Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Cahaya pagi menembus jendela kaca ruang kelas sebelas di SMA Tunas Bangsa. Udara masih terasa sejuk, namun suasana di dalam ruangan sudah mulai riuh oleh suara langkah kaki dan tawa para siswa yang berebut mencari tempat duduk strategis. Di sudut paling belakang, dekat dengan jendela, Arga Baskara duduk diam. Pandangannya terpaku pada sebuah bangku kosong tepat di sebelah kanannya.
Kejadian di halte bus sekolah kemarin sore masih berputar terlampau jelas di kepalanya. Nala tertawa begitu lepas saat berjalan menjauh bersama Satria, meninggalkan Arga yang hanya bisa mematung menatap punggung gadis itu. Delapan tahun lamanya Arga merawat sebuah memori masa kecil, hanya untuk dihadapkan pada kenyataan bahwa bagi Nala, masa lalu itu mungkin sudah tertinggal di kota lama tempat gadis itu pernah tinggal.
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Arga, menghentikan lamunannya. Dimas Pratama menjatuhkan tas punggungnya di atas meja seberang lorong. Laki-laki bertubuh jangkung dengan rambut sedikit berantakan itu menarik kursi dan duduk menghadap sahabatnya.
"Masih kosong aja tuh bangku," ucap Dimas, menunjuk ke arah kursi di sebelah Arga dengan dagunya. "Lo niat buka lowongan buat makhluk halus atau gimana? Ini hari pertama kelas sebelas, Ga. Kalau lo biarin kosong terus, nanti malah diisi sama anak cowok lain yang malas duduk di depan."
Arga menghela napas pelan. "Biarin aja."
"Biarin aja mata lo," sungut Dimas blak-blakan. "Lo masih ngarep Nala bakal tiba-tiba nyamperin lo, senyum manis, terus bilang, Arga, aku duduk di sini ya sama kamu? Bangun, woi. Liat realita. Kemarin aja dia balik bareng anak basket."
Arga tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah ke arah jendela. Di sudut hatinya yang paling tidak masuk akal, ia memang masih menyimpan setitik harapan bahwa Nala akan memilih bangku itu.
Suara tawa renyah dari ambang pintu seketika membuat dada Arga terasa sesak. Nala Anindita melangkah masuk ke dalam kelas. Gadis itu mengikat rambut sebahunya dengan asal, membuat lehernya yang jenjang terlihat. Matanya menyapu seluruh penjuru kelas, mencari tempat duduk yang pas. Di sampingnya, Rara Kinanti, sahabat Nala, ikut mengedarkan pandangan.
Jantung Arga berdetak satu tempo lebih cepat. Pandangan Nala melewati deretan belakang. Mata mereka sempat bertemu selama sepersekian detik. Arga menahan napasnya. Namun, tatapan Nala sama sekali tidak menyiratkan memori apa pun. Itu murni tatapan seorang teman sekelas biasa yang sedang mencari kursi kosong. Gadis itu mengalihkan pandangannya tanpa beban sedikit pun.
Nala menarik kursi di barisan tengah, tepat di depan meja guru. Tempat yang sangat wajar bagi seseorang yang selalu mengejar nilai akademis dan tidak ingin terganggu.
"Di sini aja, Ra. Kelihatan jelas kalau guru nulis di papan," kata Nala dengan suara cerianya yang khas.
Rara mengangguk setuju dan menaruh tasnya di meja. Namun, sebelum duduk, Rara sempat menoleh sekilas ke arah sudut belakang kelas. Ia menatap Arga dengan dahi sedikit berkerut, seolah bisa menangkap sorot mata laki-laki itu yang belum beranjak dari Nala. Menyadari dirinya diperhatikan, Arga buru-buru membuang muka.
"Pagi, Arga." Sebuah suara lembut tiba-tiba menyapa.
Tania Larasati menaruh tasnya di bangku tepat di depan Arga. Gadis bermanis muka itu tersenyum hangat, lalu menyodorkan sebuah permen rasa stroberi ke atas meja Arga.
"Buat lo. Biar nggak ngantuk di hari pertama," ucap Tania ramah.
Arga menatap permen itu sesaat, lalu mengangguk kecil. "Makasih, Tan." Suaranya datar. Ia sama sekali tidak menyentuh permen tersebut, membiarkannya tergeletak begitu saja di sudut meja.
Dimas, yang sejak tadi mengamati adegan itu dari seberang lorong, menggelengkan kepalanya pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Arga.
"Lo lihat sendiri kan barusan?" bisik Dimas dengan nada tertahan. "Dia milih duduk di depan. Terus, bentar lagi pasti si Satria bakal nongkrong di meja depan buat cari perhatian. Lo punya cewek cakep kayak Tania yang jelas-jelas peduli sama lo di depan hidung lo sendiri, tapi lo malah sibuk jagain bangku kosong buat orang yang bahkan lupa sama keberadaan lo."
Arga menatap bangku di sebelahnya sekali lagi. Permukaan kayu kursi itu terasa dingin. Kata-kata Dimas seratus persen logis. Fakta bahwa Nala sudah melangkah jauh ke depan sementara dirinya masih tertinggal di masa lalu adalah kebenaran yang pahit. Sayangnya, mematikan perasaan ternyata tidak semudah menyelesaikan soal matematika.
"Gue tahu, Dim," jawab Arga pelan, nyaris tenggelam oleh suara riuh teman-teman sekelasnya yang mulai berdatangan. "Tapi biarin bangku ini kosong dulu. Setidaknya buat hari ini."
Dimas mengusap wajahnya, menyerah berdebat dengan keras kepalanya sang sahabat. Bel tanda masuk berdering nyaring dari pengeras suara sekolah. Di barisan depan, punggung Nala terlihat tegap saat gadis itu sibuk mengeluarkan buku catatan dari dalam tasnya.
Jarak fisik mereka di ruangan kelas ini hanya terpisah oleh empat deret meja. Namun bagi Arga, jarak itu terasa membentang sejauh delapan tahun waktu yang telah berlalu. Dan di sudut sepi itu, ditemani bangku yang sengaja ia biarkan tak berpenghuni, Arga kembali mengunci perasaannya rapat-rapat.