-Dukung karya Author dengan cara tinggalkan jejak Like, Komen, Rate dan juga Vote kalian-
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
--------------------------------------------------
"Jangan memanggilku Ava karna itu bukan namaku"
"Itu namamu, Stupid"
"Namaku Fredella-...."
"Ava Elvarette"
Fredella terdiam karena mengiyakan ucapan pria itu dalam hati.
"Bodoh"
"Sialan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HufflePuff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Day Part II FAILED
Damien membawa Fredella pada bibir ranjang lalu mendudukkannya, wanita itu sedang menahan getaran tubuh dan guncangan pada jantungnya karena ia sedang menunggu momen pertamanya dengan Damien.
Ia memejamkan mata namun apapun yang diharapkan tak kunjung datang. Saat ia membuka mata ternyata Damien hanya sedang menahan senyum karena mungkin pria itu melihat tingkah konyolnya.
"What?" Tanya Fredella menahan malu.
"Untuk apa kau memejamkan mata?" Damien berbalik bertanya.
"Untuk, untuk mendengar penjelasanmu" timpal Fredella angkuh.
Fredella lekas berdiri lalu berjalan menuju balkon melewati Damien.
"Aku menunggu" ucap Fredella.
"Entah darimana harus aku jelaskan, kau ingat ketika pertama kali kita bertemu dengan Ludwig?"
Fredella terdiam, tanda ia sangat mengingat pertemuan bisnis Damien kala itu.
"Walaupun aku bodoh akan persoalan cinta, tapi aku juga pria. Aku tahu bagaimana Ludwig menatapmu dan perlakuannya terhadapmu" Ucap Damien.
"Dia berbahaya" ucapnya lagi.
"Berbahaya? Maksudmu?" Tanya Fredella
"Aku meminta seseorang untuk mengikuti pergerakan Ludwig dan mendapati jika dia mendekatimu bukan untuk cinta, namun perdagangan wanita" Jelas Damien.
"Dia mengikutimu, mencari tahu segala tentangmu agar dia dapat menemukan celah untuk menekanmu."
"Aku tak ada pilihan lain selain menahanmu berada disisiku selama ini"
"Aku yakin dia sudah tahu tentang pekerjaan sampinganmu sebelum kau bekerja padaku"
"Dia pula meyakini jika kau hanya wanita yang cinta akan uang, jadi mungkin saat dia menjualmu kau tidak akan merasa keberatan"
Damien menjelaskan segala informasi yang ia ketahui dari orang yang ia pinta untuk mengawasi Ludwig selama ini.
Mendengar yang Damien katakan, Fredella hanya menghembuskan nafas pelan dengan matanya yang selalu menatap laut.
"Wanita bernama Paula itu pernah mendekatiku, ia memiliki unit diapartemen yang kita tinggali dan aku sempat bertemu dengannya walaupun hanya sekali. Aku menduga ia membencimu karena ia tak mendapatkanku dan kekasihnya juga mendekatimu" Damien kembali menjelaskan.
"Apa yang terjadi saat aku tak sadarkan diri dua hari lalu? Bagaimana bisa kau melakukan pergerakan yang begitu cepat untuk menyelamatkanku?" Fredella mulai berbicara dan bertanya.
"Aku sudah katakan jika aku juga menguntitmu, aku melihat sebuah pergerakan tak biasa. Kedua wanita itu sudah merencanakan penculikanmu dengan sangat matang"
"Mereka berencana menyekapmu disebuah gudang bekas yang bahkan gudang itu milik perusahaanku, aku meminta pertolongan pada kenalakanku"
"Aku membawamu dan orang suruhanku menaruh bom pada mobil yang dijadikan untuk membawamu, jika mereka pintar pasti pengeboman itu menjadi peringatan bagi mereka" Jelas pria itu
Fredella menahan senyum dan membuat pria itu terheran, apakah ada yang lucu?
