Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerahan diri
Hari berganti begitu cepat, Alana kini siap berbicara dengan Safa dan dia sudah mengambil keputusan.
"Mas, aku rasa sekarang aku siap ketemu safa, johan untuk merundingkan masalah kemarin soal penusukan kamu"
"Apa rencana kamu sayang?"
"Suruh dia datang ke kantor polisi, Mas. Aku mau lihat seberapa jujur dia sama ucapannya".
"Oke..."
Rafa mengatur pertemuan Safa, johan, Alana dan dirinya dikantor polisi.
"Kita siap-siap ya sayang. Ayo aku bantu kamu ganti baju". Rafa mendorong kursi roda Alana menuju kamar untuk bersiap menemui Safa dan Johan.
_____
Dikediaman Johan, ia baru saja menutup telponnya.
"Safa, kamu siap-siap. Rafa minta kita ke kantor polisi sekarang".
Johan bicara pada istrinya dengan suara serak, perasaannya campur aduk.
"Apa? Dia beneran mau aku menyerahkan diri?"
Safa terkejut mendengar kabar itu hatinya panas, ada rasa tak terima, takut dan benci yang kembali muncul.
"Oke, aku akan menyerahkan diri".
Safa berbalik badan melangkah ke kamarnya bersiap menghadapi Rafa dan Alana.
______
Singkat cerita Alana, Rafa, Johan dan Safa bertemu di area parkir. Mereka sampai bersamaan.
"Langsung saja"
Rafa mendorong kursi roda Alana masuk ke kantor polisi disusul Johan dan Safa.
Polisi bertanya maksud dan tujuan mereka berempat datang.
"Safa, ayo bicara sekarang"
Alana setengah mendesak Safa yang tak kunjung bicara.
Rafa mengusap bahu Alana meminta sedikit tenang, ia melihat raut wajah tegang terpasang di wajah istrinya.
"Tenang sayang".
Safa menatap tajam Alana yang ditenangkan oleh Rafa, sementara ia merasa terpojok sendirian.
"Saya melakukan penusukan, terhadap suami Alana. Atas dasar sakit hati dan balas dendam. Karena Alana mengambil Johan dari saya".
Suara Safa terdengar tegas dan tegar, ia berusaha meyakinkan semua orang bahwa ia juga korban.
"Anda tahu jika melakukan tindakan kriminal anda bisa dikenakan sanksi cukup berat? Apa lagi ini termasuk pembunuhan berencana".
Ujar polisi.
"Iya, saya menyadarinya. Namun saya gelap mata dan saya tidak akan melakukan itu jika Alana tidak mengambil suami saya pada saat itu".
Timpal Safa dengan suara hampir gemetar.
"Mas.. Kenapa dia bahas masa lalu? Ini gak seharusnya dibahas kan?" Alana berbisik pada Rafa.
"Kita dengarkan dia dulu ya sayang. Setelah dia selesai baru kita bicara". Rafa menenangkan Alana dengan kalimat lembutnya.
"Apa anda mempunyai bukti perselingkuhan Saudari Alana dengan suami anda?"
Tanya polisi lagi.
Safa diam menggelengkan kepalanya pelan karna tak ada bukti untuk menguatkan tuduhannya.
"Kalau begitu, anda siap menjalani proses hukum?"
Safa mengangguk pelan "Saya siap pak" bibirnya sedikit bergetar. Ia menanggung rasa takut, benci, sekaligus merasa harga dirinya di injak oleh Alana dan Rafa.
"Saudari Alana, ada yang ingin anda sampaikan?"
"Dia menusuk suami saya, sebetulnya karna salah sasaran. Dia merencanakannya karena Safa membenci anak saya, dia tidak senang melihat anak saya bertemu ayahnya, Johan yaitu mantan suami saya" Terang Alana.
"Anda punya bukti?"
Tanpa ragu Johan mengeluarkan rekaman suara.
Rekaman itu jelas suara Safa saat ia diruang keluarga dengan Johan.
Suara rekaman 1
"Aku nggak sudi, aku benci anak itu. Aku gak akan pernah izinkan kamu ketemu anak itu. Anak kamu cuma Vino. Jangan temuin anak itu, atau Alana akan celaka"
Suara rekaman 2 saat Safa menelpon dengan orang suruhannya.
"Hallo, kenapa Alana gak mati sih? Lo bisa gak sih nabrak mobilnya sampe hancur kalo Alana dan anaknya mati gue tambahin bayaran lo?"
