Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Setelah urusan akad nikah selesai, hari itu belum benar-benar berakhir bagi Erlan, Linda, dan Kirana. Justru, bagi Kirana, bagian paling penting dari hari itu baru saja dimulai. Sejak keluar dari kantor agama, gadis kecil itu tidak berhenti bertanya.
“Papa, kucing di pet shop itu lucu tidak?” tanyanya untuk kesekian kali, duduk di kursi belakang sambil menggoyangkan kaki.
Erlan yang menyetir hanya melirik lewat kaca spion, lalu tersenyum tipis. “Kamu akan lihat sendiri nanti.”
“Tapi sama seperti kucing tetangga tidak?”
“Mungkin lebih bagus.”
Jawaban itu langsung membuat mata Kirana berbinar. Ia menoleh ke arah Linda yang duduk di depan.
“Mama, nanti Kirana boleh pilih sendiri, kan?”
Linda menarik napas pelan. “Boleh. Tapi tidak semuanya.”
Kirana mengangguk cepat, meski jelas ia belum sepenuhnya memahami maksud ibunya.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah pet shop yang cukup besar. Bangunannya terlihat bersih dengan kaca lebar di bagian depan, memperlihatkan berbagai perlengkapan hewan peliharaan yang tertata rapi di dalam.
“Sudah sampai,” ujar Erlan.
Ia turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Kirana. Tanpa menunggu lama, ia langsung menggendong putrinya dan berjalan masuk.
Suara lonceng kecil berbunyi saat pintu dibuka.
Seorang pria yang sedang membersihkan kandang menoleh. Begitu melihat Erlan, wajahnya langsung berubah cerah.
“Lan!” serunya sambil mendekat.
“Gilang,” jawab Erlan santai.
Namun langkah Gilang terhenti saat melihat Linda dan Kirana. Ia mengernyit, jelas kebingungan.
“Ini siapa?” tanyanya tanpa basa-basi.
Erlan menepuk bahu Kirana dengan lembut. “Ini Kirana, anakku.”
Lalu ia menoleh ke Linda. “Dan ini Linda, istriku.”
Gilang terdiam beberapa detik, lalu tertawa pelan. “Sejak kapan kamu punya istri? Jangan bilang kamu bercanda lagi.”
“Setengah jam yang lalu,” jawab Erlan tanpa perubahan ekspresi.
Gilang langsung tertawa lebih keras. “Kamu ini. Jarang sekali bercanda, sekalinya begini.”
“Aku tidak bercanda.”
Tawa itu perlahan berhenti. Gilang menatap Erlan lebih serius, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan.
Namun tidak ada.
“Serius?” tanyanya lagi.
Erlan hanya mengangguk singkat.
Gilang menghela napas, lalu menggeleng sambil tersenyum. “Aku benar-benar ketinggalan kabar.”
Sementara itu, Kirana yang sedari tadi mendengarkan dengan sabar akhirnya kehilangan kesabaran.
Ia menarik lengan Erlan pelan. “Papa… kucingnya di mana?”
Gilang langsung tertawa kecil mendengar itu. “Nah, ini pelanggan paling penting.”
Ia berjongkok sejajar dengan Kirana. “Mau lihat kucingnya?”
“Iya!”
“Ayo ikut Om.”
Tanpa menunggu lama, Kirana turun dari gendongan Erlan dan mengikuti Gilang dengan langkah kecil yang penuh semangat. Erlan berjalan di belakang mereka, sementara Linda ikut menyusul sambil memperhatikan sekeliling.
Bagian dalam pet shop itu jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Deretan kandang tersusun rapi, masing-masing berisi hewan berbeda.
Kirana berhenti di depan kandang pertama. Di dalamnya, beberapa anak kucing sedang bermain, saling kejar dan sesekali mengeong pelan.
“Lucu sekali…” gumamnya.
Ia menempelkan tangan ke kaca, matanya tidak berkedip.
Namun tidak lama kemudian, perhatiannya berpindah.
“Itu apa?” tanyanya sambil menunjuk ke kandang lain.
“Itu hamster,” jawab Gilang.
Kirana langsung mendekat. “Kecil sekali…”
Ia tertawa kecil melihat hamster itu berlari di dalam roda.
Lalu ia melihat kandang lain lagi. “Kalau yang itu?”
“Itu kuskus,” jawab Gilang.
Kirana membulatkan mata. “Lucu…”
Ia berjalan ke sana kemari, seolah semua hewan di tempat itu menarik perhatiannya. Linda memperhatikan dengan senyum tipis, sementara Erlan tetap tenang mengawasi dari belakang.
“Aku mau ini… sama itu… sama yang tadi juga…” kata Kirana tanpa ragu.
Linda langsung mendekat. “Tidak bisa semuanya.”
“Tapi semuanya lucu, Ma…”
“Pilih satu saja,” ujar Linda dengan nada lembut tapi tegas.
Kirana terdiam. Wajahnya mulai menunjukkan kebingungan. Ia kembali melihat-lihat, kali ini lebih serius.
Langkahnya akhirnya berhenti di depan satu kandang berisi dua anak kucing kecil. Yang satu berbulu putih bersih, sementara yang lain berwarna abu-abu lembut.
Keduanya terlihat saling mendekat, seolah tidak terpisahkan.
Kirana berlutut di depan kandang itu, menatap lama.