"Aku kira kau adalah mafia bawah tanah dan perusahaan hanyalah kedokmu seperti dalam novel-novel" Ucap Fredella mengejek.
"Apa itu mengecewakanmu?" Tanya Damien
"Tentu saja tidak, bodoh! Setidaknya aku tidak perlu menyembunyikan identitas hanya untuk kehidupan yang aman" Jelas Fredella.
"Terima kasih, tapi untuk apa kau membawaku ke tempat terpencil seperti ini?" tanya wanita itu lagi.
"Honey Moon, tentu saja" Ucap Damien dengan seringainya.
Fredella mencebik kesal karena sebenarnya ia sudah menunggu 'Honey Moon' itu sedari tadi.
Dan seperti kehilangan mood, Fredella hanya berbalik meninggalkan Damien menuju pintu dan mencoba untuk membukanya.
Ia lupa jika Damien sudah mengunci pintu itu sebelumnya.
"Open the door" pinta Fredella.
Damien kembali tersenyum menyeringai.
"Aku ingin keluar" pinta wanita itu lagi.
Damien berjalan menghampiri Fredella, ia mendekati Fredella hingga mereka berhadapan dan sangat dekat dengan jarak yang hanya terhalang oleh pakaian mereka saja.
"Tidak, setelah kita berbulan madu" Ucap Damien.
Damien mulai mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan ciuma*n pada bibir sek*si Fredella. Mereka melakukan itu dengan sangat bruta*l karena wanita itu tidak menutup akses untuk Damien.
Fredella membuka mulut, bermain lidah hingga bertukar saliva dengan Damien.
Di sela-sela mereka menautkan bibir, Fredella mengalungkan lengannya ke leher Damien dan memudahkan Damien melepaskan apapun yang Fredella kenakan.
Merosot sudah pertahanan Fredella selama ini, ia sudah mulai tak memperdulikan yang kini sedang dilakukannya dengan Damien.
Ia terbuai dengan ciuma*n yang Damien berikan, setelah Damien melucuti dress yang Fredella kenakan ia membalikkan tubuh Fredella agar posisi Fredella membelakanginya.
Fredella mengenakan underwe*r berwarna nude yang hampir senada dengan warna kulitnya. Damien merengkuh Fredella lalu mengecu*p inci demi inci bahu telanjan*g wanita yang ia cintai itu.
Dengan lihai dan gerakan yang cepat Damien melepas kaitan bra* yang Fredella kenakan dan melemparnya tak tentu arah.
Fredella menggigit bibir bawahnya merasakan geli yang ia dapatkan dari bibir Damien, tubuhnya kembali Damien arahkan membelakangi tembok dan tereksposlah kedua buk*it indahnya untuk Damien.
Mereka kembali bertautan bi*bir dan Damien membawa Fredella menuju ranjang lalu mendorong wanita itu terbaring.
Kini Fredella hanya mengenakan kain tipis berenda yang memiliki warna sama dengan bra* nya itu untuk menghalangi lubang surga miliknya.
Posisi berbaring Fredella cukup membuat Damien bergair*ah, bagaimana tidak jika wanita yang dihadapannya kini sangat se*ksi.
Mereka kembali berciuma* hingga suara cecapan itu memenuhi isi kamar Damien.
Kali ini tangan Damien tak ingin menyia-nyiakan hal indah yang ada dihadapannya. Ia mulai menyentuh payu*dara milik Fredella.
Bibir yang semula hanya berfokus pada bibir milik Fredella kini mulai liar* menyecap yang lain, mulai leher yang ia berikan kissmar*k hingga saat pria itu sudah tak sanggup menahan godaan bukit kemb*ar yang menantangnya sedari tadi.
Bibir Damien mulai bermain dengan puncak bukit itu dan memberikan rasa yang tak terlupakan untuk Fredella.
Erang*an dan desah*an yang Fredella keluarkan semakin membuat Damien merasa menang karena wanita itupun sudah takluk dibawah rengkuhannya.
