Bima Saputra, seorang sarjana pariwisata yang hidupnya terjerat lilitan utang keluarga, kini terjebak menjadi juragan warung sayur di Kabupaten Jatiroso. Realita yang pahit, ibu sakit, dan pernikahan diam-diam dengan wanita impiannya, Dinda, membuatnya merasa terhimpit. Namun, nasibnya berubah drastis saat ponselnya kesetrum, membuka gerbang menuju ladang virtual game Harvest Moon! Kini, ia bisa menanam buah dan sayur berkualitas dewa yang tumbuh sekejap mata, memindahkannya ke dunia nyata, dan menjualnya untuk meraup omzet gila-gilaan. Dari semangka manis hingga stroberi spesial, Bima menemukan jalan ninjanya menuju kekayaan. Bisakah ia melunasi utang ratusan juta, membahagiakan ibunya, dan meresmikan pernikahannya dengan Dinda secara terang-terangan, tanpa ada yang mencurigai rahasia ladang gaibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinda yang Melongo Kaget!
Jalan masuk menuju Vila Dima terhubung langsung dengan pertigaan jalan raya Sidoarjo–Surabaya. Di depan jalan masuk itu, Bima mendirikan sebuah papan reklame raksasa bergambar landscape lautan bunga bugenvil agar langsung tertangkap mata pengendara yang berlalu lalang.
Berkat efek gila dari atribut Fotogenik (Instagramable) +3, foto promosi garapan studio Rendi benar-benar memancarkan nuansa artistik tingkat tinggi yang mampu menyihir siapa pun untuk menoleh dua kali.
Bima memutuskan tidak mengadakan acara Grand Opening yang heboh dengan potong pita atau marching band. Menurutnya, itu cuma buang-buang duit dan nggak ngaruh banyak ke jumlah pengunjung. Lebih baik langsung buka operasional seperti biasa.
Bima membelokkan mobil sewaannya melintasi gerbang dan parkir tepat di pelataran depan lobi utama. Hari ini adalah hari pembukaan, Yaya dan seluruh staf vila tampak sibuk berlalu-lalang merapikan segala persiapan.
Pak Manto sudah gagah mengenakan seragam chef putihnya. Fokus utamanya kini kembali ke dapur restoran, sementara urusan perawatan taman bugenvil sepenuhnya diserahkan kepada tiga tukang kebun baru yang khusus direkrut Bima.
"Pak Darman, tolong panggil anak-anak bantu nurunin kardus dari bagasi mobil saya bawa ke lobi. Daftar harganya udah saya tulisin semua, suruh Yaya display dan jual sesuai harga itu ya," instruksi Bima saat Kepala Regu Satpam itu tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Siap, Bos!" Pak Darman, yang sudah terbiasa melayani bosnya ini, langsung sigap memanggil anggotanya.
Setelah kardus berisi okra, stroberi, dan semangka itu diturunkan dan dibawa ke minimarket organik di lobi, Yaya dan crew gadis-gadis berseragam biru muda itu pun segera mendekat untuk menata barang.
Mereka tahu Bos Bima bakal menaruh produk pertanian dari supplier luar untuk dijual sebagai oleh-oleh bagi pengunjung.
Tapi begitu Yaya melihat kertas banderol harga yang tertempel di kardus... matanya nyaris melompat keluar. "Lho, Bos... ini harganya nggak salah tulis tah?! Semangka ini sekilo harganya Rp 200.000?!"
Keempat gadis pelayan lainnya ikut melongo.
Bukan cuma semangka! Stroberi di kotak sebelah dibanderol Rp 400.000 per kilogram, dan okra mungil itu dipatok di harga gila: Rp 800.000 per kilonya!
Sumpah, ini pasti Bos Bima salah nulis nol! Mana ada buah-buahan harganya selevel perhiasan emas begini?!
"Nggak salah tulis kok. Emang segitu harganya," Bima menjawab santai.
Melihat tatapan sangsi dari Yaya dan kawan-kawannya, Bima menoleh ke arah dapur dan memanggil, "Pak Manto! Tolong bawa satu semangkanya ke dapur, dipotong-potong terus bagiin ke anak-anak biar pada tester!"
Mendengar perintah Bima, semua karyawan di situ saling bertatapan tak percaya. Orang awam macam mereka mana pernah ngebayangin ada semangka yang harganya tembus dua ratus ribu per kilo.
Pak Manto, dengan sigap membelah semangka jumbo itu. Tentu saja sebagai koki, instingnya tahu buah ini bukan barang sembarangan. Ia menyajikan potongan semangka segar berwarna merah merona itu di atas nampan dan membagikannya ke semua staf.