“Papa…” panggilnya pelan.
Erlan mendekat. “Yang ini?”
Kirana mengangguk. “Kirana mau yang ini… dua-duanya.”
Linda yang mendengar langsung menoleh. “Dua?”
Kirana mengangguk cepat. “Iya.”
Erlan melirik ke arah Gilang. “Bagus.”
Gilang tersenyum. “Pilihan yang bagus. Ini kucing dari Rusia. Kalau sudah besar, bulunya tebal dan sangat lembut.”
Linda mengerutkan kening. “Dari Rusia?”
“Iya,” jawab Gilang santai. “Dan harganya juga tidak biasa.”
“Berapa?” tanya Linda, mulai waspada.
Gilang melirik Erlan sejenak, lalu berkata, “Untuk Erlan, enam puluh juta.”
Linda langsung terdiam. “Enam puluh juta?”
“Untuk dua ekor,” tambah Gilang.
“Itu masih mahal,” ujar Linda pelan, jelas tidak setuju.
Gilang mengangkat bahu. “Kalau sudah dewasa, bisa sampai sembilan puluh atau seratus juta.”
Linda menggeleng. “Ini terlalu mahal. Kirana, pilih yang lain saja.”
Kirana langsung memeluk kaki Erlan. “Tidak mau… Kirana mau yang ini…”
Suaranya mulai bergetar.
“Kirana,” kata Linda mencoba menenangkan, “kita cari yang lain, ya.”
“Tapi Kirana suka yang ini…”
Air matanya mulai menggenang.
Erlan menatap Linda. “Biarkan saja.”
Linda menatapnya tajam. “Ini bukan soal bisa atau tidak.”
“Aku tahu,” jawab Erlan tenang. “Tapi dia benar-benar menginginkannya.”
Kirana mulai merengek pelan. “Papa…”
Erlan mengusap kepalanya. “Sudah, tidak apa-apa.”
Linda menghela napas panjang. Ia terlihat ragu, jelas masih mempertimbangkan.
Namun melihat wajah Kirana yang hampir menangis, ia akhirnya menyerah.
“Baiklah,” katanya pelan. “Tapi kamu harus merawatnya dengan baik.”
Kirana langsung tersenyum lebar. “Iya, Ma!”
Ia berdiri dengan penuh semangat, kembali menatap kedua anak kucing itu.
“Om, yang ini!” katanya pada Gilang.
Gilang tertawa kecil. “Baik.”
Ia membuka kandang dan mengangkat kedua anak kucing itu dengan hati-hati, lalu menyerahkannya pada Kirana.
“Sekarang mereka milikmu.”
Kirana menerima dengan penuh kehati-hatian. “Halo…”
Ia memeluk keduanya dengan lembut, wajahnya penuh kebahagiaan.
“Namanya siapa?” tanyanya.
Gilang tersenyum. “Sekarang kamu yang kasih nama.”
Kirana terdiam, berpikir keras. “Hmm…”
Ia menatap kucing putih, lalu yang abu-abu.
“Aku tidak tahu…”
Gilang tertawa pelan. “Kalau begitu, Om bantu.”
Ia menunjuk kucing putih. “Yang ini Yeti.”
Lalu menunjuk yang abu-abu. “Yang ini Loly.”
Kirana mengulang perlahan. “Yeti… Loly…”
Ia tersenyum lebar. “Bagus!”
Ia langsung memanggil keduanya. “Yeti! Loly!”
Kedua kucing itu mengeong pelan, seolah merespons.
Gilang kemudian berjalan sebentar dan kembali dengan sebuah kandang kecil.
“Ini bonus,” katanya sambil menyerahkan kandang itu.
Kirana semakin senang. “Terima kasih, Om!”
Ia lalu menatap kedua kucing itu lagi. “Om, mereka berbahaya tidak?”
Gilang tersenyum. “Tidak. Om sudah potong kuku mereka, jadi tidak akan melukai kamu.”
Kirana mengangguk puas.
Sementara itu, perhatian Erlan mulai beralih ke bagian lain dari pet shop. Ia mendekati kandang yang berisi hewan berbeda.
“Ini menarik,” katanya.
Gilang menoleh. “Oh, itu piton albino. Dan yang di sana iguana.”
Erlan tampak tertarik, memperhatikan dengan seksama.
Namun belum sempat ia berkata lebih jauh, suara Linda langsung terdengar.
“Jangan macam-macam.”
Erlan menoleh. “Apa?”
Linda menatapnya tajam. “Jangan bilang kamu tertarik membawa pulang itu juga.”
Erlan tersenyum tipis. “Hanya lihat.”
“Cukup lihat saja,” balas Linda cepat. “Jangan sampai nanti Kirana minta itu juga.”
Kirana yang mendengar justru menoleh. “Itu apa, Pa?”
“Tidak apa-apa,” jawab Linda cepat sebelum Erlan sempat bicara.
Gilang menahan tawa.
Erlan hanya mengangkat bahu, seolah tidak ingin memperpanjang.
Sementara itu, Kirana kembali fokus pada dua kucing kecil di tangannya. Dunia seolah hanya berisi dirinya dan dua makhluk kecil itu.
Hari itu, yang awalnya hanya tentang akad nikah sederhana, berubah menjadi hari yang penuh cerita baru.
Dan di tengah semua itu, mereka bertiga mulai menemukan arti menjadi sebuah keluarga.