NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Bunyi bel panjang seolah menjadi aba-aba yang paling ditunggu hari itu. Dalam sekejap, kelas yang tadinya sepi langsung berubah menjadi ruang diskusi kecil yang acak. Beberapa anak sibuk merencanakan tempat nongkrong, sementara yang lain sibuk memasukkan buku tebal ke dalam tas dengan asal. Di koridor, langkah-langkah kaki terasa lebih santai, tidak ada lagi ketegangan jam pelajaran terakhir.

Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut siswi yang berjalan beriringan menuju gerbang, sambil sesekali tertawa renyah membahas hal bodoh yang terjadi di kelas tadi. Aroma takoyaki dan es teh manis dari seberang gerbang sekolah sudah melambai-lambai, menyambut mereka yang siap melepas penat.

Di bangku paling belakang, Jasver memasukkan buku seadanya ke dalam tas ranselnya. Resleting tas bahkan belum sempat ditutup rapat ketika Ren sudah berdiri di samping mejanya. "Buruan, Ver. Keburu penuh nanti keretanya."

"Iya, iya. Bawel."

Tak lama kemudian, mereka bertiga keluar dari kelas. Koridor sekolah masih dipenuhi lalu-lalang siswa yang hendak pulang. Beberapa guru tampak berjalan menuju ruang guru, sedangkan lapangan sekolah mulai dipenuhi anggota ekstrakurikuler yang bersiap latihan sore. Jasver mengembuskan napas panjang, membiarkan pundaknya merosot lesu. "Sumpah..."

Ren melirik sahabatnya itu sekilas dari sudut mata. "Kenapa lagi, lo?"

​"Dua hari ini gue lagi apes banget."

​Mendengar itu, Bumi yang tadinya berjalan santai di sisi kanan Jasver langsung menoleh tertarik. "Apes kenapa?"

​"Gara-gara satu cewek."

​Sebelah alis Bumi terangkat. "Hah? Gimana ceritanya?"

Belum sempat Jasver membuka mulut untuk menjelaskan, Ren sudah terkekeh lebih dulu. "Kalo diceritain tuh asli lucu banget, Bum!"

​"Lo diem," desis Jasver sambil menyenggol bahu Ren dengan sikutnya.

Bukannya ciut, Ren justru semakin bersemangat. Ia berdeham pelan, menegakkan punggung seolah-olah hendak memulai sebuah dongeng besar. "Jadi gini... Kemarin di bus, ada cewek yang negur gue sama Jasver gara-gara kita tetep duduk, padahal ada nenek-nenek sama ibu hamil yang lagi berdiri."

Bumi mengangguk-angguk paham. "Terus?"

​"Terus si Jasver malah ngajak debat."

​"Kan gue cuma jelasin kondisinya–"

​"Debat," potong Ren cepat, sama sekali tidak memberi ruang untuk pembelaan diri.

Jasver hanya bisa mendecak kesal, memilih memalingkan wajah. ​"Abis itu?" tanya Bumi yang mulai penasaran.

​"Abis itu... si cewek cuma ngomong satu kalimat." Ren sengaja menjeda ucapannya, memberi efek dramatis. "'Semoga nanti kalo orang tua lo ada di posisi mereka, orang lain juga mikirnya kayak gitu.'"

Seketika Bumi meringis pelan. "Waduh! Langsung kena mental nih."

​"Iya, kan?" Ren mengangguk mantap, puas karena mendapat simpati Bumi. "Habis itu Jasver langsung kicep. Ngga berkutik sama sekali."

​"Gue bukannya ngga berkutik, ya." Jasver akhirnya bersuara, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang tersisa. "Cuma... males aja debat panjang lebar."

​"Iya, iya. Males," sahut Ren defensif sambil mati-matian menahan tawa. ​Jasver memutar bola matanya jengah.

