Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan Di Mansion
Nathan menatap Naomi dengan sorot mata yang begitu tajam. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Kemarahan yang sejak siang ia tahan kini seolah menemukan sasaran baru.
Suasana ruang keluarga mendadak berubah mencekam. Tak seorang pun berani bersuara. Bahkan para pelayan yang berdiri di sudut ruangan ikut menundukkan kepala, takut kemarahan sang tuan muda ikut menyeret mereka.
Semua orang tahu seperti apa Nathan Wijaya. Pria itu tidak pernah suka dibantah. Terlebih saat menyangkut putra semata wayangnya.
Sementara itu, Naomi tetap berdiri di tempatnya. Meski jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya, ia berusaha menjaga raut wajahnya tetap tenang.
Ia tidak sedang mencari perhatian. Tidak pula bermaksud mencampuri urusan keluarga Wijaya tapi pemandangan yang baru saja dilihatnya terasa begitu akrab di benaknya.
Naomi mengembuskan napas pelan. Ada sesuatu dalam pemandangan di hadapannya yang membuat hatinya terusik. Bukan karena Leon sedang dimarahi, melainkan karena tak seorang pun tampak ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Padahal, terkadang seseorang melakukan kesalahan bukan karena ia ingin berbuat buruk, melainkan karena ada alasan yang belum sempat didengar.
"Jadi..." suara Nathan terdengar berat memecah keheningan, "...kau sedang mengajariku bagaimana mendidik anakku?"
Naomi segera menggeleng pelan. "Saya tidak bermaksud seperti itu, Tuan."
"Lalu apa maksudmu?" Tatapan Nathan tak bergeser sedikit pun darinya.
Naomi menarik napas pelan sebelum menjawab. "Saya hanya berpikir... setiap orang berhak didengar sebelum diputuskan bersalah."
Alis Nathan langsung bertaut. "Fakta yang ada di depanku sudah jelas."
Nada suaranya semakin dingin. "Sekolah menghubungiku karena Leon berkelahi."
Naomi mengangguk pelan. "Benar. Leon memang berkelahi."
Nathan langsung menyela. "Kalau begitu, untuk apa lagi membuang waktu?"
Naomi tidak terpancing. Ia tetap menjawab dengan suara yang sama tenangnya.
"Karena berkelahi adalah akibat... bukan selalu penyebab." Kalimat itu membuat ruang keluarga kembali diliputi keheningan.
Bahkan Alan yang sejak tadi memilih diam perlahan mengangkat wajah, sementara Rieke menghentikan gerakan tangannya yang semula hendak meraih cangkir teh.
Nathan memandang Naomi beberapa saat. "Maksudmu?"
Naomi tidak langsung menjawab. Perlahan ia mengalihkan pandangannya kepada Leon yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang Nathan.
Leon berdiri tanpa mengubah ekspresi. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya perlahan kehilangan ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan. Sudut bibirnya yang robek masih menyisakan bercak darah yang mulai mengering.
"Leon..."
Suara itu terdengar begitu pelan, namun cukup membuat seluruh perhatian tertuju kepada mereka.
"Boleh Bibi tahu. Apa yang sebenarnya terjadi di sekolah hari ini?"
Leon terdiam. Tatapannya perlahan terangkat. Untuk sesaat ia hanya memandang Naomi tanpa berkedip entah mengapa pertanyaan sederhana itu membuat dadanya terasa sesak.
Selama ini. Setiap kali ia dipanggil ke ruang guru karena masalah tak pernah ada seorang pun yang menanyakan hal itu. Yang selalu ia dengar hanyalah.
"Kenapa kamu bikin masalah?"
"Kenapa kamu berkelahi?"
"Kenapa kamu selalu mengecewakan?"
Tak ada yang benar-benar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tak ada yang peduli mengapa ia sampai mengangkat tangan.
Dan hari ini remaja itu baru merasakan. Pertanyaan yang diterima Leon bukanlah tentang kesalahannya. Melainkan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.
