Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Berita Kematian
Kaelros sungguh menyukai kegiatan berburu. Mungkin itu memang hiburan paling populer di negeri ini. Hampir setiap musim, rombongan besar berangkat dari istana menuju area hutan terdekat. Berita soal kemunculan hewan buas yang menewaskan seorang ksatria seolah tidak pernah ada.
“Hutan Askhad berbeda dengan Karne. Terletak lebih di utara sehingga jauh dari Hutan Selubung Maut. Tidak akan ada bahaya!”
“Lord Rihelm sudah mengurus perburuan istana selama dua puluh lima tahun. Dia adalah ahlinya. Segala tindakan pencegahan sudah dilakukan untuk memastikan keamanan.”
“Kabarnya ini adalah musim di mana Rusa Tanduk Bulan sering terlihat! Mendapatkan hewan sihir itu adalah pertanda keberuntungan dan kesejahteraan selama lima tahun!”
Bla bla bla.
Aku mendengarkan obrolan orang-orang itu sambil menguap lebar-lebar.
Mungkin seperti bermain video game atau judi; orang-orang ini seperti kecanduan dengan adrenalin yang didapat dari berburu.
Jovienne juga sama saja.
Gadis itu memang selalu menyukai aktivitas fisik. Dengan Raien yang masih tidak kelihatan batang hidungnya, tuan putri itu semakin bersemangat untuk menjadi pemenang.
Tidak punya hal lain untuk dilakukan, pada akhirnya aku pun memutuskan untuk menemani Jovienne. Patut diakui, melihatnya membidik dan mengenai target dengan telak itu cukup memuaskan.
Selain itu, ini pertama kalinya aku ke Hutan Askhad. Tidak ada salahnya memeriksa daerah baru.
...*...
...*...
...*...
Rombongan itu berangkat sejak pagi. Hujan turun cukup deras semalam. Aroma tanah basah menyatu dengan embun yang menggantung di atas daun. Burung berkicau merdu, kepak sayapnya terdengar lembut di antara dedaunan.
Perburuan itu berlangsung seperti biasa. Jovienne sudah mendapatkan tiga ekor babi hutan dan baru saja menjatuhkan seekor beruang hitam; bukan target buruan utama, namun tetap terhitung sebagai pencapaian. Suara terompet mengumumkan skornya yang berada di posisi dua, tepat setelah Kaisar. Hari itu, entah karena alasan apa, Caelian tidak mendapatkan banyak poin.
Kaisar Lucerian yang berada tak jauh dari sana, tertawa keras. “Tuan Putri dari Solmara memang tidak bisa dianggap remeh! Tampaknya aku tidak boleh lengah.”
Jovienne membungkuk di atas kudanya. “Yang Mulia terlalu baik. Saya masih perlu banyak berlatih.”
Kaisar kembali tertawa.
Dia tampak hendak mengatakan hal lain, namun, mendadak saja berhenti. Rahangnya terkatup rapat. Ekspresinya tiba-tiba mengeras.
Di waktu bersamaan, aku merasakan udara tiba-tiba berubah dingin. Padahal ini sudah masuk musim panas. Aku tidak bisa menjelaskan apa, tapi, aku tahu ada yang salah.
Hutan itu mendadak sepi—terlalu sepi. Angin kencang berhembus menggoyang ranting dan dahan pepohonan. Lalu, aku menciumnya. Aroma busuk yang begitu pekat. Berat. Menyesakkan. Terlepas dari matahari yang bersinar di atas kepala, langit tiba-tiba terasa gelap. Seolah-olah ada bayangan besar yang muncul dan membungkus area itu dalam tabir hitam.
Tubuhku gemetar. Ada ketakutan yang tidak bisa aku jelaskan. Sesuatu sedang bergerak mendekat. Presensi absolut yang tidak terelakkan. Membawa serta aroma kematian.
Sebelum sadar, aku sudah berlari. Tidak tahu ke mana. Yang jelas, aku harus pergi. Jauh dari sana.
Samar-samar aku mendengar teriakan Jovienne.
Tapi, aku tidak bisa berhenti.
Di depan, aku melihat batu besar dengan celah di antaranya, dan memutuskan untuk bersembunyi di sana.
Aku akan aman di sana, pikiran itu melintas begitu saja.
