NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Gilang duduk di atas motornya sambil memandangi cek dan kunci di tangannya bergantian.

Angin taman berhembus pelan, tapi kepalanya justru terasa semakin penuh.

Dua miliar.

Sebuah café.

Dan hidup baru yang tiba-tiba ditawarkan begitu saja.

Beberapa detik kemudian Gilang malah terkekeh kecil sendiri.

“Semudah itu?”

Tatapannya turun lagi ke kunci tersebut.

“Ini rezeki…” gumamnya pelan.

Lalu senyumnya perlahan memudar.

“Atau malah musibah baru?”

Tak lama kemudian, ponsel Gilang kembali bergetar.

Beberapa foto masuk dari Valeria.

Foto sebuah café dengan interior modern yang masih terlihat baru.

Di bawahnya ada share location.

Gilang menatap layar itu cukup lama.

Lalu ia menghela napas pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke motor.

“Apakah ini awal yang baik…?” gumamnya pada diri sendiri.

Gilang akhirnya menjalankan motornya menuju lokasi yang dikirim Valeria.

Semakin dekat, semakin aneh perasaannya.

Sampai akhirnya motor tuanya berhenti di depan sebuah café dengan bangunan modern dan dominasi kaca besar di bagian depan.

Lampu-lampu hangat di dalamnya sudah menyala.

Beberapa orang terlihat sibuk mondar-mandir menata meja dan membawa kardus persiapan.

Di depan pintu bahkan ada papan kecil bertuliskan:

Soft Opening Today

Gilang langsung bengong beberapa detik.

“Anjir…”

Baru saja ia turun dari motor, seorang pria berpakaian rapi langsung menghampirinya.

“Mas Romeo?”

Gilang refleks menoleh.

“Betul ya?” tanya pria itu lagi ramah. “Kami udah nunggu dari tadi.”

Belum sempat Gilang menjawab, dua pegawai lain ikut menyapa dirinya.

“Selamat datang, Mas.”

“Bu Valeria udah kasih kabar soal Mas Romeo.”

Gilang makin bingung.

Ia menatap sekitar café itu perlahan.

Aroma kopi baru.

Interior mahal.

Musik pelan.

Dan orang-orang yang menyambutnya seperti dirinya benar-benar pemilik tempat itu.

Sampai beberapa detik kemudian Gilang cuma bisa tertawa kecil sendiri.

Rasanya seperti mimpi aneh yang datang terlalu tiba-tiba.

Gilang langsung memijat pelipisnya pelan.

“Apaan sih ini…” gumamnya bingung sambil melihat sekitar lagi.

Ia masih merasa seperti salah tempat.

Tidak lama kemudian, seorang pria yang terlihat lebih dewasa dan rapi menghampirinya sambil membawa map hitam.

Mungkin manager operasional café itu.

“Mas Romeo,” katanya sopan sambil menyerahkan map tersebut. “Ini beberapa dokumen yang perlu Mas cek dulu.”

Gilang menerima map itu dengan bingung.

Di dalamnya ada data operasional café, laporan stok barang, jadwal pegawai, sampai rancangan pemasukan awal untuk soft opening beberapa minggu ke depan.

Kening Gilang langsung makin berkerut.

“Bu Valeria bilang mulai sekarang keputusan utama tetap ada di tangan Mas,” lanjut pria itu.

Gilang langsung mengangkat kepala cepat. “Hah?”

Gilang langsung menatap map di tangannya lalu melihat sekitar café itu lagi dengan wajah tidak percaya.

Beberapa jam lalu dirinya masih berada di kamar remang-remang melayani seorang wanita.

Dan sekarang—

tiba-tiba orang-orang di tempat ini memanggilnya bos.

Gilang sampai tertawa kecil sendiri karena bingung.

“Ini sinetron banget anjir…” gumamnya pelan.

Di tengah Gilang yang masih bingung melihat dokumen di tangannya, ponselnya tiba-tiba berdering.

Viona.

Baru diangkat beberapa detik, suara gadis itu langsung menyerbu dari sana.

“Kak Gilang! Ke mana sih?!”

Gilang refleks menjauhkan ponselnya sedikit dari telinga.

“Tadi katanya bentar doang! Ini malah nggak balik-balik!”

Gilang menahan tawa kecil. “Ada urusan.”

“Urusan mulu,” omel Viona cepat. “Aku sampe dicengin temen-temen karena duduk sendirian.”

Gilang melirik sekitar café yang masih sibuk lalu bersandar pelan ke meja kasir.

“Ya maaf.”

“Terus dosen tadi nanyain kakak lagi!” lanjut Viona tanpa jeda. “Kak Gilang kenapa akhir-akhir ini suka hilang-hilangan? Jangan-jangan punya keluarga kedua ya?”

Gilang langsung tertawa kecil mendengar tuduhan absurd itu.