​"Nah, apesnya ngga berhenti di situ. Hari ini..." Ren sengaja menggantung kalimatnya, melirik Jasver yang mulai memasang wajah siap membunuh. "...si bego ini salah rangkul cewek."

​"WOI!"

​"Lah, emang bener, kan? Salah rangkul."

​Bumi langsung menghentikan langkah, menatap Jasver dengan mata membelalak. "Jangan bilang..."

​"Iya," potong Jasver pasrah.

​"Cewek yang sama?" ​Jasver tidak menjawab, membuat keheningan sesaat di antara mereka sebelum akhirnya tawa Bumi pecah begitu saja, menggema di koridor sekolah.

​"HAHAHAHA! Serius lo, Ver?" Bumi sampai harus memegangi perutnya yang mendadak kram.

​Jasver langsung menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan sebelah tangan. "Gue kira dia pacar gue, Jelas-jelas dari belakang rambutnya sama. Tasnya juga mirip banget."

​"Terus pas ceweknya nengok..." Ren kembali menyambar cerita, menirukan ekspresi syok Jasver dengan mata melotot jenaka. "...dia langsung mematung, Bum!"

​Tawa Bumi semakin meledak hingga sudut matanya berair. "Kasihan banget hidup lo, Ver. Sialnya borongan."

​"Sumpah, diem lo berdua." Jasver mempercepat langkahnya karena tengsin.

​Setelah beberapa saat, tawa mereka perlahan mereda. Bumi mengusap air mata di sudut matanya menggunakan ujung jempol, mencoba mengatur napasnya kembali normal. "Emangnya siapa sih ceweknya?"

​Jasver hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Gatau."

​"Kita juga belum kenalan," tambah Ren.

Bumi hanya mengangguk kecil. Namun, sebelum sempat menanggapi ucapan sahabatnya, suara dengung pengeras suara stasiun mendadak memutus obrolan mereka, menggema di langit-langit peron.

​"Kereta tujuan berikutnya akan segera memasuki peron. Para penumpang diharapkan berdiri di belakang garis kuning."

​Seketika itu juga, arus manusia di peron mulai bergerak gelisah. Kerumunan pelajar yang masih mengenakan seragam tampak memenuhi sisi peron. Sebagian asyik mengobrol heboh, beberapa memakai earphone sambil memejamkan mata, sementara sisanya sibuk menunduk menatap layar ponsel sembari sesekali melirik ke arah rel yang masih kosong.

Jasver, Ren, dan Bumi ikut bergeser, mengambil posisi di belakang garis pembatas kuning. ​Jasver kembali mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir sisa penatnya. "Semoga hari ini udah ngga ada kesialan lagi."

​Ren meliriknya sekilas, lalu mendecak pelan. "Mulut lo tuh dijaga."

​"Hah? Kenapa?"

​"Biasanya, kalau lo ngomong kayak gitu–"

​Belum sempat Ren menyelesaikan kalimatnya, Bumi tiba-tiba menghentikan langkah. Sudut matanya menangkap sesuatu. "Oh."

​"Hm?" Jasver dan Ren menoleh hampir bersamaan, mengikuti arah pandang Bumi.

​Seketika itu juga, dunia seolah berhenti berputar bagi Jasver. Wajah cowok itu langsung berubah datar. Tatapannya terkunci pada satu titik. ​"Ngga mungkin..." bisik Jasver tak percaya.

​Beberapa meter dari tempat mereka berdiri, seorang gadis tengah berdiri menunggu kereta dengan tenang. Rambut hitam sebahunya bergerak tipis ditiup angin peron. Tas sekolahnya disampirkan santai di bahu kiri. Dan yang paling penting: tatapan matanya yang dingin, jenis tatapan yang masih sangat terekam jelas di memori Jasver.

Jasver membeku. "Dia lagi."

​Bukannya bersimpati, Ren justru langsung membekap mulutnya sendiri, menahan tawa yang siap meledak. "Ver..."

​"Sial," umpat Jasver lirih.

