Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sinar matahari pagi Kota Bandung menyelinap malu-malu di balik gorden kamar Kaizar, membawa aroma udara dingin yang biasanya memicu semangat pria itu untuk segera bersiap. Tapi hari ini, tubuhnya seolah dipaku ke tempat tidur. Setiap kali ia mencoba menggerakkan lengan kanan, rasa nyeri yang tajam menjalar dari pangkal bahu hingga ke leher, mengingatkannya pada hantaman keras di pintu gudang tempo hari.
Bunda Dila masuk tanpa mengetuk, wajahnya masih menyiratkan sisa kecemasan dari kejadian di rumah sakit semalam. Di belakangnya, Ayah Kevin berdiri dengan tangan bersedekap, memberikan tatapan yang tidak menerima bantahan sedikit pun.
"Jangan berpikir untuk menyentuh kunci mobil, apalagi pergi ke kampus, Kai," ujar Bunda Dila sambil meletakkan nampan berisi sarapan dan obat di nakas.
"Hanya beberapa jam, Bun. Ada kelas yang tidak bisa kutinggalkan," Kaizar mencoba membela diri, meski suaranya terdengar parau.
"Ayah tidak mengizinkan," potong Ayah Kevin tegas. "Kondisi bahumu sudah menghitam. Menyulut mesin mobil saja bisa membuat retakan di tulangmu semakin parah. Kamu harus istirahat total kalau tidak ingin cedera ini menjadi cacat permanen".
Kaizar mengembuskan napas panjang, akhirnya memilih untuk bersandar pada bantal. Ia menyadari bahwa memaksakan diri hanya akan menambah beban bagi orang-orang di sekitarnya. Lagipula, ada rasa pahit yang lebih besar dari rasa sakit di bahunya: kenyataan bahwa ia tidak bisa melihat Zivara hari ini.
Sementara itu, di kediaman Arthea, Zivara sudah berdiri tegak di depan cermin besar. Ia mengenakan pakaian yang lebih modis namun praktis untuk kegiatannya di jurusan DKV. Tidak ada lagi raut ragu atau langkah kaki yang berat. Zivara yang sekarang adalah perempuan yang sudah belajar bahwa dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena satu pria.
Begitu ia melangkah keluar ke halaman rumah, kebiasaan lama nyaris menguasainya. Matanya secara refleks melirik ke arah gerbang, mencari siluet sedan mewah yang biasanya sudah terparkir manis di sana. Tapi pagi ini, jalanan di depan rumahnya kosong.
Zivara mengalihkan pandangannya ke arah kediaman keluarga Ravindra yang terletak tak jauh dari sana. Tidak ada tanda-tanda mobil Kaizar keluar dari garasi. Suasana di sana tampak begitu hening, seolah rumah itu sedang menyimpan rahasianya sendiri.
Zivara terdiam sejenak di balik kemudi mobil pribadinya. Rasa khawatir sempat muncul di sudut hatinya, sebuah sisa-sisa cinta tulus yang belum sepenuhnya terkikis habis. Akan tetapi, Zivara segera menarik napas dalam, membuang jauh-jauh pikiran itu bersama hembusan napasnya. Ia tidak boleh kembali menjadi gadis pasif yang hidupnya berporos pada Kaizar.
Dengan gerakan mantap, ia menyalakan mesin mobilnya sendiri. Deru mesin itu seolah menjadi pernyataan kemerdekaannya. Zivara melajukan mobilnya menuju kampus, membiarkan bayangan rumah Kaizar mengecil di spion, tanpa menyadari bahwa di balik salah satu jendela lantai atas rumah itu, sepasang mata sedang menatap kepergiannya dengan rasa kehilangan yang teramat dalam.
**
Zivara melangkah dengan ritme yang teratur, menyusuri selasar panjang yang dipenuhi mahasiswa dengan kesibukan masing-masing. Langkahnya yang dulu sering ragu dan tertunduk, kini mantap dengan kepala tegak.
Saat melewati persimpangan menuju gedung fakultas bisnis, mata Zivara secara refleks berpaling. Ia mencari siluet pria yang biasanya mendominasi pemandangan di sana. Kaizar. Pria yang di kehidupan sebelumnya selalu ia kejar meski hanya untuk mendapatkan satu kata "halo". Hari ini, gedung itu tampak asing. Sosok Kaizar tidak terlihat di antara kerumunan mahasiswa populer lainnya. Ada sedikit getaran di sudut hatinya—entah itu rasa khawatir yang tertinggal atau sekadar kebiasaan—tetapi Zivara segera memutus kontak matanya. Ia kembali fokus pada tujuannya sendiri, berjalan menuju studionya dengan aura yang lebih dingin namun berkelas.
Di balik sebuah pilar beton, Luna memperhatikan setiap gerak-gerik Zivara. Matanya menyipit penuh kebencian. Melihat Zivara datang seorang diri tanpa pengawalan ketat Kaizar seperti biasanya, membuat nyali Luna mendadak membumbung tinggi. Baginya, ini adalah kesempatan emas untuk kembali menanamkan rasa takut pada gadis yang ia anggap lemah itu.
Luna melangkah keluar dari persembunyiannya, mencegat jalan Zivara tepat di tengah selasar yang mulai ramai.
"Datang sendiri, Zivara? Di mana pelindungmu yang berharga itu?" Luna berucap dengan nada meremehkan, melipat tangan di depan dada sambil menatap Zivara dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Sepertinya Kaizar sudah mulai bosan menjadi supir pribadimu."
Zivara menghentikan langkahnya. Ia tidak tersentak, tidak pula menunjukkan wajah ketakutan. Ia justru berdiri dengan sangat tenang, menatap Luna dengan sorot mata yang datar, seolah-olah wanita di depannya hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti.
Luna yang merasa diabaikan mulai melangkah lebih dekat, wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari wajah Zivara.
"Dengarkan aku baik-baik. Jangan pernah bermimpi untuk benar-benar memiliki Kaizar. Dia hanya merasa kasihan padamu karena posisi ayahmu. Begitu semua ini selesai, dia akan kembali padaku. Jadi, menjauhlah sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih parah dari sekadar mengunci gudang."
Zivara tidak meledak dalam amarah. Ia justru menghela napas pendek, hampir menyerupai helaan napas bosan. Ia menatap Luna tepat di matanya—tatapan seorang wanita berusia tiga puluh tahun yang terjebak dalam raga delapan belas tahun.
"Sudah selesai?" tanya Zivara dengan suara rendah yang stabil, sangat kontras dengan nada melengking milik Luna. "Kamu bicara soal 'rasa kasihan' dan 'kembali padamu'. Tapi tahukah kamu apa yang paling menyedihkan dari posisimu sekarang, Luna?"
Zivara melangkah maju satu langkah, membuat Luna secara refleks mundur karena terintimidasi oleh ketenangan yang mematikan itu.
"Kamu begitu takut kehilangannya, sampai-sampai kamu harus mengemis perhatian dengan cara yang begitu murah," bisik Zivara, suaranya tetap lembut namun tajam seperti sembilu. "Sedangkan aku? Aku sudah berhenti mencarinya. Jika kamu menginginkan Kaizar, ambillah. Tapi ingat satu hal, Luna... jangan pernah menyentuh garis batas kesabaranku lagi. Karena kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi hanya dengan permintaan maaf."
Zivara tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya—lalu melanjutkan perjalanannya melewati Luna yang terpaku mematung. Luna gemetar, bukan karena amarah, melainkan karena ia baru saja menyadari bahwa Zivara yang ia hadapi hari ini bukanlah gadis polos yang bisa ia tindas.
***