“Nggak jelas.”

“Pokoknya besok nggak boleh ngilang lagi!” kata Viona galak. “Aku capek nyariin.”

Gilang cuma tertawa kecil sambil menggeleng.

Lalu suara Viona tiba-tiba berubah lebih semangat.

“Oh iya! Kak!”

“Hm?”

“Tadi mamaku pulang!” katanya senang. “Yeay, akhirnya pulang juga.”

Gilang mendengarkan sambil diam.

“Nanti aku ajak kakak ke rumah yaa,” lanjut Viona cepat. “Di kota sebelah sih… tapi mau nggak?”

Gilang menjawab singkat tanpa pikir panjang.

“Sibuk.”

Beberapa detik langsung hening.

Lalu—

“Ih! Kakak tuh ya!” omel Viona cepat dari sana. “Jawabnya kenapa singkat banget sih?!”

Gilang tertawa kecil sambil menunduk melihat lantai.

“Serius sibuk.”

“Padahal aku jarang ngajak orang ke rumah tau,” lanjut Viona masih ngedumel. “Mama juga biasanya nggak gampang mau ketemu orang.”

Gilang menghembuskan napas kecil lalu akhirnya mengalah.

“Oke deh… nanti diusahain.”

Viona langsung diam sebentar.

“Serius?”

“Iya.”

“Yeay!” suara Viona langsung terdengar senang lagi. “Besok ya?”

Gilang mengusap pelipisnya pelan sambil melihat sekitar café.

“Besok kan?”

“Iyaaa besok!” jawab Viona cepat. “Jangan tiba-tiba ngilang lagi pokoknya.”

Gilang akhirnya menutup telepon itu sepihak sebelum Viona kembali mengomel panjang.

Ponselnya dimasukkan ke saku celana lalu ia kembali menatap sekitar café itu perlahan.

Beberapa pegawai masih sibuk menata meja.

Suara mesin kopi terdengar dari arah bar.

Lampu-lampu hangat membuat tempat itu terasa nyaman dan hidup.

Gilang berdiri diam cukup lama.

Masih sulit percaya kalau sekarang dirinya benar-benar diberi tempat seperti ini.

Kurang lebih dua jam Gilang hanya duduk diam di sudut café.

Sesekali ada pegawai yang menghampiri untuk bertanya sesuatu, tapi jawabannya selalu singkat.

Pikirannya terlalu penuh untuk benar-benar fokus.

Kadang ia melihat sekitar café itu lagi, kadang menatap kunci di meja, lalu kembali melamun tanpa arah.

Sampai akhirnya suasana mulai sedikit lebih ramai menjelang sore.

Gilang menghembuskan napas pelan lalu berdiri.

“Permisi, saya pulang dulu,” katanya singkat pada beberapa pegawai di sana.

Setelah itu ia mengambil helmnya dan berjalan keluar dari café tersebut.

Saat sampai di rumah, Gilang langsung melihat ruang tengah cukup berantakan.

Beberapa pakaian dan perlengkapan terlihat ditaruh di atas lantai.

Sekar sedang sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas besar sambil sesekali mengecek daftar di ponselnya.

Gilang langsung mengernyit bingung. “Mau ke mana?”

Sekar menoleh cepat lalu tersenyum lebar.

“Ih Kak Gilang, lupa ya?” katanya sambil tertawa kecil. “Aku mau PKL besok.”

“Oh…”

Sekar kembali merapikan barang-barangnya sebentar sebelum mendekat ke arah Gilang.

“Makasih ya atas semuanya,” katanya pelan lalu memeluk kakaknya itu singkat. “Doain lancar-lancar yaa.”

Gilang tersenyum kecil lalu mengelus pelan kepala Sekar.

“Iya,” katanya lirih. “Semoga lancar dan dapat nilai memuaskan.”

Sekar langsung mengangguk semangat. “Aamiin!”

Gilang memperhatikan wajah adiknya beberapa detik.

Dan lagi-lagi ia merasa semua yang ia lakukan sekarang memang demi mereka.

Setelah itu Gilang masuk ke kamarnya pelan lalu menutup pintu.

Suasana kamar kecil itu langsung terasa sunyi.

Ia duduk di tepi ranjang lalu mengeluarkan amplop dari tasnya lagi.

Cek itu kembali berada di tangannya.

Dua miliar.

Angka itu masih terasa tidak nyata.

Gilang sampai menatapnya cukup lama seolah berharap nominalnya berubah kalau dilihat terus.

“Gila…”

Ia mengusap wajahnya kasar lalu menyandarkan tubuh ke dinding.

Sampai sekarang dirinya masih bingung.

Kenapa Valeria bisa memberikan semua itu begitu saja?

1
You Bitch
Keluarga Parasit
Viaalatte: huhu iya sayangnya Gilang berdiri di jalan yang salah
total 1 replies
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!