​"Kesialan lo emang konsisten banget, asli," bisik Ren dengan bahu bergetar menahan tawa.

​"Berisik, lo."

Namun, alih-alih ikut bersembunyi atau terdiam seperti kedua temannya, Bumi justru menunjukkan reaksi yang tak terduga. Cowok itu melangkah maju dengan santai, berjalan lurus menghampiri si gadis bus.

​Jasver mengernyitkan dahi dalam-dalam. "Lah? Si Bumi mau ngapain?"

​"Mau ngapain tuh anak?" Ren ikut berbisik heran, rasa tawanya mendadak lenyap digantikan rasa penasaran.

Bumi berhenti tepat di samping gadis itu, menyisakan jarak aman yang masih terhitung sopan. "Hai."

​Mendengar suara asing di dekatnya, gadis itu menoleh, mengalihkan pandangan dari rel kereta. "Iya?"

​"Maaf ganggu bentar," ucap Bumi ramah, lengkap dengan senyum tipis andalannya.

​"Ada apa, ya?"

Bumi mengulurkan tangan kanannya dengan percaya diri. "Kenalin, aku Bumi."

​Di belakangnya, Jasver dan Ren saling berpandangan dengan mata membelalak. ​"Kok dia sok akrab banget?" bisik Jasver, mendadak gemas sendiri.

​Ren kembali menahan tawa, tapi kali ini karena takjub melihat kenekatan Bumi. "Iya, asem. Tau-tau ngajak kenalan."

Gadis itu terdiam sesaat, menatap uluran tangan Bumi sebelum akhirnya menyambutnya singkat. "...Aery."

​"Boleh tau nama lengkapnya?" tanya Bumi lagi, suaranya terdengar begitu kasual.

​"Aery Brooklyn."

​"Nama yang bagus."

​"Terima kasih," jawab Aery.

Kalimat yang keluar dari bibir gadis itu memang tetap singkat dan padat. Tetap saja, ada perbedaan besar yang kasatmata. Nadanya terdengar jauh lebih lembut dan tenang, berbanding terbalik dengan intonasi judes yang Jasver terima selama dua hari terakhir.

​Jasver sampai harus berkedip beberapa kali, memastikan penglihatannya tidak salah. "Lah?"

Ren juga ikut melongo, kehilangan kata-kata. "Ver... Perasaan pas sama lo, dia kalau ngomong kayak mau nelen orang idup-idup."

​"Iya, kan?!" sahut Jasver berapi-api, merasa mendapat validasi. "Gue ngga salah, kan?"

​"Ini kok... sama Bumi biasa aja? Sopan malah."

Jasver menatap punggung Aery dengan dahi berkerut dalam. Pikirannya mendadak penuh dengan pertanyaan retoris. Loh... kenapa kalau sama Bumi bisa sesopan itu? Terus kenapa giliran sama gue... dia kayak punya dendam kesumat tujuh turunan?

Belum sempat Jasver menyelesaikan perang batinnya, Bumi tiba-tiba membalikkan badan. Dengan senyum tanpa dosa, cowok itu melambaikan tangan ke arah dua sahabatnya yang masih mematung di belakang garis kuning.

​"Ver! Ren! Sini!" panggil Bumi cukup keras, membuat beberapa pelajar di sekitar mereka sempat menoleh.

Jasver rasanya ingin lenyap dari muka bumi saat itu juga. "Sialan si Bumi," desisnya panik.

​"Maju, Ver. Jangan pengecut," goda Ren sambil menyenggol punggung Jasver, lalu dengan sengaja melangkah lebar membiarkan Jasver terpaksa ikut berjalan di sampingnya.

Begitu mereka berdua sampai di dekat Bumi, Aery otomatis menoleh. Sepasang mata jernih namun sedingin es itu langsung terkunci pada wajah Jasver. Detik itu juga, Jasver bisa melihat sudut alis Aery berkedut samar, tanda bahwa gadis itu langsung mengenali siapa cowok tegap di hadapannya ini.