Suara rekaman 3 Saat Safa menelpon kejadian penusukan
"Yang ditusuk istrinya Rafa bukan Rafa. Lo paham gak sih?"
Safa tercengang dengan bukti yang sangat jelas itu, dan ternyata dalang kecelakaan yang mengakibatkan kaki Alana cedera tak bisa berjalan adalah Safa.
"Kamu... Dapet bukti suara aku dari mana?"
Tanya Safa menatap benci pada Johan.
"Dari ponselmu" sahut Johan santai.
Singkat cerita, Safa dikurung mengenakan baju orange di dalam sel tahanan wanita.
Alana merasa lega namun juga merasa bersalah.
Ia melihat Safa begitu menyedihkan, namun ini harus dilakukan untuk menunjukan bahwa Alana tak selemah dulu.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Alana menjalani terapi dengan sungguh-sungguh karna kini Vino tinggal bersama mereka. Dan Johan sesekali menemui anak-anaknya tanpa gangguan dari siapapun.
Alana kini sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit meski masih memakai alat bantu jalan.
Hari ini, pertama kali lagi setelah berbulan-bulan Alana hanya dirumah karna kakinya yang cedera, kini Alana mengantar sekolah dua anak Cia dan Vino.
"Cia sekolah dulu ya Mah"
"Vino juga sekolah dulu ya mamah"
"Belajar yang semangat ya sayang-sayangnya mama" Ucap Alana kepada dua anak itu. Alana mengecup kening masing-masing anak itu.
"Bye sayang" Alana melambaikan tangannya.
Lalu supir kembali mengantar Alana pulang.
_______
Johan menemui Safa di penjara, melihat keadaan Safa, Johan merasa prihatin. Safa terlihat lusuh, kurus dan tak semangat hidup.
"Safa, kamu apa kabar?"
"Ya gini, kamu berharap aku gimana?"
Safa menjawab Johan ketus.
"Aku bawa makanan kesukaan kamu, makan ya disini"
Safa melihat kotak makan yang dibuka Johan.
Johan menyuapi Safa, ia makan begitu lahap.
Tanpa sadar hati Johan terasa perih melihat Safa, walau bagaimanapun Safa tetap ibu dari anaknya, Vino.
Johan menyuapi Safa sampai makanan itu habis.
"Enak banget ya makanannya?" Tanya Johan dengan suara serak.
Safa hanya mengangguk tanpa melihat Johan.
"Besok aku gak bisa kesini, mungkin lusa aku jenguk kamu lagi" Tambah Johan.
"Nggak apa-apa" Sahut Safa singkat.
"Kamu baik-baik ya disini, aku selalu berdoa kamu bisa cepat bebas dan mengambil banyak pelajaran dari kejadian ini". Kalimat Johan sama sekali tak menyentuh hati Safa. Namun Safa tak banyak bicara bahkan tak bertanya tentang Vino.
Johan pamit pulang, dan Safa kembali kedalam sel.
Di sel, Safa duduk di pojokan. Hatinya terasa perih melihat keadaannya sekarang, bergabung dengan orang-orang yang mempunyai kasus yang mirip dengan latar belakang berbeda. Namun dendam terhadap Alana masih menyala dan membakar fikirannya. Kesehariannya, ia hanya membaca buku yang dipinjamkan petugas disana.
"Safa. Bengong aja lo. Mending sini pijitin gue"
Ucap salah satu tahanan bertubuh gemuk disana. Safa dengan enggan melangkah menghampiri orang itu Safa mulai memijat bahu orang itu yang bernama Yuni.
"Pake tenaga dikit Safa, lembek amat mijatnya".
Safa menguatkan pijatannya.
"Nah gitu dong, jangan lembek jadi orang"
Yuni memerintah Safa hampir setiap hari, namun meski begitu Yuni adalah orang yang paling peduli dengan Safa.
"Suami lo kesini barusan?" Tanya Yuni dengan suara pelan agar tak terdengar yang lain.
"Iya mba" sahut Safa pelan.
"Bagus deh, lo masih dijengukin. Gue mah mana ada yang peduli sama gue". Kalimat mba Yuni begitu terasa pahit.
"Mba, kalo bebas nanti mau kerja bareng saya gak?"
Tanya Safa dengan hati-hati.
"Yeeeh lo, bebas aja belum udah nawarin loker. Benerin dulu hidup lo jangan sampe kayak gue dibuang anak sama suami". Sahutnya santai, namun terdengar pahit.