Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|07|Pelabuhan Berdarah
Aruna berjalan mendekati Devara, kemejanya yang belum kering sempurna diberikan oleh Aruna, Devara menerima kemeja itu bekas noda darah belum sepenuhnya hilang, masih membekas sedikit. Lalu mengambil flashdisk di saku kemeja-nya. "Tidak diambil?" tanya-nya sambil mengangkat flashdisk berwarna hitam.
"Enggak, aku takut isinya foto orang yang kamu bunuh dilantai atas" Ujar Aruna, asal menebak. Namun jujur Ia tak yakin dengan apa yang ada didalam flashdisk tersebut.
Devara mengantongi benda itu tanpa menjawab apapun. Lalu melempar kemeja-nya kepada Aruna. "Cuci yang bersih, tanpa noda apapun" ujarnya datar.
Devara berjalan keluar kamar, namun pandangannya kembali menatap Aruna. " Cepat ganti baju, jam 8 ikut saya" ucapnya kembali setelah itu menutup pintu kamar Aruna.
Aruna menghempaskan tubuhnya diatas ranjang empuk itu, matanya menatap lurus keatas, kosong, buntu tanpa jalan pikiran.
'jam 9 jemput seseorang ditelepon, jam 8 dia nyuruh aku ikut dia. Apa yang dia rencanakan' -gumam Aruna.
Setelah bersiap dan memakai baju yang ada didalam lemari itu, Aruna keluar dari kamarnya. Bi Meri sudah datang dan sedang membersihkan dapur, menyapa Aruna dengan senyuman.
"Nyonya, sarapan dulu" ujar Meri pelan.
Aruna duduk dimeja makan, sambil menunggu bi Meri menyiapkan sarapan untuknya, tak lama Devara datang, langkah nya pelan lalu mendekati Aruna.
Tok.. Tok.. Dua kali Devara mengetuk meja dimana Aruna menunggu Meri menyiapkan sarapan untuknya, Aruna terperanjat "A-ada apa?" tanya Aruna, bingung dengan kelakuan Devara.
"Tidak ada waktu, sudah jam 08.02" Ujarnya datar, lalu berjalan kearah lift untuk keluar.
"udah hampir siap ini nyonya, masa gak sarapan dulu "Meri menatap Aruna dengan wajah khawatir, namun Aruna hanya menanggapi dengan senyuman pahit sambil melambaikan tangannya kepada Meri.
Aruna mengekor, didalam lift sunyi tanpa ada yang berbicara. Aruna berdiri dibelakang Devara, menatap punggung bidangnya. Lelaki itu tak ada membuka obrolan sama sekali, kedua tangan didalam saku celana. Salah satu telinganya terpasang airpods. Ting.. Lift terbuka.
"Selamat pagi Pak Devara dan Ibu Aruna" sapa Andre yang telah menunggu di lobby.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil yang telah disiapkan oleh supir pribadi Devara. Didalam mobil, suasana makin tidak mengenakkan. Perjalanan rahasia, sejak awal Devara tak berbicara kemana mereka akan menuju.
"Pak Burhan sudah sampai di dermaga Pak" ucap Andre sambil terus melihat iPad nya.
Devara tak menjawab apapun, tangannya sibuk memainkan lighter berwarna emas itu.
"Kita mau kemana Andre?" Pertanyaan Aruna yang telah disimpan sedari tadi Ia berani tanyakan kepada Andre kali ini.
Devara makin nyaring dan cepat memainkan lighter-nya sampai Andre menatap wajah bos nya itu dengan tatapan takut. "Nanti ibu akan tau" ujarnya setelah membaca ekspresi Devara.
Aruna melirik kearah Devara, wajah datar, tak ada suara. Aruna bertambah semakin membenci Devara saat itu juga. Namun, Aruna juga penasaran siapa yang akan Ia jemput jam 9 nanti.
Mobil berhenti di pelabuhan. Andre keluar lebih dulu, disusul Devara dan Aruna. Mereka berjalan dibelakang Andre, salah satu pengawal Devara mendekat. "Didalam sini pak" ujarnya sambil menunduk.
"Buka" titah Devara, suaranya pelan dan dingin. Matanya tajam menatap kontainer yang akan dibuka oleh pengawalnya.
Aruna syok, Ia mundur beberapa langkah setelah melihat isi didalam kontainer tersebut, mayat seorang polisi yang sudah sangat pucat, dada bolong karena tembakan. Aruna menutup mulutnya mencoba memberi jarak agak jauh.
Tidak lama terdengar suara jeritan dari belakang mereka. Seorang pria paruh baya di seret oleh dua orang yang Aruna duga adalah pengawal Devara.
Devara mendekati pria itu. "Burhan, dua kali anda gagal menjaga barang saya" Kata Devara sambil berjongkok menatap pria yang Ia panggil dengan nama Burhan itu, Devara melirik Andre dan seperti meminta sesuatu, Andre langsung mengerti dan memberi Devara sarung tangan berwarna hitam.
