuan Barrington. Ruangan beliau ada di sebelah sini."

Bill menuntunnya melewati ruangan, mengetuk pintu kayu besar dengan pelan, lalu mempersilakan Katie masuk.

"Tuan Barrington akan segera menemui Anda setelah menyelesaikan teleponnya," bisik Bill sambil memberi isyarat agar Katie duduk di depan meja kerja yang mewah.

Katie duduk dan perlahan memberanikan diri menatap pria yang sedang berbicara di smartphone-nya itu. Seketika, dunianya seolah berhenti berputar. Itu Mark!

Matanya menelusuri rambut hitam pekatnya yang tertata rapi, lalu beralih ke bekas luka kecil di tulang pipi kiri yang sangat ia kenali, hingga akhirnya bertemu dengan tatapan mata biru yang tajam.

Katie merasa seperti dilempar kembali ke masa lalu dengan kecepatan tinggi hingga perutnya terasa mual. Ia memperhatikan Mark yang mengangguk sekilas padanya sambil memberikan senyum formal yang sangat datar.

Apa dia tidak mengingatku sama sekali? batin Katie pedih.

Ia terus memperhatikan bibir Mark yang sedang berbicara di telepon. Tiba-tiba, sebuah sensasi mendebarkan menjalar ke seluruh tubuhnya saat ia membayangkan bagaimana rasanya jika ia benar-benar menyentuh pria itu lagi setelah sekian lama.

Katie segera memalingkan wajah, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang tiba-tiba muncul. Ia memperhatikan jemari Mark yang mengetuk meja kayu mengkilap itu dengan tidak sabar. Secara refleks, mata Katie mencari cincin di jari manis Mark.

Kosong. Tidak ada cincin.

Apa dia belum menikah? Atau dia sengaja tidak memakainya? batin Katie gelisah. Reaksinya terhadap Mark terasa terlalu kuat dan tidak masuk akal. Mungkin ini cuma efek jet lag, ia mencoba meyakinkan diri sendiri.

"Ya ampun!" Seruan itu memecah lamunan Katie. Ia mendongak dan mendapati tatapan mata Mark terkunci pada wajahnya.

"Katie? Ini benar-benar kamu?" Mark bertanya dengan nada tidak percaya.

Katie meringis mendengar nada suaranya. "Apa penampilanku seburuk itu sampai kamu tidak percaya ada perubahan?"

"Perubahan?" Mark mengulangi kata itu.

"Aku sudah tidak gendut lagi, Mark," ucap Katie lugas.

Mark terdiam, lalu mulai memperhatikan Katie dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapan mata birunya yang tajam seolah menembus kulit Katie, membuatnya merasa sangat canggung.

"Ya," jawab Mark akhirnya. Matanya menyipit. "Kamu memang sudah tidak gendut lagi. Malah, kamu terlihat sangat kurus. Apa yang kamu lakukan pada dirimu sendiri?"

Katie mengerjap. Belum pernah ada orang yang menyebutnya kurus seumur hidupnya. "Aku menghabiskan empat tahun terakhir bersama para relawan untuk mencoba menyelamatkan dunia," jawabnya dengan nada mengejek diri sendiri.

Mark mendengus pelan. "Dari apa yang kulihat, kamu beruntung masih bisa bertahan. Dunia ini biasanya menolak untuk diselamatkan."

"Mungkin tidak di bagian yang aku tempati," balas Katie cepat. "Aku bekerja dengan anak-anak, dan mereka selalu manis, di mana pun kamu menemukan mereka." Suara Katie tanpa sadar melembut.

"Guru?" tebak Mark.

Katie merasakan sedikit kekecewaan karena Mark tidak tahu profesinya. Tapi ia segera menepis perasaan itu; tidak ada alasan bagi Mark untuk terus mengikuti kabar hidupnya, begitu juga sebaliknya.

"Aku seorang perawat spesialis anak," jawab Katie tegas.

"Dan juga pemilik sebidang tanah yang kami butuhkan," tambah Mark.

Kalimat itu langsung menyentak Katie kembali ke realitas.

"Kami benar-benar butuh tanah itu, Katie."

"Kalian yang butuh tanah itu," koreksi Katie cepat. "Aku sudah memilikinya, dan aku berniat untuk tetap menyimpannya."

