"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sesampainya di hotel mewah bintang lima yang rupanya sudah dipersiapkan dan dipesan atas nama Mahendra, atmosfer megah langsung menyambut mereka.
Begitu pintu lobi kaca berputar dilewati, beberapa staf hotel langsung membungkuk hormat kepada pria paruh baya yang berjalan penuh wibawa di samping Luna itu.
Namun, baru beberapa langkah mereka melewati koridor menuju lift khusus, sebuah suara melengking manja tiba-tiba memecah keheningan.
"Mahendra...!"
Seorang wanita cantik dengan gaun merah ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya berjalan cepat ke arah mereka.
Tanpa memedulikan keberadaan Luna yang masih mengenakan kebaya pengantin lengkap, wanita itu langsung memeluk lengan kekar Mahendra dengan erat, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan manja.
"Kamu ke mana saja, sih? Aku cariin dari tadi tahu!"
Luna menghela napas panjang, lalu melipat kedua tangannya di dada.
Alih-alih cemburu, ia justru merasa jengah. Luna sangat tahu bagaimana reputasi sang Don Juan ini di luar sana.
Mahendra adalah magnet bagi wanita-wanita sosialita modis yang selalu mengagumi kekayaan dan karisma matangnya.
"Papa, aku ke kamar saja. Papa lanjutkan dulu urusannya dengan Tante ini," ucap Luna datar, suaranya tenang tanpa beban, seolah ia sedang berbicara pada ayah mertuanya—bukan suaminya.
"Tante?!"
Wanita cantik itu seketika melepaskan pelukannya dari lengan Mahendra.
Matanya melotot tajam, wajahnya memerah padam menahan amarah saat mendengar Luna memanggilnya dengan sebutan 'Tante'.
"Heh, lancang sekali ya mulut kamu! Kamu pikir kamu siapa, hah?!" bentak wanita itu, menunjuk wajah Luna dengan kuku-kukunya yang diwarnai merah menyala, tidak tahu saja bahwa gadis di hadapannya kini memegang status sebagai nyonya besar Dirgantara yang baru.
Melihat reaksi berlebihan dari wanita tersebut, Mahendra tertawa kecil.
Alih-alih membela teman wanitanya, ia justru melepaskan sisa tautan tangan wanita itu dari lengannya dengan santai, lalu melangkah lebar menyusul Luna yang sudah berjalan lebih dulu menuju lift yang kebetulan pintunya baru saja terbuka.
"Mahendra!!" teriak wanita itu dari koridor lobi, menghentakkan kakinya dengan kesal karena diabaikan begitu saja.
Mahendra berbalik badan menghadap pintu lift, lalu melambaikan tangannya dengan ekspresi jenaka tanpa beban sedikit pun, membiarkan wanita itu terbakar emosi sendirian di luar sana.
Pintu lift perlahan menutup, menyisakan keheningan di antara Mahendra dan Luna di dalam kotak logam berlapis cermin tersebut.
Luna melirik suaminya dari sudut mata, lalu mendengus pelan sembari merapikan brokat kebayanya yang sedikit kusut.
"Papa yakin nggak mau bergabung sama Tante itu? Nanti Papa menyesal, lho," sindir Luna, mencoba mengalihkan rasa canggung yang tiba-tiba merayapi hatinya.
Mendengar sindiran itu, Mahendra justru tersenyum tipis.
Langkah kakinya yang tegap bergeser, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya yang mahal kembali menguasai indra penciuman Luna.
Mahendra mendekat ke arah istrinya, mengurung tubuh ringkih Luna di antara dinding lift dan tubuh tegapnya.
"Aku lebih memilih bersama dengan istriku kecilku ini, dan memulai malam pertama kita yang tertunda," bisik Mahendra.
Tatapan matanya yang tajam mengunci manik mata Luna, menyiratkan gairah seorang pria matang yang berbahaya.
Jantung Luna berdegup kencang hingga rasanya mau copot.
"P-papa...." gumam Luna gugup, spontan memundurkan kepalanya hingga membentur dinding lift.
Ting!
Suara lift terbuka berbunyi nyaring di lantai penthouse, seolah menjadi malaikat pelindung yang menyelamatkan Luna dari tatapan mengintimidasi suaminya.
Pintu bergeser terbuka, dan tanpa membuang waktu, Luna langsung menyelinap keluar dengan langkah seribu, meninggalkan Mahendra yang kembali terkekeh pelan menikmati kepanikan istri barunya itu.
Sementara itu, di sebuah kamar hotel lain yang kelasnya jauh di bawah tempat Mahendra dan Luna berada, Fauzan dan Mila sedang bersantai di atas ranjang.
Suasana kamar itu tampak berantakan dengan pakaian yang berserakan di mana-mana.
