NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 : KALUNG BUDAK

Gang itu berbau campuran minyak lampu yang sudah lama tidak diganti dan sesuatu yang lebih berat dari itu.

Haifeng berdiri di ujung gang, satu tangan di dinding batu di sisinya, cara pandangnya pun menyesuaikan diri dengan cahaya yang jauh lebih sedikit di sini dibandingkan alun-alun di belakangnya. Kemudian semuanya mulai nampak di sepanjang gang itu, menempel di dinding atau duduk di lantai dengan tangan terikat di depan tubuh mereka dengan ekspresi yang sudah lama berhenti mengharapkan sesuatu. Tiga pedagang berdiri di antara mereka, dua dengan obor di tangan, satu lagi dengan buku catatan dan pena.

Cukup lama dia menoleh ke sana kemari sebelum akhirnya Haifeng melangkah masuk.

Matanya lantas bergerak dari satu wajah ke wajah berikutnya untuk mencatat detail sebelum membuat keputusan. Kemudian berhenti di sudut paling ujung gang, jauh dari obor mana pun, di mana seorang perempuan duduk dengan lutut dirapatkan ke dadanya. Telinganya runcing ke atas dengan bulu tipis di ujungnya, dan di lehernya ada kalung dari bahan kulit dengan serpihan sesuatu yang menggantung di tengahnya. Serpihan itu berkilau samar akibat cahaya yang hampir tidak ada, tapi cukup untuk membuat Haifeng menyipitkan matanya.

"Itu..." Suara Samudera masuk langsung ke telinganya. "Serpihan itu sebelumnya bagian dari sesuatu milik ayahmu. Aku bisa merasakan qi-nya dari sini."

Haifeng tidak bergerak dari tempatnya sebelum mendekati pedagang dengan buku catatan.

Negosiasi itu berlangsung lebih lama dari yang Haifeng niatkan.

Pentolan pedagang itu adalah seorang pria dengan wajah yang menunjukkan dia sudah sangat lama bekerja di bidang yang tidak membutuhkan banyak empati, apalagi saat mematok harga pertama tanpa membuang waktu.

“Tiga ratus koin perak untuk yang itu,” katanya sembari menunjuk ke budak Yao Ren atau manusia setengah binatang di ujung gang dengan dagunya.

Secepat itu pula Haifeng mengangkat alisnya. “Tiga ratus? Dengan kondisi seperti itu?”

“Yao Ren betina tidak mudah didapatkan di Long Men. Apalagi yang masih muda dan tidak cacat.”

“Aku lihat dia tidak pernah mengangkat kepalanya semenjak aku masuk. Itu bukan tanda ‘tidak cacat’. Bukankah itu justru tanda jika dia sudah dipukul cukup sering?”

“Pukulan tidak mengurangi nilai jual, Tuanku.”

“Pukulan di bagian yang terlihat mengurangi nilai jual. Apalagi kalau calon pembeli bisa melihat bekasnya dari jarak ini.” Haifeng menyebutkan angka yang separuh dari yang diminta. “Seratus lima puluh, dan aku membayarnya malam ini, tunai, tanpa tawar-menawar lagi.”

Pedagang itu pun mengerutkan dahi. “Dua ratus lima puluh. Itu sudah harga paling rendah.”

“Seratus delapan puluh.”

“Dua ratus.”

“Seratus sembilan puluh.”

“Dua ratus. Ambil atau tinggal.”

Haifeng berpikir sejenak. Matanya bergerak ke perempuan Yao Ren itu, ke kalung di lehernya, lalu kembali ke pedagang. “Dua ratus. Tapi dengan satu syarat.”

“Apa syaratnya?”

“Aku ingin tahu dari mana kalian mendapatkannya. Bukan budaknya. Tapi kalung yang dia pakai.”

Pedagang itu lantas menatap kalung yang dimaksud. “Itu sudah ada di lehernya waktu kami mendapatkannya. Lagi pula tidak ada yang peduli dengan perhiasan murahan seperti itu.”

