Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Eksekusi Sang Direktur Logistik
Darmawan menatap layar ponsel Hira dengan mata membelalak. Wajah paruh baya yang beberapa detik lalu merah padam karena amarah, kini berangsur-angsur memucat.
Tiga manajer yang duduk di hadapan Darmawan langsung saling melempar pandangan. Kepanikan tergambar jelas di wajah mereka. Tubuh mereka menegang kaku di kursi masing-masing.
"Gudang... dikunci?" gumam Darmawan. Suaranya kehilangan tenaga.
Pria tambun itu buru-buru merogoh saku celananya sendiri. Tangannya yang gemetar mengeluarkan ponsel tebal berwarna hitam. Jari-jarinya menekan layar dengan kasar, mencoba menghubungi seseorang.
Hira menyilangkan kakinya. Ia menopang dagu dengan jari telunjuknya yang lentik.
{Biarkan dia mencoba. Biarkan dia menyadari bahwa semua pintu keluar sudah kita tutup rapat-rapat.}
"Halo?! Kepala Gudang Sektor Utara!" bentak Darmawan begitu panggilannya terhubung. "Kenapa akses palang pintu utama kalian tolak?! Buka sekarang! Ada pengiriman masuk hari ini!"
Terdengar suara balasan yang pecah dan penuh kepanikan dari seberang telepon.
"Pak Darmawan! Sistem kami diambil alih dari pusat! Semua pemindai kartu berwarna merah! Ada tim audit berseragam hitam menyegel seluruh truk di pelataran!"
Ponsel di genggaman Darmawan merosot perlahan. Mulut pria itu sedikit terbuka. Matanya menatap kosong ke arah meja kayu di depannya.
Hira menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyum miring yang sangat elegan sekaligus mematikan.
"Apakah Anda sudah selesai menelpon, Pak Darmawan?" tanya Hira dengan nada suara yang sengaja dilembutkan. "Karena waktu saya sangat berharga hari ini."
Darmawan menoleh lambat-lambat ke arah Hira. Arogansi pria itu berusaha meronta, menolak untuk dihancurkan oleh wanita muda yang bahkan tidak ia kenali wajahnya.
"Kamu pikir kamu siapa?!" Darmawan menunjuk Hira dengan jari telunjuknya. "Kamu dari tim legal? Atau anak buah baru dewan komisaris?! Berani-beraninya kamu memotong jalur komando saya!"
Hira meletakkan tablet digital yang sejak tadi ia bawa ke atas meja. Ia mendorong benda tipis itu ke tengah meja, tepat di depan jangkauan ketiga manajer yang duduk di sana.
[Dokumen Pencairan Dana Ekspedisi - 40 Unit Armada Fiktif]
"Saya adalah Eksekutif Independen di gedung ini," jawab Hira datar. "Dan saya tidak perlu memotong jalur komando Anda, Darmawan. Saya menghancurkannya langsung dari akar."
Mendengar gelar 'Eksekutif Independen', ketiga manajer itu tersentak hebat. Salah satu dari mereka bahkan tidak sengaja menyenggol gelas air mineral hingga tumpah membasahi meja.
Gelar itu adalah legenda di gedung ini. Posisi absolut yang hanya tunduk pada satu orang: Teran Honigan.
Hira mengabaikan tumpahan air itu. Matanya menatap tajam ke arah tiga pria bawahan Darmawan.
"Kalian bertiga," panggil Hira. Nada suaranya kini berubah menjadi sangat tajam dan mendikte. "Tanda tangan kalian tertera jelas sebagai validator penyewaan empat puluh truk yang tidak pernah ada wujudnya itu."
Manajer yang duduk paling ujung langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Keringat membanjiri dahi pria berkacamata tebal itu.
"I-itu... kami hanya memvalidasi data yang masuk dari sistem, Bu," jawab manajer itu terbata-bata.
{Pembohong yang buruk. Mereka bahkan tidak punya keberanian untuk membuat alasan yang masuk akal.}
"Begitukah?" Hira memiringkan kepalanya sedikit. "Biar saya luruskan pilihan kalian hari ini. Tim audit saya sedang menyita seluruh perangkat keras di gudang utara. Jejak aliran dana miliaran rupiah itu akan berujung pada nama kalian berempat."
Hira mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya menatap bergantian wajah ketiga manajer tersebut.
"Kalian bisa memilih untuk tetap bungkam dan membiarkan karir serta kebebasan kalian hancur bersama direktur kalian yang serakah ini. Atau..." Hira memberikan jeda sejenak. "Kalian bisa memberikan kesaksian tertulis pagi ini juga, bahwa seluruh manipulasi data tersebut adalah perintah langsung dari Darmawan."
Darmawan langsung menggebrak meja dengan kedua tangannya. Bunyi hantaman daging dan kayu itu menggema keras.
"Kalian jangan berani-berani bicara!" ancam Darmawan dengan mata melotot ke arah bawahannya. "Kalian pikir dia bisa menyelamatkan kalian?! Saya punya dukungan penuh dari dewan direksi senior!"
Hira tertawa pelan. Tawa yang sangat renyah namun membuat bulu kuduk berdiri.
