Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Tertabrak
"Halo, Sayang, aku sudah tiba di hotel dan sudah bertemu Atlas," Bianca menelepon sambil menghadap pintu, tetap waspada jika Atlas tiba-tiba muncul. Jantungnya berdegup kencang, ia benar-benar khawatir dan takut rencananya terbongkar.
"Bagus. Apa yang kalian bicarakan? Kau harus tetap bersamanya dan jangan melakukan hal bodoh yang bisa membuatnya mengusirmu!" Stevan membentak Bianca.
"Aku sudah menceritakan semuanya persis seperti yang kau instruksikan. Tapi justru dia mengancamku balik. Dia bilang kalau aku berbohong, aku harus siap mati..."
"Jadi apa langkahmu selanjutnya? Kau takut? Kau akan membocorkan semuanya? Kalau itu terjadi, aku akan jadi orang pertama yang membunuhmu, Bianca!"
Bianca tersentak, napasnya menjadi cepat. Sekali lagi, ia harus menerima ancaman, dan pikirannya dipenuhi rasa takut.
"Aku bilang padanya kalau kau berada di Eropa Barat dan berjanji akan menemani Atlas sampai dia menangkapmu. Aku menjamin kalau aku akan berada di penjara saat kau tertangkap. Apa itu belum cukup membuktikan kalau aku benar-benar memperjuangkan hubungan kita, Stevan?"
"Diam! Jangan bicara soal hubungan. Entah kenapa, sejak aku bersamamu, aku justru dibebani masalah besar dan berbagai kesialan! Kirim semua informasi yang kau dapatkan kepadaku segera. Ingat, kalau kau bertindak bodoh, aku yang akan membunuhmu! Aku masih punya cukup uang untuk menyewa pembunuh bayaran. Hidupmu jauh lebih mudah dihabisi dibandingkan bajingan Atlas itu!"
Panggilan pun berakhir. Bianca duduk di tepi ranjang sambil menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini? Aku tidak ingin mati! Atlas, bajingan! Aku harus menyingkirkanmu, kau harus mati!"
Suara ketukan pintu kemudian menghentikan tangisan Bianca. Ia segera menghapus air matanya dan berteriak, "Tunggu sebentar."
Atlas tersenyum hangat di depan pintu bersama pengawalnya. "Bolehkah aku masuk sebentar?"
"Tentu, Atlas."
Kedua pria itu masuk, dan begitu pintu tertutup, sebuah pistol langsung ditempelkan ke kepala Bianca. Atlas mencengkeram bahunya dengan kuat lalu berkata, "Apa kau pikir aku bodoh?!"
"A-apa maksudmu, Atlas?!"
"Oh, kau masih berpura-pura polos dan mencoba terlihat seperti malaikat yang ingin menyelamatkanku?! Bianca, aku bukan orang bodoh tanpa otak. Rencana kalian terlalu payah dan mudah terbongkar. Siapa dalang semua rencana ini? Stevan atau Buzz? Kalian semua terlihat seperti anak kecil yang bermain polisi dan pencuri, bodoh!"
Bianca tampak marah, wajahnya yang sebelumnya terlihat ketakutan kini berubah penuh perlawanan.
"Kau! Kaulah yang membuat semua ini menjadi kacau! Kaulah yang seharusnya mati! Kau memang bajingan, Atlas! Aku datang ke sini sebagai umpan agar Stevan datang dan membunuhmu! Bersiaplah untuk mati!"
Atlas tersenyum miring sambil menggenggam tangan pengawalnya dan menekan pistol itu lebih kuat ke kepala Bianca. "Berikan ponselmu, wanita murahan!"
"Aku tidak akan memberikannya padamu! Kau—"
"Berikan sekarang, atau peluru ini akan menghancurkan kepalamu!"
Bianca tampak menelan ludah untuk kesekian kalinya. Tangannya gemetar saat merogoh saku celananya. "Baik... aku menyerah. Aku akan memberimu ponselnya. Tapi... bukan sekarang, Atlas!"
Atlas yang terlalu fokus tanpa sadar memberi Bianca kesempatan untuk melawan. Bianca menendang selangkangan Atlas hingga genggaman tangan Atlas pada pengawal itu terlepas. Dengan dorongan adrenalin, Bianca langsung melarikan diri dan berhasil keluar dari kamar.