Mila yang mengenakan kimono tidur satin hitam bersandar di dada Fauzan, jemarinya memainkan kancing kemeja pria itu yang sudah terbuka setengah.
"Apakah kamu menghubungi Luna?" tanya Mila tiba-tiba, menengadah menatap wajah suaminya.
Fauzan menggelengkan kepalanya dengan raut wajah acuh tak acuh.
Ia merogoh saku celananya, mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya.
"Buat apa? Biarkan dia menangis di kamarnya," sahut Fauzan sinis.
Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah muda itu setelah menghancurkan hari paling bahagia dalam hidup Luna.
Mila tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban itu. Suara tawanya terdengar renyah, dipenuhi rasa puas yang membuncah.
"Jahat kamu, Mas."
Mila membenarkan posisi duduknya, lalu menatap Fauzan dengan binar mata yang penuh tuntutan.
"Mas, apakah Papa jadi memberikan sahamnya kepada kamu?"
Fauzan menganggukkan kepalanya dengan penuh percaya diri.
Ia mengembuskan asap rokoknya ke udara, lalu merangkul pundak Mila dengan jemawa.
"Tentu saja, Sayang. Papa sudah tidak mempunyai istri dan hanya aku pewaris utamanya. Papa tidak punya pilihan lain selain menyerahkan seluruh aset Dirgantara Group kepadaku suatu hari nanti," ucap Fauzan dengan nada sombong.
Di kepalanya, sang ayah pastilah sedang sibuk mengurus kekacauan di rumah Luna dan tak punya pilihan selain memaafkannya nanti.
Mila tersenyum sinis, menyembunyikan kilat keserakahan di matanya.
Ia menyandarkan kembali kepalanya di dada Fauzan sembari membayangkan betapa kaya suaminya kelak—dan betapa mewahnya hidup yang akan ia nikmati sebagai Nyonya Dirgantara.
Mila sama sekali tidak tahu, bahwa di detik ini juga, status "penerus tunggal" yang dibanggakan Fauzan telah runtuh sejak Mahendra mengucapkan kalimat kabulnya untuk Luna.
Di sisi lain dimana Mahendra melangkah masuk ke dalam kamar utama yang bernuansa mewah tersebut, meletakkan kunci mobilnya di atas meja nakas.
Ia menoleh ke arah Luna yang masih berdiri kaku di dekat ranjang besar dengan kebaya pengantin yang masih melekat erat di tubuhnya.
"Mandilah dulu, Luna. Bersihkan badanmu supaya lebih segar," pinta Mahendra dengan nada suara yang melembut, kehilangan kesan menggoda seperti saat berada di dalam lift tadi.
Luna hanya mengangguk samar tanpa berani menatap mata suaminya.
Dengan langkah gontai, ia membawa langkahnya masuk ke dalam kamar mandi mewah hotel tersebut.
Begitu pintu kaca tebal itu tertutup, Luna langsung memutar kunci dua kali.
Pertahanan yang sejak tadi ia bangun di depan Mahendra runtuh seketika.
Luna berjalan mendekati area pancuran, menyalakan shower dengan aliran air dingin, lalu duduk bersimpuh di bawah guyurannya tanpa berniat melepas kebayanya terlebih dahulu.
Ia mengunci diri di kamar mandi hotel itu, menangis diam-diam meratapi nasibnya dan pengkhianatan Fauzan di bawah shower.
Suara gemericik air menyamarkan suara tangisnya yang begitu pilu.
Dadanya sesak mengingat bagaimana pria yang ia cintai tega bersenang-senang dengan wanita lain, sementara dirinya harus terjebak dalam pernikahan aneh dengan ayah dari pria tersebut.
Sampai satu jam berlalu begitu saja. Di luar kamar mandi, Mahendra yang mulai merasa khawatir mengetuk pintu dengan ketukan yang teratur.
Ia sudah berganti pakaian dengan kaos santai dan celana panjang, namun pikirannya tidak tenang karena Luna tak kunjung keluar.
Tok! Tok! Tok!
"Luna?" panggil Mahendra dari balik pintu.
Tidak ada jawaban, hanya terdengar lamat-lamat suara air yang terus mengalir. Mahendra menghela napas panjang.
Sebagai pria matang yang penuh pengalaman, ia tidak berniat memaksa hubungan fisik atau menuntut haknya sebagai suami di malam pertama ini.
Ia tahu persis seberapa hancurnya hati wanita di dalam sana.
"Luna, keluarlah. Papa sudah memesankan makanan untukmu," ucap Mahendra lagi, suaranya terdengar hangat dan penuh perhatian.
"Papa tahu kamu belum makan seharian sejak bersiap-siap untuk acara tadi pagi. Keluar dan makanlah dulu, setelah itu kamu bisa istirahat." ucap Mahendra yang khawatir dengan istrinya.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi