NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Love, Maybe

Paginya, Hanum terbangun tepat pukul lima subuh. Dia segera bangkit dan mencuci muka nya, lalu segera melaksanakan salat subuh. Suasana hatinya cukup tenang setelah dia melantunkan ayat-ayat suci. Ketika dia menuju dapur, ada rasa semangat yang kini membuatnya tampak lebih segar.

"Bi, ada yang bisa dibantu?" tanya Hanum pada Bi Inah yang sedang membuka kulkas untuk mengambil beberapa sayuran.

Dalam hatinya, Bi Inah terheran sendiri. Bukan kah seharusnya dirinya yang bertanya seperti itu?

"Gak ada kok, Neng. Neng duduk aja gih, tungguin Bibi siapin sarapan aja," kata Bi Inah.

"Bibi mau bikin apa rupanya?" Rasa penasaran Hanum memang tinggi. Ini lah yang membuatnya menjadi siswa berprestasi plus juara umum di sekolahnya.

"Bubur ayam ala kampung. Bibi buatin spesial pagi ini," katanya lagi. Tampak Hanum ber oh dan segera dia membantu Bi Inah untuk menyuwir ayam yang baru saja selesai direbus.

"Masih panas, Neng. Bentar lagi kalau udah dingin ya," akhirnya Bi Inah kalah, tidak bisa menahan Hanum lagi.

"Bunda dimana ya?" gumam Hanum yang saat ini sedang mengiris daun bawang, seledri, dan beberapa bahan lainnya.

"Lagi di kamar Mas Devan, katanya sih Mas Devan mau pergi ke luar kota buat mengurus pekerjaannya," ucap Bi Inah memberitahu Hanum.

Hanum ingin sekali memastikan Devan apa dan berapa lama dia akan pergi. Tetapi dia menahannya sejenak. Membetulkan jilbabnya, Hanum pun mencuci bahan-bahan yang sudah dia iris dan dimasukkan ke dalam mangkuk. Sementara Bi Inah mau merapikan kamarnya sebentar.

"Ah iya, lupa bawang putih," kata Hanum. Buru-buru dia mengupas bawang putih dan tanpa sengaja pisau yang dia pakai menyayat ujung jari telunjuknya.

"AW!" desisnya berusaha memelankan suaranya.

"Kamu gak papa?" Entah kapan Devan sudah ada di belakangnya. Memakai setelan jas formal yang lengkap dan rapi. Setelan jas formal yang melekat di tubuhnya terlihat begitu serasi dengan tatanan rambutnya. Tidak ada kesan klimis yang berlebihan; rambutnya dipotong pendek dan rapi, disisir ke samping mengikuti arah tumbuhnya dengan sangat alami.

"A-aku gak papa kok," Hanum memalingkan wajahnya berusaha agar dia tidak tersanjung dengan penampilan pria di hadapannya ini.

Devan segera mengambil obat dari kotak p3k dan segera memberikan salep dan plester kepada Hanum.

"Pakai ini, obati langsung ya," katanya dengan nada lembut. Yakin deh, perempuan yang mendengarnya pasti akan luluh dan tersipu malu melihatnya. Kini Hanum mengobati telunjuknya sendiri. Tapi pria itu tetap ada di sebelahnya.

"Kamu ngapain masih di sini? Bukannya mau kerja ya?" Hanum merasa ingin pergi saja dari tempatnya karena canggung.

"Kita pergi bareng kok, aku tungguin." Tampak Devan tertawa kecil melihat Hanum yang kini tampak malu-malu.

"Kamu itu lucu ya, Hanum," kata Devan lagi.

Hanum pun ber ekhem untuk meredakan perasaan yang tiba-tiba membuncah di dada nya.

"Sembarang kamu," katanya sambil mencuci kembali bahan-bahan yang sudah diiris lalu menyalakan kompor dan memanaskan air dan beras yang sudah disiapkan Bi Inah di atas kompor tadi.

"Jadi, berapa lama kamu pergi ke luar kota?" tanya Hanum, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

"Hm.., kira-kira tiga atau empat hari, itu pun kalau urusannya berjalan lancar," kata Devan yang kini membuka kulkas, hendak meraih kue tart.

Mata Hanum yang langsung setajam Elang pun langsung menahan tangan Devan. Membuat kedua orang itu kini saling berpegangan.

