NovelToon NovelToon
Calamity Ex Machina

Calamity Ex Machina

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Manusia Ikan

Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.

​Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 1 -BAB 3 -PAHLAWAN (2)

Setelah Elian dinobatkan sebagai pahlawan, ia memberikan hormat terakhir sebelum kembali ke barisannya dengan langkah tegap. Keheningan kembali menyelimuti ruang takhta saat Kaisar Lysander kembali bersuara.

"Selanjutnya," suara Kaisar bergema, "kita akan mengangkat Kepala Penelitian yang akan menjadi otak di balik ekspedisi sang pahlawan kali ini!"

Seketika, Arta merasakan firasat buruk. Sebuah peringatan tak kasat mata berdenyut di benaknya—insting yang muncul setiap kali sesuatu yang tidak ia sukai akan terjadi.

Jangan bilang... bisik Arta dalam hati, jemarinya meremas pinggiran jubah sihirnya.

"Arta Valerion, majulah ke depan dan terimalah kehormatan ini!" seru Kaisar dengan lantang.

​Arta menarik napas panjang, mencoba menekan kegugupannya saat melangkah maju. Ia sudah memperkirakan bahwa hari ini akan datang, namun tetap saja, kenyataan ini terasa menyesakkan. Ia sadar sepenuhnya bahwa ini bukanlah sebuah penawaran yang bisa ditolak; ini adalah titah mutlak yang harus dipenuhi sebagai abdi Kekaisaran.

Sesampainya di titik yang sama di mana Elian berdiri sebelumnya, Arta berlutut dengan anggun.

​"Di masa lalu, pahlawan kita dikelilingi oleh rekan-rekan setia yang membantunya di saat sulit, saling menghibur, dan bersama-sama juga menjaga kepercayaan dengan saling melindungi satu sama lain," Kaisar memulai ritualnya dengan nada khidmat. "Dan di depanku sekarang adalah Arta Valerion, penyihir berbakat terbaik di era ini. Aku menginginkan engkau untuk terus berada di sisi sang pahlawan sebagai sosok yang menopangnya dalam menghadapi bahaya. Apakah engkau bersedia, Arta Valerion?"

Arta terdiam sejenak. Ia tahu jawabannya sejak awal, namun keraguan dan bayangan kengerian pertempuran nyata yang ia lihat di rekaman Nebula masih menyisakan ketakutan di lubuk hatinya. Namun, mengingat tanggung jawabnya, ia mendongak dengan tatapan mantap.

"Saya bersedia, Yang Mulia," ucap Arta tegas.

​Kaisar meletakkan ujung pedangnya di pundak Arta, melakukan ritual suci yang sama. Dengan itu, Arta resmi diangkat sebagai Kepala Penelitian sekaligus rekan ekspedisi sang pahlawan.

Sorakan gembira memenuhi ruangan, namun Arta bisa menangkap kilat ketidaksenangan dari beberapa wajah bangsawan yang merasa tersaingi—sama seperti atmosfer kompetitif yang biasa ia rasakan di Akademi.

Acara formal yang melelahkan itu akhirnya ditutup dengan pesta dansa dan jamuan mewah. Meskipun musik mengalun indah dan makanan lezat tersedia berlimpah, Arta merasa energinya terkuras habis. Ia memutuskan untuk menyelinap keluar, mencari udara segar di paviliun taman istana yang tenang.

​Di sana, udara sejuk pegunungan membelai kulitnya, membawa aroma bunga yang menenangkan. Arta menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang seluruh stres yang menumpuk selama beberapa hari terakhir.

Aku harap aku bisa menikmati ketenangan seperti ini lebih lama, ucap batinnya dengan lesu.

Tiba-tiba, setangkai bunga mawar muncul tepat di samping wajahnya, mengejutkannya hingga ia tersentak kecil.

​"Ah! Bunga?"

​Arta menoleh cepat, dan tepat seperti dugaannya, pelakunya adalah Elian. Senyum nakal khas kesatria itu terasa tidak berubah.

"Elian!" seru Arta dengan girang. Tanpa peduli lagi pada etiket bangsawan, ia langsung memeluk erat kekasihnya itu.

​"Apa kamu merindukanku?" tanya Elian, membalas pelukan itu dengan dekapan hangat yang sangat Arta rindukan.

​"Tentu saja! Kita sudah lebih dari empat bulan tidak bertemu dan hanya bisa bertukar surat," keluh Arta, menyembunyikan wajahnya di dada Elian.

​"Haha, itu benar. Sepertinya kita berdua memang ditakdirkan menjadi orang yang sangat sibuk, ya?" Elian terkekeh pelan.

​Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang hangat di bawah naungan paviliun.

Sesekali, pelayan datang untuk mengantarkan kue-kue ringan dan mengisi ulang teh mereka yang mulai dingin. Untuk beberapa jam, ancaman dari bulan seolah sirna, digantikan oleh kebahagiaan sederhana di antara mereka.

Hingga langit berubah menjadi jingga keemasan, Elian mengantar Arta kembali ke asrama penyihir menggunakan kereta kuda istana.

​"Kita sudah sampai. Ini benar-benar hari yang menyenangkan," ucap Elian saat kereta berhenti di depan asrama.

"Iya, tapi rasanya terlalu singkat..." Arta menatap Elian dengan penuh harap. "Apa besok kau masih punya waktu di ibu kota?"

​"Tentu. Besok adalah hari di mana kita harus menentukan anggota inti untuk tim ekspedisi nanti," jawab Elian.

​Meski bukan jawaban romantis yang ia harapkan, Arta tetap tersenyum manis. "Benarkah? Aku tidak sabar menunggunya."

​"Baiklah, aku akan kembali sekarang—" Elian berbalik untuk naik ke kereta.

​Namun, Arta dengan cepat menarik tangan Elian, membuatnya berbalik, lalu memberikan ciuman kecil yang cepat di pipinya. Sontak, Arta menjadi sangat malu dan gugup.

"Sa-sampai jumpa esok! Dadah!" seru Arta sambil berlari masuk ke asrama dengan senyum lebar di wajahnya yang memerah.

​Elian berdiri mematung sejenak, lalu menyentuh pipinya sambil tersenyum tipis. "Kau masih pemalu seperti dulu," gumamnya pelan.

​Pikiran Elian terbang kembali ke hari di mana mereka pertama kali bertemu—hari saat mereka dipertemukan dalam perjodohan yang telah ditentukan oleh kedua orang tua mereka. Siapa sangka, kewajiban itu kini telah berubah menjadi sesuatu yang ingin ia lindungi dengan nyawanya sendiri.

​Elian naik ke kereta kuda dengan senyum yang belum pudar, siap menghadapi tugas berat yang menanti mereka esok hari.

1
kutu alien
/Ok/
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu dek💪👍
( Author ) Vivi~
like koment ku sudah mampir, btw ceritanya kalau dicermati asik juga ya😭
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
Manusia Ikan 🫪: semangaaat up nyaaaah✨
total 1 replies
kutu alien
/CoolGuy//CoolGuy/
Manusia Ikan 🫪: hehehe
total 1 replies
Human175
ada kapal terbang 🗿
Manusia Ikan 🫪: oh yang kapal kayu kah, iya itu kapal terbang sihir, sebagian terbang pake hukum fisika, dan sebagainya gabungan keduanya😅
total 2 replies
Zetavia
Jan lupaa mampir yahh di novel ku saran dan kritik nyaa
Manusia Ikan 🫪: baiik
total 1 replies
T28J
lah kemana dia?
Manusia Ikan 🫪: ah maksudnya dia lagi mengumpulkan energi yang selaras dengan Aether di planet ini.
total 2 replies
Anomali Pink Hiatus
Darimana bisa tahu kalau bangunannya berumur puluhan ribu tahun.
Manusia Ikan 🫪: :v oke oke
total 3 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
Arven terdiam sesaat saat merasakan resonansi yang familiar dari dunia lain.

“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”

Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”

Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.

“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”

—Arven, Mechanist of Legacy🔥
kutu alien
/Plusone/,/Doge/
alicea0v
"Alice!!! lihat...!!! Golem dan serangga mereka terbuat dari batu mahal!!! kita bisa kaya!!" Xena menunjuk-nunjuk layar sihir pemantau yang mengambang di udara.

"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.

"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.

"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.

"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.

"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.

"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
SANG: Tetap semangat💪👍
total 5 replies
kutu alien
yah habis lagi/Sly/
Manusia Ikan 🫪: cape🥴
total 1 replies
Wawan
Satu iklan buat pelatihan Tebing Tinggi💪
Manusia Ikan 🫪: semangat ya🐥
total 1 replies
penulismisterius
pertempuran yang keren🐳
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat
SANG: Like iklan plus komen💪👍
total 4 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Manusia Ikan 🫪: /Awkward/makacih
total 1 replies
SANG
Mantap habis👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪
SANG
💪👍👍👍💪
SANG
Lanjutkan aksimu tho💪👍
Manusia Ikan 🫪: /Applaud/pastinya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!