Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11.
Pintu ruangan CEO yang berat itu ternyata tidak tertutup rapat sepenuhnya. di balik celah pintu yang mahal, Kiara berdiri mematung dengan tumpukan berkas di pelukannya. Ia baru saja hendak mengetuk saat pendengarannya menangkap gumaman aneh dari sang CEO di dalam sana.
"Pada wanita berisik dan jorok itu? tidak mungkin! dia pasti mengirim ilmu dukun padaku."
Kiara mengerjapkan mata. alisnya bertaut. tanpa menunggu sedetik pun dia mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. membuat Kenan yang sedang berpikir dibikin terkejut dengan kehadiran Kiara yang begitu tiba-tiba.
"Siapa yang mengirim ilmu dukun Pak? Pak Kenan terkena santet?"
Tanya Kiara dengan nada bicara yang cepat dan ekspresi wajah yang tampak sangat khawatir.
Kenan segera menegakkan posisi duduknya. wajahnya yang tadi tampak melankolis langsung berubah dalam hitungan detik.
"Kiara... sejak kapan kamu di sana?"
"Baru saja Pak. Pak Kenan tadi bilang soal di dukun,"
Kiara melangkah mendekat, matanya menyisir seluruh tubuh Kenan dari ujung rambut hingga ujung sepatu, seolah sedang mencari tanda-tanda teluh yang menempel pada tubuh pria itu.
"Kebetulan temanku punya kenalan orang pintar. apa Pak Kenan mau pergi berobat? jangan disepelekan Pak. santet itu berbahaya lho."
Kenan menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
"Tidak perlu. Itu hanya... candaan."
"Candaan apa yang membawa-bawa ilmu dukun Pak?"
Kiara menaruh berkas di atas meja dengan bunyi plak yang cukup keras.
"Kalau Pak Kenan merasa berat di pundak atau sering mimpi buruk. itu tanda-tandanya." Kata Kiara.
"Kenapa kamu kemari? kamu tidak mendengar yang lain kan?"
Selidik Kenan. matanya menatap tajam, berusaha memastikan apakah Kiara mendengar percakapannya dengan Robi tadi.
"Saya kemari untuk mengingatkan Bapak kalau ada meeting tiga puluh menit lagi," jawab Kiara santai, ia menunjuk jam tangannya.
"Dan ini semua berkas yang Pak Kenan minta. lengkap semuanya, sudah saya selesaikan sejak tadi pagi."
Kenan berdehem kaku, berusaha mengalihkan rasa malunya. "Biarkan saja di mejaku. lain kali ketuk pintu baru masuk."
"Tadi pintunya terbuka sedikit Pak. saya pikir Pak Kenan sedang diskusi dengan tamu," celetuk Kiara sambil berbalik arah.
"Tapi karena tidak ada yang lewat lorong ruangan saya menuju ruangan pak Kenan, itu berarti bapak ngelantur sendiri ihhh serem."
"Saya tunggu di ruangan saya ya pak, jangan lupa pakai parfum yang banyak. Jin biasanya takut bau wangi." Tambah Kiara asal.
"Keluar Kiara!"
"Siap Pak CEO yang sedang diguna-guna!"
***
Suasana ruang rapat terasa dingin dan formal. beberapa jajaran direksi dan manajer proyek sudah duduk rapi menunggu Kenan membuka suara.
Agenda rapat hari ini dengan divisi kontruksi dan keuangan. mengenai pembangunan proyek gedung bertingkat di Singapura yang sudah di tahap sepakat yang di awali dengan rapat Kiara dan Kenan beberapa hari lalu.
"Silakan sampaikan opsinya." ujar Kenan dingin.
Manajer konstruksi berdiri dan menampilkan beberapa grafik.
"Melihat fluktuasi pasar, maka kami menyarankan penggunaan material grade B+ dari vendor lokal Singapura yang perusahannya sudah bekerja sama dengan kita. kualitasnya cukup untuk standar keamanan dan terpenting harganya jauh lebih murah. kita bisa menghemat anggaran hingga 15% dan mengalokasikannya untuk bagian interior. bangunan akan tetap kokoh dalam jangka panjang menurut saya, untuk itu pihak divisi keuangan bisa lebih menghemat anggaran bagaimana?"
Kenan mendengarkan dengan santai sambil menyandarkan punggungnya di kursi kulit hitamnya yang mewah.
Namun konsentrasinya teralihkan. matanya sesekali melirik Kiara yang duduk di sampingnya yang sibuk mencatat dengan pulpen di tangan kanannya.