Tak puas dengan satu titik saja, tangan Damien mulai menjalar menuju area terlarang diantara pa*ha kencang Fredella dan menggesekkan jarinya.
Desaha*n demi desahan* semuanya seakan tak ada yang menahannya. Wanita itu dibuat tak kuasa atas perlakuan Damien.
Pria itu tak ingin berlama-lama membuang waktu untuk forepla*y itupun menggunakan jarinya untuk menarik sisa kain yang masih menutupi gua surgawi wanitanya.
Kini Fredella sudah polos tanpa mengenakan apapun, disusul oleh Damien yang juga melucuti pakaiannya satu persatu.
Namun saat Damien melepas sisanya, Fredella dibuat melotot oleh kegagahan timun Damien yang sudah berdiri tegak pertanda sudah siap.
"Apa yang kau makan hingga milikmu sebesar itu?" Tanya Fredella.
"Makanan manusia normal tentunya" Jawab Damien.
"Tidak, aku tidak mau dimasu*ki oleh milikmu. Itu- terlalu besar" Teriak Fredella dengan ketakutan hingga wanita itu kabur masuk kedalam kamar mandi dan membanting pintu.
"Oh shit, Ava come on. Sudah seperti ini dan kau akan merusak semuanya?" Ucap Damien di depan pintu kamar mandinya.
"Sorry boy, bersabarlah sedikit" gumam Damien pelan, berbicara pada miliknya seakan benda itu dapat mengerti ucapannya.
"Tidak! Aku tidak mau" Teriak Fredella
Didalam kamar mandi wanita itu gemetar ketakutan, karena selama ini pria yang ia lihat tidak memiliki barang sebesar Damien.
Ia mengambil bathrobe untuk membungkus tubuh polosnya.
"Ava, kau bercanda?" Tanya Damien
"Aku- Aku belum siap untuk itu" ungkap Fredella.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu, keluarlah sekarang" Pinta Damien.
"Kau, berpakaianlah dahulu. Aku tak ingin melihatmu telanjan*g" Teriak Fredella dari dalam kamar mandi.
"Aku sudah berpakaian sejak moodku hilang" Jawab pria itu.
Tanpa Fredella menjawab, wanita itu membuka pintu dan menutup rapat-rapat bathrobenya.
Damien mengulurkan tangannya dan Fredella menerima uluran itu, mereka berjalan dan kembali duduk di bibir ranjang.
"I'm so sorry" Ucap Fredella
"Tak apa, aku akan menunggumu hingga siap" Timpal Damien.
"Sungguh?"
"Ya, aku tak akan memaksamu untuk kehendakku"
***
Jam sudah menunjukkan pukul 6 malam Damien dan Fredella duduk berdampingan untuk ritual makan malam.
"Kesukaanmu" Ucap Damien ketika makanan kesukaan Fredella sudah tersaji.
"Sejak kapan kau tahu makanan kesukaanku?" Tanya Fredella.
"Mommy mu yang memberitahuku. Dia bilang 'Princess kami sangat menyukai iga asam manis' begitu" ucap Damien
Fredella lekas mencicipi iga asam manis buatan koki yang Damien pinta untuk memasak, namun setelah mencicipinya Fredella sempat terdiam.
"Ini enak, walaupun sedikit tak sama dengan buatan mommy ku" Ucapnya.
"Sayangnya calon mertuaku tak memberikan resepnya padaku"
"Tentu saja dia tak akan memberikan resepnya, jika dia memberikan resepnya aku tak akan serindu ini padanya"
Damien tersenyum, ia mengambil rambut Fredella lalu menyelipkan ke telinga wanita itu agar rambut tergerainya tak menggangu makannya.
"Terimakasih, aku mencintaimu" Ucap Fredella
"Aku juga" Jawab Damien
…
Maaf banget buat tulisannya harus sensor sana-sini karena sudah berkali-kali ditolak oleh pihak MT.
-Happy Reading-
To Be Continue
lanjut ya