Yaya dan para gadis itu mengambil sepotong semangka dengan ragu-ragu. Kalau harganya segila ini, apa iya rasanya seenak itu?
Tapi begitu potongan semangka itu menyentuh lidah Yaya...
Gadis imut itu refleks membelalakkan matanya dan nyaris menggingit lidahnya sendiri! ENAK BANGET!
"Astaga, kok ada semangka seenak ini?!" jerit salah satu pelayan, heboh.
"Sumpah, ini manisnya beda! Krenyes-krenyes seger, mana aftertaste-nya wangi banget!" Yaya mengangguk liar saking setujunya.
Efek gabungan dari atribut gaib Lezat +2, Manis +2, Tekstur +2, Sisa Rasa +2 benar-benar ngasih sensasi foodgasm brutal tanpa ampun!
Setelah menelan semangka itu, otak Yaya dan gadis-gadis lainnya cuma punya satu kesimpulan: Pantes aja harganya gila, kualitasnya emang semengerikan ini!
Bahkan Pak Manto yang lidahnya udah puluhan tahun mengecap berbagai masakan pun dibuat berdecak kagum. "Bos Bima, seumur hidup saya blusukan cari bahan masakan, baru kali ini saya nemu buah sesakti ini! Ini pasti buah hasil persilangan mutan ya?"
"Betul, Pak Manto. Ini semangka spesies mutan terbaru. Di pasaran luar nggak bakal nemu, cuma di sini satu-satunya yang jual," sahut Bima bangga.
Ya jelas dong, Kualitas 2 sistem gaib gitu lho! Kalau nggak dibilang spesial, terus apa coba?
Sambil mengunyah, otak bisnis Yaya mendadak nyambung. "Eh Bos, tapi kan di rak sini cuma ada barang sultan semua. Nggak ada display buah yang versi murah gitu tah?"
"Masalahnya, walaupun kita udah pasang label harga gede-gede, tetep aja bakal ada turis udik nan resek yang iseng nge-videoin terus di-upload ke sosmed pake caption clickbait 'VILA GETOK HARGA SEMANGKA 200 RIBU SEKILO'. Urusannya bisa ribet kalau digoreng netizen Indo yang emang hobi sumbu pendek, Bos!" imbuh Yaya khawatir.
Perkataan Yaya langsung menampar kesadaran Bima.
Wah, bener juga tuh bocah!
Biarpun dia udah nerapin sistem 'Harga Pas Sesuai Label' dan 'Nggak Maksa Beli', tetep aja nggak bisa ngebendung mulut usil netizen kurang literasi yang kerjanya cuma judge dari potongan video 15 detik! Kasus beginian emang sering kejadian di tempat wisata lokal.
Tapi gampang ngakalinnya. Dia tinggal nanam semangka dan okra Kualitas 1 di dua petak Lahan Tingkat 1 miliknya. Kalau hasil panen Kualitas 1 disandingin sama yang Kualitas 2, perbedaannya bakal langsung kelihatan!
Biar lebih meyakinkan, dia harus nyetok buah dan sayur versi standar dari supplier luar! Nanti semangka Kualitas 1 (produksi game) dia banderol agak mahal dikit, Rp 20.000 sekilo. Dan semangka standar dari pasar grosir dia hargain Rp 15.000 sekilo.
Sama halnya dengan okra. Okra grosir biasa dijual Rp 30.000 sekilo, okra Kualitas 1 dijual Rp 60.000 sekilo, baru okra Kualitas 2 dijual Rp 800.000 sekilo!
Stroberi juga gitu: Standar impor Rp 50.000 sekilo, Kualitas 1 Rp 80.000 sekilo, dan Kualitas 2 dipatok Rp 400.000 sekilo.
Kalau turis iseng mau nge-viralin, dia tinggal tantang blind test di depan publik. Potong ketiganya dan biarkan netizen yang nge- judge perbedaan rasanya. Mulut usil dijamin langsung mingkem! Orang bodoh aja tahu kalau buah kasta dewa emang wajar dibanderol selangit.
Dapet ide itu, Bima langsung meratakan dua petak lahan okranya di game dan menabur benih semangka. Setelah itu, ia meminjam motor Tossa-nya, meluncur kilat ke Pasar Induk Kabupaten Jatiroso, lalu memborong stok semangka dan stroberi standar untuk dibawa balik ke vila.
Solusi krisis pencitraan, tuntas! Terkait perubahan supply dan harga selanjutnya, tinggal di- adjust sesuai tren penjualan harian nanti.