"Jangan diambil!" kata Hanum sambil mendorong pria itu dan menutup pintu kulkas dengan pelan. Lalu menatap tangannya yang masih memegang lengan pria itu. Meski tak bersentuhan karena jas yang dipakai oleh Devan. Dengan cepat dia menurunkan tangannya kembali.

Devan tersenyum lebar. "Memangnya kenapa?" katanya pura-pura tidak paham.

"Ih kamu ini ya, kalau mau makan kue harusnya dari tadi. Pertama, kamu itu udah rapi, keren, cakep jadi jangan sampai kena kotoran lagi ntar kalo ketempelan krim gimana? Kedua, kamu juga belum sarapan atau makan dulu, ntar kalau sakit perut pas lagi di jalan atau udah di sana gimana? Jangan terlalu gegabah," Hanum mengucapkan itu semua dengan kecepatan 3.0 kali dengan raut wajah seperti ibu yang mengomeli anaknya karena terus-terusan minta jajan.

Devan malah tertawa.

"Apa-apaan?" Hanum kini menatap emosi pada pria itu. "Kamu denger gak sih?!" katanya kini ia meninggikan suaranya.

Devan menggeleng, "Nggak, abis tadi mirip lagu rap sih," katanya bercanda.

Hanum celingak-celinguk mencari benda yang bisa dia tampol pada pria itu. Dia pun meraih sebuah panci stainless bergagang kayu dan segera menampol bahu pria itu.

"Aduh! Ampunn deh! Iya iya aku salah, aku gak dengerin kamu!" Devan kini berusaha mengindari kejaran Hanum yang masih mengarahkan panci itu ke arahnya. Meskipun baginya, pukulan tadi tidak sakit sama sekali.

PRENGGG!

Kena telak. Yang ini benar-benar cukup sakit.

"Ampunn, Nun!!!" Kali ini Devan menjerit.

"ASTAGHFIRULLAH KALIAN BERDUA INI KENAPA?!" Bunda yang baru saja dari kamar dengan pakaian olahraganya itu segera menuju dapur. Begitu pun dengan Bi Inah yang geresah gerusuh menuju dapur. Terkejut dengan kelakuan kedua orang itu.

"Kemarin kalian pada diem, sekarang malau kayak anak SD," Bunda geleng-geleng kepala.

"Ini nih, Bun. Devan tadi maksa buat makan kue padahal dia udah pakai pakaian rapi begini. Tapi gak dengerin aku," kata Hanum mencoba menebak dirinya.

"Benar begitu, Devan?" tanya Bundanya.

"Nggak kok, Bun! Hanum tuh yang tiba-tiba bawa panci!" tampak Devan menahan tawanya saat Hanum melotot ke arahnya.

"Minta ditampol lagi ya..??" desisnya pada pria itu.

Bi Inah tertawa menatap sidang kecil kedua orang itu. "Ya sudah sudah, sekarang kalian udahan dulu sana. Bunda jadi keganggu nih, lagi yoga," kata Bunda lagi.

"Siap, Bun! Abis tadi Hanum bilang aku keren, cakep, rapi..-"

Muka perempuan itu memerah. "Apaan sih? Orang aku cuma kasih ulasan aja," kata Hanum menatap tajam pada Devan.

"Dikira aku barang cod apa," kata Devan tertawa kecil menuju ruang tengah.

Bunda kini tersenyum menatap keduanya. Ada perubahan baik kalau begini, pikirnya.

"Ya sudah, urusan sarapan itu biar Bi Inah dulu yang kerjain, kamu siap-siap aja ya, Hanum," kata Bunda menyuruh Hanum untuk menyudahi kegiatannya.

"Iya, Bun..," Hanum pun segera menuju kamarnya.

"Biasa lah, Bu. Orang muda yang masih mode kasmaran hehe," celetuk Bi Inah saat Hanum telah masuk ke kamarnya, sedangkan Devan tampak sedang duduk di sofa ruang tengah sambil membaca koran.

"Karena itu, Bi. Aku jadi pengen cepet-cepet mereka berjodoh," kata Bunda, keduanya kini saling bertatapan.

Sementara itu, di kamar, Hanum menatap pantulan dirinya di depan cermin.

"GILAAA!" katanya mengomeli dirinya sendiri.

Note:

*"Nun" adalah panggilan Hanum saat masa SMA dulu. Teman-teman sekelasnya memanggilnya begitu hingga akhirnya tersebar ke seluruh penjuru sekolah.

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!