"Sial! Kejar dia!" Atlas dan pengawalnya langsung mengejar Bianca.
Sayangnya, Bianca berhasil mencapai lift lebih dulu.
Atlas segera menekan tombol lift lain sambil merasa dipermainkan oleh Bianca. Begitu pintu lift terbuka, ia dan pengawalnya buru-buru masuk menuju lobi hotel.
"Bagaimana kau bisa membiarkannya kabur seperti itu! Kau, kau sudah mengkhianatiku. Kau tidak berguna dalam menahan lawan!"
Bianca sudah berada di pintu masuk lobi saat Atlas tiba. Melihat dua pria itu mendekat, Bianca kembali berlari.
Atlas mencoba menghentikan Bianca menggunakan kemampuannya, tetapi gagal. Seperti yang diketahui, ia tidak bisa menggunakan kekuatannya ketika pikirannya panik dan gelisah.
Bianca terus berlari sampai mencapai gerbang keluar hotel yang langsung menghadap jalan raya.
"Bianca, berhenti!" teriak Atlas.
Namun dalam kepanikannya, Bianca sembarangan menyeberang jalan tanpa melihat mobil yang melaju kencang. Tubuhnya langsung terpental dan dalam sekejap tertabrak lagi oleh kendaraan lain yang melaju cepat.
"Sial!" Atlas segera mendekati tubuh mantan kekasihnya yang sudah tidak bernyawa. Kepala Bianca hancur akibat benturan dan terlindas mobil. Selain itu, sebuah ponsel rusak ditemukan tidak jauh dari tubuh Bianca.
Atlas mengepalkan tangannya, merasa frustrasi karena kehilangan bukti penting terkait keberadaan Stevan.
"Apa yang harus kita lakukan dengan gadis ini, Tuan? Apa yang harus kita lakukan dengan tubuhnya?" tanya pengawal itu.
"Bereskan semua ini. Bawa dia ke rumah sakit terdekat dan berikan uang kepada staf rumah sakit untuk mengkremasinya. Dia sudah tidak punya keluarga, jadi kita tidak perlu repot-repot mengurus pemakamannya. Dan amankan ponsel itu! Mungkin masih bisa diperbaiki."
Atlas menatap tubuh Bianca yang berlumuran darah lalu bergumam, "Maafkan aku, Bianca. Ternyata kau harus melihat neraka lebih dulu dariku. Aku akan segera mengirim Stevan untuk menyusulmu.”
Sudah hampir satu jam Atlas menatap ponsel Bianca yang retak. Ia mencoba menganalisis dan memindai memori ponsel itu dengan kemampuannya, tetapi semuanya sia-sia.
"Ugh! Apa aku kehilangan kekuatanku? Tapi rasanya tidak seperti itu. Sial, kenapa aku tidak bisa menggunakannya di saat sepenting ini!"
Atlas mengambil ponsel dari kamar Bianca lalu masuk ke kamar pengawal.
"Simpan ini! Saat kita kembali, ponsel ini bisa diperbaiki di tempat Tuan Benjamin. Kau bisa istirahat, aku akan kembali ke kamarku. Apa kau sudah makan? Kalau belum, makanlah. Sudah enam jam sejak kematian Bianca. Kau sudah melakukan pekerjaan dengan baik."
Pengawal itu membungkukkan tubuhnya. "Itu tugasku, Tuan Atlas. Lagi pula, akulah yang menyebabkan semua ini terjadi. Aku merasa sangat menyesal dan bersalah. Mungkin dia tidak akan mati tragis jika aku tidak memberitahukan keberadaanmu."
"Bagus kalau kau akhirnya menyadari tindakan bodohmu. Aku mungkin membenci Bianca, tetapi melihatnya mati setragis itu tadi membuatku merasa kasihan padanya. Baiklah, kau tidak perlu terlalu memikirkannya. Semua itu sudah berlalu. Dan satu hal yang perlu kau ingat, meskipun aku memuji tindakan cepatmu dalam menangani kejadian hari ini, bukan berarti aku memaafkanmu. Mengerti?"
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