Selesai mengurus itu semua, Bima meluncur pulang ke rusunnya. Ia mandi kilat, berganti baju, lalu pergi ke agen rental mobil di pusat kota dan menyewa sebuah mobil SUV keluarga.
Hari ini dia bakal memboyong Dinda dan ibunya ke vila, nggak lucu kalau harus jejalan naik motor listrik!
Begitu mobil sewaan itu merapat di area rusun, Bu Laras sudah terlihat mondar-mandir menunggu dengan raut wajah berbinar. Di sebelahnya ada Hoki, si anjing herder pintar itu.
Hari ini Bu Laras tampil beda. Ia memakai dress batik terbaiknya dan merias wajahnya tipis. Bahkan, Hoki pun dipakaikan baju peliharaan yang lucu!
Semenjak Bima sibuk mengurus proyek vila, Bu Laras lah yang rajin mengajak Hoki keliling rusun jalan pagi. Saking gemesnya melihat anjing pintar itu, ia membelikannya baju khusus pet.
Beban utang ratusan juta yang sirna benar-benar mengubah aura Bu Laras 180 derajat. Matanya memancarkan rasa bangga dan bahagia luar biasa karena bisnis putranya hari ini resmi Grand Opening.
"Guk! Guk!" Hoki menggonggong riang menyambut kedatangan Bima. Begitu pintu mobil dibuka, anjing hitam itu langsung melompat masuk menempati kursi belakang.
Bima membukakan pintu depan untuk ibunya, lalu tancap gas menuju kawasan Perumahan Pesona Wetan untuk menjemput istri tercintanya.
Dinda ternyata sudah berdiri stand by di trotoar depan pintu gerbang kompleks.
Begitu mobil Bima berhenti, Dinda langsung mengenali pelat nomor yang dikirimkan Bima sebelumnya. Ia membuka pintu dan masuk ke kursi penumpang belakang.
"Pagi, Ibu!" sapa Dinda ceria, langsung mencondongkan tubuhnya ke depan mencium tangan Bu Laras.
Bu Laras membalasnya dengan senyum lebar semringah, meraih tangan menantunya itu dengan penuh kasih. Sejak dulu ia memang sudah jatuh hati pada gadis cantik ini. Apalagi mengingat Dinda tetap setia menemani Bima di saat keluarga mereka sedang hancur-hancurnya terlilit utang.
Sekarang, satu-satunya doa Bu Laras cuma pengen ngeliat Bima buru-buru bawa Dinda ke pelaminan secara resmi biar sah di mata keluarga besar!
"Guk! Guk!" Hoki ikut-ikutan caper, menyodorkan kepalanya yang besar ke pangkuan Dinda, minta dielus.
"Eh, Hoki ganteng amat pake baju baru!" Dinda tertawa geli sambil mengusap-usap kepala anjing itu.
Mobil mulai melaju pelan meninggalkan area Jatiroso, mengarah ke jalur lintas kota.
Awalnya, Bu Laras asyik menikmati perjalanan, kepalanya dipenuhi ekspektasi tinggi soal wujud 'agrowisata' buatan anaknya itu.
Namun, semakin jauh mobil melaju, Dinda malah makin mengernyitkan dahinya bingung.
Jalur ini kan... arah ke eks Vila Tirta Kencana?
Saking khawatirnya, Dinda akhirnya tak tahan untuk protes, "Mas Bima, Sampeyan buka agrowisata kecil-kecilannya di area sini?! Sampeyan tahu nggak sih kalau di wilayah ini tuh udah dikuasai sama Vila Tirta Kencana?!"
Sebagai istri, Dinda ketar-ketir suaminya bakal rugi bandar. Ngapain coba buka warkop lesehan wisata ecek-ecek di deket tempat wisata raksasa yang udah viral di videotron itu?! Pasti bakal sepi pengunjung karena kalah pamor! Kalau Bima sampai kehabisan modal di sini, mau dia gelontorin tabungan Rp 50 Jutanya pun nggak bakal nahan operasional agrowisata yang mati segan hidup tak mau!
Namun, omelan Dinda seketika terhenti saat mobil SUV itu membelok masuk melintasi gerbang utama dan parkir di pelataran... VILA DIMA!
Tunggu... Vila Dima?!
Lho, kok parkirnya di sini?!
Otak cerdas Dinda tiba-tiba menyambungkan dua variabel penting yang selama ini tak ia pedulikan: Nama Vila Dima (Dinda-Bima)... dan si Sultan misterius pemenang lelang Vila Tirta Kencana senilai Rp 2,4 Miliar!