"Dukungan dewan direksi?" Hira menggelengkan kepalanya pelan. "Pak Darmawan, apakah Anda pikir dewan direksi Anda akan membuang waktu untuk menyelamatkan pria yang sudah kehilangan kendali atas gudangnya sendiri?"
Manajer berkacamata tebal itu tiba-tiba berdiri dari kursinya. Tubuh pria itu gemetar, namun matanya memancarkan keputusasaan untuk bertahan hidup.
"S-saya akan bersaksi!" seru manajer itu dengan suara melengking. "Semua itu ide Pak Darmawan! Beliau memaksa kami menandatangani validasi itu setiap akhir bulan! Kalau kami menolak, beliau mengancam akan memecat kami!"
"Benar, Bu!" Manajer kedua ikut berdiri dengan panik. "Kami punya bukti rekaman suara beliau saat memerintahkan pemalsuan pelat nomor lambung truk!"
Darmawan melebarkan matanya maksimal. Pria paruh baya itu memutar tubuhnya, menatap anak buahnya seolah melihat hantu.
"K-kalian... pengkhianat kurang ajar!" desis Darmawan. Tangannya mengepal kuat, bersiap memukul manajer di dekatnya.
"Satu langkah lagi Anda bergerak, petugas keamanan pusat akan memborgol Anda di ruangan ini juga," potong Hira mutlak.
Darmawan menghentikan gerakannya. Pria itu menoleh menatap Hira dengan napas memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Seluruh pertahanannya runtuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
{Lihatlah monster gemuk ini. Dia pikir dia pemangsa, padahal dia hanya mangsa yang kebetulan memiliki tubuh lebih besar.}
Suara jiwa Hira yang asli terdiam, mengamati dengan takjub bagaimana sosok alter egonya membedah kelemahan pria berkuasa ini dengan sangat presisi.
"Duduk, Darmawan," perintah Hira singkat.
Kaki Darmawan terasa lemas. Ia mundur satu langkah dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kursinya sendiri. Wajah pria itu kini terlihat jauh lebih tua dari usianya.
Hira menggeser tablet digitalnya kembali mendekat. Ia mengetikkan sesuatu pada layar, lalu memutarnya ke arah Darmawan.
[Surat Pernyataan Pengunduran Diri dan Pengakuan Penggelapan Dana]
"Tanda tangan di layar itu," ucap Hira tanpa memberikan ruang untuk tawar-menawar. "Jika Anda menandatanganinya sekarang, saya akan memastikan tim legal perusahaan hanya menyita seluruh aset hasil curian Anda tanpa menyeret keluarga Anda ke media."
Darmawan menatap layar tablet itu dengan tatapan kosong. Bibirnya bergetar pelan.
"Dan jika saya menolak?" tanya Darmawan dengan suara serak.
"Jika Anda menolak," Hira tersenyum sangat manis. "Maka sore ini, istri dan anak Anda akan menonton wajah Anda di seluruh saluran berita nasional saat Anda diseret keluar dari gedung ini dengan borgol."
Darmawan memejamkan matanya rapat-rapat. Tangan pria itu terulur dengan gemetar. Jari telunjuknya menyentuh layar tablet, menggoreskan tanda tangan digital yang sangat berantakan.
Begitu goresan terakhir selesai, Hira menarik tablet itu kembali. Ia memeriksa tanda tangannya sejenak, lalu berdiri dari kursinya dengan gerakan anggun.
"Pilihan yang sangat cerdas, Pak Darmawan," ucap Hira pelan. Ia menatap ketiga manajer yang masih berdiri kaku. "Kalian bertiga, kemasi barang-barang mantan direktur kalian. Petugas keamanan akan menjemputnya dalam lima menit."
Hira tidak menunggu jawaban. Ia membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang rapat. Pintu kaca itu tertutup rapat di belakangnya, meninggalkan kehancuran total di dalam sana.
Sepatu hak tinggi merah marunnya mengetuk lantai divisi operasional yang kini sangat sunyi. Tidak ada satu pun staf lapangan yang berani berbicara. Mereka semua menundukkan kepala saat Hira lewat.
Hira melangkah masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai lima puluh lima.
Ia menyandarkan punggungnya ke dinding lift. Darah di tubuhnya berdesir hangat. Rasa puas mengalir di setiap nadinya.
{Terlalu mudah. Pria itu bahkan tidak memberikan perlawanan yang sepadan.}
Pintu lift terbuka di lantai lima puluh lima. Hira berjalan menyusuri lorong menuju ruangannya.
Begitu ia membuka pintu kayu solid ruangannya, Hira menghentikan langkahnya.
Ponsel di saku celananya bergetar pelan. Hira merogoh sakunya dan mengangkat layar ponsel itu ke depan wajahnya.
[Pesan Masuk: Teran Honigan - Eksekusi yang cukup rapi untuk seorang pemula. Tapi jangan terlalu bersantai. Darmawan hanya pion pembuka. Datang ke Ruang Rapat Puncak sekarang. Tikus-tikus tua sedang berkumpul menyusun serangan balasan.]
Hira menurunkan ponselnya perlahan. Matanya menatap lurus ke arah jendela kaca besar di ruangannya yang menampilkan pemandangan kota tanpa batas.
Sebuah senyum miring yang jauh lebih tajam kembali terukir di wajah Hira.
"Serangan balasan," bisik Hira pelan. "Menarik sekali."
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