Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian I)
...Ketika Fajar Bertemu Senja...
..."Terang tidak lahir untuk mengusir gelap. Terang lahir agar gelap mengetahui kapan saatnya beristirahat."...
^^^—Petuah Ompu Sinar^^^
Hari-hari di Banua Ginjang terus bergulir.
Setelah meninggalkan Lembah Waktu, Deak Parujar mulai merasakan bahwa setiap pelajaran yang diterimanya ternyata saling terhubung, bagaikan helai-helai ulos yang ditenun menjadi satu kain yang utuh baru bisa bermanfaat.
Air mengajarinya untuk selalu mengingat dan tidak melupakan hal-hal yang penting. Batu mengajarinya agar dapat lebih bersabar menghadapi apapun. Angin mengajarinya untuk mendengar dengan lebih seksama dan memgambil hikmat darinya. Menenun Ulos mengajarinya untuk lebih mengutamakan kasih dalam berpikir dan bertindak. Sementara itu, Waktu mengajarinya untuk dapat terus bertumbuh dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Namun di dalam hatinya masih tersimpan beberapa pertanyaan yang mengganjal pikirannya, antara lain: "Mengapa perlu ada siang dan malam? Mengapa cahaya harus pergi agar kegelapan bisa datang? Mengapa gelap seperti juga penderitaan perlu diberikan kesempatan untuk hadir dalam kehidupan?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengikuti langkah kecilnya.
...****************...
Pagi itu Burung Erung kembali melayang rendah di atas Hariara Bolon. Burung suci itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya menjatuhkan sehelai bulu putih yang melayang perlahan di hadapan Deak.
Begitu bulu itu menyentuh telapak tangan Deak, udara di sekelilingnya berubah menjadi lebih hangat. Jonggi mengepakkan sayap kecilnya seakan berkata: "Ikuti bulu itu."
Deak mengangguk.
Bulu putih tersebut melayang ke arah timur Banua Ginjang, menuju wilayah yang belum pernah dikunjungi Deak sebelumnya.
Semakin jauh ia berjalan, warna langit berubah. Bukan lagi biru keemasan, melainkan perpaduan jingga, merah muda, ungu dan keemasan yang terus bergerak seperti sapuan kuas raksasa.
Di kejauhan tampak dua sungai cahaya. Yang satu mengalir dari arah matahari terbit. Yang satunya lagi mengalir dari arah rembulan. Anehnya, aliran kedua sungai itu tidak pernah bertabrakan.
Mereka hanya saling menyentuh sesaat, lalu kembali melanjutkan perjalanan masing-masing.
...****************...
"Selamat datang." Suara itu lembut, hangat dan menenangkan itu terdengar menyapa Deak.
Di tepi Sungai Fajar berdiri seorang lelaki tua berjubah putih keemasan. Janggutnya memantulkan cahaya seperti ribuan benang emas. Setiap kali ia tersenyum, cahaya fajar menjadi sedikit lebih terang. Dialah... Ompu Sinar.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan muda yang telah dewasa, yang rambutnya menjelma seperti nyala api keemasan. Namun api itu sama sekali tidak membakar. Sebaliknya, kehangatannya membuat bunga-bunga bermekaran. Dialah... Nai Api. Deak pernah bertemu ketika berkenalan dengan para guru dulu. Tapi pertemuan itu hanya sekilas, Deak bahkan tidak sempat berbalas sapa kala itu, ia hanya sempat mengagumi sosok cantiknya.
Deak membungkuk hormat dan menyapa: "Ompu... Nai..."
Ompu Sinar tersenyum, "Putri Langit. Hari ini engkau tidak akan belajar tentang cahaya."
"Lalu tentang apa?" tanya Deak bingung.
"Tentang memberi ruang." kali ini Nai Api yang menjawab sambil mengangkat telapak tangannya.
Dari ujung jemarinya muncul seekor burung kecil yang seluruh tubuhnya terbuat dari nyala api keemasan. Burung itu terbang berputar-putar mengelilingi Deak. Aga aneh karena Deak tidak merasa kepanasan akibat nyala api si burung kecil, tetapi ia merasakan kehangatan seperti pelukan seorang ibu.
"Api yang baik..." kata Nai Api, "...tidak pernah membakar tanpa alasan. Ia menghangatkan. Menerangi dan memberi kehidupan."
Tak lama kemudian, langit perlahan meredup. Namun matahari belum lagi tenggelam, tetapi dari arah barat muncul cahaya keperakan yang begitu lembut, menandakan Bulan mulai naik. Anehnya, matahari tidak segera menghilang.
Untuk beberapa saat, keduanya hadir bersamaan di langit Banua Ginjang dan seluruh permukaan langit berubah menjadi lukisan yang belum pernah dilihat Deak sebelumnya.
Emas bertemu perak. Jingga memeluk biru. Fajar dan senja saling tersenyum.
"Apakah mereka sedang bertarung?" tanya Deak.
Ompu Sinar menggeleng dan menjawab: "Mereka sedang menari."
Tepat di saat itulah Deak melihat sesuatu yang menakjubkan. Di antara Matahari dan Bulan terlihat terbentang jembatan cahaya yang sangat panjang.
Di atas jembatan itu menari makhluk-makhluk bercahaya. Tubuh mereka ramping. Jubah mereka terbuat dari sinar matahari di satu sisi dan cahaya rembulan di sisi lainnya. Setiap gerakan yang mereka lalukan, seakan membuat warna langit berubah.
Ada yang menaburkan merah fajar. Ada yang melukis ungu senja. Ada yang menebarkan emas pagi. Ada pula yang menyebarkan biru malam.
"Siapakah mereka?" tanya Deak terkagum.
Ompu Sinar menjawab dengan mata berbinar, "Mereka adalah Parmanurung Rambu. Para Penari Cahaya. Merekalah yang menjaga agar siang dan malam tidak saling merebut langit."
Deak memandang tarian itu dengan takjub. Tidak ada satu pun penari yang berusaha tampil paling indah. Tidak ada juga yang ingin berada paling depan. Mereka bergerak saling mengisi, saling memberi ruang dan saling menunggu dengan harmonis.
Barulah Deak memahami, bahwa keindahan langit bukan lahir karena satu warna tertentu saja, melainkan karena semua warna bersedia berbagi tempat secara damai.
Ompu Sinar menatap Deak, "Putri. Suatu hari nanti... ketika telah tiba waktuNya dan engkau menciptakan dunia manusia... ingatlah tarian ini. Karena dunia manusia itu hanya akan hancur, bukan ketika malam atau kegelapan datang, tetapi hanya ketika satu pihak menolak memberi ruang bagi pihak yang lain."
Di kejauhan, Burung Erung melayang melintasi langit senja. Sementara itu, di bawah Hariara Bolon, angin membawa harum bunga yang baru mekar.
Deak memandang Matahari dan Bulan yang terus menari di cakrawala.
Dan untuk pertama kalinya, ia menjadi mengerti satu lagi kebijaksanaan yang hakiki, yaitu bahwa keseimbangan bukanlah keadaan ketika semua menjadi sama, melainkan ketika setiap makhluk mengetahui kapan saatnya untuk bersinar dan kapan saatnya memberi jalan bagi cahaya yang lain untuk mempertunjukkan sinarnya.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 9 – Bagian II: Gerhana yang Tidak Pernah Menjadi Permusuhan.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/