"Berdiri!" Bentak Devara.
Suara lantang Devara pertama kalinya didengar oleh Aruna, membuat gadis itu semakin merinding. 'apa yang akan Devara lakukan sekarang' -batin Aruna. Tangan Aruna menggenggam tali tas nya dengan sangat erat.
Devara mengeluarkan pistol emas bercorak naga , tanpa berlama-lama DOR!... Burhan jatuh tersungkur bersimpuh darah, cipratan darah burhan mengenai sepatu Aruna. Gadis itu sangat ketakutan, lututnya lemas seketika, tangannya gemetar. Adegan yang tak pantas Ia lihat didepan mata kepalanya.
Devara membuka sarung tangan hitam-nya dan melempar kearah mayat Burhan. Para pengawal langsung menyeret mayat itu untuk dibuang ke-laut. Andre dengan sigap mendatangi Aruna, "Bu, jangan dilihat lagi" Ujar Andre sambil memberikan selembar tisu.
Devara berjalan sedikit menjauh, menerima telepon dari seseorang. "Iya, aku jemput sekarang" ujarnya setelah itu mematikan teleponnya kembali.
Aruna mencoba bangkit dibantu oleh Andre. Devara berjalan mendekat tanpa melihat Aruna sedikit pun. "Saya mau pergi dulu, jangan sampai dia kabur" ujar Devara sambil melirik Aruna sekilas.
"Dia mau ketemu sama siapa?" Aruna yang penasaran bertanya kepada Andre.
"Eum.. Kurang tau bu" Jawaban Andre terdengar kaku, sepertinya Andre juga dibungkam oleh bos -nya.
Aruna mematung, memandangi dermaga pagi itu yang cukup sepi. "ini wilayah dermaga kekuasaan Pak Devara" Ucap Andre.
Setelah berjalan cukup jauh, Aruna melihat kearah belakang, Andre sudah tak terlihat lagi. Aruna semakin jauh lagi berjalan dan berlari agar dirinya bisa pergi dari tempat kutukan itu.
Sebuah perasaan kemenangan bagi Aruna jika bisa selamat dari Devara. Langkahnya semakin melambat, Ia melihat kakinya berdarah karena gesekan sepatunya karena terlalu jauh berjalan. Gadis itu duduk di pinggir trotoar. Sendirian, hanya ditemani mobil yang lalu lalang masuk ke dermaga.
Aruna melepas sepatunya dan berjalan lagi, tak tentu arah, yang terpenting Ia bisa kabur tanpa jejak dan meninggalkan penthouse yang membuatnya gila itu.
Namun, suara klakson mobil yang nyaring ada dibelakangnya, Aruna semakin gemetar dan takut. "Pasti Andre" gumam Aruna. Gadis itu berlari, namun kaki-nya tak sekuat harapannya untuk segera pergi menjauh. Aruna terjatuh, kakinya lecet semua bercampur tanah yang membuat dirinya seperti orang gila yang berusaha kabur dari rumah sakit jiwa.
"Bu, jangan seperti ini. Saya takut Pak Devara marah" Andre mendekati Aruna yang jatuh tersungkur. Menolongnya dan memapah masuk kedalam mobil.
Percobaan kabur Aruna gagal kali ini, bagaimana reaksi Devara kalau tau Aruna kabur, apa dia akan membunuh Aruna seperti yang Ia lakukan pada bawahannya yang telah gagal dua kali itu.
Sore harinya. Aruna mencoba turun dari ranjang-nya karena merasa sangat bosan. Kakinya penuh dengan plester dan perban. Bahkan terasa sakit jika berjalan, namun bukan Aruna namanya jika Ia terus berdiam diri menahan sakit.
Aruna keluar kamarnya, Ia melihat i-Pad Andre yang tergeletak di meja ruang tengah. Aruna yang sangat penasaran membuka i-Pad itu, baru saja mengusap keatas, sudah muncul video dari cctv dashcam mobil Devara.
Aruna mengamatinya dengan serius. Seorang perempuan berambut lurus dan berkulit putih, cantik seperti seorang model masuk kedalam mobil Devara. "Kangen banget sama kamu sayang" ujar sang perempuan sambil mengecup pipi Devara.
Devara diam, tak menolak, tak berontak, tak mengelak namun juga tak tersenyum sedikitpun. "Ayo berangkat" ujarnya dengan pelan, sambil menyalakan mobilnya.
Aruna menutup mulutnya, matanya membulat terkejut melihat Devara bersama perempuan lain, bahkan perempuan itu terlihat sangat santai disamping pria bertato naga itu. iPad ditangan Aruna terlepas dari genggamannya dan jatuh dilantai marmer.