Jadi... Sultan lelang itu tuh Mas BIMA?!
Kesimpulan gila ini membuat Dinda merasa seolah sedang bermimpi di siang bolong. Dia tahu betul kondisi ngenes ekonomi keluarga suaminya itu! Uang dua miliar itu turun dari langit mana coba?!
"Pagi, Bos Bima!"
Sapaan lantang penuh hormat dari Pak Darman, yang sedang berjaga di pos parkir, sukses memecah lamunan Dinda.
Tebakan gilanya seratus persen tervalidasi!
Dinda menoleh ke arah Bima dengan mulut menganga lebar, matanya membelalak horor. "Mas Bima... ini... iki maksudnya gimana?!"
Bu Laras yang baru turun dari mobil juga tak kalah melongo. Matanya menyapu kemegahan bangunan aula dan luasnya area parkir di depannya.
Ekspektasinya soal 'agrowisata saung bambu 80 jutaan' hancur lebur! Tempat ini ukurannya gila-gilaan mewahnya!
Mendengar nada bicara menantunya yang shock, Bu Laras buru-buru membantu putranya memberikan 'klarifikasi'.
"Dinda sayang, Bima ini lagi ketiban hoki besar! Kemarin-kemarin dia nangkep ikan hias gaib di sungai, eh laku dibeli miliarder tembus miliaran rupiah! Terus duitnya diputer buat bisnis grosir, nah sisa cuannya baru dipake buat ngebangun tempat ini!" jelas Bu Laras dengan wajah berseri-seri penuh kebanggaan.
Dinda merespons dengan kerutan dahi yang makin dalam.
Ikan miliaran?! Bisnis grosir?! Nggak masuk akal!
Dinda tahu persis data aset lelang Vila Tirta Kencana itu laku di angka Rp 2,4 Miliar. Belum lagi untuk membangun lautan bunga super megah yang viral di videotron mal itu, pastinya butuh modal miliaran lagi! Kalau total modalnya digabungin, angkanya nggak mungkin bisa ketutup cuma dari jual ikan hias doang!
Tapi melihat ibu mertuanya tampak sangat bahagia, Dinda memilih untuk menelan kembali segala pertanyaan tajamnya. Nanti saja dia introgasi suaminya saat mereka sedang berduaan.
"Ayo Bu, kita masuk liat ke dalem!" Dinda dengan lembut menggandeng lengan Bu Laras.
Kedua wanita itu berjalan berdampingan layaknya ibu dan anak kandung, sementara Bima malah ditinggal di belakang mirip asisten sopir yang ngekor majikannya.
Tak jauh melangkah, langkah Dinda dan Bu Laras serempak terhenti. Mata mereka terpaku pada hamparan lautan warna-warni yang membentang eksotis di arah utara.
"Masyaallah... Bim, itu lautan bugenvil ya?! Cantik banget Gusti!" Bu Laras memekik kagum, tangannya sampai menutup mulut.
Di sebelahnya, Dinda juga menatap lautan bunga itu dengan raut wajah campur aduk.
Ini persis banget sama video promosi yang bikin Mbak Ririn heboh semalam!
Mbak Ririn sempat iseng bercanda kalau 'Vila Dima' itu singkatan nama Dinda-Bima. Sumpah, kalau Mbak Ririn tahu candaannya itu ternyata 100% fakta, rahang kakak iparnya itu pasti udah copot jatuh ke lantai!
Detik berikutnya, hati Dinda mendadak berdesir halus.
Ingatannya melayang ke malam saat ia lembur mengecek dokumen aset sitaan di kamar hotel waktu itu. Dinda ingat betul, saat Bima nanya soal kelayakan lahan vila ini, ia merespons santai dengan ide: "Kalau lahan kosongnya dibikin lautan bunga bugenvil pasti magis banget."
Siapa sangka, celetukan receh tak berdasarnya itu benar-benar diwujudkan oleh Bima secara nyata, dan semegah ini!
Dinda memutar kepalanya, menatap Bima dengan kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca. Sorot matanya memancarkan rasa haru, cinta, dan kekaguman yang teramat dalam pada pemuda yang telah menjadi suaminya itu.
Melihat tatapan mematikan Dinda yang super intens dan menggoda itu, Bima langsung salah tingkah. Darah di tubuhnya berdesir nakal.
Wah, fix malem ini energi kudu di-charge full pake okra Kualitas 2! Habis itu booking hotel kamar VVIP lagi! batin Bima ngeres.
Namanya juga hari Grand Opening, wajar dong kalau dirayakan dengan cara yang 'spesial' bareng istri sendiri?