Tanpa banyak berpikir, aku melompat, menyelipkan tubuhku di antara celah. Seketika, tempat familiar itu kembali muncul di hadapanku.
Apartemenku di Tokyo.
Ruangan tak seberapa besar dengan meja kotatsu rendah, tirai biru yang hampir selalu menutupi jendela, dan aroma osmanthus dari pengharum di sudut ruangan. Persis seperti yang aku ingat.
Apakah aku kembali—
Belum selesai aku mempertanyakan apapun, aku mendengar raungan.
Ketika membalik tubuh ke arah kedatangan, Hutan Askhad kembali di hadapanku. Hanya saja, pandanganku kabur, seolah ada secarik kain tipis yang menutupi kepala dan menghalangi pandanganku.
Ada dua makhluk besar tiba-tiba ada di sana. Makhluk—yang tidak menyerupa binatang manapun, dan mirip banyak binatang secara sekaligus. Bentuknya terdistorsi, berubah-ubah seperti amoeba yang hendak membelah diri. Matanya—sepertinya itu mata—nyalang menyala merah, bergerak ke sekeliling seperti mencari sesuatu. Mereka bergerak dengan cara yang tidak wajar. Gelap sosoknya seolah menyedot cahaya dan udara di sekitar.
Makhluk itu mendekati Jovienne!
Aku memekik berusaha memanggilnya.
Tapi, Jovienne seolah tidak mendengar. Gadis itu menarik keluar pedang kembarnya dan menerjang tanpa ragu.
‘Gadis bodoh! Pergi dari sana!’
Aku berteriak. Berulang kali memanggil sampai rasanya tenggorokanku sakit.
Jovienne terlempar dan membentur pohon.
Dua makhluk misterius itu tidak lagi mengincar Jovienne. Mereka bergerak ke arah lain.
Aku berlari menghampiri gadis itu. Aku tidak tahu seberapa parah lukanya, tapi tampaknya Jovienne masih bisa bergerak. Ia mengerang dan berusaha bangkit. Salah satu pedangnya ditancapkan ke tanah sebagai topangan.
“Lumi!!” Ia tiba-tiba berteriak. “LUMI KAU DI MANA??”
‘Aku di sini, bodoh!’
Aku menyalak, membalas panggilannya dan melompat-lompat di depannya.
Tapi, gadis itu tidak melihat ke arahku. Dia malah menoleh ke sana kemari dengan wajah panik.
‘Hey! Jovienne!! JOVIENNE!!!’
Gadis itu berlari.
Menjauh.
Apa dia tidak mendengarku??
Bagaimana bisa dia tidak melihatku padahal aku ada di hadapannya??!
Sambil mengumpat dan mengujar serapah atas kebodohan gadis itu, aku berlari mengejar Jovienne.
Di depan, aku melihat sejumlah pengawal membuat barikade. Pedang terhunus mengepung dua makhluk bayangan tadi. Mereka tidak menyerang, hanya memerangkap, mengunci pergerakan.
Sepertinya, kondisi sudah berhasil dikendalikan.
Lalu,
Makhluk itu lenyap. Hilang di udara kosong.
Bersamaan dengan itu, pandanganku kembali jernih, seakan tabir yang membungkus kepalaku dilepas.
Dan Jovienne menoleh. Suaraku terdengar olehnya.
“LUMI!”
Gadis itu serta merta membawaku dalam peluknya. Untuk kali ini, aku tidak memprotes biarpun lengannya mendekap terlalu erat sampai terasa sesak. Untuk hal yang tidak bisa aku jelaskan, aku sendiri merasa… lega, kembali dipeluk olehnya.
“Kau dari mana?? Kau sungguh membuatku takut! Kupikir chimera tadi memakanmu!”
Chimera?
“YANG MULIA!!”
“KAISAR LUCERIAN!!!”
Teriakan-teriakan panik itu memutus pertanyaan di kepalaku.
Di sana, di antara barisan pengawal yang menjaganya rapat, Kaisar Kaelros roboh ke tanah. Tubuhnya terjatuh dari kuda. Tanpa tanda. Tanpa aba-aba. Hanya wajahnya yang membeku dalam raut ketakutan. Mentah. Murni.
Tubuhku bergidik, merasakan ngeri yang tak bisa kujelaskan.
Kaisar Lucerian telah wafat.