Perlakuan kecil itu benar-benar membuat hati Leon tersentuh. Ia memandang Naomi cukup lama. Ada sesuatu dalam sorot mata wanita itu yang sulit ia jelaskan. Tidak ada rasa curiga, tidak ada nada menghakimi, apalagi memaksanya segera menjawab. Naomi hanya menunggu, seolah benar-benar ingin mendengar apa yang akan ia katakan.
Leon menelan ludah pelan. Entah mengapa, tenggorokannya terasa tercekat. Padahal, sejak tadi ia sudah menyiapkan banyak kalimat di dalam kepala. Namun ketika benar-benar diberi kesempatan untuk berbicara, semua kata itu justru seakan menghilang begitu saja karena ia merasa tak ada yang benar-benar peduli dengan alasan di balik semua itu.
Hening menyelimuti ruang keluarga. Jemari Leon perlahan mengepal, lalu kembali mengendur. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gejolak di dadanya sebelum akhirnya mengangkat wajah, bergantian menatap Naomi dan Nathan.
Nathan yang sejak tadi menunggu jawaban mulai kehilangan kesabaran. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya semakin tajam mengarah kepada putranya.
"Kenapa diam?" Suara berat itu menggema di seluruh ruangan.
"Aku sedang bertanya kepadamu, Leon."
Leon sedikit mengangkat wajah, tetapi belum sempat mengucapkan sepatah kata pun, Nathan kembali menyela.
"Atau jangan-jangan kau memang tidak punya alasan untuk membenarkan perbuatanmu?"
Ucapan itu membuat suasana semakin menegang. Beberapa pelayan saling melirik dengan wajah cemas. Bahkan Rieke yang sedari tadi duduk di sofa tampak menggenggam ujung gaunnya erat, khawatir pertengkaran itu akan semakin membesar.
Naomi kembali melangkah setengah langkah ke depan. "Tuan..."
Nathan langsung memalingkan wajah kepadanya.
"Apa lagi?"
Nada suaranya masih terdengar dingin. Naomi mengembuskan napas pelan sebelum berkata dengan hati-hati.
"Saya mohon... berikan Leon sedikit waktu."
Nathan mengernyit. "Waktu untuk apa?"
Naomi menarik napas pelan sebelum menjawab dengan suara tetap tenang.
"Untuk memastikan bahwa kita tidak sedang menghukum orang yang bahkan belum selesai menjelaskan."
Nathan menatapnya tajam.
"Sekolah memang menghubungi Tuan. Tapi mereka hanya menyampaikan bahwa terjadi perkelahian. Mereka tidak mengatakan bagaimana semuanya bermula."
Naomi menundukkan kepala sejenak, lalu kembali menatap Nathan.
"Kalau setelah mendengar penjelasan Leon ternyata memang dia yang sepenuhnya bersalah, saya tidak akan menghalangi Tuan menegurnya. Tetapi jika ada alasan di balik semua itu... bukankah lebih adil bila kita mengetahuinya lebih dulu?"
Nathan masih menatap Naomi tanpa berkedip. Rahangnya mengeras, tetapi untuk pertama kalinya sejak pulang dari kantor, ia tidak lagi memaksa Leon menjawab saat itu juga.
"Kau selalu ikut campur Naomi!" suara Nathan menggelegar.
"Tidak aku tidak ikut campur Tuan, aku hanya ingin Tuan mendengar itu saja," sahut Naomi.
Leon perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya bergantian menatap Nathan dan Naomi. Jemarinya mengepal kuat, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang selama ini tak pernah ia miliki.
Bibirnya bergerak pelan.
"Aku memang memukul dia, Daddy... tapi kalau waktu bisa diulang." Leon menatap lurus ke arah ayahnya. "Aku tetap akan melakukan hal yang sama."
Kalimat itu membuat seluruh penghuni Wijaya Mansion membeku, tapi tidak dengan Nathan karena pria itu tetap saja mengeraskan rahangnya.
Bersambung ....