“Baiklah.” Haifeng mengeluarkan koin-koin itu dari kantongnya dan meletakkannya di telapak tangan pria itu satu per satu, dengan hitungan yang sengaja diperlambat. “Dua ratus pas.”

Pedagang itu menghitungnya, mengangguk, dan memberi isyarat kepada anak buahnya. “Lepaskan binatang berkalung itu.”

Rantai di pergelangan tangan Yao Ren itu akhirnya dibuka.

Nama tidak keluar dari mulutnya meski sudah ditanya dua kali. Namun kini gadis itu berjalan di samping Haifeng. Sedari awal tatapannya bergerak ke kiri, ke kanan, ke belakang, ke atas, seperti burung yang baru dilepas dari sangkarnya dan belum percaya bahwa tidak ada dinding di sekelilingnya lagi. Bahkan tangannya tidak berhenti bergerak, jarinya meremas satu sama lain atau memegang lengan bajunya sendiri bergantian.

"Kau tidak harus memberitahu namamu sekarang," kata Haifeng. "Aku bisa menunggu."

Tidak ada tanggapan, meski langkahnya sedikit melambat, dan itu mungkin bukan karena lelah.

Akan tetapi masalah baru timbul saat mereka baru saja keluar dari gang pertama dan masuk ke gang kedua yang lebih pendek ketika Samudera berbicara dengan ketegasan.

"Haifeng. Belakang kanan. Jumlahnya sekitar tiga orang."

Haifeng pun segera melangkah ke kiri sambil mendorong bahu perempuan Yao Ren itu ke sisi yang berlawanan dari dirinya, dan sesuatu yang sangat cepat melewati tempat di mana kepalanya tadi berada.

Hingga tiga orang yang dimaksud muncul dari balik tumpukan peti di ujung gang. Wajah-wajah yang sudah dikenalnya dari gang tadi, pengikut-pengikut pedagang yang seharusnya sudah tidak ada urusan dengannya.

"Mereka tidak senang dengan transaksi tadi," kata Samudera. "Karena mereka ingin pedangmu."

Pentolan pedagang tadi mengangkat dagunya. "Bukan cuma koin yang ingin kami ambil kembali, Anak Long Yuan. Kami sudah dengar tentang desas-desus pedang itu sejak kapalmu belum merapat di pelabuhan."

Bertarung di gang sempit melawan tiga orang dengan pengalaman lebih banyak adalah pekerjaan yang sangat tidak nyaman.

Haifeng menempatkan gadis Yao Ren itu di belakangnya, di sudut yang paling sulit dijangkau dari sudut mana pun selain dari depannya, dan menghadapi ketiga pria itu dengan Pedang Samudera di tangan.

Tak perlu menunggu lama sampai yang pertama maju dengan golok di tangan kanan dan qi tingkat tiga yang memancar kasar. Haifeng tidak memblokir, karena Samudera sudah sejak awal memberitahunya bahwa memblokir serangan orang dengan pengalaman lebih banyak ketika tubuhnya sendiri belum terlatih adalah cara tercepat untuk kehilangan keseimbangan. Alih-alih, dia memiringkan tubuhnya, membiarkan golok itu lewat di sisi kanannya, dan memukul sisi dalam siku pria itu dengan gagang pedangnya.

Golok itu pun jatuh dan pria itu mundur sambil mengurut sikunya.

Satu orang berikutnya masuk dari sisi kiri, lebih cepat dari yang pertama. Haifeng tidak sempat merespons dengan cukup rapi dan lengan kirinya terkena dorongan yang cukup keras untuk membuatnya mundur dua langkah. Kakinya menemukan batu yang tidak rata di belakangnya dan dia harus menggunakan dinding gang untuk tidak jatuh.

"Pergelangan," kata Samudera.

