Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Sinyal yang Terputus dan Rasa Penasaran
Kontak mata intens itu terputus saat suara bel pergantian jam pelajaran berbunyi nyaring dari arah koridor utama. Bunyi itu seolah menarik Elleanor kembali ke realitas. Dengan sentakan kuat yang mengandalkan seluruh sisa tenaganya, ia berhasil melepaskan tautan jemari Jayden dan mundur satu langkah besar hingga menjauh dari kukungan tubuh tegap cowok itu.
"Gua... gua mau ambil buku!" seru Elle dengan nada suara yang sedikit bergetar, berusaha keras menyembunyikan rona merah yang kini menjalar di kedua pipinya.
Tanpa menunggu respons dari Jayden, Elle berbalik dan setengah berlari meninggalkan lorong sempit itu. Ia memegangi dadanya yang masih berdegup kencang, merutuki dirinya sendiri dalam hati. Sialan, kenapa gua malah bengong tadi? Harus nya gua patahin aja tangannya! batin Elle kesal pada reaksinya sendiri.
Jayden berdiri diam di tempatnya, menatap telapak tangan kanannya yang masih menyisakan kehangatan dari kulit Elle. Seringai tipis kembali terukir di wajah tampannya. Efek yang ia berikan pada gadis itu terbukti nyata. Elleanor tidak se-kebal yang terlihat. Di balik sifat barbarnya, ada celah kecil yang perlahan mulai bisa Jayden masuki.
"Makin lo lari, makin lo bikin gua tertantang, Elle," gumam Jayden rendah sebelum akhirnya melangkah santai menyusul Elle menuju ruang guru.
Sementara itu, di sebuah bengkel modifikasi motor yang menjadi markas utama WOLFANGS di kawasan Jakarta Barat, suasana tampak tegang.
Alkana duduk di atas ban mobil bekas dengan ponsel di tangannya. Wajah tampannya terlihat sangat frustrasi. Sejak kejadian di koridor LHS kemarin, ia sama sekali tidak bisa menghubungi Elle. Setiap kali ia mencoba menelepon, operator selalu mengatakan bahwa nomor tersebut tidak dapat dihubungi. Pesan-pesan yang ia kirimkan lewat aplikasi chat bahkan hanya berakhir dengan centang satu tunggal.
"Masih gak aktif, Al?" tanya Nalendra yang baru saja selesai membersihkan senar biolanya, berjalan mendekati sang ketua.
Alka melempar ponselnya ke atas meja kayu dengan kasar. "Nggak bisa sama sekali, Nalen. Ini gak wajar. Elle gak pernah matiin ponselnya seharian penuh, apalagi dia baru pindah ke LHS. Gua yakin ini ulah si brengsek Jayden."
Rafka Galan Mahendra, penyerang utama Wolfangs yang sedang asyik menyetem gitar listriknya di sudut ruangan, langsung menghentikan aktivitasnya. "Gua dapet info dari anak-anak distrik timur, katanya kemarin Jayden minta Haikal buat nge-root ponsel cewek baru itu. Spektrum gila Jayden kalau udah nandain barangnya emang gak main-main, Al."
"Jayden keterlaluan!" desis Alka, rahangnya mengeras dengan urat-urat tangan yang menegang. "Dia pikir dia bisa milikin semua hal di kota ini dengan kekuasaan Vultures? Elle itu manusia, bukan wilayah taruhan!"
Matthew Felix William, hacker berdarah Kanada milik Wolfangs yang sejak tadi diam di depan monitor komputernya, tiba-tiba memutar kursinya. "Al, gua udah coba lacak IP ponsel Elle. Hasilnya nihil. Sistemnya udah ditutup total sama protokol keamanan buatan Haikal. Satu-satunya cara buat lo komunikasi sama Elle adalah nemuin dia langsung di LHS."
Alka berdiri, menyambar jaket kulit berlogo serigala miliknya yang tergantung di dinding. "Gua bakal samperin dia ke LHS lagi sekarang juga."
"Jangan gila, Al," tahan Nalen, melangkah menghalangi jalan Alka. "Abang-abangnya Elle kemarin udah turun tangan. Kenzie bahkan ngasih ultimatum deklarasi perang kalau ada anak geng yang berani deketin Elle di sekolah. Kalau lo ke sana sekarang, lo gak cuma bakal memicu perang sama Vultures, tapi lo juga bakal bikin posisi keluarga Elle susah."
Alka mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap Nalen dengan pandangan mata yang sarat akan amarah sekaligus rasa tidak rela. "Terus gua harus diam aja liat Elle dikurung sama psikopat kayak Jayden, Len? Gua gak bisa!"
Nalen menghela napas pendek, menepuk pundak sahabatnya itu dengan tenang. "Kita main cantik. Malam ini ada pertemuan tahunan antar perwakilan geng motor di Jakarta Selatan. Jayden pasti datang ke sana sebagai ketua Vultures. Kita selesain ini di sana, secara jantan di atas aspal."
Alka terdiam, mencerna ucapan Nalen. Perlahan, ia mengangguk dengan kilat mata yang begitu tajam. "Oke. Gua bakal pastiin malam ini Jayden ngelepasin cengkeramannya dari Elle, atau gua yang bakal hancurin Vultures sekalian."
Kembali ke LHS, jam pulang sekolah akhirnya berbunyi. Elleanor segera mengemas buku-bukunya dengan kecepatan penuh, enggan berlama-lama berada di dekat Jayden yang kini sudah kembali duduk di sebelahnya.
Begitu tasnya terpasang di bahu, Elle langsung berdiri. Namun, sebuah tangan kekar menahan tali ranselnya dari belakang, membuat langkah Elle tertahan.
"Gua anter balik," ucap Jayden datar, mengadahkan kunci motor Kawasaki H2 Carbon-nya.
Elle memutar tubuhnya, menepis tangan Jayden dengan galak. "Gak perlu! Abang gua udah nyiapin mobil antipeluru lengkap sama pengawal di depan. Jadi, selamat tinggal Muka Tembok, gua mau pulang!" tutur Elle dengan cengiran penuh kemenangan yang sengaja ia pamerkan di depan wajah Jayden.
Jayden hanya menatap kepergian Elle dengan ekspresi tenang tanpa riak kemarahan. Ia melirik jam tangan hitamnya sekilas, lalu beralih menatap Shaka yang sudah berdiri di samping mejanya.
"Shaka, siapkan anak-anak untuk malam ini," perintah Jayden, suaranya mengalun sangat rendah dan dingin. "Serigala jalanan itu pasti bakal mencoba menggonggong di pertemuan nanti malam. Dan gua... mau mastiin kalau gonggongannya bakal berakhir malam ini juga."