'Kenapa wanita itu sedikit cantik hari ini?' batin Kenan tiba-tiba.
Dia memperhatikan bagaimana kacamata Kiara yang membuatnya berbeda dan bagaimana wanita itu tetap fokus mendengarkan jalannya rapat.
"Tidak mungkin." gumam Kenan tanpa sadar. cukup keras untuk terdengar seisi ruangan.
Rapat mendadak sunyi. semua orang menoleh ke arah Kenan dengan kepanikan.
"Ada..... ada masalah Pak Kenan?" Tanya sang manajer konstruksi dengan wajah pucat, mengira usulannya ditolak mentah-mentah.
"Apa ada yang salah dengan argumentasi saya? atau Pak Kenan punya pendapat lain. maaf jika saya lancang." Ucapnya.
"Ya... hitungannya tidak sesederhana itu. ada poin poin yang kamu abaikan." Kata Kenan
Kenan berdehem, lalu melirik Kiara kembali. Kenan ingin melihat sejauh mana kualitas Kiara di ruang rapat.
"Kiara kamu yang bicara. sampaikan pandanganmu mengenai paparan manajer kontruksi."
Semua mata kini tertuju pada Kiara. ada yang memandang remeh dan ada pula yang penasaran.
Kiara berdiri dengan tenang sembari merapikan sedikit blus putihnya sebelum mulai berbicara.
"Terima kasih Pak Kenan," ujar Kiara.
Suaranya jernih dan tegas.
"Mengenai saran material grade B+, saya punya pandangan yang berbeda. gedung di singapura ini bukan proyek jangka pendek. ini adalah wajah Xequel Group di kancah internasional." Kata Kiara tentu saja, proyek tersebut di luar negeri dan itu hebatnya.
"Gedung ini direncanakan berdiri untuk waktu yang sangat lama, bukan hanya sepuluh atau dua puluh tahun. menggunakan bahan murah hanya demi menghemat anggaran di awal adalah bom waktu. kita berbicara mengenai keselamatan ribuan orang yang akan beraktivitas di sana. jika terjadi degradasi struktur lebih cepat dari perkiraan, maka kerugian yang kita alami jauh lebih parah. memang setelah proyek selesai kita tidak lagi bertanggung jawab. tetapi nama baik kita yang rusak dan kualitas kita yang dipertanyakan, kita akan sulit bekerja sama dengan siapapun di masa depan jika itu terjadi."
Dia melirik Kenan sejenak, sebuah senyum tipis tersungging.
"Saya tetap pada opsi material kualitas terbaik kelas A1. proyek yang berkualitas bukan hanya dihasilkan dari perusahaan yang bagus tetapi dari pekerja yang baik dan atasan yang bijak dalam mengambil keputusan." Sindir Kiara ke arah Kenan.
Seisi ruangan terdiam.
Beberapa manajer saling lirik mereka begitu terkejut dengan keberanian Kiara tentang pendapatnya dan Ia juga memberikan sindiran halus pada mereka dan juga Kenan di ruang rapat.
Beda bagi Kenan... dia terpukau. cara Kiara berbicara dan keberaniannya menyindirnya justru terasa sangat... menggoda bagi Kenan.
"Rapat selesai." potong Kenan tiba-tiba membuat semua orang tersentak.
"Opsi Kiara yang akan kita jalankan. pakai material kelas A1 dan bawa data-data nya keruanganku segera. begitu juga dengan pihak keuangan."
Kenan berdiri dan langsung melangkah keluar menuju ruangannya. meninggalkan riuh rendah bisikan di belakangnya yang tidak bisa protes langsung.
Begitu pintu tertutup di belakang Kenan, suasana ruang rapat yang tadinya kaku mendadak berubah menjadi sarang gosip.
Kiara masih membereskan catatannya saat mendengar suara-suara sinis dari sudut meja lain.
"Mengapa wanita itu bisa bertahan?" tanya seorang manajer wanita dengan suara yang sengaja dikencangkan.
"Dia pasti merencanakan hal buruk terhadap Pak Kenan sampai Pak Kenan menurut begitu saja!"
"Dia hanya staf bawahan di kantor kemarin, tiba-tiba menjadi asisten beliau kan aneh."
timpal yang lain sambil memperhatikan Kiara dari atas ke bawah.
"Ada bakat apa sebenarnya? bakat menggoda?"
"Pakaiannya saja sederhana begitu. tidak ada kelasnya sama sekali." komentar seorang manajer pria sambil tertawa meremehkan.
Kiara berhenti membereskan berkas. dia menghela napas panjang lalu berbalik menatap mereka semua dengan pandangan dingin.
"Sudah selesai bicaranya?" tanya Kiara pelan.
"Kenapa? tersinggung?" tanya manajer wanita tadi dengan angkuh.
"Kami hanya bicara kenyataan. banyak asisten beliau yang dipecat!"
Kiara berjalan mendekat ke arah meja pusat dimana Kenan duduk disitu.
"Jangan menilai dari apa yang kalian lihat. kalian bicara soal kelas? bicara soal kemewahan?"
Kiara menatap manajer wanita itu tepat di matanya.
"Aku sudah pernah merasakan kemewahan bahkan sebelum aku lahir. aku tumbuh di penthouse yang mungkin harga sewanya per bulan setara dengan gaji kalian setahun. aku pernah merasakan senangnya menghamburkan uang tanpa perlu bekerja keras. jadi jika kalian berbicara kalian lebih berada dariku hanya karena merek baju yang kalian pakai, maka kalian cukup sombong untuk berbangga diri di depan orang yang salah."
Ruangan mendadak hening. sorot mata Kiara tidak lagi main-main.
"Bakatku? bakatku adalah bekerja dengan otak bukan dengan mulut yang penuh dengki." lanjut Kiara pedas.
"Jika kalian punya waktu untuk mengurus asuransi kecantikan atau cicilan mobil mewah kalian, lebih baik gunakan untuk belajar bagaimana cara menggunakan otak disini. Pak Kenan tidak memilihku karena tubuhku yang menggoda tapi karena aku punya kualitas berfikir yang sebagian dari kalian tidak punya."
Kiara mengambil berkasnya dan berjalan menuju pintu. sebelum keluar dia berhenti sejenak.
"Dua lagi," Kiara menoleh dengan senyum miring.
"Pak Kenan memang pemilih tapi setidaknya dia tahu mana yang harus dipecat dan mana yang pantas untuk dipertahankan."
"Minimal kalau mau menggosip. pastikan prestasi kalian lebih tinggi dari tumit sepatu kalian." Ujarnya puas.
Kiara keluar dan menutup pintu dengan tenang. meninggalkan mereka yang terdiam kaku dengan wajah merah padam.
Di balik pintu, Arkan yang ternyata sedang menguping obrolan Kiara. dia menjadi jadi, Kiara sangat berbeda baginya.
Arkan terus mengekor di belakang Kiara dengan langkah santai, mengabaikan tatapan heran para karyawan lain yang berpapasan dengan mereka di lorong.
Wajahnya berseri-seri dan jelas sekali dia sangat menikmati pertunjukan yang baru saja disuguhkan Kiara di ruang rapat tadi.
"Wow Kiara wowww! Itu tadi benar-benar luar biasa!" puji Arkan dengan nada memuja.
"Bagaimana bisa kamu bicara seberani itu di depan para hiu kantor? kamu terlihat sangat lepas menghadapi mereka, itu FANTASTIC!"
Kiara mempercepat langkahnya, merasa risi dengan perhatian berlebih dari adik CEO nya tersebut.
"Stop mendekatiku pliss Pak Arkan. kalau tidak, aku akan kena amukan kakakmu lagi. kamu lihat sendiri kan bagaimana dia tantrum tadi siang?"
Arkan tertawa geli, amukan Kenan adalah hiburan baginya.
"Ayolah... jangan seformal itu. kita bisa berteman melihat usia kita sepertinya sama. panggil saja Arkan," bujuknya sambil mencoba menyamai ritme jalan Kiara.
Kiara mendadak berhenti dan berbalik badan, membuat Arkan hampir menabraknya. sorot mata Kiara tajam, tidak ada lagi keramahan basa-basi di sana.
"Baiklah ARKAN!" ucap Kiara dengan penekanan pada namanya.
"Sekarang harap menjauh dariku sebelum aku membuat mentalmu rusak juga mengerti? Aku sedang tidak punya energi untuk meladeni dua pria bermasalah di kantor ini."
"Satu saja sudah cukup!" Tambahnya.
Arkan bukannya tersinggung dia justru menatap Kiara dengan binar yang semakin kagum.
Sementara itu di dalam hati Kiara merutuki keberaniannya sendiri.
'Astaga... apa-apaan aku? kenapa aku bicara begitu tidak sopan dengan adik pemilik kantor ini? kalau dia mengadu pada Pak Kenan. bisa tamat riwayat bonus satu miliarku!'
Batin Kiara meronta meskipun wajahnya tetap terlihat masam di depan Arkan.
Bersambung....
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