​"Kenalin, Ry. Ini temen-temenku," ucap Bumi santai, seolah tidak ada ketegangan kasatmata yang sedang terjadi. "Yang ini Ren."

​"Aery," ucap Aery datar, mengangguk kecil pada Ren.

​"Ren. Salam kenal, cewek bus–eh, maksudnya Aery," sahut Ren keceplosan, yang langsung mendapat injakan maut di atas sepatunya dari Jasver.

Bumi terkekeh pelan, lalu menepuk pundak Jasver agak keras. "Nah, kalau yang ini..."

​"Ngga usah dikenalin. Gue udah tahu," potong Aery cepat. Suaranya mendadak turun satu oktav, kembali memancarkan aura mengintimidasi yang tempo hari membuat Jasver mati kutu di bus.

Jasver menarik napas dalam-dalam, mencoba menegakkan punggungnya demi menjaga harga diri laki-lakinya. "Gue juga ngga berniat kenalan, ya. Lagian yang hari ini... gue beneran ngga sengaja. Rambut sama tas lo mirip pacar gue dari belakang."

Aery melipat kedua tangan di dada, menatap Jasver dari atas ke bawah dengan tatapan menghakimi. "Yang kemarin di bus juga ngga sengaja?"

​"Kalo yang di bus itu gue punya alasan–"

​"Alasan males berdiri?" tembak Aery telak.

​"Bukan!" Jasver mulai frustrasi, wajahnya memerah antara kesal dan malu. "Gue tuh kemarin abis latihan fisik buat tanding voli sampai kram! Makanya gue duduk!"

Aery terdiam sesaat. Tatapannya sedikit melunak, namun ekspresi datarnya tidak berubah. "Oh. Tapi tetep aja, sopan santun ngga bisa ditawar pakai alasan kram."

​Jasver hendak membalas lagi, tetapi suara gemuruh roda kereta yang bergesekan dengan rel perlahan memotong perdebatan mereka. Angin kencang berembus seiring dengan datangnya rangkaian kereta yang perlahan melambat dan berhenti tepat di depan mereka. Pintu kereta terbuka otomatis, mengeluarkan embusan hawa AC yang dingin.

​"Keretanya udah dateng. Yuk masuk," sela Bumi dengan nada super tenang, seolah baru saja menyelamatkan Jasver dari hukuman mati.

​Aery tidak mengatakan apa-apa lagi. Gadis itu membalikkan badan dan melangkah masuk lebih dulu ke dalam gerbong yang lumayan senggang. Bumi menyenggol lengan Jasver yang masih berdiri kaku di peron. "Ayo, Ver. Malah bengong."

​"Gue mau di gerbong lain aja," gerutu Jasver ketus.

​"Halah, gengsi lo segede gaban," sahut Ren sambil merangkul leher Jasver dan menyeret cowok itu masuk ke dalam gerbong yang sama dengan Aery.

Di dalam gerbong, entah karena takdir atau memang Bumi yang sengaja, mereka akhirnya berdiri di area yang sama, hanya berjarak dua tiang pegangan dari tempat Aery berdiri. Jasver sengaja memalingkan wajahnya ke jendela, berpura-pura sangat tertarik melihat pemandangan dinding terowongan stasiun yang gelap.

​Namun diam-diam, lewat pantulan kaca jendela kereta, Jasver bisa melihat Aery yang sedang mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk karakter anime kecil dari tasnya yang sempat lepas.

Seketika, mata Jasver membelalak kecil. Lho? Itu kan merchandise limited edition yang langka banget?

​Satu alis Jasver terangkat. Rasa kesalnya mendadak buyar, digantikan oleh rasa penasaran yang luar biasa. Cowok itu melirik Aery lagi lewat pantulan kaca, menyadari bahwa di balik sifat judes dan dinginnya, gadis misterius ini ternyata punya sisi lain yang sama sekali tidak dia duga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!