Haifeng mengangguk singkat sebelum mengayunkan pedangnya ke arah pergelangan tangan pria ketiga yang sudah mengangkat senjatanya dari atas, dan baja bertemu baja dengan suara yang bergema di dinding sempit gang itu. Pria itu terdorong mundur karena riak qi yang mengalir dari bilah Pedang Samudera jauh lebih besar dari yang dia perhitungkan untuk menghadapi tingkat tiga.

Tiga menit berikutnya adalah tiga menit yang tidak bisa disebut elegan dari sudut mana pun. Haifeng menggunakan gang itu sendiri sebagai senjata tambahan, memaksa lawan untuk tidak bisa menyerang dari banyak arah sekaligus, menghindar lebih banyak daripada menyerang, dan memanfaatkan setiap celah yang Samudera tunjukkan di dalam waktu yang sangat singkat. Lengannya bahkan terkena dua goresan yang tidak dalam tapi cukup terasa, dan satu tendangan dari pria pertama yang sudah mengambil goloknya kembali mendarat di sisi pahanya.

Kendati demikian, pertarungan yang berlarut-larut membuat mereka kelelahan dan mulai tumbang satu persatu. Jelas sekali ini akibat latihan fisik rutin yang dilakukan Haifeng belakangan ini. Dan tentu saja akibat kenaikan tingkat yang membuat dirinya bertengger di ranah tingkat tiga kultivasi. Pada akhirnya ketiga pria itu terduduk di lantai gang dengan senjata di luar jangkauan tangan mereka dan nafas yang ngos-ngosan.

Pentolan atau pemimpin pedagang itu berlutut. "Ampunilah, Tuan. Uangnya akan kami kembalikan semua... tapi tolong jangan bunuh kami."

"Aku tidak butuh uangku kembali," kata Haifeng. Napasnya masih tidak sepenuhnya teratur pula. "Aku butuh kunci. Semua kunci dari semua rantai yang kalian punya."

Pria itu membisu sembari melirik ke dua rekannya sebelum akhirnya mengangguk pelan. "B-baik, baik." Tangannya masuk ke dalam jubahnya, merogoh-rogoh di sana dengan waktu yang sedikit lebih lama dari yang dibutuhkan untuk mengambil sekumpulan kunci.

Hingga apa yang keluar dari jubahnya bukan kunci melainkan pisau lipat yang sudah setengah terbuka ketika sesuatu melayang masuk dari ujung gang dengan kecepatan yang tidak memberi waktu untuk proses apa pun di antara gerakan itu dan hasilnya, belati itu menembus tengkuk pria itu dari belakang.

Pria itu terjerembab ke depan tanpa mengeluarkan suara lagi, selain genangan darah yang mulai melebar kemana-mana.

Chen Mo berdiri di mulut gang, tangan yang melempar belati masih terangkat di posisi setelah melepaskan. Adapun belasan orang yang diperbudak berdiri di belakangnya dalam kerumunan yang tidak rapi tapi cukup jelas menunjukkan bahwa mereka baru saja dibebaskan dari tempat yang tidak jauh dari sini.

Haifeng menatap Chen Mo. Chen Mo menatap Haifeng.

"C-chen Mo, kau sudah mengikutiku sejak kapan?" kata Haifeng.

"Cukup lama." Chen Mo melangkah masuk ke gang dan mengambil belatinya kembali dengan tenang, membiarkan dua orang pedagang yang masih terduduk menatapnya dengan ketakutan. "Kau sudah lebih baik dari saat di kapal. Insting menghindarmu sudah lebih baik dari sebelumnya."

"Tapi masih banyak celahnya, dan jika tanpa Pedang Samudera..."

"Memang masih sangat banyak." Chen Mo menyarungkan belatinya. "Jangan khawatir aku akan mengatakan kejadian malam ini ke kakakmu langsung, dengan sedikit perubahan cerita."

Haifeng mengangguk mengerti, lalu menatap belasan orang di belakang Chen Mo sebelum ke gadis Yao Ren yang masih berdiri di sudut gang dengan tatapan yang sekarang sedikit berbeda dari tadi, lebih melihat daripada hanya memastikan bahwa tidak ada ancaman yang datang.

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!