Katie memperhatikan Mark yang menyipitkan matanya, memperlihatkan garis-garis halus di sudut matanya. Dia pasti banyak tertawa, batin Katie, sebelum akhirnya ia melihat rahang Mark yang kokoh dan berubah pikiran. Mungkin dia cuma terlalu banyak menghabiskan waktu di bawah sinar matahari.

"Katie, bersikaplah masuk akal."

Kata-kata itu bergema di pikiran Katie, membangkitkan kenangan lama. Mark pasti sudah mengucapkan kalimat yang sama persis ratusan kali saat mereka masih kecil. Tiba-tiba, rasa canggung itu hilang. Pria di depannya bukan lagi CEO besar yang asing, dia hanyalah Mark. Teman masa kecilnya.

Katie tersenyum lebar, mendadak merasa bebas. "Kalau ingatanku benar, arti 'masuk akal' versimu itu berarti aku harus melakukan apa pun yang kamu mau."

Mark hanya mengedikkan bahu. Katie memperhatikan bagaimana bahu kokoh pria itu bergerak di balik setelan jas mewahnya yang dijahit rapi. Entah kenapa, pakaian mahal itu tidak membuatnya terlihat seperti pria kota yang lembut, justru malah menonjolkan sisi maskulinnya yang kuat. Seolah-olah jas itu memang dirancang untuk memperlihatkan siapa dia sebenarnya di balik citra pengusaha sukses yang ingin ia tunjukkan.

"Aku benar-benar butuh tanah itu, Katie," ucap Mark serius. "Pabrik kami yang sekarang sudah mencapai kapasitas maksimal, dan kami perlu melakukan ekspansi untuk memenuhi permintaan pasar yang terus melonjak."

"Permintaan untuk apa?" tanya Katie penasaran.

"Chip prosesor untuk AI dan gadget terbaru."

"Oh," Katie mencibir pelan. "Jadi kamu salah satu dari mereka."

Mark mengernyitkan alis. "Salah satu dari siapa?"

"Salah satu fanatik teknologi yang mau memasang komputer di mana-mana. Kamu tahu tidak, mereka bahkan memasang alat-alat itu sampai ke perpustakaan desa?" ucap Katie dengan nada kesal yang tertahan. "Mereka mulai membuang katalog fisik dan memaksa semua orang pakai sistem digital, padahal sering kali sistemnya malah error."

Mark tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Kamu mungkin terlihat sangat berbeda sekarang, tapi sifatmu tidak berubah sedikit pun. Kamu masih bisa mengalihkan pembicaraan lebih cepat daripada siapa pun yang aku kenal."

Katie merasa hatinya sedikit menghangat melihat senyum itu. Namun, tatapan Mark kembali fokus.

"Tapi faktanya tetap sama: aku butuh tanahmu."

"Aku tahu kamu menginginkannya, tapi aku juga menginginkannya. Tanah itu..." Katie berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya. "Rumah itu adalah satu-satunya peninggalan orang tuaku. Aku tumbuh besar di sana. Semua kenanganku ada di sana. Kalau aku menjualnya dan kamu meratakannya dengan tanah, semuanya akan hilang."

"Kenanganmu itu ada di pikiranmu, bukan di bangunan fisiknya," balas Mark tenang. "Dan tidak ada yang bisa aku atau siapa pun lakukan untuk menghancurkan itu. Bersyukurlah kamu punya kenangan indah untuk disimpan."

Suara Mark terdengar sedikit getir. Katie mendadak teringat gosip lama yang pernah ia dengar saat masih kecil tentang betapa kacaunya latar belakang keluarga Mark dulu.

"Kenapa tidak bangun pabriknya di tempat lain saja?" tanya Katie hati-hati. "Tidak mungkin tanahku satu-satunya lahan kosong di kota ini."

"Punya kamu adalah yang terbaik," tegas Mark. "Lokasinya sempurna. Semua lahan lain yang tersedia punya masalah teknis yang besar. Tim teknisi kami sudah mengeceknya—"

Kalimat Mark terhenti saat asistennya menyembul dari balik pintu.

Bersambung ....

1
afri yani
pasti masih ori. segel tertutup rapat.🤭
MyR: ntar lagi segel terbuka...ups🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!